Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mohamad Khusaini, Guru Besar FEB Universitas Brawijaya

Mohamad Khusaini, Guru Besar FEB Universitas Brawijaya

Memacu Pemulihan Fungsi Intermediasi Perbankan

Rabu, 9 Juni 2021 | 11:03 WIB
Mohamad Khusaini *)

Perbankan merupakan urat nadi perekonomian yang mempunyai fungsi utama sebagai financial intermediary (intermediasi keuangan). Macetnya fungsi intermediasi perbankan selama pandemi Covid-19 menyebabkan lambatnya pemulihan ekonomi Indonesia.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap kreditbank umum turun sekitar 2,28% (year on year/yoy) per April 2021. Kredit modal kerja dan kredit investasi masing-masing mengalami penurunan 3,76% (yoy) dan 2,24% (yoy). Beruntung, kredit konsumsi masih tumbuh positif0,31% (yoy).

Di sisi lain, penyerapan kreditmenurut lapangan usaha juga mengindikasikan potret serupa. Kredit industri pengolahan, mi sal nya, turun 4,93% (yoy). Padahal sektor ini menjadi backbone (tulang punggung) perekonomian nasional, baik dari sisi pertumbuhan maupun dalam hal penyerapan tenaga kerja.

Memperhatikan data-data tersebut, tidak mengherankan jika pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan lalu tetap negatif._ Pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk mendo rong penyaluran kredit agar terus meningkat melalui stakeholder terkait.

Pemerintah, missalnya, mengeluarkan stimulus dalam kerangka Pemulihan EkonomiNasional (PEN), sepertistimulus ke sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) hingga ke sektor pariwisata. Bank Indonesia juga telah menstimulus lewat relaksasi kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial.

Dari sisi moneter, salah satu stimulus Bank Indonesia adalah lewat koreksi suku bunga acuan. Sejak pandemi Covid-19 (Maret 2020 sampai Mei 2021) Bank Indonesia telah mengoreksi suku bunga acuan 100 basis point (bps) atau 1%.

Terkait kebijakan makroprudensial, stimulus Bank Indonesia adalah koreksi Giro Wajib Minumum (GWM) sebesar 50 bps, khususnya bagi bagi bank-bank yang melakukan pembiayaan ekspor-impor produktif, UMKM, dan sektor-sektor prioritas program PEN.

Tak mau ketinggalan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mengeluarkan paket kebijakan untuk mendongkrak perekonomian, terutama terekam dari pro gram restrukturisasi kredit perbankan. Awal Mei 2021, restrukturisasi kredit mencapai Rp 808 triliun.

Sebesar 61% restrukturisasi tersebut merupakan kredit non-UMKM, sedangkan 39% merupakan kredit UMKM. S timulus dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga hadir lewat koreksi bunga penjaminan. Suku bunga LPS pada periode awal pandemi Covid-19 (25 Januari 2020 - 26 Maret 2021) mencapai 6% dan kemudian turun menjadi 4% periode (29 Mei 2021 - 29 September 2021) atau terkoreksi sebesar 200 bps (2%).

Koreksi suku bunga penjaminan tersebut sejalan dengan koreksi suku bunga simpanan perbankan serta kondisi ketersediaan likuiditas yang cenderung mengalami over likuiditas.

Syarat Menggerakkan Sektor Keuangan

Ada beberapa hal yang menyebabkan pertumbuhan kredit masih negatif. Pertama, berbagai stimulus dari regulator sektor keuangan cenderung bergerak pada area-area koreksi bunga dan stimulus relaksasi regulasi (pelonggaran).

Padahal, saat kondisi ekonomi normal koreksi suku bunga cenderung tidak cepat bertransmisi ke suku bunga kredit, apalagi di saat ekonomi mengalami krisis. Stimulus sektor keuangan memang harus diiringi dengan kesuksesan stimulus di sektor riil, karena jika tidak demikian, kredit akan sulit bergerak dan tetap stagnan.

Kedua, sebagai bagian dari pergerakan sektor riil, penu runan pertumbuhan kredit karena terbatasnya aktivitas ekonomi dan sosial. Pemerintah melakukan berbagai langkah untuk mengurangi penyebaran kasus positif Covid-19 baik di pusat maupun di daerah.

Langkah-langkah pembatasan aktivitas sosial berdampak signifikan terhadap permintaan barang dan jasa sehingga aggregate demand mengalami penurunan.

Ketiga, program pemulihan ekonomi (PEN) pemerintah belum mampu mendorong aktivitas berusaha atau setidaknya perbaikan persepsi dunia usaha terhadap pemulihan ekonomi. Banyak masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan PEN, mulai masalah administrasi hingga implementasi di lapangan. Tahun lalu (2020), realisasi PEN hanya 83%, sedangkan untuk PEN tahun 2021 baru terealisasi Rp 172 triliun atau 24% (11 Mei 2021).

Keempat, rasio-rasio kinerja bank umum cemerlang tetapi po tensi kredit macet akan membengkak sehingga bank cenderung konsolidasi internal. Konsolidasi tersebut dilakukan dengan mengelola pembiaya an existing sehingga kredit baru semakin selektif. Jika bank memaksa menyalurkan kredit, potensi kredit macet sangat tinggi.

Dalam kondisi krisis pandemi Covid-19, Loan at risk bank umum mencapai 24-25% dari kredit. Dalam mendorong pemulihan kredit, perbankan dapat mengikuti berbagai langkah berikut.

Langkah pertama adalah membiayai sektor-sektor prioritas pemerintah, yang sejalan dengan program-program pemulihan ekonomi nasional. Beberapa sektor yang dimaksud adalah sektor kesehatan maupun industri (khususnya makanan dan minuman).

Sektor lainnya yang terdampak stimulus pemerintah adalah sektor transportasi dan perumahan. Stimulus sektor tersebut terekam dari diskon Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan uang mu ka di sektor properti. Meski terbatas, stimulus tersebut diproyeksi mampu menggerakkan sektor-sektor terkait.

Menyambut pemulihan sektor investasi, perbankan harus segera menyiapkan pembiayaan ke sektor-sektor yang diproyeksi mulai bergerak. Hal ini sejalan dengan langkah Kementerian Investasi membentuk

Satgas Investasi untuk mengurangi ham batan-hambatan investasi di daerah. Langkah ini sebagai upaya untuk memacu pemulihan ekonomi dari pandemi Covid-19. Potensi lonjakan permintaan kredit juga muncul dari sek torsektor yang terkait langsung dengan pulihnya ekonomi Negara lain. Pada triwulan I-2021, ekonomi Tiongkok tumbuh 18,3% (yoy); sedangkan Amerika Serikat tumbuh 0,4% (yoy); Singa pura tumbuh 0,2% (yoy); Korea Selatan tumbuh 1,8% (yoy); dan Vietnam tumbuh 4,5% (yoy).

Data ekonomi sektoral Tiongkok tumbuh tinggi. Sektor sekunder dan sektor tersier masing-masing tumbuh 24,4% (yoy) dan 15,6% (yoy). Sektor konstruksi tumbuh 22,8% (yoy); sektor perdagangan dan ritel tumbuh 26,6% (yoy), sedangkan sektor transportasi dan akomodasi masing- masing tumbuh 32% (yoy) dan 43,7% (yoy).

Beberapa komoditas ekspor andalan Indonesia ke Tiongkok masih didominasi bahan mentah seperti nikel, minyak sawit, bijih tembaga, hingga sarang burung yang bisa dimakan.

Data Badan Pusat Statistik (2021) menyebut kan, pertumbuhan ekspor In donesia ke Tiongkok naik hing ga 67% (yoy); sedangkan ke Amerika Serikat naik 25% (yoy), dan ke Australia meningkat 29% (yoy).

Berbagai stimulus regulator sektor keuangan tidak nendang jika kondisi sektor rill tidak pulih dari krisis pandemi Covid-19.Saat ini, harapan pemulihan ekonomi sangat bertumpu pada program vaksinasi dan kedisiplinan atau kesadaran masyarakat mematuhi protokol kesehatan.

*) Guru Besar FEB Universitas Brawijaya dan Anggota Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN