Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nugroho Agung Prasetiyo, Praktisi Komunikasi ISKI Pusat dan Pemerhati Televisi

Nugroho Agung Prasetiyo, Praktisi Komunikasi ISKI Pusat dan Pemerhati Televisi

Layar Kaca Indonesia, Ramadan-Lebaran, dan Covid-19

Nugroho Agung Prasetiyo *), Sabtu, 23 Mei 2020 | 18:00 WIB

Television is simply automated day-dreaming - Lee Lovinger

 

Di masa pandemi Covid-19, televisi menjadi alternatif penting untuk memberikan edukasi, informasi, dan hiburan bagi publik. Ini bukan sekadar jargon. Di saat aktivitas sosial mulai dibatasi untuk mencegah meluasnya penyebaran virus corona, maka menghabiskan waktu di depan layar kaca menjadi pilihan sangat logis bagi sebagian masyarakat di negeri ini. 

 

Studi Nielsen terbaru yang dirilis pada Maret 2020 menunjukkan semakin kuatnya peran televisi dalam situasi dan kondisi saat ini. Durasi menonton televisi telah mengalami lonjakan lebih dari 40 menit, dari rata-rata 4 jam 48 menit pada tanggal 11 Maret menjadi 5 jam 29 menit pada 18 Maret. Fakta lainnya memperlihatkan bahwa penonton dari kelas atas (upper class) menunjukkan kecenderungan lebih lama menonton televisi sejak 14 Maret dan jumlahnya berpotensi terus meningkat. 

 

Peningkatan itu juga terlihat dari rata-rata rating 11,2% pada 11 Maret menjadi 13,7% pada 18 Maret 2020. Konten program berita menjadi tayangan yang paling tinggi dikonsumsi dengan kenaikan sekitar 25%, diikuti dengan tayangan program anak-anak dan cerita serial. Data yang dirilis oleh Nielsen itu tentunya menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi para pengelola televisi di masa krisis pandemi Covid-19 seperti sekarang. Peluang dan tantangan layar kaca menjadi teman di rumah itu tentunya akan semakin membesar seiring dengan masuknya bulan suci Ramadan.

 

Dalam situasi normal, Ramadan-Lebaran selalu menjadi tantangan “menarik” bagi industri penyiaran dan para kreator konten televisi. Terlebih dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, di mana tantangan membuat program siarannya yang dapat meraih hati pemirsa, menarik nilai komersial, dan tantangan menahan diri memunculkan tayangan kurang produktif yang dapat berdampak pada teguran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), ataupun lembaga lainnya seperti MUI menjadi lebih tinggi. Televisi ditantang memberikan ruang lebih luas bagi para kreator program untuk menunjukkan kualitasnya menghasilkan tontonan menarik dan berkualitas yang dapat menjadi tuntunan. Sesungguhnya saat seperti ini publik menanti kreativitas televisi di negeri ini dalam menjalankan seluruh fungsi komunikasinya, menyampaikan informasi (to inform), mendidik (to educate), menghibur (to entertain) hingga dapat memberikan pengaruh (to influence) positif kepada audiensnya.

 

Tren tayangan televisi saat Ramadan selalu diwarnai dengan nuansa persaingan berbeda dalam  menghadirkan program unggulan Ramadannya untuk menarik pemirsa dan juga dilirik potensi pengiklan. Sayangnya, beberapa di antara mereka cenderung mengambil pilihan pragmatis dengan menjalankan fungsinya yang hanya menghibur (to entertain). Sehingga beberapa konten televisi di bulan Ramadan justru terlihat jauh dari unsur mendidik (to educate) ataupun memberikan pengaruh (to influence) positif.

 

Dilihat dari sejumlah surat teguran yang dikeluarkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada beberapa tahun belakangan, sejumlah program siaran variety show di masa Ramadan terlihat begitu “berani” menghadirkan konten yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dibutuhkan publik sebagaimana layaknya tuntunan. Program tersebut cenderung mengumbar hal yang kurang pantas demi mengejar rating tinggi dengan (masih) menghadirkan goyangan, nuansa mistik, aksi bullying, ataupun gimik canda yang berlebihan. Konten-konten yang bersifat eksploitatif kerap muncul, seperti saling lempar tepung,  mencoret-coret wajah, menghadirkan ketakutan dengan pelibatan satwa liar, hingga celoteh kasar yang cenderung merendahkan kekurangan fisik lawan main. Menariknya hal  itu kerap justru dihadirkan pada jam tayang sahur maupun berbuka puasa keluarga yang menjadi primadona utama jam tayang Ramadan televisi. Bukan hanya mencederai Ramadan, konten tersebut tentu akan sangat kontraproduktif jika dihadapkan dengan kondisi masa krisis pandemi Covid-19 seperti sekarang.

 

Secara ideal dalam situasi krisis seperti sekarang, sudah sewajarnya para pekerja kreatif televisi menghadirkan tayangan-tayangan yang mampu memberikan semangat kebersamaan, empati, peduli pada sesama namun tetap dengan warna yang menghibur. Sudah saatnya dalam kondisi seperti saat ini konten-konten yang cenderung mengumbar ‘syahwat’ tayangan tanpa kualitas mulai direduksi secara perlahan. Bagi sejumlah stasiun televisi dan kreator program televisi, menggarap dan menghadirkan tontonan yang dapat menjadi tuntunan publik memang bukan perkara mudah. Namun sesungguhnya memunculkan tontonan yang dapat menjadi sebuah tuntunan juga bukan hal yang mustahil tercipta dengan cara berpikir yang cerdas dan sehat. Paling tidak, Deddy Mizwar sudah membuktikan rumusannya berjalan dengan baik lewat  serial Para Pencari Tuhan-nya yang cukup moncer penayangan dan iklannya di masa Ramadan.

 

Sesungguhnya mengembangkan program televisi berkualitas sangat tergantung goodwill dari ekosistem industri penyiaran itu sendiri. Menurut Deddy, para kreator konten televisi pada dasarnya hanya perlu bekerja dan berpikir sedikit lebih ekstra dalam menghasilkan tontonan yang diminati pemirsanya. Sebuah tontonan berkualitas tidak sekadar dapat menghibur, tapi juga harus mampu menyelipkan nilai tuntunan yang sesuai dengan kehidupan sosial. Formulasi konten cerita yang kuat dan punya nilai, realistis, serta dekat dengan keseharian masyarakat sesungguhnya kini mulai bermunculan dan tak hanya diikhtiarkan Deddy Mizwar saja, seperti Dunia Terbalik (RCTI)  besutan Wahyu HS, atau cerita Preman Pensiun dan Aku Bukan Ustad yang terbilang sukses memberikan value positif pemirsanya dan memperoleh rating yang cukup lumayan.

 

Di luar drama, bentuk tontonan lainnya yang dapat menjadi tuntunan sebenarnya juga mampu dihadirkan lembaga penyiaran seperti yang ada dalam kemasan reality show dan program travelling yang memiliki nilai positif dan menarik pemirsa, seperti yang dihadirkan NET tahun lalu melalui program reality Kupenuhi PanggilanMu dan tayangan Muslim Traveleers yang sempat mendapat pujian pemirsa lewat  raihan Anugerah Syiar Ramadan.

 

Perlu ada kesadaran dan kerja bersama di antara semua stakeholder untuk lebih peduli terhadap perkembangan konten penyiaran. Mungkin tak adil  jika kita memberikan tanggungjawab hanya  kepada ekosistem industri penyiaran saja. Atau, juga tak mungkin menyerahkan semua tugas tersebut kepada KPI agar terus menyemprit para pengelola program televisi yang bandel. Sesekali, peran serta masyarakat sudah saatnya mulai dihadirkan dan ditumbuhkan untuk lebih memilah tayangan yang cocok dengan kebutuhan keluarganya.

 

Di saat sulit seperti sekarang, sudah waktunya masyarakat lebih bijak dalam memilih tayangan televisi. Sudah saatnya masyarakat mempunyai tanggung jawab untuk mengacuhkan tayangan yang selama ini cenderung hanya menampilkan “syahwat”, gimik berlebihan atau bullying di layar kaca. Perlu  ikhtiar bersama membangunkan kesadaran masyarakat untuk memiliki perhatian dan mau mengacuhkan tayangan unproductive semacam itu.

 

Meluasnya penyebaran Covid-19 di kota-kota besar berbuntut pada pembatasan ruang gerak sosial di sejumlah daerah. Konsekuensinya, di beberapa wilayah terdampak Covid-19, mereka akan semakin berpikir ulang untuk beraktivitas di luar rumah dan menghabiskan waktu luangnya mencari hiburan di dalam rumah. Pengelola siaran televisi tentu harusnya menyadari, kompetisi hiburan dan informasi kini tak hanya terjadi antarsesama stasiun televisi saja. Sejalan dengan berkembangnya teknologi informasi, masyarakat memiliki banyak pilihan lainnya untuk mendapatkan informasi dan hiburan melalui platform digital, terutama di kota besar.

 

Kelompok masyarakat urban tercatat semakin agresif dalam mengakses internet. Data terbaru dari We Are Social pada 2020 mengungkap ada 175,4 juta pengguna internet di Indonesia atau terjadi kenaikan 17% dibanding tahun sebelumnya.  Secara usia, data tersebut memperlihatkan persentase pengguna internet terbanyak berada pada rentang usia 16 hingga 64 tahun. Lalu, pada data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia ( APJII) tahun 2019, terlihat penduduk di Pulau Jawa menyumbang 55 persen dari total keseluruhan pengguna internet.

 

Munculnya banyak pilihan ini tentunya menjadi catatan penting bagi para pengelola televisi untuk lebih peduli terhadap kontennya. Mengapa? Kelompok sadar internet ini pastinya akan sangat mudah untuk beralih perilaku dalam mencari tontonannya. Ketika tayangan televisi sudah tidak lagi mampu menyuguhkan tayangan berkualitas sesuai selera mereka, maka pilihan untuk menyaksikan hiburan akan lebih banyak ditemui di kanal-kanal video streaming semacam Youtube. 

 

Semoga saja sentilan Lee Lovinger yang menyebut televisi adalah mimpi di siang bolong di awal tulisan ini bisa menjadi pelecut bagi para creator konten dan industri penyiaran, terutama dalam suasana Ramadan-Lebaran yang menjadi tak biasa dengan adanya pandemi Covid19 saat ini. Mulailah mencari ide lebih kreatif dan lebih keras dari biasanya untuk melahirkan sebuah seni pertunjukan yang berkualitas. Sah saja menghadirkan mimpi indah sejauh tak membuat publik terbuai dalam mimpi tersebut. Sesungguhnya layar kaca Ramadan-Lebaran saat ini sedang ditantang untuk dapat mengkonstruksi mimpi bersama publik membangun semangat optimisme melewati duka dan kecemasan akibat Covid19.

 

Jangan lagi umbar tayangan-tayangan yang tak berempati dan tak mendidik. Semoga pandemi Covid-19 dan Ramadan-Lebaran tahun ini menjadi awal yang baik bagi industri penyiaran lebih berbenah  mengembangkan  konten informasi dan hiburan yang berkualitas, menghadirkan tontonan yang dapat menjadi tuntunan. Tidak harus dalam format tayangan tutorial pelajaran, namun dapat dilakukan melalui cerita atau hiburan menarik lainnya yang dapat mendukung  semangat masyarakat, menemaninya melewati masa-masa sulit dengan baik. Mari kita bersama untuk mewujudkan tayangan yang lebih sehat, bermutu dan juga menghibur untuk Indonesia lebih sehat.

 

*) Praktisi Komunikasi ISKI Pusat dan Pemerhati Televisi

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN