Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Agus Sugiarto, Advisor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Agus Sugiarto, Advisor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Memperkuat Daya Saing dengan Pendidikan

Senin, 3 Mei 2021 | 08:39 WIB
Agus Sugiarto *)

Hari Pendidikan Nasional yang kita peringati setiap tanggal 2 Mei memberikan ingatan dan sekaligus juga kesadaran kepada kita semua bahwa pendidikan menjadi salah satu fondasi dasar untuk membangun bangsa Indonesia yang lebih maju. Pendidikan sangat diperlukan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, seperti yang tertulis di dalam Pembukaan UUD 1945.

Artinya, para pendiri negara kita sejak dari awal kemerdekaan sudah memimpikan bangsa Indonesia nantinya menjadi bangsa yang maju. Bangsa yang maju tentunya memiliki daya saing yang tinggi, sejajar dengan bangsa- bangsa lain di dunia, sehingga sebagai bangsa Indonesia, kita akan lebih disegani dan dihormati.

Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran yang besar dalam membangun dan mewujudkan impian yang sudah dicita-citakan oleh para pendiri bangsa kita. Namun faktanya masalah pendidikan di Indonesia masih mengalami berbagai tantangan yang harus segera diperbaiki dan dicarikan jalan keluarnya. Pertama, rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktunya untuk bersekolah atau yang biasa disebut oleh Unesco dengan istilah “mean years of schooling” (MYS) ternyata masih rendah.

Formula MYS ini menggunakan data pendidikan orang-orang yang telah berusia 25 tahun ke atas. Menurut BPS pada tahun 2020, Indonesia memiliki MYS dengan skor 8,48 tahun, yang ber arti pelajar di Indonesia ratara ta hanya selesai sekolah sampaidengan kelas 8 atau kelas 9. Kita masih tertinggal dengan Malaysia yang memiliki MYS rata-rata 10,4 tahun atau kira-kira sampai dengan kelas 10. Sedangkan Si nga pura memiliki MYS 11,6 ta hun atau setara dengan kelas 11 atau kelas 12.

Kedua, dari hasil survei Human Development Index (HDI) tahun 2020, terlihat bahwa anakanak Indonesia yang berusia 7 tahun memiliki harapan untuk menikmati pendidikan (expected years of schooling atau EYS) selama 12,98 tahun, hampir setara dengan lamanya waktu untuk menyelesaikan pendidikan setingkat diploma. Angka tersebut masih di bawah Malaysia yang memiliki EYS selama 13,7 tahun dan Singapura bahkan memiliki EYS yang telah mencapai 16,4 tahun atau setara dengan sarjana strata-1.

Kemampuan Daya Saing

Melihat fakta tingkat pendidikan di atas, akibatnya secara langsung memengaruhi daya saing dan kemampuan berkompetisi bangsa Indonesia di mata negara-negara lainnya.

Hal ini dapat terlihat dari Global Competitiveness Index (GCI) atau In deks Daya Saing Global, yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF). Indeks GCI ini mengukur kemampuan suatu negara dalam memberikan kemakmuran yang sebesar-besarnya kepada warga negaranya. Indeks ini sangat populer dan menggunakan berbagai jenis indikator makro dan mikro sebagai alat ukurnya.

Hasil ranking GCI terakhir pada tahun 2019 menunjukkan posisi Indonesia di urutan ke-50 dari 141 negara. Posisi ini masih kalah dibandingkan dengan negara tetangga kita seperti Thailand (40), Malaysia (27) dan Singapura (1).

Dari sisi kemampuan berinovasi, kita bisa melihat posisi In donesia melalui Global Innovation Index (GII). Dari hasil survei GII terakhir pada tahun 2020 telah menempatkan Indonesia pada pe ringkat ke-85 dari 131 negara. Posisi ini masih tertinggal

jauh dengan Thailand yang mendu duki peringkat 44, Malaysia berada di posisi 33, dan Singapura bahkan sudah di peringkat 8. Salah satu penyebab ranking Indonesia masih kalah dan tertinggal dari negara-negara tetangga tersebut adalah masih rendahnya kemampuan berinovasi di berbagai bidang.

Faktor pendidikan sangat berkaitan erat dengan kemampuan berinovasi, sehingga semakin tinggi tingkat pendidikan suatu bangsa tentunya memiliki potensi yang lebih besar dalam melakukan inovasi. Tentunya kita memimpikan semakin banyak masyarakat Indonesia yang mampu mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, agar daya saing dan kemampuan ber inovasi bangsa Indonesia semakin meningkat.

Langkah ke Depan

Kita harus berterima kasih kepada para pejuang bangsa di era reformasi yang telah memper juangkan betapa pentingnya aspek pendidikan bagi masa depan bangsa Indonesia. Mereka menyadari bahwa tanpa adanya dukungan anggaran yang cukup dan memadai, akan sulit bagi bangsa Indonesia untuk maju.

Oleh karena itu, anggaran pen didikan menjadi salah satu prioritas guna mendapatkan por si kenaikan yang lebih besar. Kenaikan tersebut telah dituangkan ke dalam Amendemen UUD 1945 pasal 31 ayat 4 yang mewajibkan pemerintah menyediakan ang garan pendidikan minimal 20% dari seluruh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Meskipun pemerintah telah menyediakan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN dan APBD, namun jumlah tersebut masih belum setara dengan negara- negera tetangga kita. Se bagai contoh, untuk tahun 2020 anggaran pendidikan kita mencapai Rp 549,5 triliun atau rata-rata sekitar Rp 2,04 juta untuk setiap penduduk Indonesia.

Jumlah ini relatif masih kurang bila kita bandingkan dengan anggaran pendidikan yang dikeluarkan pemerintah Malaysia sekitar Rp 7 juta untuk setiap pen duduknya dan Singapura sebesar Rp 22 juta per orang. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan keterlibatan dan peranan pihak swasta maupun korporasi besar untuk ikut serta dalam mendu kung pembiayaan pendidikan nasional.

Selain itu, masalah pergantian kurikulum pendidikan juga perlu diperhatikan agar jangan sering berganti-ganti. Terhitung kuriku lum pendidikan nasional kita telah berubah sebanyak 11 kali sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945 sampai dengan tahun 2021 ini. Terakhir perubahan kurikulum pendidikan nasional dilakukan pada 2015 yang lalu, dan semoga tidak ada lagi perubahan kurikulum yang signifikan lagi. Jadi rata-rata hampir setiap enam tahun sekali kurikulum pendidikan nasional kita berubah.

Seringnya pergantian kurikulum menyebabkan berubahnya infrastruktur yang diperlukan, seperti pengadaan buku sekolah, metode belajar dan kemampuan mengajar para guru itu sendiri. Konsekuensi dari pergantian kuri ku lum yang sering tersebut juga membuat bingung para sis wa maupun orang tua, serta menyedot anggaran yang mungkin tidak sedikit jumlahnya. Tidak jelas apakah seringnya pergantian kurikulum tersebut bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa ataukah hanyalah ego politik dari pejabat yang bertanggung jawab membawahi sistem pendidikannasional kita.

Tentu saja hal ini menjadi persoalan yang serius, mengingat konsistensi sistem pendidikan menjadi tidak jelas, proses belajar terganggu dan kualitas siswa yang dihasilkan juga belum optimal.

Yang terakhir adalah kita perlu memiliki cetak biru pendidikan nasional untuk jangka panjang. Sehingga semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam dunia pendidikan memiliki arah dan pedoman yang jelas. Dengan adanya cetak biru tersebut, peme rintah dapat memfokuskan sistem pendidikan nasional ke arah pemerataan kesempatan pendidikan, pencapaian jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan penguatan riset.

Selain itu, dalam dunia pendidikan juga diperlukan kerja sama yang erat antara pemerintah, akademisi, dan pelaku bisnis atau yang disebut dengan “triple helix”. Pendekatan triple helix tersebut memungkinkan pemerintah memahami keperluan dan kebutuhan dunia pendidikan, para akademisi mampu mengharmoni sasikan kebutuhan tenaga kerja yang diinginkan oleh pasar mau pun perkembangan zaman, dan para pelaku bisnis dapat mendukung kegiatan pendidikan me laui pengembangan serta pem biayaan riset dan inovasi.

*) Kepala OJK Institute (Artikel ini dibuat dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dari penulis.)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN