Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Agus Sugiarto, Advisor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Agus Sugiarto, Advisor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Melihat Dampak Tsunami Covid-19

Agus Sugiarto *), Jumat, 5 Juni 2020 | 23:12 WIB

Pandemi Covid-19 telah menimbulkan krisis kemanusiaan di hampir semua negara. Sudah lebih dari 6,3 juta orang di dunia terinfeksi dan sekitar 370 ribu orang di antaranya meninggal dunia (per 1 Juni 2020).

Fakta di lapangan menunjukkan, penyebaran virus corona juga berdampak besar ke sektor ekonomi, sehingga pandemi ini juga melahirkan krisis ekonomi global.

Kombinasi dari krisis kemanusiaan dan krisis ekonomi tersebut menimbulkan efek domino yang luar biasa dahsyatnya dan melebihi krisis moneter tahun 1998 maupun krisis keuangan 2008.

Dampak turunan dari krisis ekonomi tersebut kelihatan semakin jelas setelah pandemi Covid-19 berjalan beberapa bulan.

Resesi Ekonomi Global

Keganasan pandemi Covid-19 telah menyebabkan roda perekonomian global mengalami disrupsi yang luar biasa dahsyatnya.

Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi dunia akan mengalami resesi, bahkan menuju depresi yang cukup parah.

Pertumbuhan ekonomi global yang diukur dalam GDP (gross domestic product) akan minus 3% pada tahun 2020. Pertumbuhan ekonomi di negara maju bahkan diprediksi menjadi minus 6,1%.

Pertumbuhan minus tersebut diperkirakan berlanjut sampai tahun 2021, apabila pandemi Covid-19 terus berlangsung sampai akhir tahun 2020.

IMF memperkirakan potensi kerugian GDP dunia tahun 2020 dan 2021 diperkirakan mencapai US$ 9 triliun (sekitar Rp 13.000 triliun dengan kurs Rp 14.500/US$) atau setara dengan gabungan nilai ekonomi negara Jepang dan Jerman.

Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 bisa mencapai angka minus 0,4%. Namun, data BPS menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2020 sudah mengalami kontraksi atau minus 2,41% dibanding triwulan IV-2019.

Era Kebangkrutan Korporasi

Kebangkrutan korporasi di berbagai industri atau sektor ekonomi sudah tidak bisa dihindari lagi sebagai akibat dari pandemic Covid-19. Transpor tasi udara merupakan salah satu sektor yang mengalami dampak terparah. Beberapa perusahaan penerbangan sudah menyampaikan permintaan kebangkrutan ke otoritas setempat.

Kebangkrutan juga dialami korporasi di sektor lainnya, seperti JC Penny yang merupakan toko ritel tertua di Amerika Serikat, dan Debenhams di Inggris. Kemudian, Blackrock yang merupakan salah satu perusahaan investasi terbesar di dunia, dan perusahaan rental mobil Hertz, serta Whiting Petroleum dan Diamond Offshore Drilling, perusahaan minyak Amerika Serikat.

Kebangkrutan akibat pandemic Covid-19 bukan hanya melanda korporasi besar. Diperkirakan ribuan UMKM di seluruh dunia berhenti beroperasi dan mengalami kebangkrutan.

Badai Pengangguran

Pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di mana-mana di hampir semua industri, sehingga daya beli masyarakat menurun. Salah satu organ PBB, yaitu International Labour Organization (ILO) pada awal April 2020 memprediksikan sekitar 195 juta orang kehilangan pekerjaan.

Jumlah pengangguran di Amerika Serikat sendiri saat ini mencapai 30 juta orang. Badai PHK belumlah selesai dan para ahli memperkirakan masih banyak lagi potensi PHK di berbagai industri.

Para pengusaha Indonesia meramalkan potensi PHK akan mencapai 10 juta orang. Tantangan besar bagi semua Negara yang terkena pandemi Covid-19 adalah bagaimana mengatasi munculnya pengangguran yang begitu besar dalam waktu cepat.

Penciptaan lapangan kerja baru sangat sulit dalam situasi seperti ini, sehingga pemerintah di banyak negara harus memberikan insentif jaminan sosial untuk mempertahankan daya beli masyarakat.

Ledakan Penduduk Miskin

Dampak besar lainnya dari wabah ini adalah semakin bertambahnya masyarakat yang akan turun kasta menjadi penduduk miskin. Dikutip dari the United Nations University (9 April 2020), diperkirakan ada peningkatan jumlah orang miskin sekitar 420-580 juta di seluruh dunia.

Di Indonesia, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, akan ada tambahan 3,78 juta orang miskin baru. Sedangkan skenario terjelek dari hasil studi lembaga riset SMERU memunculkan angka tambahan 8,5 juta orang miskin baru.

Saat ini jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 24,79 juta orang atau sekitar 9,22% dari total populasi (BPS, September 2019). Jumlah kenaikan angka kemiskinan ini sangat besar sehingga memicu dampak sosial yang juga tidak kalah dahsyatnya, yaitu potensi meningkatnya angka kriminalitas maupun melebarnya jurang ketimpangan sosial.

Jangan Harap Waktu Pemulihan Cepat

Sudah ada 183 negara yang telah mengeluarkan paket stimulus ekonomi dan sosial untuk mengurangi dampak negatif yang berkelanjutan dari pandemi Covid-19.

Krisis ekonomi yang ditimbulkan Covid-19 luar biasa dahsyatnya, sehingga mirip gelombang tsunami yang memporak- porandakan suatu wilayah.

Perlu biaya besar untuk menanggulangi dan memulihkan kondisi menjadi normal kembali seperti semula. Janganlah kita berharap bahwa pemulihan ekonomi dan dampak sosialnya akan berlangsung cepat. Karena kita sendiri tidak bisa memprediksikan kapan penyebaran virus corona yang mematikan ini akan berakhir. r

*) Advisor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dari penulis.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN