Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Agus Sugiarto, Advisor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Agus Sugiarto, Advisor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Memperkuat Daya Saing Melalui Konsolidasi Perbankan

Jumat, 3 Juli 2020 | 23:47 WIB
Agus Sugiarto *)

Pandemi Covid-19 saat ini telah memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap industri keuangan di seluruh dunia, khususnya industri perbankan. Dalam skenario terjelek, potensi risiko kredit dapat melonjak drastis, mengingat banyaknya gagal bayar akibat penurunan kegiatan ekonomi dan imbas dari PHK.

Potensi risiko kredit yang kian besar tersebut akan berimbas terhadap peningkatan risiko likuiditas, yang pada akhirnya dapat mengganggu kinerja bank. Likuiditas merupakan urat nadi bank dalam menjalankan kegiatan usahanya. Dalam situasi ekonomi yang semakin memburuk akibat pandemi, bukan tidak mungkin kinerja bank akan terganggu, bahkan muncul bank bermasalah.

Semakin lama pan demi berlangsung, semakin be sar pula ketidakpastian yang akan terjadi. Sehinggaperlu dipikirkan upaya lain untuk menjaga agar in dustri perbankan tetap kuat dan tahan menghadapi krisis ekonomi yang terjadi saat ini. Pemerintah melalui Undang-Undang Nomer 2 Tahun 2020 tentang Perppu Nomer 1 Tahun 2020 telah menyiapkan berbagai payung kebijakan untuk mengantisipasi terjadinya kemungkinan yang terjelek.

Namun demikian, tidak ada salahnya untuk menyikapi kondisi saat ini pemilik dan manajemen bank berinisiatif sendiri melakukan konsolidasi banknya, baik melalui merger dengan bank lain ataupun diakuisisi oleh lembaga keuangan lain yang lebih kuat.

Pandemi Covid-19 menjadi momentum yang tepat bagi industri perbankan untuk melakukan konsolidasi. Dari sisi mikro ekonomi, konsolidasi akan memperkuat aspek permodalan bank dan efisiensi, sehingga daya saing bank menjadi semakin kuat.

Sedangkan dari sisi makro ekonomi, konsolidasi akan meningkatkan kemampuan intermediasi bank dalam mendukung pembiayaan pembangunan.

Big Is Beautiful

Jumlah bank umum di Indonesia saat ini adalah 110 bank (Desember 2019), relatif banyak dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang memiliki 32 bank dan Thailand 31 bank. Adapun Singapura memiliki sekitar 160 bank karena posisinegara ini sebagai salah satu pusat keuangan dunia.

Namun demikian, walaupun jumlah bank kita lebih banyak, ternyata dari sisi aset masih kalah dibandingkan dengan bank-bank negara tetangga tersebut. Bank BRI dan Bank Mandiri, yang merupakan bank terbesar saat ini, hanya memiliki aset masing-masing sebesar Rp 1.418 triliun dan Rp 1.318 triliun (De sember 2019). Coba kita lihat CIMB Group dan Maybank Malaysia yang asetnya mencapai Rp 1.989 tri liun dan Rp 2.925 triliun.

Adapun Bangkok Bank dari Thailand memiliki aset Rp 1.479 triliun dan DBS Si ngapore memiliki aset sebesar Rp 6.100 triliun. Tidaklah mengherankan apabila bank-bank tersebut mampu menguasai pasar dan bersaing dengan bank-bank lokal di Indonesia. Sebaliknya bank-bank nasional kita yang beroperasi di negara-negara Asean masih terbatas jumlahnya dan belum sepenuhnya mampu bersaing dengan bank-bank lokal di negara tersebut.

Berdasarkan fakta tersebut sudah saatnya Indonesia sebagai negara terbesar di kawasan Asean memiliki bank-bank besar dan berdaya saing tinggi.

Pertumbuhan Organik Terganggu

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan permintaan terhadap kre dit menurun dan bank akan san gat selektif dalam menyalurkan kredit baru, padahal sumber utama pendapatan bank adalah bunga kredit.

Pertumbuhan kredit perbankan sebesar 6,08% sepanjang tahun 2019 sepertinya sulit terulang kembali pada tahun ini. Begitu halnya dengan laba perbankan nasional diperkirakan juga akan merosot.

Pandemi akan mengganggu masa keemasan pertumbuhan organic bank yang sebagian besar bersumber dari pendapatan kredit. Di sisi lain, bank harus tetap mampu untuk tumbuh dan berkembang dalam mendukung investasi dan pembiayaan pembangunan dalam jangka panjang.

Apabila pertumbuhan organic sudah melambat, bank dapat memilih strategi pertumbuhan anorganik dengan melakukan akusisi atau merger dengan bank lain.

Munculnya Fintech

Perlunya konsolidasi perbankan juga dipicu dengan lahirnya competitor baru yang berbentuk finteh (financial technology). Saat ini banyak bermunculan fintech pembiayaan yang juga memberikan fasilitas pembiayaan seperti yang dilakukan bank.

Investree, Amartha, dan Modalku merupakan beberapa fintech pembiayaan yang sudah beroperasi di Indonesia. Selain itu, bermunculan fintech pembayaran seperti GoPay, OVO, dan Dana yang juga menawarkan kemudahan pembayaran pada hampir segala jenis transaksi keuangan yang biasanya dilakukan lewat bank. Kedua jenis fintech itu mampu memberikan kemudahan pelayanan secara online dan sangat digemari masyarakat.

Pertumbuhan kedua jenis fintech tersebut sangat luar biasa dalam kurun waktu tiga tahun terakhir dan sudah menjadi pesaing kuat bagi bank. Bagi bank-bank berskala kecil, kehadiran fintech ini berpotensi mengganggu kegiatan usaha mereka mengingat target segmen pasar yang dibidik juga sama.

Tekanan Regulasi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan POJK Nomor 12/ POJK.03/2020, yang memberikan ruang bagi bank-bank untuk melakukan konsolidasi perbankan. OJK sebagai otoritas pengawasan bank sangat mendorong terjadinya konsolidasi perbankan dalam rangka memperkuat struktur dan daya saing perbankan nasional.

Oleh karena itu, OJK siap memberikan insentif apabila bank secara sukarela mau melaksanakan konsolidasi sesuai ketentuan dimaksud.

Selanjutnya dengan POJK Nomor 18/POJK.03/2020, OJK memiliki kewenangan tertulis untuk meminta bank melakukan merger dan akuisisi dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan di Indoneisa.

Ke depan konsolidasi perbankan akan semakin mengikat khususnya bagi bank-bank berskala kecil bermodal cekak yang saat ini masuk dalam kategori Buku 1 dan 2. Karena terhitung selambat-lambatnya tanggal 31 Desember 2022 setiap bank umum wajib memiliki modal minimum sebesar Rp 3 triliun.

*) Advisor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dari penulis.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN