Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Toto TIS Suparto, Penulis filsafat moral, pengkaji di Institut Askara

Toto TIS Suparto, Penulis filsafat moral, pengkaji di Institut Askara

Krisis Lingkungan dan Keniscayaan Ekosentris

Minggu, 13 Juni 2021 | 05:08 WIB
Toto TIS Suparto *)

Setiap memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni selalu diingatkan nestapa alam semesta yang tengah diterpa krisis. Penandanya antara lain hilangnya sumber daya tanah, air, udara, maupun kepunahan flora dan fauna liar, serta kerusakan ekosistem. Secara keseluruhan tanda-tanda itu menyebabkan kualitas lingkungan hidup menurun

Tentu saja kerusakan lingkungan hidup berdampak terhadap kehidupan manusia. PBB pernah memasukkan degradasi lingkungan sebagai salah satu dari sepuluh ancaman terhadap kemanusiaan.

Sangat beragam krisis tersebut. Mulai dari polusi udara hingga tumpukan sampah plastik. Dalam hal polusi udara, misal, emisi CO2 terus membebani lingkungan. Sebuah laporan baru (2020) dari ba dan lingkungan Uni Eropa (EEA) menyebutkan satu dari setiap delapan kematian di Eropa dapat dikaitkan dengan polusi.

Kemudian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan polusi udara menyebabkan kematian jutaan orang di seluruh dunia setiap tahun dan menyumbang terhadap sepertiga dari kematian akibat stroke, kanker paru-paru dan penyakit jantung.

Krisis lain adalah tumpukan sampah plastik. Kajian yang disusun Costas Velis dari Universitas Leeds, Inggris, memprediksi sebanyak 1,3 miliar ton sampah plastik bakal mencemari daratan dan lautan dunia pada 2040 mendatang, kecuali jika khalayak menggelar aksi global.

Lalu, ada pembalakan liar dan pembabatan hutan tropis. Analisis di dw.com menyatakan setiap tahun rata-rata 7,3 juta hektar hutan dibabat, untuk dijadikan pemukiman, lahan perkebunan besar, tanah pengangonan dan pertanian monokultur lainnya. Fungsi hutan sebagai paru-paru hijau dan penyimpan CO2 turun drastis dan dampaknya amat luas.

Seiring dengan ini adalah pemusnahan biodiversitas. Pembabatan hutan dan rebutan habitat jadi pemicu utama musnahnya biodiversitas. Pembabatan hutan itu, dikombinasi dengan budidaya monokultur, pembetonan lahan dan perubahan tata guna lahan adalah pemicu erosi tanah subur. PBB melaporkan setiap tahunnya 12 juta hektare lahan pertanian terdegradasi jadi gurun akibat erosi.

Jangan pula diabaikan, populasi manusia juga menjadi ancaman lingkungan kita. Populasi ini tumbuh dengan cepat. Hanya dalam waktu satu abad, jumlah populasi meningkat dari 1,6 miliar pada awal abad ke-20 menjadi 7,5 miliar orang saat ini. Tekanan populasi jadi potensi konflik perebutan lahan dan sumber daya alam terpenting, misalnya air. PBB memperkirakan, jika tidak direm, pada 2050 pupulasi penduduk Bumi bisa mencapai 10 miliar orang.

Bermula dari Ekonomi Egosentris

Jika ditengok ke belakang bahwa degradasi lingkungan tidak lepas dari motif ekonomi manusia. Motif ini merupakan hasrat manusia untuk melakukan tindakan ekonomi demi mendapatkan kesejahteraan yang tolok ukurnya adalah untung- rugi. Kemudian didasari pula hasrat memperoleh penghargaan, dan motif untuk memperoleh kekuasaan.

Barangkali masih ingat konsep Abraham Maslow? Sekadar mengingatkan, Maslow membuat hierarki kebutuhan manusia menjadi: 1) kebutuhan fisik; 2) kebutuhan mendapatkan rasa aman; 3) kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan; 4) kebutuhan akan harga diri, dan 5) kebutuhan akan perwujudan diri. Motif-motif itulah yang mendorong manusia lebih condong sebagai homo economicus.

Karakter homo economicus membuat ma nusia punya tendensi mementingkan keuntungan pribadi dengan mengesampingkan kedudukannya di masyarakat. Ia cenderung berpusat pada dirinya. Orang lain urusan nanti. Tujuannya tak kurang tak lebih: keuntungan! Egosentris be laka. Dari sinilah dinamika ekonomi terwujud dan tentu saja lebih bersifat egosentris.

Wajah egosentris memang mewarnai ekonomi di jagad ini. Wajah lainnya adalah ekonomi berkonsep ekosentris. Pada wajah egosentris, ekonomi hanya dipahami sebagai transaksi dalam skema untung- rugi. Ekonomi ini berangkat dari kenyataan bahwa manusia itu egosentris.

Dalam sebuah bukunya, Sonny Keraf (1990:31) menjelaskan inti dari pandangan egosentris, di antaranya disebutkan tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi dan memajukan diri sendiri. Dengan demikian, etika egosentris mendasarkan diri pada tin dakan manusia sebagai pelaku rasional untuk memperlakukan alam menurut insting “netral”.

Dari sinilah muncul fakta ekonomi egosentris memandang alam sekadar objek. Apapun yang ada di alam, dianggap bisa diambil demi keberlangsungan hidup manusia. Kemudian berkembanglah "diam bil" tadi menjadi eksploitasi.

Selanjutnya eksploitasi berlebih itu merusak alam. Karakter "kepen tingan pribadi" menyebabkan ketidakpedulian terhadap alam. Muncullah krisis lingkungan hidup. Maka dari itu, solusi yang masukakal untuk mengurangi krisis lingkungan itu adalah menekan ekonomi egosentris.

Konkretnya bisa memaknai apa yang dikemukakan Direktur UNDP (United Nati ons Development Programme atau Badan Program Pembangun an PBB) Achim Steiner yang menyatakan agar umat manusia harus mulai menimbang ongkos per tumbuhan ekonomi terhadap lingkungan, kehidupan sosial dan kesehatan masyarakat, ketika mendefinisikan kemakmuran.

Menurutnya, akar masalah terletak pada persepsi kemakmuran, yang berkutat pada sisi finansial, namun melupakan ruang hidup dan kemanusiaan. Akibatnya kerusakan lingkungan ditoleransi sebagai jalan menuju kemakmuran.

Mengejar Ekonomi Ekosentris

Wajah kedua ekonomi adalah wajah ekosentris. Sebagaimana di kemukakan John B Cobb Jr (1992) dan Andrew Dobson (1998) menegaskan bahwa ekonomi adalah penataan dan pengelolaan oleh manusia agar ekosistem di Bumi tetap terjaga. Dari penegasan mereka, selayaknya berkesadaran bahwa kehidupan manusia tergantung sepenuhnya pada alam, tetapi perlu dijaga kelestarian alam itu sendiri. Intinya, perlu membangun hubungan antara manusia dan alam dengan berimbang.

Di sinilah tampak urgensi untuk menggeser dari ekonomi egosentris menuju ekosentris yang ber pusat pada ekologi. Tujuan ekologi antara lain memperoleh pemahaman menyeluruh tentang keadaan jagad raya ini.

Begitu paham maka diharapkan akan mendorong kesadaran moral untuk bertindak secara bersama-sama memperbaiki perilaku yang berpotensi merusak alam.

Perbaikan perilaku ini, idealnya datang dari masyarakat. Namun akan lebih efektif bilama na didukung regulasi. Ekonomi egosentris ditekan dengan aturan ketat, sementara ekonomi eko sentris dirangsang dengan insentif. Misalkan konsep green banking bisa menjadi rangsangan. Ada pu la "infrastruktur hijau" juga mem bantu percepatan ekonomi ekosentris.

Pernyataan pemerintah akan membangun kawasan hijau terintegrasi di Kalimantan Utara patut diapresiasi, sepanjang benar-benar terwujudkan. Kawasan seluas 12.500 hektare itu akan didukung oleh sumber energi hijau dari pembangkit listrik tenaga air atau hydropower. Nantinya, tenaga kelistrikan yang dapat dihasilkan mencapai 11.000 mega watt (MW).

Dalam pandangan pemerintah, kawasan ini akan membuat Indonesia mampu mencapai target transformasi energi dari fosil ke energi baru terbarukan yang ramah lingkungan.

Memang, kawasan hijau ini masih menuju kepada ekonomi ekosentris. Tetapi kehadirannya kelak, sudah menengahi egosentris dan ekosentris. Rencana ini bisa membuka kesadaran masyarakat bahwa ekonomi ekosentris adalah keniscayaan demi mengurangi degradasi lingkungan hidup.

Masyarakat seyogianya diyakin kan bahwa negara-negara yang telah meninggalkan praktik eks plo itasi ternyata terbukti bisa lebih makmur. Masyarakatnya ju ga mampu membangun dan melangkah kepada peradaban yang lebih maju. Manusianya jauh dari stres, dan hidup lebih bahagia. Bukan kah hal demikian yang kita cari?

*) Penulis filsafat moral, pengkaji di Institut Askara

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN