Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Muhammad Ade Irfan, Wakil Sekjend Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia

Muhammad Ade Irfan, Wakil Sekjend Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia

Membaca Arah Pertumbuhan PDB 2020-2024 Melalui Konektivitas

M Ade Irvan *), Sabtu, 18 Januari 2020 | 13:03 WIB

Program pembangunan infrastruktur sepanjang tahun 2019 membuahkan hasil, ditandai dengan banyak capaian penyelesaian proyek infrastruktur. Terutama sekali adalah penyelesaian jalan tol dan non tol di Jawa ataupun luar Jawa. Penyelesaian infrastruktur jalan akan membantu pencapaian pertumbuhan di daerah-daerah yang dilalui jalan tersebut. Proyek infrastruktur jalan yang sudah selesai di antaranya adalah jalan tol Batang–Semarang (75 km), tol Pandaan–Malang (38 km), Balikpapan–Samarinda (99 km), dan jalan tol Manado–Bitung (39 km). Sedangkan beberapa proyek infrastruktur baru seperti Yogyakarta– Bawen Tol Road (78 km), tol Probolinggo– Banyuwangi (172 km) masih menunggu penyelesaian (KPPIP, 2019).

Menilik kepada Peraturan Presiden No 78 tahun 2018 tentang Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2019, proyek infrastruktur menempati perhatian khusus dan akan dilanjut kembali menjadi RKP 2020. Proyek tersebut tercantum dalam Perpres No 75/2014 tentang Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas. Infrastruktur sebagai konektivitas mengambil peranan penting, yang meliputi sebanyak 78 tol proyek strategis nasional, 50 jalan non tol, dan 16 jalur kereta api. Ini belum termasuk pembenahan terminal, pelabuhan, dan bandara. Infrastruktur sebagai landasan utama konektivitas mendesak untuk diselesaikan karena telah turut mengubah pola paradigma pertumbuhan perekonomian.

Penyelesaian pembangunan infrastruktur ternyata telah membuka kawasan-kawasan baru. Jika 5 atau 7 tahun sebelumnya hanya kawasan ruang terbuka atau hunian, dengan konektivitas ternyata telah membuka kawasan-kawasan baru. Daerah-daerah tersebut kemudian berpoles diri dengan menyediakan hunian, kawasan perdagangan, perkantoran, dan bahkan perindustrian, serta mengubah dirinya sebagai kota kecil tetapi dengan kompleksitas tinggi.

Perubahan Paradigma

Penyelesaian sejumlah jalan tol dan non tol ternyata tidak hanya menghubungkan tetapi juga mengubah paradigma. Paradigma lama adalah pertumbuhan perekonomian suatu daerah kemudian dibuat terhubung dengan infrastruktur. Namun sekarang, dengan jalan terhubung, memaksa daerah tersebut akan bertumbuh.

Ship follows the location, merupakan perubahan paradigma dari ship follows the trade yang merupakan prinsip dasar di dunia pelayaran. Pemerintah telah menempatkan infrastruktur terbangun, kemudian perekonomian tercipta. Pembukaan kawasan-kawasan khusus yang terhubung dengan infrastruktur kelautan dan darat, ternyata telah meramaikan kawasan- kawasan terhubung, lebih cepat dan lebih masif dibanding kawasan- kawasan baru terbuka tanpa ada keterhubungan.

Pada gilirannya akan memberikan sumbangsih perekonomian kewilayahan dan dampak nasional. Masyarakat dengan kemampuan Internet of Things ternyata berhasil mengubah lifestyle. Tercermin kepada ketertarikan masyarakat untuk memberikan perhatian besar atas keterhubungan, angkutan public (mass rapid transportation), tidak hanya menjadi demam di Jakarta, namun juga telah merambah daerahdaerah berkembang lainnya.

Perubahan masyarakat tercermin dengan lebih menyenangi daerahdaerah terhubung dan tingkat kompleksitas tinggi dibanding dengan daerah hunian saja. Masyarakat rela berbelanja properti dengan keterhubungan, daripada belanja properti saja. Kata “macet”, seakan menjadi momok menakutkan masyarakat untuk mencari properti.

Pola Pembangunan

Menyadari keterhubungan semakin menjadi daya tarik besar untuk masyarakat berkembang, maka pola pembangunan juga sudah seharusnya diubah. Tidak lagi menciptakan kawasan baru, tetapi mengikuti konektivitas infrastruktur terbangun. Sering dikeluhkan pembangunan fisik yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ataupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah tingkat pemakaian rendah saat masa operasi (user charge), namun tidak juga ditemukan solusi, walhasil pembangunan fisik tetap dilanjutkan oleh pemerintah, dan pada akhirnya subsidi harus bicara.

APBN 2020 memberikan tekanan sangat tinggi untuk mengurangi defisit dari Rp 310,8 triliun menjadi Rp 307,2 triliun, belanja subsidi ditekan dari Rp 212,4 triliun menjadi Rp 187,6 triliun (Kemenkeu, 2019). Maka pemerintah memerlukan suntikan besar dari pertumbuhan perekonomian (Produk domestik bruto/ PDB) di daerah konektivitas. Perubahan arah gerak pembangunan bukan lagi membangun sesuai dengan peruntukan, namun mengkaji lebih lanjut untuk menggunakan daerah-daerah keterhubungan menjadi pusat pembangunan masyarakat dengan pembangunan lebih memadai.

Konsep ini juga banyak diterapkan di Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Brasil. Daerah terhubung adalah sarana tepat untuk melakukan pembangunan, dengan ruang lingkup 1–2 km adalah sasaran empuk untuk fasilitas layanan publik dibangun, jika menggunakan konsep kemampuan pembayaran oleh pelanggan atau pengguna.

Pusat pertumbuhan baru di 2020- 2024 seyogianya mendasarkan pada pembauran kawasan dengan merancang pembangunan kota dengan tata guna lahan beragam. Yaitu, pencampuran seimbang antara peruntukan dan kegiatan dalam satu daerah, semisal antara tempat tinggal, tempat kerja, dan perdagangan ritel, tentu akan banyak perjalanan sehari-hari berjarak dekat dan dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Pembauran tata guna lahan dalam satu wilayah akan membuat jalan-jalan lokal terus hidup dan memberikan rasa aman terhadap pengguna.

Selain itu, mendorong aktivitas berjalan kaki dan bersepeda serta membentuk lingkungan hidup yang manusiawi. Dua sasaran kerja pada prinsip ini adalah penyediaan kawasan berimbang dari segi tata guna lahan dan tingkat pendapatan masyarakat.

Pertumbuhan di 2020–2024 muncul dari kawasan-kawasan terjangkau jalan kaki, kemudahan berjalan kaki dan aksesibilitas dari atau ke pusat konektivitas. Suatu jaringan jalur pejalan kaki padat dapat membuat perjalanan berjalan kaki dan bersepeda terasa bervariasi dan menyenangkan.

Bentuk jaringan jalan dengan banyak persimpangan, dengan ruang milik jalan tidak terlalu lebar, kecepatan kendaraan lambat, dan ramai oleh pejalan kaki akan mendorong kondisi jalanan lebih hidup dan manusiawi. Berjalan kaki adalah moda transportasi paling alami, sehat, tanpa emisi dan terjangkau untuk perjalanan jarak pendek.

Selain juga merupakan komponen penting dari suatu perjalanan dengan angkutan umum. Berjalan kaki selanjutnya merupakan dasar dari sistem transportasi berkelanjutan. Berjalan kaki adalah cara paling menyenangkan dan produktif. Berjalan kaki dapat menjadi gaya hidup yang tepat ketika trotoar dan jalur pejalan kaki tersedia, ramai pengguna, serta terdapat media interaksi sosial, dan berbagai elemen pendukung lainnya.

Faktor-faktor utama yang membuat berjalan kaki menjadi hal yang menarik adalah membentuk dasar dari tiga sasaran kinerja, yakni berprinsip keselamatan, keaktifan, dan kenyamanan. Sedangkan faktor pendukung lainnya dapat berupa kedekatan dan kelangsungan. Sepeda dan moda transportasi lain bertenaga manusia menghidupkan jalanjalan perkotaan serta meningkatkan cakupan layanan angkutan umum. Faktor utama mendorong orang untuk bersepeda adalah penyediaan infrastruktur memadai, memberikan keamanan, dan keselamatan.

Pertumbuhan perekonomian 2020- 2024 dipicu dengan ketersediaan angkutan umum yang menghubungkan dan mengintegrasikan wilayahwilayah pusat pembangunan, terhubung dengan jalan-jalan, ditempuh antarterminal dan terminal, dan berjalan kaki, bukan dengan ketersediaan mobil pribadi. Akses dan kedekatan dengan layanan angkutan umum massal diperlukan untuk memanjakan kawasan baru dan terintegrasi dengan angkutan umum.

Angkutan umum massal memainkan peranan penting, karena memungkinkan mobilitas perkotaan sangat efisien dan adil, serta mendukung tata ruang dan pola pembangunan masif. Angkutan umum juga hadir dalam berbagai bentuk moda untuk mendukung keseluruhan spektrum kebutuhan transportasi antarkawasan.

Sifat pertumbuhan 2020-2024 yakni memadatkan untuk optimalisasi peruntukan lahan dan kapasitas angkutan umum. Untuk dapat menopang pertumbuhan kawasan dalam pola tata ruang rapat dan padat, kawasan harus tumbuh secara vertical atau densifikasi, bukan secara horizontal atau sprawl.

Kepadatan berorientasi pada angkutan umum akan menghasilkan jalan-jalan yang ramai, dan memastikan bahwa area stasiun tetap hidup, aktif, dan aman.

Adapun batas dari densifikasi adalah kebutuhan akses sinar matahari, sirkulasi udara segar, akses menuju taman dan ruang terbuka hijau, kelestarian lingkungan hidup, dan perlindungan terhadap warisan sejarah dan budaya.

Tujuan utama dari memadatkan adalah membangun wilayah-wilayah dengan jarak kebutuhan perjalanan pendek. Di wilayah kota ataupun pinggiran kota yang rapat, berbagai kegiatan dan aktivitas hadir saling berdekatan satu sama lainnya. Pola ini selanjutnya meminimalkan waktu dan energi untuk menjangkau fasilitas dan memaksimalkan potensi interaksi antarwarga.

Dengan jarakjarak pendek, kota padat juga membutuhkan lebih sedikit infrastruktur megah dan mahal serta dapat memenuhi kebutuhan ruang terbuka hijau dengan memprioritaskan densifikasi dan pembangunan kembali lahan.

Pada skala kota, memiliki tingkat kerapatan tinggi berarti menjadikan ruang-ruang kota terintegrasi secara spasial dengan sistem angkutan umum Beralih pada prinsip konektivitas untuk pertumbuhan lingkungan baru, bermaksud untuk berpaling dari mobilitas kendaraan pribadi dengan penataan parkir dan kebijakan penggunaan jalan. Ketika kawasan dibangun dengan tujuan seperti uraian di atas maka dipastikan kendaraan bermotor pribadi menjadi hampir tidak diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Berjalan kaki, bersepeda, dan menggunakan angkutan umum menjadi pilihan bertransportasi mudah dan nyaman.

Konsep ini juga banyak diterapkan di Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Brasil (ITDP, 2017). Ruang kawasan terbatas dan sangat berharga dapat dialihkan dari peruntukan jalan dan ruas parkir kendaraan bermotor untuk kemudian dialokasikan kembali kepada peruntukan lebih produktif dari segi sosial dan ekonomi. Dari situ maka dapat dilihat dan dibaca arah pertumbuhan baru 2020-2024. Semoga Tuhan memudahkan semua urusan kita.

*) Wasekjend Pengurus Pusat (PP) Persatuan Insinyur Indonesia (PII)

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA