Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Edy Purwo Saputro, Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Edy Purwo Saputro, Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Menangkap Peluang Perang Dagang

Edy Purwo Saputro, Kamis, 11 Juli 2019 | 10:42 WIB

Perang dagang Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok bukan mereda tapi justru semakin berlarut. Karenanya perlu untuk mencermati dampak dari kasus ini agar perekonomian domestik tidak dirugikan. Hal ini tentu bukan persoalan yang mudah karena AS dan Tiongkok adalah raksasa ekonomi dunia dan semua yang bersinggungan dengan keduanya pastilah terdampak.

Oleh karena itu, mitra bilateral dan mitra multilateral dari kedua negara harus menghitung ulang semua potensi dan peluang yang ada serta sekaligus mereduksi ancaman di balik perang dagang AS-Tiongkok. Ar tinya, kalkulasi dampaknya tidak hanya dari aspek perdagangan tapi juga investasi.

Padahal, neraca perdagangan dan realisasi investasi dari AS-Tiongkok telah menjadi bagian penting dalam ritme perekonomian nasional. Data BPS menjelaskan bahwa realisasi investasi dari AS dan Tiongkok mengalami kenaikan selama kuartal I-2019. Investasi penanaman modal asing (PMA) dari AS ke Indonesia mencapai US$ 328,9 juta atau naik dari sebelumnya US$ 215,4 juta. Investasi asing dari Tiongkok juga meningkat dari US$ 548,9 juta menjadi US$ 1,16 miliar dalam rentang caturwulan I-2019. Potensi investasi dari Tiongkok memang menunjukkan tren meningkat, termasuk misalnya yang baru diinisiasi negara Tirai Bambu ini, yaitu Satu Sabuk Satu Jalan atau Belt and Road Initiative (BRI) yang telah dibangun sejak empat tahun terakhir, bukan hanya dengan Indonesia tetapi juga dengan sejumlah mitra bilateral-multilateral. Terlepas dari sengketa yang terus berlarut, yang pasti, AS terus mengancam Tiongkok setidaknya dalam rentang waktu sampai sebulan agar Tiongkok menyetujui kesepakatan yang dibangun oleh AS.

Serius

Yang justru menjadi pertanyaan adalah apakah Tiongkok akan dengan mudah menyetujui apa yang diminta AS? Tentu tidak karena di balik sengketa dagang pasti ada muatan kepentingan dari kedua pihak yang berseteru. Padahal, AS juga mengancam jika Tiongkok tetap bersikeras maka Presiden AS Donald Trump akan menaikkan tarif impor produk made in Tiongkok sebesar US$ 200 miliar dan tambahan tariff 25% menjadi US$ 325 miliar.

Di sisi lain, Tiongkok juga tidak bisa dengan mudah didikte oleh AS dengan berbagai balutan kepentingan ekonomi–bisnis. Tiongkok juga menyeru bahwa kesepakatan dengan AS adalah bukan hal mustahil asalkan kerja sama yang dibentuk mengacu pertimbangan kepentingan rasional dan juga bermartabat serta menjunjung tinggi aspek kesetaraan antarnegara, bukan diskriminatif.

Yang juga menarik dicermati terkait saling gertak dalam perang dagang AS-Tiongkok adalah setelah bursa tumbang. Betapa tidak, di pekan kedua Mei, bursa Wall Street mengalami penjualan besar-besaran dipicu sentiment kekhawatiran atas berlarutnya perang dagang AS-Tiongkok sehingga tidak berharap mengalami kerugian. Hal ini dipicu penegasan dari Kementerian Keuangan Tiongkok bahwa negara ini akan menaikkan tarif impor barang AS senilai US$ 60 miliar menjadi 25% pada 1 Juni 2019. Apa yang dilakukan Tiongkok adalah dampak dari penegasan AS yang menaikkan tarif senilai lebih dari US$ 200 miliar menjadi 25% dari sebelumnya 10% dan juga berencana mengenakan bea baru sebesar US$ 325 miliar untuk barang made in Tiongkok yang belum terpengaruh oleh perang dagang.

Fakta yang juga tidak bisa diabaikan dari dampak sistemik perang dagang AS-Tiongkok yaitu sentiment terhadap pasar saham. Betapa tidak, ketika Wall Street rontok, imbasnya juga ke pasar saham di kawasan Asean. Pada penutupan perdagangan hari Selasa 14 Mei 2019 terlihat bahwa bursa saham di Vietnam mengalami kenaikan 0,71%, sedangkan untuk kawasan lain justru mengalami penurunan signifikan. Hal ini terlihat pada bursa di Thailand (-0,49%), Singapura (-0,33%), Filipina (-1,23%), Malaysia (-0,12%) dan di Indonesia mengalami penurunan sebesar 1,05% yaitu IHSG ditutup pada level 6.071,20.

Imbas perang dagang juga berpengaruh terhadap nilai tukar, yaitu pada Selasa 14 Mei 2019 di kisaran Rp 14.444 per dolar AS, sehingga perlu kewaspadaan terhadap kemungkinan dampak yang lebih runyam. Argumen yang mendasari adalah bahwa pengaruh nilai tukar juga sangat rentan terhadap kinerja ekspor-impor.

Perang dagang AS-Tiongkok memperparah neraca perdagangan yang akhirnya defisit. Pada Juli 2018 ketika situasi AS-Tiongkok kian memanas, defisit neraca perdagangan mencapai US$ 2,03 miliar yang terdiri atas deficit migas US$ 1,18 miliar dan non-migas US$ 842,2 juta. Sehingga periode Januari- Juli 2018 sebesar US$ 3,09 miliar dengan posisi surplus hanya di bulan Mei dan Juni. Ironisnya, defisit migas periode Januari-Juli 2018 mencapai US$ 6,653 miliar. Kontribusi daerah penyumbang terbesar ekspor adalah Jawa Barat senilai US$ 22,76 miliar (16,86%), Jawa Timur US$ 14,26 miliar (10,56%) dan Kalimantan Timur US$ 13,67 miliar (10,13%). Yang menarik dicermati, tiga negara pemasok impor non-migas terbesar pada periode tersebut yaitu Tiongkok senilai US$ 32,48 miliar (27,83%), Jepang US$ 13,31 miliar (11,4%) dan Thailand US$ 8,21 miliar (7,03%).

Konsistensi

Dari kalkulasi di atas bahwa ekspor di tahun 2018 sebesar US$ 180.215 juta, sedangkan impor sebesar US$ 188.711,2 juta sehingga terjadi defisit US$ 8.496,2 juta. Perbandingan untuk triwulan I-2019 yaitu kumulatif ekspor US$ 40.510,2 juta, sedangkan impor sebesar US$ 40.703,6 juta sehingga defisit US$ 193,4 juta.

Sebaliknya, untuk triwulan I-2018 justru terjadi surplus US$ 314,4 miliar terdiri atas ekspor US$ 44.272,9 juta dan impor US$ 43.958,5 juta. Yang menarik dicermati adalah prediksi sejumlah ekonom tentang ancaman defisit untuk neraca perdagangan April dan Mei sebagai konsekuensi dari dampak berlarutnya perang dagang AS-Tiongkok. Sebagai gambaran, data defisit perdagangan untuk April dan Mei 2018 yaitu masing- masing US$ 1.625,1 juta (terdiri atas ekspor US$ 14.537,2 juta dan impor US$ 16.162,3 juta) dan US$ 1.453,6 juta (terdiri atas ekspor US$ 16.209,3 juta dan impor US$ 17.662,9 juta).

Tantangan di balik dampak sistemik perang dagang AS-Tiongkok adalah bagaimana komitmen untuk melakukan diversifikasi produk ekspor, termasuk optimalisasi impor untuk bahan baku dan bahan proses produksi. Diversifikasi produk ekspor tampaknya saat ini semakin penting seiring dengan pengembangan kemudahan bisnis dan peningkatan daya saing produk domestik.

Selain itu, era otonomi daerah dengan berbagai potensi yang ada juga sangat diharapkan mampu menciptakan produk unggulan daerah berpotensi ekspor. Apalagi hal ini juga didukung oleh modernisasi pengurusan perizinan untuk ekspor, termasuk juga upaya memacu ekspor dari UMKM. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak mencari celah peluang di balik perang dagang ASTiongkok yang bukannya meredup tapi terus berlarut. Hal ini meski berdampak terhadap mitra bilateral dan multilateral, tapi Indonesia harus bisa mencari peluang di balik semakin memanasnya perang dagang AS-Tiongkok. Yang justru menjadi pertanyaan di tengah memanasnya iklim sosial politik di dalam negeri adalah mampukah kita mencari peluang dari perang dagang ASTiongkok?

Edy Purwo Saputro, Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA