Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Kredit Daring

Jumat, 9 Maret 2018 | 17:47 WIB

Tulisan ini merupakan sisi lain dari tulisan sebelumnya yang dimuat di Investor Daily 2 Maret 2018, berjudul “Seksinya Investasi di Peer to Peer (P2P) Lending”. Kalau sebelumnya mengenai investasi, maka tulisan sekarang mengenai kredit di (P2P) Lending.


Seperti yang Anda ketahui, zaman now, salah satu channel yang simpel dan kekinian untuk pinjam uang tunai adalah melalui perusahaan financial technology alias fintech yang dikuasai oleh perusahaan start-up. Sampai dengan 25 Januari 2018, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah mengumumkan daftar terkini sebanyak 32 perusahaan fintech yang terdaftar dan diawasi oleh OJK. Umumnya start-up fintech menyediakan wadah atau marketplace yang mempertemukan pihak yang ingin meminjamkan uang (lender) dan yang ingin pinjam uang alias kredit (borrower) atau dikenal sebagai peer to peer (P2P) lending. Ada juga fintech yang memberikan kredit tunai daring secara langsung, artinya yang masuk ke portal atau aplikasi fintech tersebut hanya yang ingin pinjam uang semata (borrower) dan perusahaan fintech itu sendiri yang berperan sebagai pihak pemberi kredit (lender). Pengajuan kredit bisa dilakukan lewat portal atau aplikasi fintech di smartphone.


Peer to peer lending saat ini dapat dikelompokkan untuk individu dan untuk bisnis (terutama mikro dan UKM) yang memerlukan kredit. Sementara itu, pendanaan dilakukan oleh individu yang ingin mengembangkan dananya melalui alternatif investasi seperti pendanaan di fintech ini (lihat tulisan penulis di kolom Opini 2 Maret 2018). Pengajuan kredit dan pendanaan serta dokumen yang diperlukan semuanya dilakukan secara daring, dan untuk penilaian permohonan kredit, dari pihak fintech melakukan credit scoring layaknya bank, untuk menilai apakah Anda layak diberi kredit atau tidak.


Sebelum Anda melakukan kredit (borrowing) daring pada jasa yang ditawarkan fintech, ada lima hal yang perlu jadi perhatian. Yang pertama adalah biaya. Namanya bisa macam-macam, bisa biaya platform, biaya layanan, biaya administrasi dan lainnya. Tapi semuanya mengacu pada jasa layanan yang dikenakan, selain itu ada juga biaya keterlambatan, biaya asuransi, biaya penagihan dan sebagainya. Anda sebagai konsumen harus jelas dan mengerti apa saja biaya yang dibebankan tersebut, karena akan mengurangi dana yang dipinjam. Jadi pastikan Anda menghitung biaya ini dalam komponen nilai pinjaman Anda.


Yang kedua adalah bunga. Bunga yang disampaikan perusahaan fintech umumnya bunga per tahun atau per bulan. Tanyakan berapa bunga efektif per tahun yang dikenakan kepada konsumen dan bagaimana perhitungan cicilannya? Kalau bunga kredit daring sudah Anda ketahui, Anda bisa bandingkan dengan produk non daring, seperti Kredit Tanpa Agunan (KTA), Cash Advance dari Kartu Kredit atau kredit lainnya.


Sebagai contoh, salah satu fintech yang memberikan layanan pinjaman dana tunai daring tanpa agunan, memberikan bunga 1% perhari dengan minimum kredit Rp 1 juta dan maksimum Rp 3 juta, lamanya waktu kredit minimum 10 hari dan maksimum 30 hari. Bunga 1% ini adalah bunga berbunga mengikuti jumlah hari peminjaman. Bila Anda pinjam selama 30 hari, bunga berbunga 1% untuk 30 hari mencapai 34,8%. Bunga ini jauh lebih dahsyat dibandingkan produk non daring seperti bunga kartu kredit yang ‘hanya’ sebesar 26,95% per tahun atau 2,25% per bulan.


Yang ketiga adalah lama proses. Berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk dapat meminjam di layanan fintech? Ada yang mengklaim bisa memberikan persetujuan dalam hitungan jam, ada juga yang sampai dalam hitungan hari, atau minggu. Ini bisa terjadi karena menunggu penggalangan dana dipenuhi oleh para pemberi kredit daring. Semakin besar dana yang dibutuhkan, dan semakin berisiko proposal kreditnya, bisa jadi semakin lama pemenuhan dananya. Ini juga berdampak ke bunga kredit, semakin tinggi risiko, semakin tinggi bunga yang harus dibayarkan. Hal ini perlu dipahami secara jelas dan transparan oleh konsumen.


Yang keempat adalah limit kredit. Nilai kredit bervariasi, saat ini mulai dari Rp 100.000 sampai Rp 2 miliar rupiah. Yang perlu jadi perhatian, apakah perusahaan fintech yang Anda pilih sesuai dengan kriteria dan kebutuhan Anda? Karena ada fintech yang hanya melayani kredit bisnis (mikro dan UKM), ada yang hanya individu, dan ada juga keduanya. Umumnya limit kredit untuk porsi bisnis akan lebih besar daripada untuk individu. Sesuaikan kriteria Anda dengan fintech yang memberikan jasa kredit online.


Yang kelima adalah lama kredit, mulai dari 1 hari hingga 2 tahun. Ini tentu berdampak pada bunga yang diberikan. Kredit daring tanpa agunan ini relatif jangka waktunya lebih pendek daripada non daring. Semakin lama Anda menjalin ‘hubungan bisnis’, semakin besar biaya bunga yang harus dibayarkan. Semakin disiplin Anda membayar angsuran tanpa pernah terlambat, semakin senang perusahaan fintech menjalin ‘hubungan bisnis’ dengan Anda.


Dari lima hal di atas, dapat dilihat bahwa untuk meminjam secara daring akan menjadi salah satu channel bagi pihak-pihak yang unbankable untuk mendapat akses bantuan dana baru dan menjalankan usaha mikro atau UKM-nya. Bagi konsumen individu, kredit daring memberikan kemudahan baru untuk akses keuangan melalui jasa non perbankan atau institusi keuangan lainnya. Secara paralel, saat ini juga sudah ada platform yang menyediakan P2P lending syariah. Tergantung preferensi dari Anda sebagai konsumen. Dengan makin banyaknya kemudahan kredit lewat fintech ini, selain mengerti proses peminjaman di fintech, Anda juga semakin bijak dalam menyikapi tawaran layanan start-up fintech ini.


Boy Hazuki Rizal, Biro Perencana Keuangan Rizal Planner & Rekan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN