Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

LDR yang Sehat

Achmad Deni Daruri, Kamis, 14 November 2019 | 10:55 WIB

Perkembangan rasio pinjaman terhadap tabungan (loan to deposit ratio/LDR) di Indonesia memperlihatkan kecenderungan yang terus meningkat. Tahap pertama peningkatan angka LDR terjadi pada awal tahun 2013 hingga pertengahan 2014 karena penurunan tabungan yang relative tajam, kemudian terjadi koreksi angka LDR akibat perbankan mengalami penurunan pinjaman dan peningkatan tabungan.

Peningkatan angka LDR kembali terjadi pada awal 2018 hingga akhirnya angka LDR kembali meningkat hingga mencapai rekor tertingginya yang lebih disebabkan pinjaman tumbuh lebih tinggi dari tabungan.

Diperkirakan angka LDR dapat terus meningkat lebih tinggi lagi. Konsekuensinya, krisis likuiditas diperkirakan akan berpotensi menghantam perbankan Indonesia. Pada tahun 2018, pertumbuhan pinjaman dan tabungan menukik (baca: pertumbuhan negatif yang tajam) dua kali secara bersamaan. Kondisi itu merupakan refleksi dari telah terjadinya tanda-tanda awal akan krisis likuiditas.

Berdasarkan fungsi permintaan akan investasi, produk domestik bruto riil memengaruhi secara positif gross fixed capital formation (pembentukan modal tetap bruto).

Sementara itu, tingkat suku bunga tidak memengaruhi pembentukan modal tetap bruto secara statistik. Implikasi kebijakannya adalah investasi di Indonesia hanya akan efektif dinaikkan jika dan hanya jika produk domestik bruto Indonesia ditingkatkan.

Sementara itu, kebijakan tingkat suku bunga tidak efektif untuk memengaruhi investasi di Indonesia. Tingkat suku bunga yang dimaksud adalah deposit rate yang merupakan opportunity cost of capital.

Kenaikan rasio pinjaman terhadap simpanan dapat mengindikasikan bahwa bank kurang memiliki bantalan untuk mendanai pertumbuhannya dan untuk melindungi dirinya dari penarikan kembali dana pihak ketiga (DPK) yang tiba-tiba, terutama bank yang mengandalkan deposito untuk mendanai pertumbuhannya.

Di Amerika Serikat, sekitar 9% dari 100 bank yang disurvei setiap triwulan pada rentang tahun 1993 dan 1998 pada suatu waktu menolak memberikan pinjaman karena kendala likuiditas. Bank-bank ini memiliki LDR rata-rata 79%, dibandingkan dengan 67% untuk bank yang tidak menolak memberikan pinjaman.

Menggunakan analisis regresi, rasio LDR sangat signifikan secara statistik dan kuat dalam menjelaskan kemungkinan bahwa bank akan menolak memberikan pinjaman, di mana semakin tinggi LDR maka semakin besar kemungkinan bank akan menolak memberikan pinjaman.

Rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) di industri perbankan Amerika Serikat telah menurun secara stabil sejak 2010. Rasio LDR untuk lima bank terbesar berkisar dari level 65% untuk JPMorgan Chase dan Citigroup hingga hampir 85% untuk US Bancorp. Model bisnis yang terdiversifikasi secara signifikan untuk JPMorgan serta Citigroup (yang mencakup divisi perbankan kustodian besar untuk keduanya) terutama bertanggung jawab atas angka LDR mereka yang relatif rendah yang juga sangat sehat itu.

Sementara model bisnis pinjaman dan simpanan tradisional Bancorp dari Amerika Serikat menjelaskan mengapa angka LDR yang lebih tinggi. Tingkat tabungan swasta umumnya persisten dan positif terkait dengan tingkat pendapatan dan pertumbuhan pendapatan.

Peningkatan terms-of-trade juga berkontribusi pada peningkatan tabungan melalui pengaruhnya terhadap pendapatan. Komponen pendapatan permanen dan ketentuan perdagangan meningkatkan tabungan, dan bagian sementara dari ketentuan perdagangan disimpan ke tingkat yang lebih besar daripada bagian permanen. Tabungan didorong oleh inflasi, mungkin karena motif kehati-hatian.

Peningkatan ketersediaan kredit, yang sering dikaitkan dengan proses liberalisasi keuangan, menekan tabungan swasta. Rasio ketergantungan usia tua yang lebih tinggi mengurangi tabungan karena lansia membiayai kebutuhan konsumsi mereka dengan akumulasi tabungan. Urbanisasi menurunkan tingkat tabungan swasta.

Penghematan publik yang lebih tinggi mengurangi tabungan pribadi, yang hanya menunjukkan Pengimbang Ricardian parsial. Kenaikan produk domestik bruto (GDP) hanya akan menaikan tabungan domestik bruto (GDS) pada tahun berikutnya.

Selanjutnya, GDS secara akumulatif tidak meningkat pada tahun kedua, dan secara akumulatif GDS terus mengalami penurunan pada tahun-tahun berikutnya. Dengan demikian, keberhasilan meningkatkan GDP hanya akan memberikan dampak kenaikan akumulatif pada satu tahun berikutnya. Implikasinya, selama GDP terus tubuh maka GDS akan tumbuh pada tahun berikutnya.

Untuk meningkatkan GDS pada tahun-tahun berikutnya maka diperlukan upaya untuk meningkatkan GDP setiap tahunnya. Jika GDP mengalami pertumbuhan 0% maka dapat dipastikan nilai akumulasi GDS pada tahun 2030 akan lebih rendah lagi, di mana nilainya lebih rendah dari nilai akumulasi GDS jika GDP mengalami pertumbuhan. Dengan perilaku yang seperti ini maka upaya meningkatkan GDS dalam jangka menengah dan panjang memang tidak mudah.

Hubungan jangka panjang antara produk domestik bruto dan investasi (gross fixed capital formation), terlihat bahwa kenaikan produk domestic bruto di tahun 2018 akan meningkatkan secara akumulatif investasi pada tahun 2019, 2020 dan 2021, namun secara akumulatif mulai turun pada tahun 2022 hingga 2030. Dengan demikan, investment rate hanya diharapkan dapat meningkat selama tiga tahun ke depan ketika produk domestik bruto mengalami pertumbuhan.

Pada tahun keempat dan selanjutnya, investment rate justru akan mengalami pertumbuhan negatif yang sangat dalam dengan berjalannya waktu. Dengan perilaku yang seperti itu maka upaya peningkatan investment rate mengalami kendala untuk periode di atas tiga tahun ke depan. Implikasinya, rasio pinjaman terhadap tabungan bersifat bias ke atas, yang risikonya akan meningkatkan risiko likuiditas pada perbankan itu sendiri.

Solusinya, pembuat kebijakan dan regulator harus segera menurunkan risiko ini secara sehat, yaitu dengan cara meningkatkan per tumbuhan tabungan yang lebih tinggi dari pertumbuhan pinjaman.

Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA