Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Maruhum Batubara,  Kedeputian Ekonomi - Bappenas

Maruhum Batubara, Kedeputian Ekonomi - Bappenas

Memperbaiki Sistem Resi Gudang

Kamis, 8 April 2021 | 23:38 WIB
Maruhum Batubara *)

Permasalahan utama dalam perdagangan komoditas pertanian adalah fenomena ketidakstabilan harga. Kita ketahui, dalam bulan Maret–April 2021 sudah musim panen padi di beberapa daerah. Namun, panen raya sering disertai masalah, seperti harga jual gabah yang anjlok dikarenakan pasokan yang melimpah, dan pada musim paceklik atau gagal panen di beberapa sentra produksi menyebabkan harga jual komoditas tinggi.

Kondisi demikian itu tentu tidak menguntungkan petani sebagai produsen. Karena jika hasil panennya dijual saat panen raya tentu saja harga yang diterima petani rendah.

Sebagai contoh kasus berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS). Tercatat potensi panen periode Januari–April 2021 diproyeksikan mencapai 14,54 juta ton beras atau mengalami kenaikan sebesar 3,08 juta ton (26,84%) dibandingkan dengan produksi beras pada periode yang sama tahun 2020 sebesar 11,46 juta ton.

Potensi luas panen padi pada periode Januari–April 2021 mencapai 4,86 juta hektare atau mengalami kenaikan sekitar 1,02 juta hektare (26,53%) dibandingkan periode Januari–April 2020 yaitu seluas 3,84 juta hektare.

Data tersebut mengonfirmasi bahwa karena pasokan melimpah maka harga gabah turun menjadi sekitar Rp 3.500/kg. Padahal sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) berdasarkan Permendag No 24 Tahun 2020 harga gabah kering giling di tingkat petani seharusnya Rp 4.200/kg.

Guna mengatasi persoalan fluktuasi pasokan dan harga komoditas di pasar, diperlukan Sistem Resi Gudang (SRG) yang mam pu menyimpan komoditas dan mengendalikan ketersediaan komoditas dan harga di pasar agar mencapai ekuilibrium antara penawaran dan permintaan.

Sistem Resi Gudang ini hadir lantaran masalah klasik, yaitu kondisi panen raya yang menyebabkan beberapa komoditas pertanian berlimpah yang berimplikasi pada turunnya harga komoditas tersebut. Peserta sistem resi gudang adalah petani, kelompok tani, gabungan kelompok tani, koperasi, atau perusahaan swasta yang disetujui bank pelaksana.

Keberhasilan sistem ini diukur dari banyak jumlah resi gudang yang terbit dan nilai pembiayaan yang diterima oleh penerima sistem resi gudang.

Implementasi Resi Gudang

Implementasi Sistem Resi Gudang merujuk UU No 9 Tahun 2006 yang diubah dengan UU No 9 Tahun 2011. Sistem Resi Gudang sebagai instrumen tunda jual dan alternatif pembiayaan bagi petani atau pedagang dalam menyimpan komoditas pertaniannya sembari menunggu harga komoditas kembali stabil atau naik.

Melalui tunda jual, petani berkesempatan untuk mendapatkan margin dari selisih kenaikan harga jual yang selama ini dinikmati oleh para pedagang.

Resi gudang ini berkelindan dengan kegiatan dari mulai menerbitkan, mengalihkan, menjaminkan, sampai penyelesaian transaksi resi gudang yang diterbitkan oleh pengelola gudang di bawah juridiksi Kementerian Perdagangan.

Petani atau pedagang dapat meminjam dana sebesar 70% dari nilai komoditas yang disimpan tanpa perlu agunan lainnya. Alhasil, resi gudang mampu meningkatkan pendapatan petani dan pelaku usaha pada pasar dalam negeri maupun yang berorientasi ekspor.

Data dari korporasi BUMN PT Kliring Berjangka Indonesia menyatakan, pada 2020 resi gudang yang telah diregistrasi di Pusat Registrasi Resi Gudang tercatat sebanyak 427 Resi Gudang, dengan total volume 9,5 ton senilai Rp 200,7 miliar.

Sedangkan total pembiayaan resi gudang mencapai Rp 93,6 miliar._ Khusus komoditas beras, sepanjang tahun 2020 telah diregistrasi sebanyak 39 RG dengan nilai pembiayaan Rp 13 miliar.

Dari sisi partisipasi pelaku usaha dan kelembagaan, resi gudang menunjukkan pertumbuhan positif. Tahun 2020, nilai transaksi resi gudang tercatat mencapai Rp 191,2 miliar atau tumbuh 72% dibandingkan dengan 2019. Nilai pembiayaan dengan jaminan resi gudang juga meningkat 84% dibandingkan dengan 2019 senilai Rp 117,7 miliar.

Sistem resi gudang telah dilaksanakan di 99 kabupaten/kota di 23 provinsi di Indonesia. Saat ini telah tercatat 198 gudang SRG, baik itu milik pemerintah maupun milik swasta. Selain itu, terdapat 91 pengelola gudang SRG yang telah mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti – Kemendag).

Terdapat juga 60 Lembaga Penilaian Kesesuaian SRG yang mendukung pelaksanaan SRG di Indonesia. Pemerintah pada 2021 menargetkan peningkatan pemanfaatan resi gudang sebesar 7%_(Kemendag, 2021).

Di sisi lain, Permendag No 33 Tahun 2020 tentang Barang dan Persyaratan Barang yang Dapat Disimpan Dalam Sistem Resi Gudang menyebutkan, komoditas yang dapat diresigudangkan saat ini mencapai 18 komoditas, yaitu gabah, beras, jagung, kopi, kakao, karet, garam, lada, pala, ikan, bawang merah, rotan, kopra, teh, rum put laut, gambir, timah, dan ayam beku karkas.

Penambahan komoditas yang dapat diresigudangkan perlu memenuhi persyaratan mampu disimpan minimal 3 bulan, memiliki standar mutu, dan minimum jumlah barang yang disimpan.

Terkait peranan pemerintah daerah (pemda) dalam pengembangan sistem resi gudang difokuskan dalam merumuskan kebijakan dan pengembangan komoditas unggulan di daerah, penguatan peran pelaku usaha ekonomi, dan fasilitasi pengembangan pasar lelang komoditas.

Tugas pemdadi bidang pembinaan resi gudang dikoordinasikan dengan Bappebti. Pengelola gudang direkomendasi oleh Dinas Perindustrian dan Per da gangan setempat sehingga peran pemangku kepentingan sa ngat berpengaruh dalam pengawasan kinerja sistem resi gudang di daerah.

Dari data dan informasi di atas dapat dikatakan sistem resi gudang di Indonesia memiliki potensi untuk berkembang. Tantangannya adalah pemahaman masyarakat yang belum sepenuhnya mengerti terkait manfaat dari instrumen ini. Implementasi sistem resi gudang menjadi penting karena sebagai pengawasan dalam aliran barang pada sebuah jaringan distribusi, terutama rantai pasok.

Integrasi Model Bisnis

Resi gudang dapat dioptimalkan dalam mengendalikan dampak yang muncul, antara lain akibat pandemi Covid-19. Banyak pelaku usaha mengalami kesulitan pendanaan dalam membiayai usahanya.

Ke depan perlu dilakukan per baikan dalam membantu mengatasi masalah yang dihadapi petani maupun pedagang dalam menjalankan roda usahanya. Strategi kebijakan yang bisa dilakukan pemerintah ke depan yaitu mengintegrasikan Sistem Resi Gudang, Pasar Lelang dan Perdagangan Berjangka Komoditi sebagai berikut.

Pertama, Strategi pengembangan model bisnis sistem resi gudang dapat dilakukan dengan menghubungkan pasar lelang. Misalnya, tersedia komoditas unggulan daerah tertentu (kopi, beras, rumput laut, atau udang vaname) yang dapat dikembangkan dengan pola transaksi komoditas melalui Pasar Lelang. Mekanisme pasar terjadi melalui harga yang transparan. Pengelola gudang berperan sebagai unit usaha penyelenggara Pasar Lelang.

Kedua, Petani dan pelaku usaha termasuk usaha kecil dan me nengah (UKM) menyimpan ko mo ditas di gudang untuk mendapatkan jasa layanan resi gudang. Jasa layanan yang ditawarkan adalah agar terhubung dengan penyedia layanan pembiayaan resi gudang baik perbankan maupun non-bank.

Jasa layanan resi gudang menjadi strategis lantaran terkoneksi dengan informasi harga yang ada di pasar lelang dan bur sa komoditas sehingga pelaku usaha mendapatkan keuntungan. Integrasi ini harus dirancang pe me rintah dengan menggunakan teknologi informasi dengan memanfaatkan fasilitas integrasi tiga pilar perdagangan, yaitu Sistem Resi Gudang, Pasar Lelang, dan Bursa Berjangka Komoditi.

Ketiga, Pemanfaatan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak hanya untuk membangun fasilitas fisik gudang, namun diarahkan juga untuk peralatan penggilingan, sarana penunjang unit usaha dan sarana transportasi. Peran koperasi sangat membantu mengoptimalkan fungsi gudang. Koperasi dapat bertindak sebagai pengelola gudang dengan berbagai kegiatan, seperti layanan informasi harga komoditas dan layanan pengepakan, pemasaran, dan pengiriman barang.

Keempat, Layanan sistem informasi yang terintegrasi dengan pengelola gudang, institusi pembiayaan, dan pengawasan dalam menjaga kerahasiaan data pribadi, serta melakukan verifikasi dan konfirmasi transaksi resi gudang kepada pelaku pasar dan pemangku kepentingan. Diperlukan aplikasi teknologi secara real time dan relatif cepat tentang data jumlah ketersediaan komoditas di berbagai daerah yang melaksanakan resi gudang agar lebih mudah.

Diharapkan inisiatif perbaikan ini dapat menjadi terobosan dalam menetapkan lembaga pelaksanapenjamin sistem resi gudang yang kredibel dan terpercaya melalui Peraturan Pemerintah dengan cara mengintegrasikan model bisnis tiga pilar utama perdagangan yaitu Sistem Resi Gudang, Pasar Lelang, dan Perdagangan Berjangka Komoditi.

*) Kedeputian Ekonomi - Bappenas. (Tulisan ini pendapat pribadi)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN