Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi

Ilustrasi

Menakar Kenaikan BI-7DRRR

Senin, 23 Mei 2022 | 19:07 WIB
Haryo Kuncoro *) (redaksi@investor.id)

Tensi agresivitas bank sentral Amerika Serikat (the Fed) dalam menaikkan suku bunga acuan agaknya kian meninggi. Setelah menaikkan 25 basis poin pada Maret, the Fed kembali mengerek suku bunganya. Tidak tanggung-tanggung, kenaikan Fed rate pada Mei mencapai 50 basis poin.

Proses pemulihan ekonomi yang lebih cepat dari perkiraan semula menjadi faktor pendorong the Fed mengakselerasi normalisasi kebijakan moneternya. Di satu sisi, pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) ditandai dengan meningkatnya penyerapan tenaga kerja, khususnya di sektor non pertanian.

Di sisi lain, pemulihan ekonomi juga diikuti oleh tingginya angka inflasi. Tekanan inflasi dalam negeri AS pada kuartal pertama 2022 memecahkan rekor tertinggi 7% dalam rentang dua dasawarsa terakhir. Pengetatan moneter lewat kenaikan suku bunga menjadi piranti kebijakan untuk meredamnya.

Kebijakan the Fed yang kemudian diikuti oleh beberapa bank sentral utama dunia agaknya belum cukup kuat mendorong Bank Indonesia (BI) untuk menempuh langkah serupa. BI masih menahan suku bunga acuannya, 7-Day Reverse Repo rate (BI-7DRRR), pada posisi 3,5% yang merupakan level terendah sepanjang sejarah. Waktu bertahan selama 15 bulan juga merupakan rekor terlama.

Dalam perspektif teoretis, langkah BI di atas tampaknya layak dipertanyakan. Keterkaitan, bahkan ketergantungan, merupakan konsekuensi dari sifat perekonomian terbuka. Oleh karenanya, suku bunga di suatu negara umumnya akan mengikuti negara lain, terutama kepada negara yang secara ekonomi lebih kuat. Besaran suku bunga diferensial antarnegara juga relatif tetap sebagai indikasi awal kedua pasar sudah mulai terintegrasi.

Alhasil, jika pun BI segera ‘menyesuaikan’ BI-7DRRR tampaknya opsi yang sangat logis. Tekanan inflasi sangat terasa belakangan ini. Laju inflasi domestik sampai dengan April 2022 sudah mencapai 3,47% secara tahunan. Angka inflasi tersebut pada akhir tahun berpotensi melampaui tetapan target batas atas 4%.

Inflasi inti (core inflation) pada periode yang sama mencapai 2,6%, rekor tertinggi sejak Mei 2020. Inflasi inti cerminan faktor fundamental yang bersifat persisten. Artinya, inflasi inti sulit naik dan sulit pula turun. Merangkaknya inflasi inti adalah indikasi awal terjadi perubahan mendasar pada rumah tangga konsumen.

Preferensi rumah tangga konsumen untuk menunda konsumsi dengan menimbun dananya di industri perbankan juga masih tinggi. Kenaikan suku bunga simpanan untuk mempertahankan suku bunga riil (selisih suku bunga nominal dengan inflasi ekspektasi) yang dinikmati nasabah menjadi argumen yang sangat logis.

Langkah serupa juga akan berlaku untuk suku bunga pinjaman. Kenaikan perlahan suku bunga simpanan akan menyundul suku bunga pinjaman. Tanpa didahului oleh kenaikan suku bunga acuan, perbankan pun agaknya sudah ‘mencuri start’ dengan terlebih dahulu menaikkan suku bunganya. Menjaga margin suku bunga adalah motif utama.

Dari sisi eksternal, ketidakpastian global masih tetap mengintai. Berlarutnya konflik Rusia-Ukraina memantik kenaikan harga energi dan beberapa komoditas penting lainnya. Dua hal tersebut cukup kuat untuk mendorong inflasi dan pemulihan ekonomi global yang kemudian berimbas kembali pada pasar negara berkembang.

Kinerja neraca transaksi berjalan (current account) belum bisa menjadi pegangan. Menyusutnya defisit transaksi berjalan bisa keliru tafsir. Menurunnya impor berasosiasi kuat dengan pelemahan ekspor lantaran Indonesia banyak mengimpor bahan baku, bahan penolong, dan barang kapital untuk memproduksi komoditas ekspor.

Selain itu, Fed Fund rate diproyeksikan akan terus naik. Sampai akhir tahun ini the Fed diproyeksikan akan menaikkan suku bunganya tiga sampai empat kali lagi. Imbasnya, pemodal asing akan melarikan dananya dari pasar berkembang menuju ke AS yang dipandang bebas risiko.

Kenaikan suku bunga AS membuat imbal hasil (yield) SBN (Surat Berharga Negara) dan aset finansial domestik lainnya secara relatif kurang menarik bagi pemodal asing. Alhasil, pemodal asing menukarkan aset finansialnya ke mata uang dolar untuk dibelikan surat berharga di pasar keuangan AS.

Tesis ini agaknya mendekati kenyataan. Tingginya permintaan valuta asing menekan volume cadangan devisa. Posisi cadangan devisa di awal tahun menembus US$ 141,2 miliar, menurun signifikan menjadi US$ 135,7 miliar pada akhir April 2022. Artinya, cadangan devisa tengah berada dalam tren penurunan.

Tingginya permintaan valuta asing berkontribusi pada laju depresiasi nilai tukar rupiah. Depresiasi nilai tukar rupiah memang tidak sedalam mata uang negara sepantaran (peer). Namun, dampak normalisasi kebijakan moneter AS itu, sebagaimana pengalaman taper tantrum 2013, tetap eksis dan nyata.

Komparasi dengan NEER (nominal effective exchange rate) dan REER (real effective exchange rate) tidak mengubah simpulan. Data dari BIS (Bank for International Settlements) menunjukkan kedua besaran tersebut menunjukkan penaikan, yang berarti daya saing eksternal mengalami penurunan.

Dengan konfigurasi problematika di atas, kenaikan BI-7DRRR tampaknya merupakan opsi yang perlu dipertimbangkan. Kenaikan BI-7DRRR niscaya akan menjaga daya tarik pasar finansial domestik bagi pemodal asing. Kompatibilitas suku bunga diferensial akan menahan arus modal keluar negeri.

Langkah tersebut juga sebagai respons atas geliat inflasi dalam negeri sehingga bisa menjangkar ekspektasi inflasi ke depan. Wacana kenaikan harga LPG 3 kg, pertalite, solar, dan tarif dasar listrik akan memicu efek domino pada kenaikan harga barang/jasa lain yang menjadi mata rantainya.

Dalam konteks ini, kenaikan BI-7DRRR tetap menuntut kecermatan ekstra. Proses pemulihan ekonomi dalam negeri masih berlangsung kendati belum merata. Beberapa wilayah/sektor ekonomi yang paling dalam terkena dampak pandemi Covid-19, masih terus bergulat dari efek memar (scarring effect).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2022 yang mencapai 5,1% secara tahunan menjadi titik tolak. Level 5% bisa dianggap sebagai pertumbuhan natural. Dengan capaian tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara yang berhasil mencatat pertumbuhan di atas level pra pandemi Covid-19.

Kasus harian Covid-19 sudah melandai sehingga fokus pemerintah tidak pada penanganan pandemi lagi. Belanja yang sebelumnya dialokasikan untuk kesehatan bisa dialihkan pada penanganan efek memar tadi. Intinya, landasan momentum yang sudah terbangun tidak terlewatkan.

Kenaikan BI-7DRRR tampaknya merupakan opsi yang perlu dipertimbangkan. Kenaikan BI-7DRRR niscaya akan menjaga daya tarik pasar finansial domestik bagi pemodal asing. Kompatibilitas suku bunga diferensial akan menahan arus modal keluar negeri.

BI harus mewaspadai risiko tingginya beban bunga utang pemerintah imbas dari kenaikan BI-7DRRR. Beban bunga SBN setidaknya pada 2023 akan naik cukup signifikan. Sementara, APBN 2023 harus kembali pada regulasi semula bahwa defisit fiskal maksimum 3% dari produk domestik bruto.

Konflik di Eropa Timur juga menyisakan potensi kenaikan harga beberapa komoditas penting di pasar global, sehingga berpotensi menimbulkan volatilitas inflasi terimpor (imported inflation). Respons kebijakan fiskal secara tidak langsung juga akan menentukan karakter kebijakan moneter BI.

Dari internal BI sendiri, kenaikan BI-7DRRR juga harus memperhatikan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran. Penaikan bertahap GWM (giro wajib minimum) sudah dimulai per Maret yang disusul lagi pada Juni dan September. Kendati bertujuan sama, kenaikan BI-7DRRR dan GWM bisa komplikatif.

Demikian pula, exit strategy BI atas pembiayaan bersama (burden sharing) yang akan berakhir pada tahun ini. Mulai tahun depan, BI akan menjual SBN yang dibeli BI di pasar perdana sesuai Surat Kesepakatan Bersama dengan pemerintah. Likuiditas akan mengalir dari pasar finansial menuju ke BI.

Sampai di poin ini, koordinasi kebijakan antarotoritas ekonomi sangat diperlukan. Pengetatan kebijakan dari salah satu otoritas sejauh mungkin bisa diimbangi dengan kebijakan pelonggaran dari otoritas yang satunya. Sehingga perekonomian nasional bisa senantiasa fine tune.

Koordinasi yang diformat dalam spirit sinergitas akan menghasilkan kebijakan yang bersifat simbiosis mutualisme. Artinya, satu kebijakan (dari salah satu otoritas) tidak merupakan substitut bagi kebijakan dari otoritas sendiri atau otoritas lainnya, melainkan komplementer.

Komplementaritas kebijakan antarotoritas ekonomi niscaya akan memudahkan realisasi target, tidak hanya pada aspek output (hasil), akan tetapi juga pada outcome (dampak). Kesemuanya ini harus tetap diletakkan dalam koridor keberlanjutan pertumbuhan dan stabilisasi ekonomi sebagai satu kesatuan utuh.

Jawaban atas kebijakan suku bunga acuan BI bisa ditakar pada Rapat Dewan Gubernur 23-24 Mei 2022. BI tentu punya konsideran tersendiri. Menarik pula untuk ditunggu bauran kebijakan (policy mix) lain yang akan diluncurkan, seandainya kenaikan BI-7DRRR diposisikan sebagai amunisi terakhir.

*) Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta, Direktur Riset SEEBI (the Socio-Economic & Educational Business Institute) Jakarta, Doktor Ilmu Ekonomi Alumnus PPs UGM Yogyakarta.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN