Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Menaikkan Gengsi Produk UMKM

Sabtu, 27 Februari 2021 | 15:38 WIB
Dwi Mukti Wibowo *)

Gengsi itu berhubungan dengan rasa malu. Gengsi ketika seseorang tidak memakai barang branded. Gengsi ketika diajak makan di warung biasa bukan restoran. Atau gengsi bergaul dengan orang biasa yang tidak high level. Gengsi yang dicontohkan terbangun pada diri seorang yang ingin menunjukkan kebanggaan status sosialnya

Gengsi menjadi penting terutama di lingkungan yang membutuhkan pengakuan atas eksistensi, kehormatan dan harga dirinya. Gengsi memang tidak bisa ditepis keberadaannya di dunia sosial kita. Meskipun terkadang lebih berkonotasi negatif.

Namun, rasa gengsi masih bisa ditempatkan pada hal yang bisa memberikan efek positif. Yaitu yang relevan dan sesuai dengan urgensinya di lapangan. Sehingga dapat dimanfaatkan keberadaannya untuk membudayakan sesuatu yang positif.

Misalkan saja budaya gengsi konsumen terhadap produk UMKM. Mengapa harus gengsi? Karena mereka memiliki daya beli yang lebih besar. Dengan demikian, mereka memiliki kemampuan untuk pamer. Pamer kepada konsumen lain yang tidak mampu membeli, atau sekadar ingin menyampaikan pesan bahwa mereka telah mencapai tingkatan status yang lebih tinggi.

Memang, untuk urusan gengsi, karakter konsumen kita relatif terlihat menonjol. Tidak mengherankan, banyak produk yang seharusnya tidak banyak terjual di Indonesia, tetapi tetap saja memiliki pasar yang besar.

Tengok saja beberapa mal besar di Indonesia. Banyak produk bermerek internasional terlihat di sana. Melihat gerainya yang cukup besar, pastilah mereka memiliki permintaan yang cukup besar. You are what you drive! Ini adalah suatu slogan yang tidak banyak diucapkan tetapi terlihat nyata.

Kebutuhan gengsi terkait dengan teori Maslow yang dikenal dengan tingkatan kebutuhan manusia. Menurut Maslow, kebutuhan paling dasar dari manusia adalah kebutuhan fisik, yang berhubungan dengan makanan dan minuman. Setelah itu, kebutuhan keamanan dan perasaan yang telah terbiasa dengan lingkungan sekitar.

Selanjutnya adalah kebutuhan bersosialisasi. Bila ini sudah tercapai maka kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan self-esteem. Mereka akan menempatkan gengsi, status dan pencapaian sebagai kebutuhan utama. Kebutuhan tertinggi adalah self-actualization. Pada titik ini, mereka mulai mengisi kebutuhan yang sesuai dengan kesenangan mereka.

Produk-produk yang menjual gengsi adalah produk yang menawarkan kebutuhan self-esteem. Kebutuhan untuk meningkatkan status mereka di mata orang lain. Apa penyebab gengsi ini? Sudah pasti karena budaya dan norma kita. Paling tidak ada tiga budaya dan norma yang membuat gengsi ini menjadi kebutuhan.

Pertama, konsumen Indonesia menyukai bersosialisasi, yang mendorong seseorang untuk pamer atau tergoda untuk saling pamer.

Kedua, kita masih menganut budaya feudal yang menciptakan kelas-kelas sosial. Yang berdampak pamer karena ingin naik kelas.

Ketiga, masyarakat kita mengukur kesuksesan dengan materi dan jabatan. Akhirnya, banyak yang ingin menunjukkan kesuksesan dengan cara memperlihatkan banyaknya materi yang dimiliki. Pendorong dari budaya ini adalah gencarnya iklan dan promosi yang menempatkan gengsi sebagai bagian utama.

Akibatnya, konsumen berpotensi dan mementingkan gengsi sebagai hal yang penting. Apa makna gengsi terkait produk UMKM? Produk UMKM harus diterima pasar internasional. Paling tidak mampu mendominasi pasar dalam negeri. Bagaimana menaikkan gengsi produk UMKM?

Pertama, UMKM harus mengandalkan pemasaran online untuk menjangkau pemasaran internasional. Sehingga perlu adanya perubahan proses bisnis dan strategi bisnis yang lebih mengenali, serta mengandalkan customer base dan memenuhi kebutuhan, mempermudah proses bisnis, mengklasifikasikan produk yang mudah dijual, serta digitalisasi produk usaha ke dalam katalog yang mudah dibagikan.

Kedua, pentingnya berfokus pada promosi untuk take-away delivery, karena permintaan yang meningkat. Gunakan database pelanggan untuk selalu mengkomunikasikan promosi melalui e-mail, SMS, ataupun WhatsApp. Untuk kunjungan fisik, transaksi non-tunai menggunakan debit atau digital payment.

Di tengah keadaan seperti ini, penting untuk meningkatkan kepercayaan konsumen dengan memosisikan diri sebagai bisnis yang memperhatikan konsumen dan seluruh stakeholder bisnis terkait higienitas, sekaligus gengsinya.

Ketiga, di era disrupsi seperti saat ini dunia usaha termasuk UMKM dituntut memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dengan baik. UMKM dihadapkan pada tantangan globalisasi berupa persaingan usaha, sehingga harus melakukan transformasi dan inovasi. Tantangan teknologi informasi harus disikapi dengan ide kreatif, aktif, dan inovatif. Termasuk melakukan pemutakhiran.

Oleh karena itu diperlukan strategi yang terpadu dan semangat yang tinggi, sehingga di era globalisasi ini tidak menjadi penonton atau buyer, tetapi juga sebagai produsen. Intinya, UMKM harus menjadi organisasi yang profesional, kredibel, dan menarik (bagi masyarakat, pembeli, supplier dan perbankan).

Manajemen UMKM harus fleksibel, serta berorientasi pada kualitas agar produk-produk UMKM memiliki gensi sehingga dilirik pasar internasional, atau mulai menjadi kebanggaan pelanggan dalam negeri.

Keempat, harus beradaptasi dengan lingkungan dan dinamika masyarakat. UMKM digital merupakan kunci pemulihan ekonomi Indonesia. Namun demikian tidak cukup hanya masuk dalan platform digital, tetapi juga isu sustainable atau keberlanjutan dari UMKM tadi.

Bagaimana memproduksi produk-produk UMKM mempunyai kualitas yang bagus dan kontinu aktivitasnya. UMKM tidak hanya harus bertahan, tetapi juga harus mampu menjadi komunitif baik di pasar lokal maupun pasar global.

Kelima, untuk strategi penjualan, riset konsumen yang sesuai pasar merupakan tahap awal yang paling efektif. Tujuannya untuk mengenali ke mana bisnis akan melaju dan mengantisipasi hal yang bisa terjadi ke depan. Melalui riset konsumen, dapat diketahui perubahan selera, daya beli, serta pendapat mereka tentang produk UMKM. Hal itu dapat membantu penentuan produk, lokasi, harga, dan pola promosi bisnis ke depan.

Takhanya melakukan riset terhadap konsumen, riset juga dilakukan terhadap kompetitor agar mengetahui di mana posisi tawar sejauh ini di mata masyarakat. “Know your enemy”, agar konsumen lebih memilih produk kita disbanding produk kompetitor.

Keenam, mengandalkan branding. UMKM harus mampu bersaing sehingga produk UMKM dapat menciptakan jati diri sehingga dilirik pasar internasional. Harus ada upaya melalui perancangan produk, merek dan branding yang memiliki keunggulan kompetitif.

Perlu memanfaatkan kemajuan teknologi yang semakin tinggi, tidak hanya konvensional. Sehingga produk UMKM yang dikeluarkan akan menjadi high class, dan semakin tampak di mata nasional bahkan internasional. Agar kebutuhan ekspor semakin tinggi, UMKM harus masuk bisnis hi-tech, tidak hanya di sektor makanan dan fashion.

Untuk itu, sektor UMKM harus bertransformasi, karena pelaku usaha UMKM harus mengambil peluang dengan mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Hal itu untuk mengimbangi persaingan UMKM negara-negara lain.

Para UMKM harus dapat menyuplai barang-barang untuk industri teknologi. Kalau tidak, kita akan tertinggal jauh dari negara-negara tetangga. Di Taiwan, Korsel, Jerman, UMKM-nya sudah mulai memasok industri high technology.

Ketujuh, perlu mempekerjakan orang asing. Di dunia yang semakin terkoneksi sekarang_ ini, dunia usaha termasuk UMKM jika memungkinkan harus memperluas jangkauan rekrutmen mereka ke mancanegara._

Mempekerjakan ahli atau staff dari luar negeri bukan semata-mata demi menaikkan gengsi perusahaan saja, tapi sebagai salah satu upaya membuka diri terhadap dunia internasional, serta proses transfer of knowledge.  Nilai profesionalitas orang asing terkadang mendongkrak pamor dari perusahaan, apalagi usaha UMKM. Sehingga pamor ini secara tidak langsung memberi labelisasi “branded” dan gengsinya menjadi naik di mata domestic maupun internasuional.

Kedelapan, mengangkat merek lokal. Menurut McKinsey & Company, konsumen saat ini lebih fokus pada produk yang memiliki fungsi dan nilai untuk memenuhi_ kebutuhan, dibanding memenuhi keinginan dan ego gengsi semata. Fenomena ini harus dapat dimanfaatkan pelaku UMKM menjual produk yang lebih berdaya fungsi dengan harga realistis.

Untuk itu, pengusaha perlu membangun kembali awareness produk mereka._Sekaligus memanfaatkan momentum krisis untuk mengangkat merek lokal.

Kesembilan, penggunaan logo yang tepat. Logo produk pada kemasan sangatlah penting karena melancarkan strategi bisnis dan marketing untuk memenangkan pertempuran merebut pangsa pasar.

Ada strategi lainnya yang dianggap baik, seperti mengamati pasar, mengenali competitor hingga menilai potensi pasar. Dari semua strategi tersebut yang paling penting dan paling sering dilupakan banyak perusahaan adalah pentingnya logo pada kemasan produk. Logo merupakan pintu gerbang ke dalam pikiran konsumen seperti yang telah ditulis oleh pakar marketing terkemuka Philips Kotler.

Fungsi logo bagi dunia usaha termasuk UMKM adalah symbol pengingat produk bagi konsumen. Penggunaan logo pada produk akan membantu konsumen mengingat produk UMKM lebih mudah. Pemakaian logo pada produk atau kemasan produk UMKM juga dapat meningkatkan gengsi pemakai atau konsumennya.

Selain keren dan elegan, logo harus mudah diingat oleh target market, harus berbeda dari kompetitor, harus bersifat abadi atau lama berubah serta mudah diaplikasikan pada media yang akan dipakai pada kemasan.

Kesepuluh, untuk menciptakan daya tarik pembeli maka diperlukan terobosan kreatif atas produk, selain kualitas produk. Salah satunya melalui kemasan yang menarik minat beli. Kemasan, menurut Kotler (1995:200) adalah kegiatan merancang dan memproduksi wadah atau bungkus sebagai sebuah produk.

Sedangkan menurut Saladin (1996:28), kemasan adalah wadah atau bungkus. Dapat disimpulkan kemasan adalah suatu kegiatan merancang dan memproduksi bungkus suatu barang yang meliputi desain bungkus dan pembuatan bungkus produk tersebut. Kemasan pada suatu produk mencitrakan dirinya sendiri di pasaran dan dimaksudkan sebagai upaya mengkomunikasikan suatu ciri khas pada produk sebagai identitas.

Yang bertujuan selain untuk penggunaan jangka pendek yaitu mengemas produk itu sendiri, juga sebagai tujuan jangka panjang yaitu branding. Sehingga dibutuhkan konsep dalam perancangannya. Akhir kata, budaya gengsi harus dimunculkan dan dibangun di lingkungan UMKM. Budaya gengsi dalam konteks ini berkaitan erat dengan budaya malu.

Sebagai anak bangsa, rasanya malu jika ti dak memakai produksi dalam negeri. Malu jika selalu memakai produk luar negeri karena produk UMKM kita dianggap murahan dan tidak branded. Padahal gerakan cinta produksi dalam negeri tak per nah berhenti bergaung, dan pro duk dalam negeri tidak lagi kalah mutunya. Harusnya kita malu tidak menghargai hasil jerih payah bangsa sendiri.

Harusnya gengsi itu diletakkan, ketika produkproduk UMKM hanya dihargai murah saat transaksi jual beli di dalam negeri, tapi dihargai sangat mahal di luar negeri. Sedihnya lagi, produk-produk UMKM tidak dilirik jika dijual di dalam negeri, tapi selalu terpampang di outlet-outlet internasional yang menawarkan harga dolar yang relatif mahal. Duh.

*) Pemerhati Masalah Ekonomi dan Kemanusiaan, Kepala Biro Humas dan Kerja Sama, Universitas Muhammadiyah Bandung

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN