Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Paul Sutaryono, Pengamat Perbankan & Mantan Assistant Vice President BNI

Paul Sutaryono, Pengamat Perbankan & Mantan Assistant Vice President BNI

Manakala Bangkok Bank Memeluk Bank Permata

Paul Sutaryono *), Jumat, 14 Februari 2020 | 11:43 WIB

Pada 15 Desember 2019, dengan gagah perkasa Bangkok Bank telah mengakuisisi Bank Permata dengan nilai Rp 37,43 triliun atau US$ 2,67 miliar. Bagaimana prospek Bank Permata?

Bangkok Bank merupakan bank terbesar di Thailand yang didirikan pada 1944. Bank itu memiliki lebih dari 1.000 kantor cabang di Thailand dan 25 kantor cabang atau kantor perwakilan internasional di 13 negara. Sejak 1968, Bangkok Bank telah memiliki kantor cabang di Jakarta.

Bagaimana kinerja Bank Permata sampai dengan kuartal III- 2019? Bank Permata mampu meningkatkan laba bersih 121% secara tahunan (year on year) menjadi Rp 1,1 triliun.

Tingkat efisiensi yang tersurat dalam rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) tampak menurun atau mengalami perbaikan dari 96% menjadi 87%. Angka itu di atas rata-rata industri 80,50% dan di atas ambang batas 70-80%. Artinya, Bank Permata masih belum efisien.

Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) bersih juga menurun atau membaik dari 1,7% menjadi 1,2%. Pencapaian yang jitu lantaran NPL bersih masih jauh di bawah ambang batas 5%. Itulah sekilas kinerja Bank Permata.

Prospek Bisnis

Lantas, bagaimana prospek bisnis Bank Permata dalam pelukan Bangkok Bank? Pertama, sudah barang tentu, daya jangkau Bangkok Bank akan semakin luas di Tanah Air. Kantor cabangnya di Jakarta selama ini menangani transaksi trade finance (ekspor, impor, dokumen collection dan bank garansi), pinjaman korporasi (pembiayaan proyek, pre-ekspor, ekspor dan impor), pengiriman dana dan jasa penukaran mata uang asing (spot, forward, swap, interest rate swap).

Akuisisi Bank Permata oleh Bangkok Bank itu merupakan salah satu bentuk konsolidasi perbankan nasional yang terus didorong oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator sektor jasa keuangan.

Tetapi amat disayangkan konsolidasi perbankan nasional melalui merger dan akuisisi itu hanya terjadi di bank menengah ke atas.

Sejatinya, konsolidasi perbankan nasional amat diharapkan terjadi di bank kecil. Hal itu terlebih bagi bank umum kegiatan usaha (BUKU) 1 (modal inti di bawah Rp 1 triliun dan BUKU 2 (modal inti di atas Rp 1 triliun hingga di bawah Rp 5 triliun), apalagi yang mengalami kesulitan untuk menambah modal.

Upaya itu dapat menekan jumlah bank yang mencapai 110 bank per akhir Oktober 2019. Itu jumlah yang terlalu banyak apabila dibandingkan dengan bank di Thailand yang “hanya” sekitar 30 bank dengan 6 di antaranya merupakan bank pemerintah.

Kita ambil beberapa contoh. Bangkok Bank, Krung Thai Bank, Siam Commercial Bank, Kasikorn Bank, TMB Bank, Thanachart Bank, Kiatnakin Bank dan Bank of Ayudhya.

Semakin sedikit jumlah bank, semakin “mudah” bagi OJK untuk melakukan pengawasan. Akhirnya, hal itu akan mampu menekan potensi\ risiko kasus-kasus perbankan (fraud).

Kedua, sebaliknya harga saham Bank Permata akan semakin cemerlang. Kok bisa? Tentu saja karena Bank Permata telah diakuisisi oleh bank papan atas dan investor global. Investor sebagai pemegang saham Bank Permata akan berpandangan bahwa prospek Bank Permata bakal lebih gemerincing di tangan Bangkok Bank sebagai pemain bisnis perbankan terkemuka di Asia Tenggara.

Dengan bahasa lebih bening, telah lahir persepsi positif bagi investor dalam dan luar negeri terhadap Bank Permata. Pastilah, hal ini berita yang menggembirakan.

Ketiga, tentu saja modal Bank Permata akan makin gendut di tangan Bangkok Bank sebagai investor raksasa sehingga Bank Permata dapat segera naik kelas menjadi BUKU 4 (di atas Rp 30 triliun). Ingat bahwa modal merupakan elemen penting bagi bank dan lembaga keuangan nonbank untuk menangkis aneka risiko: kredit, operasional, pasar, dan likuiditas.

Oleh karena itu, sesuai dengan Komite Basel, regulator mewajibkan bank umum untuk menambah modal di atas minimum dengan penyangga konservasi modal (capital conservation buffer) dan penyangga untuk melawan risiko siklikal (counter-cyclical buffer).

Penyangga konservasi modal adalah tambahan modal yang berfungsi sebagai penyangga apabila terjadi kerugian pada periode krisis. Penyangga untuk melawan risiko siklikal adalah tambahan modal untuk mengantisipasi kerugian apabila terjadi pertumbuhan kredit yang berlebihan sehingga berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan.

Bank umum kegiatan usaha (BUKU) 3 (modal inti di atas Rp 5-30 triliun) dan BUKU 4 wajib membentuk penyangga konservasi modal 2,5% dari aset tertimbang menurut risiko (ATMR) secara bertahap mulai 1 Januari 2016-2019.

Seluruh bank wajib membentuk penyangga untuk melawan risiko siklikal 2,5% dari ATMR secara bertahap mulai 1 Januari 2016-2019.

Untuk semakin mampu bersaing, OJK berencana untuk meningkatkan modal minimum bank umum menjadi Rp 3 triliun secara bertahap. Ini tahapannya. Modal minimum akan menjadi Rp 1 triliun pada 2020, Rp 2 triliun pada 2021 dan kemudian Rp 3 triliun pada 2022.

Keempat, kemungkinan besar Bangkok Bank akan memanfaatkan Bank Permata untuk lebih aktif dalam menyalurkan kredit korporasi, mengingat Bank Permata sebagai bank papan menengah.

Kini proyek infrastruktur seperti jalan tol, jembatan, bandara, jalan kereta api termasuk moda transportasi mass rapid transit (MRT) dan light rail transit (LRT), irigasi (bendungan dan bendung) dan pembangkit listrik menjadi sumber pendapatan dari bunga yang legit bagi bank papan menengah-atas.

Pada umumnya, proyek infrastruktur dibiayai melalui kredit sindikasi. Hal itu bertujuan untuk membagi risiko (risk sharing) karena jumlah yang tinggi dan tenor menengah-panjang. Langkah itu juga untuk memenuhi undangan pemerintah supaya swasta ikut aktif dalam pembangunan infrastruktur (public private partnership/ PPP) yang terus digeber untuk meningkatkan konektivitas antardaerah. Pembangunan infrastuktur itu bertujuan final untuk menyuburkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Kelima, Bangkok Bank melalui Bank Permata juga akan menyerbu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Mengapa? Karena bank umum wajib mengucurkan kredit ke segmen itu minimal 20% dari kredit produktif (kredit modal kerja dan kredit investasi).

Sesungguhnya, kewajiban itu sudah harus “lunas” pada akhir 2018 lalu tetapi masih banyak bank yang belum mampu memenuhinya.

Mengapa semua kelompok bank terjun ke bawah menyerbu rezeki segmen UMKM? Karena UMKM merupakan segmen yang bermargin tebal sehingga menjadi magnet yang kuat bagi semua kelompok bank.

Keenam, Bank Permata pun akan menggeber pendapatan dari komisi (fee-based income) ketika pendapatan dari bunga belum bersinar terang pada 2020.

Selain itu, Bank Permata akan menggenjot kredit konsumsi (consumer banking) seperti kredit pemilikan rumah (KPR), kredit pemilikan apartemen (KPA), kredit kendaraan bermotor (KKB) dan kredit tanpa agunan (KTA).

Selama ini, KTA dapat dikatakan laris manis. Kok bisa? Sebab, KTA dapat dimanfaatkan sebagai kredit multiguna seperti pernikahan, pendidikan, kesehatan dan perjalanan wisata dalam dan luar negeri.

Jangan lupa bahwa pendapatan dari komisi dan kredit konsumsi itu akan menjadi penopang utama tatkala kredit komersial mengalami musim kemarau seperti saat ini.

Sarinya, pendapatan dari bunga (interest income) dapat ditopang oleh pendapatan dari non operasional (non interest income). Maka tak mengherankan ketika bank papan atas dan menengah tetap mampu menggapai laba mulai dari cukup tinggi hingga tinggi.

Alhasil, Bank Permata di tangan Bangkok Bank akan kian perkasa. Pangsa pasar (market share) Bank Permata pun kian subur dalam industry perbankan nasional. Itu bukan isapan jempol.

*) Staf Ahli Pusat Studi BUMN, Pengamat Perbankan & Mantan Assistant Vice President BNI

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA