Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kapler A Marpaung

Kapler A Marpaung

Menakar Dampak Covid-19 terhadap Industri Perasuransian

Selasa, 22 September 2020 | 09:21 WIB
Kapler A Marpaung *)

Dampak Covid-19 pada akhirnya telah memengaruhi industri keuangan termasuk sektor perasuransian di hampir semua negara di dunia. Tidak hanya industri asuransi di negara yang terjangkit Covid-19, akan tetapi juga negara yang tidak mengalami Covid-19. Bisnis asuransi adalah bisnis global, di mana kinerjanya dipengaruhi oleh perekenomian global.

Bisnis asuransi merupakan mekanisme pengalihan risiko. Hampir tidak ada satu industri yang tidak mengalihkan risiko atas aset atau kepentingannya kepada perusahaan asuransi. Bahkan penutupan asuransi dalam banyak kontrak bisnis adalah merupakan salah satu persyaratan yang diwajibkan dalam perjanjian bisnis.

Kinerja industri perasuransian dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah perekenomian dan pendapatan. Apabila perekonomian bertumbuh dan pendapatan naik, permintaan asuransi akan naik. Covid-19 telah mengakibatkan pertumbuhan ekonomi turun dan pendapatan turun, sehingga permintaan asuransi otomatis turun dan akhirnya industri asuransi bisa mengalami kerugian.

Salah satu perusahaan reasuransi terbesar dunia yaitu Willis Tower Watson telah melakukan studi tentang dampak Covid-19 kepada pasar asuransi di Amerika dan Inggris. Pasar asuransi di Inggris dan Amerika merupakan pusat pasar asuransi dan reasuransi terbesar dunia, sehingga kedua negara ini dapat menjadi parameter bagi Negara lain dalam melakukan kajian tentang dampak Covid-19. Kajian Willis Tower Wyatson dilakukan dengan tiga skenario.

Skenario pertama, optimistis, di mana Covid-19 akan berakhir selama tiga bulan. Skenario kedua, moderat, dengan pandemi Covid akan berlansung selama enam bulan. Dan skenario terakhir adalah severe, di mana Covid-19 akan berakhir 12 bulan atau lebih. Kajian dimulai dari Januari 2020.

Berdasarkan analisis Willis, potensi kerugian pasar asuransi Inggris dan Amerika untuk scenario optimistis bisa mencapai sebesar US$ 10 miliar, untuk moderate sebesar US$ 52 miliar, dan untuk skenario severe bisa mencapai US$ 140 miliar.

Potensi kerugian industri asuransi ini bersumber dari beberapa jenis polis asuransi, yaitu business interruption/contingency, director’s & of ficer liability, employment practices liability, general liability, surety, trade credit, political risk, mortgage, worker’s compensation, personal traveling, motor/car, marine & aviation, construction, cyber risk, juga termasuk asuransi jiwa dan asuransi kesehatan.

Kerugian industri asuransi di atas tidak hanya dari klaim asuransi tetapi banyak bersumber dari pengembalian premi kepada nasabah/tertanggung karena pembatalan polis asuransi, juga karena adanya permintaan discount/ rebate. Di pasar asuransi Inggris dan Amerika pengembalian premi dan pemberian diskon tidak dapat dihindarkan.

Kebijakan lockdown dan soc i a l d i s t a n c i n g misalnya, mengakibatkan kendaraan pribadi tidak dapat dipakai untuk beberapa waktu, tentu risiko atas kendaraan bermotor menjadi berkurang, sehingga nasabah meminta diskon.

Akibat kendaraan tidak bisa dipakai juga dapat mengakibatkan permintaan pembatalan polis asuransi oleh nasabah. Demikian juga jenis asuransi kredit per da gangan (trade credit insurance), dapat dipastikan akan terjadi default (gagal bayar) di mana impotir/buyer akan kesulitan membayar kewajiban kepada eksportir (kreditur) dan pada akhirnya perusahaan asuransi yang bertanggungajawab melakukan pembayaran (talangan) kepada kreditur (eksportir).

Sangat disayangkan industri asuransi nasional sampai saat ini belum menyediakan kajian tentang dampak Covid-19.

Dampak kepada Industri Asuransi Nasional

Telah dikatakan bahwa industri perasuransian nasional tidak luput dari dampak Covid-19. Memang terdapat perbedaan karakteristik jenis risiko dan jaminan polis asuransi antara Indonesia dan di luar negeri, termasuk Eropa dan Amerika.

Di luar negeri premi asuransi ditentukan oleh usia pengemudi dan jarak tempuh selama satu tahun. Sedangkan di Indonesia kedua faktor tersebut sama sekali tidak memengaruhi rate premi, sehingga kemungkinan kerugian perusahaan asuransi nasional akan adanya pembatalan polis dan pemberian diskon relatif kecil.

Industri asuransi nasional telah menghadapi penurunan premi sebagai dampak dari kebijakan social distancing atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), khususnya asuransi jiwa, mengingat penjualan polis banyak dilakukan tatap muka dengan calon nasabah. Yang sudah dapat dipastikan juga adalah baik sektor asuransi jiwa maupun asuransi kerugian serta asuransi sosial akan menghadapi masalah sama, yaitu penagihan premi asuransi dari nasabah menjadi tidak lancar.

Statistik Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) pada kuartal I-2020 mencatat penurunan premi sebesar 4,9% dan pada akhir kuartal II-2020 diperkirakan penurunannya akan lebih besar.

Berbeda halnya dengan data dari Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) yang masih mencatat pertumbuhan premi pada kuartal I-2020 sebesar 0,4% (year on year/yoy). Kinerja industri asuransi nasional, baik sektor jiwa maupun kerugian, pada kuartal I-2020 kelihatannya belum dipengaruhi oleh pandemi Covid-19, karena baru akhir Maret 2020 pemerintah mengumumkan sudah ada WNI yang terinfeksi Covid-19.

Akhir semester II-2020, baik sektor asuransi jiwa maupun kerugian, diperkirakan akan mengalami pertumbuhan negatif sebagai akibat dari kebijakan PSBB atau physical distancing yang mengakibatkan orang harus work from home.

Kinerja keuangan perusahaan perasuransian lain yang mengalami penurunan adalah batas tingkat solvabilitas minimum (Risk Based Capital/RBC). RBC asuransi jiwa pada akhir Mei 2020 rata-rata turun menjadi 642% dibandingkan dengan akhir Desember 2019 sebesar 789%. Sementara itu, RBC asuransi kerugian rata-rata turun menjadi 297% dibandingkan dengan akhir Desember 2019 sebesar 345%.

Harap dicatat bahwa tingkat RBC  ini adalah rata-rata perusahaan. Artinya, bisa saja perusahaan asuransi sudah ada yang mencatatkan tingkat RBC di bawah 120% pada akhir semester II-2020. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan kebijakan un tuk membantu industri asuransi dalam menghadapi krisis akibat Covid-19, yaitu Surat OJK Nomor 11/D.05/2020 tanggal 30 Maret 2020 tentang relaksasi atas pengakuan piutang premi menjadi 4 bulan dari sebelumnya 2 bulan. Lalu, Surat Edaran OJK No S-18/D.05/2020 perihal Penyesuaian Pelaksanaan Pemasaran Produk Asuransi Yang Dikaitkan dengan Investasi (PAYDI). Kebijakan OJK tersebut cukup membantu industri perasuransian, namun dirasakan belum optimal membantu perusahaan dalam menghadapi krisis Covid-19.

Sedangkan untuk usaha penunjang seperti perusahaan pialang asuransi, pialang reasuransi, perusahaan adjuster kelihatannya OJK masih belum merasakan perlu memberikan stimulus walaupun sudah banyak yang mengalami kesulitan likuiditas. Industri perasuransian kelihatannya tidak boleh mengharapkan terlalu banyak kepada OJK.

Apa yang harus dilakukan untuk dapat bertahan adalah dengan melakukan apa yang perlu dirasakan untuk dilakukan saja. Misalnya, efisiensi biaya, tingkatkan pembinaan kepada nasabah, memasarkan produk yang sesuai kebutuhan di masa pandemi Covid-19.

*) Dosen Program MM-Fakultas Ekonomika & Bisnis Universitas Gadjah Mada

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN