Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

Mencermati Normalisasi Perekonomian Tiongkok

Kamis, 22 Juli 2021 | 23:34 WIB
Ryan Kiryanto *)

Pertanyaan besar yang mencuat saat ini adalah: kapan Tiongkok akan menguasai dunia? Saat ini dunia melihat Tiongkok akan menjadi ekonomi terbesar di dunia, melampaui Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya begitu dominan dan hegemonik

Dengan pertanyaan lain: mungkinkah superioritas AS sebagai ekonomi terbesar di dunia berakhir dalam satu dekade ke depan? Jika Presiden Tiongkok Xi Jinping mampu mereformasi struktural perekonomian sehingga bisa mendorong pertumbuhan, sedangkan Presiden AS Joe Biden masih harus berjuang me me nangkan suara di Parlemen dan Senat setiap kali meng a ju kan proposal kebijakan, maka setapak demi setapak per ekonomian Tiongkok akan melampaui AS.

Perkiraan Bloomberg Economics menunjukkan Tiongkok dapat meraih tempat teratas pada selambatnya tahun 2031. Perkira an ini mengacu kepada tiga faktor kunci penentu tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara, yaitu ketersediaan tenaga kerja mumpuni dan profesional, ketersediaan modal yang memadai, serta produktivitas yang tinggi.

Jika faktor ketersediaan tenaga kerja dan modal dapat dioptimalkan, produktivitas dijamin akan meningkat. Di sinilah kedua negara adidaya, Tiongkok dan AS, memiliki semua faktor penentu tadi. Namun lantaran Tiongkok memiliki program Belt and Road Initiative (BRI), maka posisi strategisnya sedikit di depan AS.

BRI merupakan program yang diperkenalkan oleh Presiden Xi Jinping pada 2013 dengan nama One Belt One Road (OBOR), yang merupakan rencana besar Tiongkok untuk menghidupkan kembali kejayaan Jalur Sutra (Silk Road) di abad ke-21.

Strategi ini melibatkan investasi dan pembangunan infrastruktur besar-besaran di 152 negara yang tersebar di Eropa, Asia, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika. Kata belt atau sabuk di sini mengacu pada jalur darat berupa jalan dan rel kereta yang juga disebut sebagai Sabuk Ekonomi Jalur Sutra.

Adapun road lebih merujuk pada jalur laut atau Jalur Sutra Maritim di Abad ke-21. Bank Dunia menyebut BRI sebagai upaya ambisius untuk meningkatkan kerja sama regional dan konektivitas antarbenua. Inisiatif ini bertujuan memperkuat infrastruktur, perdagangan, dan investasi antara Tiongkok dan 65 negara yang berkontribusi terhadap 30% pro duk domestik bruto (PDB) dunia.

Program ini juga menyentuh 62% populasi dan 75% cadang an energi global. Inisiatif ini akan menciptakan satu pasar raksasa bagi Negara-negara yang terhubung. BRI ingin menuntas kan masalah kesenjangan infrastruktur sehingga bisa men dongkrak pertumbuhan ekonomi di Asia-Pasifik, Eropa Timur dan Eropa Tengah.

Tiongkok Lebih Siap Melaju

Kesiapan Tiongkok untuk bergerak maju lebih cepat pasca pandemi Covid-19 didasarkan pada kesigapan Negara ini mengantisipasi pandemi dan dampaknya bagi perekonomiannya.Terbukti, saat ini rasio kredit terhadap total PDBnya telah meroket dari 140% pada 2008 menjadi 290%. Di saat pertumbuhan kredit di negara lain terpantau stagnan, bahkan kontraksi, ada peluang perekonomian Tiongkok melaju lebih cepat.

Muncullah perkiraan ekonomi Tiongkok kemungkinan akan melampaui AS pada 2028 atau 2029, lebih cepat dari perkiraan sebelumnya tahun 2031. Karena raksasa Asia itu telah terbebas dari pandemic dalam posisi lebih kuat. Maklum, pandemi Covid-19 memberikan dampak negatif, di mana banyak negara mengalami pertumbuhan kontraktif tahun 2020 lalu, meskipun dengan be saran yang tidak sama.

Faktanya, hanya Tiongkok, Vietnam, dan Taiwan yang berada di jalur pertumbuhan positif. Negara-negara lain, sebut saja India, Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura, semuanya menghadapi penyusutan PDB yang signifikan.

Meskipun ekonomi Tiongkok melambat dalam beberapa tahun terakhir, karena tantang an demografis dan investasi yang me nurun, namun ekonominyadi perkirakan masih tumbuh berkisar 3% pada 2035. Di AS, produktivitas yang lamban terlihat menahan laju pertumbuhan menjadi sekitar 1% pada 2035.

Berdasarkan skenario parameter The Japan Center for Economic Research (JCER),  lem baga ini memperkirakan Tiongkok menyalip AS pada 2029. Dan pada 2035, skala ekonomi Tiongkok, termasuk Hong Kong, akan mencapai US$ 41,8 triliun, hanya sedikit kurang dari skala gabungan perekonomian AS dan Jepang pada saat yang sama sebesar US$ 42,3 triliun.

Imbasnya, Tiongkok siap menjadi negara berpenghasilan tinggi lebih awal, yakni pada 2023, dan pada 2035 pendapatan per kapitanya mencapai US$ 28.000, sebanding dengan Taiwan sebesar US$ 30.000.

Prospek cerah juga untuk Vietnam, yang terlihat mampu mempertahankan tingkat pertumbuhan berkisar 6% pada 2035, berkat ekspor yang kuat. Ini akan mendorong skala ekonomi Vietnam melewati Taiwan, dan menjadikannya ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Indonesia. Vietnam siap untuk mencapai status negara dengan pendapatan menengah atas pada 2023, dengan pendapatan per kapita mendekati US$ 11.000 pada 2035.

Yang menarik adalah Taiwan, yang telah menjadi salah satu perekonomian paling sukses dalam memerangi pandemi Covid-19, tetapi tingkat pertumbuhannya diproyeksikan turun menjadi 1% pada 2035 sebagai akibat dari populasinya yang menua.

Sementara di India, tingkat pertumbuhan saat ini melambat secara signifikan karena pandemi. Namun, negara itu cenderung mengalami pemulihan cepat dan mampu mencapai pertumbuhan 5% pada 2035. Bahkan pada 2033, skala ekonomi India diperkirakan akan menyalip Jepang, tetapi pen dapatan per kapitanya masih belum akan men capai tingkat pendapatan menengah ke atas pada 2035.

Outlook Perekonomian AS 2021

Outlook perekonomian AS tahun ini cenderung membaik setelah didera pandemi tahun lalu yang mendiskon PDB-nya secara sangat signifikan. Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS tahun 2021 menjadi 7,0% karena pemulihan yang kuat dari pandemic Covid-19 dan asumsi sebagian besar infrastruktur dan rencana belanja sosial Presiden Joe Biden akan dijalankan.

Perkiraan terbaru IMF tersebut menandai laju pertumbuhan AS yang tercepat sejak 1984, dibandingkan dengan proyeksi April dengan pertumbuhan 4,6% pada 2021. IMF juga menaikkan perkiraan pertumbuhan PDB AS tahun 2022 menjadi 4,9%, naik dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 3,5%.

Perkiraan baru tersebut ju ga mempertimbangkan im plementasi Rencana Pekerjaan Amerika Serikat dan Rencana Keluarga Amerika Serikat oleh pemerintahan Joe Biden, anggaran sosial dan rencana reformasi pajak tahun ini dengan ukuran dan komposisi yang mirip dengan rencana mereka, proposal asli.

Menurut IMF, kedua paket kebijakan AS tersebut sudah sejalan dengan rekomendasi IMF untuk AS, mencakup bidang investasi untuk meningkatkan produktivitas, pendidikan dan keberpihakan pada kaum perempuan untuk bergabung dengan angkatan kerja.

Itulah yang membuat IMF meningkatkan proyeksi PDB AS secara kumulatif 5,25% selama 2022 hingga 2024. Realisasi vaksinasi Covid-19 yang terus meningkat dan rencana Presiden Joe Biden menambah anggaran belanja tahun ini menambah bahan bakar percepatan pemulihan ekonomi AS. Pada kuartal I-2021, ekonomi AS tercatat tumbuh 6,4% year on year (YoY) didorong konsumsi rumah tangga. Peningkatan konsumsi rumah tangga mendorong aktivitas di sektor jasa sehingga para pengusaha mulai menambah jumlah pegawai.

Produsen diproyeksikan telah menambah 60.000 pegawai pa da April lalu. Ini merupakan perekrutan terbesar dalam 10 bulan terakhir. Perkiraan outlook perekonomian AS yang membaik tahun ini, juga ditandai oleh posisi Purchasing Manager Index (PMI) pada Juni 2021 yang berada di atas treshold yang 50, yakni 62,1. Juga pulihnya lapangan pekerjaan, di mana tingkat pengangguran turun ke bawah 6% pada April 2021 lalu, mendorong spekulasi bakal naiknya inflasi melampaui konsensus yang sebesar 2%.

Hal itu yang juga mendorong spekulasi kenaikan suku bunga (Fed fund rate/FFR) dari posisi sekarang yang 0-0,25% menjadi 0,25-0,50% secara segera sebelum 2023. Hal itu juga mendorong spekulasi percepatan tapering off (penghentian pembelian obli gasi oleh the Fed) lebih cepat dari perkiraan sebelumnya di akhir 2022.

Catatan Penutup

Membaiknya perekonomian Tiongkok dan AS di tahun ini yang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya memberikan hikmah positif bagi Negara-negara di seantero dunia. Hal itu me ngingat kedua Negara dengan skala perekonomian terbesar itu menjadi episentrum aktivitas ekonomi global.

Negara di kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara, har us mampu mengambi l peran aktif di tengah hegemoni Tiongkok dan AS untuk bisa mengambil manfaat ekonomi, investasi dan bisnis. Indonesia, sebagai “pemimpin” di Asia Tenggara berdasarkan total populasi, besaran PDB, dan keanggotaan di kelompok G-20, harus mampu memainkan peran lebih aktif di kancah global dan regional untuk bisa mengambil manfaat secara maksimal.

Bagaimana pun Indonesia merupakan pasar besar yang atraktif bagi negara-negara produsen berskala besar –terutama Tiongkok dan AS—untuk memasarkan barang-barang produksinya ke Indonesia.

Harus ada imbal balik, di mana Indonesia juga harus bisamemasarkan barang-barang manufaktur dan komoditas primer bernilai tambah ke negara- negara lain, utamanya pasar Tiongkok dan AS. Diplomasi internasional yang cerdas dan taktis menjadi kunci memenangkan pertandingan di kancah global dan regional.

*) Ekonom

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN