Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hamdi Hassyarbaini, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan PT Bursa Efek Indonesia (BEI)  periode 2015-2018

Hamdi Hassyarbaini, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2018

Memahami Modus Operandi Bandar Saham

Hamdi Hassyarbaini *), Selasa, 21 Januari 2020 | 11:23 WIB

Pada tulisan sebelumnya saya mengatakan bahwa pada dasarnya semua saham bisa digerakkan harganya alias menjadi objek manipulasi pasar atau penggorengan, baik saham-saham yang berkapitalisasi kecil atau small cap maupun saham-saham yang berkapitalisasi besar atau big cap. Namun untuk menggerakkan harga saham big cap tentu saja membutuhkan dana yang sangat besar, sehingga hanya pelaku bermodal besar yang bisa melakukan.

Pendapat ini berbeda dengan persepsi sebagian orang yang menganggap saham gorengan hanyalah saham small cap, saham murah, saham lapis kedua atau ketiga, saham baru IPO, dan lain-lain. Oleh karena itu, otoritas pasar modal jauh-jauh hari sudah mengantisipasi dengan memasukkan pasal- pasal manipulasi pasar dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM), yaitu pasal 91 dan 92. Regulasi itu secara umum menyatakan bahwa setiap pihak dilarang melakukan tindakan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan tujuan untuk menciptakan gambaran semu atau menyesatkan mengenai kegiatan perdagangan, keadaan pasar, atau harga efek di bursa efek; menaikkan harga efek yang seharusnya tidak naik, menurunkan harga efek yang seharusnya tidak turun, atau bahkan mempertahankan harga suatu efek sekalipun.

Walaupun UUPM sudah secara jelas melarang, namun kenyataannya tetap saja terjadi praktik penggorengan saham. Sehingga Presiden Jokowi, saat pembukaan perdagangan di BEI tanggal 2 Januari 2020, harus mengimbau agar praktik penggorengan saham tersebut dihentikan.

Banyak pihak yang berkepentingan menggerakkan harga saham –manajer investasi, pengurus dana pensiun, emiten, dan pihak-pihak lainnya. Tentu saja masing-masing pihak itu punya tujuan yang berbeda. Manajer investasi ingin nilai aktiva bersih (NAB) produk reksa dananya selalu tinggi sehingga mudah menarik calon investor baru.

Pengurus dana pensiun ingin menunjukkan rapor yang selalu “bagus” berupa hasil investasi yang “tinggi” agar dapat bonus besar. Emiten ingin harga sahamnya selalu tampil cantik, atau pihak lain semata-mata ingin mengeruk keuntungan besar.

Penentuan saham mana yang akan digoreng tentu saja tergantung pada kekuatan modal pihak penggoreng atau lazim disebut bandar. Bandar bermodal kecil hanya mampu menggoreng saham-saham murah atau small cap, sebaliknya bandar yang bermodal kuat tentu saja mampu menggoreng saham-saham yang tergolong big cap. Tapi modus atau teknik yang mereka gunakan kurang lebih sama.

Berikut adalah beberapa modus atau teknik yang lazim digunakan oleh para bandar, untuk diketahui investor agar tidak terjebak dalam permainan bandar.

Wash Trade

Wash trade (orang sering keliru menyebut wash sale, padahal dua hal yang berbeda) adalah transaksi penjualan dan pembelian atas suatu saham yang dilakukan oleh pihak yang sama sehingga tidak terjadi perubahan kepemilikan atau beneficial ownership atas saham tersebut.

Oleh karena itu, dalam bahasa Indonesia disebut transaksi semu. Contohnya, satu pihak yang memiliki rekening efek di dua broker yang berbeda, menjual saham XYZ di broker A dan pada saat yang sama membeli saham tersebut di broker B. Transaksi semu makin dipermudah dengan adanya online trading, karena pelaku bisa melakukan sendiri tanpa harus minta bantuan broker. Apalagi pada masa sebelum penerapan e-KTP, di mana satu orang masih bisa memiliki lebih dari satu KTP.

Namun, setelah adanya e-KTP dan keharusan memiliki single investor identification (SID), modus wash trade akan mudah teridentifikasi oleh pengawas.

Oleh karena itu, pelaku wash trade saat ini menggunakan beberapa nama yang berbeda, misalnya nama isteri/suami/anak/ teman, atau nama perusahaan beserta nama beberapa pengurus atau karyawannya.

Tujuan bandar melakukan wash trade adalah untuk menaikkan atau menurunkan harga suatu saham, atau sekadar menciptakan kesan bahwa suatu saham aktif diperdagangkan sehingga bisa “memancing” investor lain untuk ikut membeli dan bandar bisa menjual saham miliknya yang sebelumnya sulit dijual.

Marking the close

Dengan modus ini, pelaku ingin membuat tanda atau harga baru atas suatu saham. Modus ini biasanya dilakukan pada detik-detik terakhir menjelang penutupan perdagangan, biasanya dalam lot kecil, misalnya 1 atau 2 lot saja, supaya modal yang dikeluarkan juga kecil. Apa keuntungan bagi pelaku?

Kalau pelakunya manajer investasi, tentu saja agar NAB produk reksa dananya tinggi sehingga menarik investor lain untuk membeli. Kalau pelakunya bandar, tergantung apa tujuannya, apakah ingin membeli atau menjual suatu saham. Kalau dia ingin membeli, maka harga closing akan dibuat rendah, sebaliknya kalau dia ingin menjual, maka harga closing dibuat tinggi.

Namun modus ini makin sulit dilakukan setelah adanya mekanisme pre-closing seperti yang diterapkan di BEI, kecuali untuk saham-saham yang tidak likuid atau pelakunya adalah bandar bermodal kuat. Apabila modus ini dilakukan terhadap saham-saham yang bobot terhadap indeksnya besar, maka tentu saja akan memengaruhi indeks.

Oleh karena itu, jangan heran kalau suatu saat melihat bentuk grafiks indeks yang rada aneh, misalnya sepanjang hari berada di zona merah, tapi pada detik-detik menjelang penutupan melompat ke atas.

Pump and Dump

Sesuai dengan namanya, dengan modus ini pelaku “memompa” harga suatu saham ke atas dan setelah sampai pada harga yang diiginkan, pelaku menjual saham yang dimilikinya dan keluar dari pasar. Setelah tidak ada lagi yang “memompa”, maka harga saham tersebut akan segera terjun bebas.

Untuk melakukan modus ini tentu saja memerlukan modal yang besar karena pelaku harus membeli dengan harga yang lebih tinggi atau istilah pasarnya “haka” (hajar kanan) pada beberapa tingkat harga. Tapi tentu saja pelaku sudah memperhitungkan dengan keuntungan yang akan diperoleh saat melakukan dumping atas saham tersebut.

Bentuk lain dari pump and dump adalah hype and dump, di mana selain memompa harga saham, pelaku juga menyebarkan rumor yang seolah-olah positif mengenai saham yang sedang digoreng, sehingga investor awam beranggapan kenaikan harga saham tersebut memang didukung informasi yang “positif” dan terpancing untuk masuk.

Alternate Trade

Dengan teknik ini, sejumlah pihak berjanji untuk melakukan transaksi secara bergantian, missal awalnya A sebagai penjual dan B sebagai pembeli. Setelah itu, mereka berganti peran, B menjadi penjual sementara A menjadi pembeli. Pergantian peran ini bisa dilakukan berkali-kali. Tujuan pelaku adalah untuk menciptakan kesan bahwa suatu saham aktif diperdagangkan sehingga bisa memancing investor lain untuk masuk. Pada saat transaksi saham tersebut sudah aktif dan sudah mencapai tingkat harga yang diinginkan, pelaku segera keluar dari pasar dengan menjual seluruh saham yang mereka miliki.

Pre-arranged Trade

Dengan modus ini, dua atau lebih pihak bersepakat untuk memasang order beli dan jual pada waktu yang disepakati dengan harapan kedua order tersebut matched dan terjadi transaksi. Modus ini juga bisa dilakukan berkali-kali. Tujuannya adalah untuk menaikkan atau menurunkan harga atau sekadar memberi kesan bahwa saham tersebut aktif diperdagangkan sehingga mengundang investor lain untuk masuk dan ikut melakukan transaksi.

Creating Fake Demand/Supply

Dengan modus ini pelaku memasang order beli/jual palsu. Caranya, pelaku memasang order beli/jual pada tingkat harga terbaik, namun begitu order mereka sudah hampir matched, order beli/jual tersebut segera di-withdraw atau diamond ke tingkat harga yang lebih rendah/tinggi. Hal ini dilakukan berkali-kali dengan tujuan memberi kesan saham tersebut aktif diperdagangkan sehingga mengundang investor lain untuk masuk melakukan transaksi.

Tidak mudah untuk mengetahui apakah transaksi suatu saham memang didukung oleh pertemuan penawaran dan permintaan yang murni atau akibat ulah bandar. Apabila investor mendapati harga suatu saham tiba-tiba naik atau turun secara signifikan, hal yang pertama dilakukan adalah mencari informasi yang mendukung kenaikan atau penurunan tersebut.

Berikutnya, lihat grafik saham tersebut dalam satu atau dua tahun terakhir, apakah kenaikan atau penurunan saat ini sejalan dengan pola grafik sebelumya. Hal berikutnya yang harus dilakukan adalah melihat order book, apakah ordernya tebal (banyak) atau tipis (sedikit). Tapi order tebalpun bisa menipu, karena bisa jadi ada fake demand/ supply.

Untuk membuktikannya, lihat apakah sering terdapat order besar yang tiba-tiba hilang tanpa terjadi transaksi, artinya banyak amend atau withdraw. Untuk mengetahui adanya alternate atau pre-arranged trade, investor harus memperhatikan order book dengan seksama sampai ke level broker. Perhatikan apakah transaksi saham tersebut dilakukan bolak-balik oleh broker itu-itu saja.

*) Penulis adalah Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI periode 2015-2018

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA