Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tandean Rustandy, Direktur Penelitian di Reformed Center for Religion and Society, memperoleh gelar MBA dari University of Chicago Booth School of Business.

Tandean Rustandy, Direktur Penelitian di Reformed Center for Religion and Society, memperoleh gelar MBA dari University of Chicago Booth School of Business.

Membandingkan Indonesia dengan Qatar

Selasa, 27 Juli 2021 | 20:52 WIB
Tandean Rustandy *)

Setelah 17 bulan tidak ke Italia sebagaimana saya lakukan rutin untuk keperluan bisnis sebelum pandemi Covid-19, pada 3-7 Juli lalu saya mengunjungi Roma, terbang bersama Qatar Airways dengan transit di Doha. Maskapai penerbangan bintang lima dari negara kecil Qatar di Teluk Persia ini rutin terbang dua kali sehari dari Jakarta

Perjalanan saya dari Terminal 3 Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) pukul 12 malam. Suasana terminal keberangkatan internasional sangat sepi dan entah ke napa suhu bandara di malam hari tetap panas.

Di Bandara Internasional Hamad di Doha, suhu luar bandara mencapai 37 derajat Celsius saat saya transit hendak ke Roma, dan 41 derajat Celsius saat transit pulang kembali ke Jakarta. Sekalipun letak bandara di padang pasir pinggir laut, tetapi tetap terasa nyaman. Saya kagum dengan Bandara In ternasional Hamad yang berarsitektur modern dan menampilkan workmanship  yang sangat mendetail dan_ finishing berkualitas. Material yang dipakai sangat berkualitas dan pelayanan public yang profesional, ditambah protokol kesehatan yang serius.

Bandara udara sering dikatakan ‘etalase’ bangsa. Khusus untuk Qatar, etalase itu menarik dan meyakinkan ‘calon pembeli’.  

Sedangkan Soetta T3 yang di resmikan 2016 berbeda kelas dengan Hamad, Changi T3 (Si ngapura), maupun Zurich (Swiss). Kualitas finishing di Soetta T3 murahan dan kasar. Materialnya juga tidak berkualitas. Padahal Indonesia memiliki mutu produk lokal yang sangat baik. Kayunya bukan solid wood tetapi HPL, keramik lantai produk impor berkualitas rendah. Indonesia sebagai Negara tropis yang kaya dengan kayu dan seni berbasis kayu tidak ter cermin. Tidak masalah desain mengikuti gaya barat, tapi mengapa identitas budaya dan ke kayaan alam Indonesia tidak ditonjolkan.

Badingkan dengan era Soeharto, Terminal 1 dan 2 Soetta dibangun dengan nilainilai budaya. Apa yang ingin kita jual? Mengapa Indonesia semakin kehilangan identitasnya? _Awalnya Qatar tidak punya apa-apa, dengan luas seperti provinsi Gorontalo, alamnya tan dus dan panas, bebatuan dan berpadang pasir. Setelah merdeka 1971, kemajuannya pesat. Dalam waktu singkat, Qatar menyelenggarakan Asian Games, Piala Dunia U-20, AFC Asian Cup, MotoGP secara rutin, dan akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Bandingkan dengan Asian Games diadakan di Jakarta tahun 1962. Kita menunggu 56 tahun sejak 1962 dan baru berkesempatan lagi menyelenggarakan Asian Games 2018. Kemudian, kita akan menyelenggarakan seri MotoGP venue baru Sirkuit Internasional Mandalika di Lombok 2022.

Menyelenggarakan event olah raga kelas dunia adalah salah satu cara termurah mempromosikan Indonesia dengan keindahan alam luar biasa tetapi belum maksimal mendatangkan turis mancanegara. Menilik kekayaan alam yang kita miliki, iklim dan kesuburan tanah yang lebih ber sahabat, sumber daya manusia yang mendukung, pertanyaannya, kenapa kita tidak bisa se perti Qatar?

Qatar sejajar dengan negara-negara kaya di dunia. Pendapatan per kapita tahun 2020 se besar US$ 52 ribu atau setara Rp 756 juta. Qatar sangat bergantung tenaga kerja luar negeri karena jumlah warganya tidak cukup menopang perkembangan ekonominya. Dengan 80% pen duduknya ekspatriat, angka pengangguran Qatar stabil 0,1%. Banyak pekerjanya dari Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk tenaga kerja Indonesia (TKI). Pendapatan yang berkelimpahan dari minyak dan gas diinvestasikan pada pembangunan infrastruktur, serta diversifikasi sektor industri dan jasa untuk menyiapkan masa depan saat kekayaan alamnya kelak tidak bisa diandalkan.

Qatar telah melebarkan sayap investasinya ke Indonesia. Melalui  sovereign wealth fund-nya, Qatar Investment Authority (QIA) menjadi pemegang saham mayoritas Indosat. QIA juga induk dari Qatar National Bank yang kini menguasai 92,48% saham Bank QNB Indonesia. Jaringan-jaringan hotel mewah dunia tidak luput dirambah,seperti AccorHotels (Fairmont, Raf fles, Mövenpick), Marriot International (JW Marriot, Ritz- Carlton) dan Hyatt.

Bagaimana dengan Indonesia?_Sovereign wealth fund_Indonesia baru terbentuk pada tahun 2021—yang oleh Presiden Jokowi dikatakan sangat terlambat.

Mirisnya Garuda

Maskapai Garuda Indonesia hampir gulung tikar, keuangannya ‘berdarah-darah’, utang mencapai US$ 4,9 miliar (Rp 70 triliun) dan tahun 2020 rugi sebesar Rp 36,25 triliun. Sama dengan Qatar Airways, Garuda Indonesia maskapai penerbangan bintang lima.

Di dalam negeri saja Garuda kalah bersaing dengan Lion Air Group yang menguasai 60% pe nerbangan domestik. Pangsa pasar Garuda dan LCC-nya, Citilink, hanya 28%. Dibandingkan dengan Qatar Air ways yang tidak memiliki pasar domestik, pasar domestik Garuda besar potensinya, tetapi tidak membuat kinerja Garuda baik.

Pertanyaannya, mengapa maskapai penerbangan Negara dengan jumlah penduduk lebih sedikit bisa bertumbuh lebih baik? Bisnis harus bisa menjual. Kreativitas dan inovasi adalah bagian dari daya kompetisi.

Tujuannya sederhana, agar penduduk negara lain menggunakan jasanya.Jaminan pangsa pasar Garuda adalah penerbangan haji dan umrah. Tapi long-haul flights tidak mampu bersaing dengan maskapai asing. Faktanya, orang Indonesia lebih menyukai maskapai penerbangan asing seperti Qatar Airways, Etihad Airways, Cathay Pacific dan Singapore Airlines untuk pergi ke kota-kota besar di Eropa dan Amerika Utara. Alasannya karena jadwal penerbangan lebih baik dan tiket lebih murah.

Titik Pembelajaran

Bagi saya, Bandara Internasional Hamad lebih baik dari Changi atau Incheon (Korea Selatan) dipandang dari segi fasilitas, tampilan dan pelayanan. Sekalipun Skytrax mendudukkan Changi di posisi pertama The World’s Best Airpor ts selama delapan tahun terakhir. Seperti kata Socrates, “Smart people learn from everything and everyone, average people from their experiences, stupid people already have all the answers.

Kita harus belajar banyak bagaimana mengemas citra bangsa ini ketimbang jalan di tempat karena menganggap diri sudah baik. Kenapa bangsa kita yang terkenal keramahannya belum mencapai standar pelayanan tingkat dunia?

Paling tidak dari bandaranya saja dulu. Indonesia berkelimpahan tetapi tidak bisa mencapai standar lebih tinggi. Kita mulai mengubah_ mindset  seperti dikatakan Mahatma Gandhi, “It is the quality of our work which will please God and not the quantity.

Berapa sebenarnya biaya produksi Garuda? Bagaimana supaya Garuda lebih murah dan efisien? Apakah hal ini sudah dimengerti secara detail olehtim manajemen Garuda? Saat kondisi baik, laba kelihatan, tetapi kondisi sulit, keuangannya ‘berdarah-darah’. Dalam satu dekade terakhir, saat kondisi baik pun Garuda berkali-kali mencatatkan kerugian tahunan ratusan juta dolar AS. Giliran meraih laba, nilainya tidak sebanding.

Sepintas kelihatan mana jemennya bukan berdasarkan merit tapi lebih ke ‘friendship.’ Di industri manufaktur ada konsep_lean manufacturing dan bagi sektor jasa ada konsep lean management, apakah hal demikian sudah diterapkan? Lalu, apakah tim manajemen melakukan _gemba walk? Kalau ya, level mana yang melakukannya? Di samping masih banyak yang harus diperbaiki dari segi lingkup dunia penerbangan.

Singkatnya, kegagalan Garuda bisa menjadi suatu titik refleksi yang berimplikasi luas. Akhirnya, perlu disimak sebuah kalimat bijak bahwa kegagalan disebabkan dua hal, yakni orang yang berpikir tetapi tidak pernah bertindak, dan orang yang bertindak tetapi tidak pernah berpikir.

*) Penulis adalah Direktur Penelitian di Reformed Center for Religion and Society, memperoleh gelar MBA dari University of Chicago Booth School of Business.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN