Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengamat Ekonomi dan Perbankan

Pengamat Ekonomi dan Perbankan

Mencermati Fase Pemulihan Perdagangan Internasional

Rabu, 30 Juni 2021 | 22:48 WIB
Ryan Kiryanto *)

Kalangan ekonom dan pengambil kebijakan di seluruh dunia sepakat bahwa kunci pemulihan ekonomi dunia ada pada kecepatan vaksinasi Covid-19 yang terdistribusi dengan baik. Ketimpangan kecepatan vaksinasi antara kelompok negara maju dengan kelompok negara berkembang dan miskin dikhawatirkan akan menghambat pemulihan ekonomi global. Yang terjadi kemudian adalah divergensi pemulihan ekonomi, di mana negara maju pu lih lebih cepat karena keberhasilan vaksinasinya dibanding negara berkembang dan miskin.

Dalam konteks global supply chain (GSC), arus barang dalam berbagai bentuk hanya akan terjadi di antara sesama negara maju dan sedikit negara berkembang yang berhasil mengelola pandemi Covid-19.

Seperti sudah menjadi kesepakatan informal global, suatu Negara boleh melarang masuknya warga negara lain yang memiliki kasus positif tinggi melalui moda transportasi apapun. Ini artinya, Negara dengan status positif Covid-19 yang tinggi akan terkucilkan dari ekosistem global dalam konsep perdagangan internasional.

Kini negara-negara di dunia berusaha keras untuk dapat mempercepat distribusi vaksin ke seluruh pelosok negeri, terutama nega ranegara dengan status negara kepulauan, supaya herd immunity atau kekebalan komunal dapat segera terwujud. Indonesia termasuk ke dalam kelompok negara ini, lebih-lebih setelah dalam sepekan terakhir terjadi lonjakan kasus positif Covid-19 yang signifikan.

Target vaksinasi 1 juta orang per hari mulai Juli 2021 seperti diin struk sikan Presiden Joko Widodo harus dapat diwujudkan. Kemudian target dinaikkan menjadi lebih dari 1 juta orang per hari sehingga ke kebalan komunal dapat segera terwujud sehingga Indonesia dapat leluasa berkiprah dalam perdagangan global.

Pertumbuhan Ekonomi Global yang Positif

Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Pembangun an Asia (ADB), Organisasi Ker ja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co- operation and Development/ OECD) dan sejumlah lembaga internasional lainnya sepakat bahwa pertumbuhan ekonomi global akan terjadi tahun 2021 ini, setelah terpuruk tahun lalu karena pandemi global. Bank Dunia menaikkan perkiraan pertumbuhan global menjadi 5,6% pada 2021, dipicu oleh kebijakan stimulus Amerika Serikat (AS) dan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang lebih cepat dari perkiraan.

Pada April lalu, IMF merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2021 dari proyeksi sebelumnya di Januari. Setelah terkontraksi 3,3% pada 2020, IMF memperkirakan pertumbuhan eko nomi global sebesar 6% pada 2021, naik dari proyeksi 5,5% di Januari. Sedangkan untuk 2022, diperkirakan ekonomi dunia tumbuh 4,4% atau lebih baik dibanding proyeksi sebelumnya 4,2%. OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2021 akan berada di level 5,6%.

Prediksi ini lebih tinggi dari perkiraan OECD sebelumnya yang sebesar 4,2%. Indikator utama yang menjadi lan dasan perbaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi global adalah peningkatan aktivitas perdagangan dan kegiatan industri manufaktur yang mengalami ekspansi sejak Desember 2020.

Kuatnya perbaikan pertumbuhan ekonomi global sudah terlihat pada kuartal pertama dan diperkirakan berlanjut pada kuartal II-2021 seiring berlanjutnya vaksinasi global.

Pembukaan kegiatan ekonomi di sejumlah negara maju disertai pelonggaran kebijakan pembatas an mobilitas mendorong percepatan pemulihan ekonomi global dan kawasan yang berlanjut pada perbaikan transaksi ekspor dan impor barang di pasar internasional. Volume perdagangan global diperkirakan mengalami kontraksi sebesar 5,4% pada 2020 lalu._

Pemulihan diperkirakan terjadi pada 2021 dan 2022, dengan volume perdagangan global masing-masing pulih sebesar 6,0% dan 3,7%. Dua Negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, yaitu AS dan Tiongkok, akan menjadi pusat pemulihan perdagangan internasional baik dari sisi ekspor maupun impor.

The Fed memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS pada tahun ini akan mencapai 6,5%, yang diperoleh dari stimulus fiskal besar-besaran hingga optimisme terkait keberhasilan vaksin virus corona. Sementara ekonomi Tiongkok pada tahun ini diperkirakan tumbuh 8,3%.

Secara kawasan, Asia Pasifik akan menjadi titik konsentrasi global value chains (GVC) perdagangan internasional. Untuk Tiongkok daratan, ekspor barang dagangan naik sebesar 27,9% yoy pada Mei 2021. Ekspor Korea Selatan juga menunjukkan pertumbuhan sebesar 45,6% yoy pada Mei.

Lalu, di kawasan Asosiasi Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Asean), ekspor barang manufaktur menunjukkan kenaikan 6,0% yoy pada April, dibantu oleh kenaikan ekspor komoditas elektronik sebesar 10,9% yoy.

Sementara ekspor barang dagangan Vietnam menunjukkan pertumbuhan cukup tinggi pada kuartal I-2021, yakni sebesar 29,6% yoy, terbantu oleh pertumbuhan yang cepat sebesar 30,7% yoy untuk ekspor ponsel dan suku cadang.

Untuk prospek jangka menengah, ekspor kawasan Asia Pasifik diperkirakan tumbuh cepat, didukung oleh pertumbuhan per da gan gan intra-regional yang berke lanjutan di kawasan ini. Karena Tiongkok, India, dan Asean terus berada di antara pasar negara berkembang de ngan pertumbuhan tercepat di dunia.

Yang pasti, perbaikan pertumbuhan ekonomi di negara maju se perti AS, Uni Eropa, Inggris dan Ka nada, dan dikombinasikan dengan momentum ekonomi yang kuat di Tiongkok, --terkait dengan peluncuran program vaksinasi yang cepat selama paruh pertama 2021--, diyakini akan menopang pertumbuhan transaksi perdagangan global.

Terbukti hal ini telah mendongkrak pesanan ekspor baru kawasan Asia Pasifik ke pasar ekspor utama di kawasan AS dan Eropa. Hal itu diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekspor barang dan produk manufaktur sepanjang 2021.

Ekspor merchandise di kawasan Asia Pasifik diperkirakan menunjukkan perbaikan yang kuat sebesar 13% yoy pada 2021, setelah mengalami kontraksi sebesar 1,8% yoy pada 2020._

Namun, karena gelombang Covid- 19 baru yang sedang berlangsung di banyak negara Asia Pasifik pada semester I-2021, diikuti pembatasan perjalanan internasional, diperkirakan akan menjadi hambatan utama bagi perbaikan perdagangan global dan pemulihan sektor pariwisata._

Pembukaan kembali perjalanan internasional diharapkan akan lebih selektif terutama untuk negara-negara yang telah menerapkan program vaksinasi yang meluas.

Oleh karena itu, jalur pemulihan ekspor cenderung tidak merata di berbagai sektor industri. Ekspor manufaktur dan komoditas memimpin pemulihan, sedangkan beberapa ekspor sektor jasa seperti sektor pariwisata dan penerbangan komersial diperkirakan memiliki jalur pemulihan yang lebih bertahap.

Sementara itu produk elektronika menjadi bagian penting dari ekspor manufaktur untuk banyak negara di dunia, termasuk Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Filipina, Taiwan, Thailand, dan Viet nam._

Selain itu, rantai pasokan elektronik sangat terintegrasi di ber bagai ekonomi, dengan Tiongok menjadi pemasok penting suku cadang elektronik menengah untuk sejumlah sektor elektronik di Asean. Pemerintah Korea Selatan meng umumkan total ekspor naik pada kecepatan tinggi sebesar 45,6% yoy pada Mei, menyusul kenaikan 41% yoy pada April. Ekspor semikonduktor naik sebesar 24,5% yoy pada Mei.

Ekspor semikonduktor terbantu oleh permintaan global yang lebih kuat untuk chip memori ponsel dan pusat data._Kini harga chip memori telah naik karena kekurangan  pa sokan global yang berkepanjangan.

Perkembangan Ekspor Impor Indonesia

Prospek jangka panjang untuk pertumbuhan perdagangan global tetap positif, didorong oleh perkiraan pertumbuhan jangka panjang yang terus meningkat ditopang oleh perekonomian AS, Uni Eropa dan Tiongkok.

Banyak ekonomi terbesar di dunia, termasuk AS Serikat, Uni Ero pa, Inggris, dan Tiongkok, telah melewati fase bertahan dan kini berada di fase pemulihan yang pesat ditopang program vaksinasi yang sukses selama semester I-2021._

Hal ini memungkinkan permintaan domestic menguat di negara-negara tersebut, dengan pelonggaran kebijakan lockdown secara bertahap yang membuat kelancaran logistic dan distribusi barang.

Dengan banyaknya ekonomi negara Asia Timur, seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan yang memiliki sektor ekspor manufaktur yang besar, maka kenaikan ekspor elektronik membantu mendukung pemulihan ekspor manufaktur._Hal ini juga mendukung permintaan bahan baku industri dari nega ranegara pengekspor komoditas, termasuk Indonesia.

Nilai ekspor Indonesia Mei 2021 mencapai US$ 16,60 miliar atau turun 10,25% dibanding ekspor April 2021. Dibanding Mei 2020 nilai ekspor naik cukup signifikan, sebesar 58,76%. Ekspor nonmigas Mei 2021 mencapai US$ 15,66 miliar, turun 10,67% dibanding April 2021, namun naik 58,30% dibanding ekspor nonmigas Mei 2020.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Mei 2021 mencapai US$ 83,99 miliar atau naik 30,58% dibanding periode sama 2020. De mikian juga ekspor nonmigas mencapai US$ 79,44 miliar atau naik 30,31%.

Penurunan terbesar terjadi pada produk kendaraan dan bagiannya sebesar US$ 272,0 juta (34,33%), sedangkan peningkatan terbesar ekspor nonmigas Mei 2021 terhadap April 2021 terjadi pada komoditas bahan bakar mineral sebesar US$ 281,9 juta (13,91%).

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari– Mei 2021 naik 30,53% dibanding periode yang sama 2020. Demikian juga ekspor hasil pertanian naik 13,39% dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 31,82%. Ekspor nonmigas Mei 2021 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$ 3,47 miliar, disu sul AS US$ 1,70 miliar dan Jepang US$ 1,10 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 40,02%.

Sementara ekspor ke sesama Asean dan Uni Eropa (27 negara) masingmasing sebesar US$ 3,14 miliar dan US$ 1,41 miliar.

Dari sisi impor, nilai impor Indonesia Mei 2021 mencapai US$ 14,23 miliar, atau turun 12,16% dibandingkan April 2021 atau naik 68,68% dibanding Mei 2020.

Impor migas Mei 2021 senilai US$ 2,06 miliar, naik 1,90% dibanding April 2021 atau naik 213,61% dibanding Mei 2020. Impor nonmigas Mei 2021 senilai US$ 12,17 miliar, turun 14,16% dibanding April 2021 atau naik 56,44% dibanding Mei 2020. Penurunan impor golongan barang nonmigas terbesar Mei 2021 dibandingkan April 2021 adalah mesin dan perlengkapan elektrik US$ 422,1 juta (20,31%).

Sedangkan peningkatan terbesar adalah bijih, terak, dan abu logam US$ 140,0 juta (144,29%). Tiga negara pemasok barang im por nonmigas terbesar selama Januari–Mei 2021 adalah Tiongkok US$ 20,56 miliar (31,83%), Jepang US$ 5,28 miliar (8,17%), dan Korea Selatan US$ 3,71 miliar (5,74%).

Impor nonmigas dari sesama Asean US$ 11,75 miliar (18,19%) dan Uni Eropa US$ 4,07 miliar (6,30%). Dari kategori penggunaan barang, nilai impor Januari–Mei 2021 terhadap periode yang sama tahun sebelumnya terjadi peningkatan pada barang konsumsi US$ 1.382,8 juta (23,97%), bahan baku/penolong US$ 10.900,3 juta (24,14%), dan barang modal US$ 1.395,3 juta (15,13%).

Pada akhirnya, neraca perdagangan Indonesia Mei 2021 mengalami surplus US$ 2,36 miliar terutama berasal dari sektor nonmigas US$ 3,49 miliar. Sedangkan di sektor migas terjadi defisit US$ 1,13 miliar.

Secara kumulatif, neraca perdagangan dari Januari 2021 hingga Mei 2021 mampu mencetak surplus US$ 10,17 miliar. Bila disbanding periode sama tahun sebelumnya yang mencetak surplus US$ 4,18 miliar, tentu capaian ini lebih baik dan patut disyukuri.

Ke depan, perbaikan kinerja per dagangan diharapkan memberi kontribusi yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal II- 2021 dan kuartal-kuartal berikutnya sehingga perekonomian Indonesia dapat segera meninggalkan zona kontraksi. Sebagai catatan akhir, fase pemulihan ekonomi global diikuti fase pemulihan perdagangan internasional harus dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh pemerintah, dunia usaha dan otoritas domestik untuk mengambil peran aktif dalam ekosistem perdagangan internasional.

Sekali lagi, percepatan distri busi vaksinasi diikuti disiplin protokol kesehatan seluruh war ga masyarakat untuk segera mewu jud kan herd immunity menjadi fak tor kunci untuk Indonesia dapat memainkan peran strategisnya di kancah global.

*) Ekonom

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN