Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Paulus Mujiran

Paulus Mujiran

Membuat Pancasila Makin Sakti

Paulus Mujiran, Rabu, 2 Oktober 2019 | 23:25 WIB

Tanggal 1 Oktober yang kemudian dikenal dengan Hari Kesaktian Pancasila tidak lebih dari kenangan akan pembantaian jutaan orang yang dituduh mengkhianati Pancasila dan berhaluan komunis. Mengusik tanda tanya besar, di mana letak kesaktian Pancasilanya dalam momen pembantaian itu, selain ingatan publik atas kekejaman sebuah rekayasa rezim yang hendak berkuasa.

Atas nama membersihkan dari anasir-anasir komunisme, rezim melakukan pembersihan besar-besaran.

Luka mereka yang tidak terbantai pun masih terbawa bagi sebagian orang yang pernah dicap dengan status eks tapol (ET) yang melekat di Kartu Tanda Penduduk warga. Seorang kawan yang anaknya orang ET benar-benar dibedakan dalam pergaulan.

Dahulu mereka yang disinyalir terlibat tidak boleh menjadi anggota ABRI, PNS, anggota DPR. Pemerintah membuat penelitian khusus (litsus), dan jangan harap pernah bisa lolos. Di masa itu rezim dengan dalih Pancasila membuat takut semua orang. Dan jangan berharap orang-orang itu dapat menduduki jabatan penting, mulai dari kepala dusun, kepala desa, apalagi sampai bupati, gubernur atau presiden. Dalam masyarakat pun mereka cenderung dikucilkan dari pergaulan sosial. Bahkan ada permukiman khusus ET yang mencerminkan seperti apa rezim “membunuh” karakter mereka. Pancasila pun kemudian dijadikan azas tunggal Orde Baru. Penataran P-4 digelar di mana-mana dan dijadikan doktrin dalam pendidikan, kemiliteran, partai politik. Bahkan Pancasila menjelma menjadi agama baru. Setelah Orde Baru tumbang, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila pun menjadi terasa paradoks dan hambar. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa pun kehilangan artinya, kalau kemudian yang berkuasa adalah keuangan yang maha kuasa.

Begitu pun Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab terasa kontras dengan bagaimana rezim haus kekuasaan dengan kekerasan. Nilai kemanusiaan tidak lagi dihargai. Mereka yang berani berbeda pandangan dengan rezim penguasa pasti berhadapan dengan gebuk, libas, tebas yang semuanya mengindikasikan bahasa-bahasa kekerasan. Karena itu tak pelak sepanjang sejarah Orde Baru kekerasan dalam skala besar dan kecil tidak terbilang jumlahnya. Kekerasan itu juga telah mengorbankan jutaan orang menderita.

Sila Persatuan Indonesia pada hakikatnya adalah adanya upaya dan kerja keras segenap komponen bangsa untuk menjadikan nilai-nilai persatuan sebagai hal yang utama. Celakanya nilai persatuan itu telah ternoda dengan praktik republik kavling. Faktanya kesederajatan sebagai warga bangsa belum menjadi kenyataan. Republik kavling diartikan masih adanya kelompok partai politik, agama pun diklasifikasikan mayoritas dan minoritas, kesukuan dan kepentingan.

Meski secara politik perjuangan melawan penjajah dan mengatasi pemberontakan sudah selesai bukan berarti ancaman terhadap nilai-nilai persatuan selesai. Korupsi yang merajalela telah menjadi ancaman nilai-nilai persatuan. Kita telah dipecah belah antara mereka yang menikmati akses kekuasaan dan dengan mudah mengakses anggarananggaran negara dengan mereka yang terus bergelimang dalam kemiskinan.

Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Dalam Permusyawaratan/Perwakilan pun sudah menjelma menjadi demokrasi voting. Nilai mufakat terjadi setelah voting dilakukan. Tradisi lama yakni rembukan, glenak-glenik, berdialog sebelum membuat keputusan sudah menjelma menjadi voting untuk menyelesaikan setiap pembuatan keputusan.

Kemufakatan yang menjadi dasar kebiasaan lama yakni gotong-royong dalam hidup keseharian masyarakat kian lama kian pudar.

Begitu pun sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Benarkah semua orang sudah menikmati keadilan ketika korupsi dan kesenjangan sosial menyeruak di mana-mana? Yang membedakan kita dan bangsa-bangsa lain karena kita memiliki sila keadilan sosial. Jika praktik keadilan ini dijakankan secara benar tidak akan terjadi kemiskinan seperti sekarang ini. Keadilan dalam bidang hukum sudah telanjur berpihak kepada mereka yang berkuasa dan berduit. Keadilan dalam politik sudah menjadi miliknya partai politik. Orang partai politik sudah menjelma menjadi penentu segalanya dalam semua aspek kehidupan.

Kalau ingin menjadi penguasa baru, masuklah ke partai politik. Partai bukan lagi menjadi ajang agregasi kepentingan dan penyalur aspirasi tetapi menjadi ajang mencari nafkah dan kekuasaan. Yang kini pantas kita ajukan, lantas apa makna Pancasila dewasa ini?

Sadar sebagai bangsa Indonesia dengan intensitas perbedaan yang demikian besar memerlukan ruh pemersatu. Pancasila sakti hendaknya bukan hanya berkembang dalam alam mitos. Pancasila sakti adalah nilai-nilai kehidupan yang dihayati dan diperjuangkan segenap anak-anak bangsa tanpa kecuali. Dan Pancasilalah sebenarnya kita berharap mampu menjadi pengayom segala macam perbedaan dalam hidup berbangsa. Pancasila mampu melindungi mereka yang kecil.

Kini kita berharap di tengah masyarakat yang plural ini Pancasila mampu menjadi pemersatu dan perekat segala macam perbedaan. Kita berharap semangat Hari Kesaktian Pancasila menyadarkan para pihak bahwa kita tinggal dalam sebuah negara yang pluralis, penuh dengan kemajemukan dan karenanya diperlukan toleransi, saling menghargai dan menghormati.

Kita sendirilah melalui cara kita hidup berbangsa membuat Pancasila semakin sakti. Agar Pancasila semakin sakti harus dihayati dan dibatinkan dalam kesungguhan yang nyata. Bukan hanya basa-basi dan slogan palsu. Pancasila sakti karena dihayati bukan dengan cara dibela yang membabi buta, apalagi menindas rakyat. Saripati yang terkandung dalam butir Pancasila adalah penggerak peradaban bagi bangsa ini yang kerap kali karena ambisi politik segelintir orang menjadi kacau dan keruh. Hayati Pancasila dan temukan kesaktiannya.

Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA