Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Josep Ginting

Josep Ginting

Menciptakan Kestabilan Investasi Akibat Covid-19

Josep Ginting, Sabtu, 4 April 2020 | 10:11 WIB

Angka-angka nilai rukar rupiah, indeks harga saham gabungan (IHSG), dan instrumen investasi lain telah melemah, terimbas dampak penyebaran wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) terhadap ekonomi dunia dan ekonomi Indonesia. Dapat dikatakan semua menjadi negatif dan menakutkan. Apakah sedemikian besarnya dampak nyata dari Covid-19?

Nilai tukar rupiah memang melemah ke level Rp 16.464 per dolar AS (per 3 April 2020), dibanding awal Januari Rp 13.800 per dolar AS, bahkan sempat diperdagangkan di atas Rp 17.000 per dolar AS. Demikian juga harga saham-saham di Bursa Efek Indonesia menurun yang mengakibatkan indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok ke level 4.623,42 (per 3 April 2020), dibanding 6.298,92 pada 30 Desember 2019, bahkan sempat turun 36,67% ke level 3.989,52 pada 23 Maret 2020. Demikian juga yield to maturity obligasi 10 tahun telah naik ke kisaran 8%. Sementara itu, suku bunga BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) turun menjadi 4,5%.

Pasar modal (pasar saham dan obligasi, termasuk reksa dana) adalah pasar yang tidak sepenuhnya terbebas dari spekulasi, bahkan mungkin dipengaruhi oleh perilaku spekulasi. Kenapa dikatakan spekulasi? Spekulasi di sini adalah ketidakpastian, bukan judi.

Pada dasarnya harga-harga instrumen investasi yang terbentuk pada saham dan obligasi adalah harga estimasi, bukan harga sebenarnya. Harga pasar wajar yang dihitung dengan Discounted Cashflow, bahkan dengan menghitung harga saham dengan pendekatan Residual Operation Income dan Net Operating Asset pun masih mengandung angka “goyang”. Pada Discounted Cashflow, penilaian present value dari free cash flow yang masih berasal dari estimasi free cash flow (FCF) dan estimasi growth untuk konsep perpetuity sejak titik terminal value hingga jangka waktu tidak terhingga, juga adalah angka estimasi yang sangat rentan dengan kesalahan.

Demikian juga dengan penilaian harga saham yang sangat konservatif yang didasarkan pada perhitungan estimasi Residual Operating Income (ReOI) dan juga estimasi Return on Net Operating Asset (RNOA) adalah produk estimasi, meskipun sedikit lebih konservatif dibanding model Discounted Cashflow. Sama halnya dengan harga wajar obligasi, tidak serta merta berasal dari nilai present value dari bunga obligasi yang akan diterima pada masa yang akan datang, tetapi telah dipengaruhi ekspektasi tambahan yang berasal dari perilaku investor obligasi.

Jika demikian, tentunya dalam kondisi sedang berjalan akan lebih terpuruk lagi? Apakah demikian halnya? Apabila seluruh informasi dimasukkan ke dalam keputusan investasi, maka semua ketakutan akan terjadi (terealisasi). Untuk mencegah kondisi yang lebih buruk, kita bisa melihat beberapa hal yang mungkin dapat mengurangi ketakutan yang mengakibatkan tekanan pada pasar saham atau pasar obligasi yang pada akhirnya dapat berefek negatif kepada nilai harga wajar reksa dana bahkan nilai aktiva produktif perbankan di Indonesia.

Ada beberapa poin yang harus dipahami. Yang pertama, penurunan harga saham sebaiknya dilihat dari volume transaksi saham secara tertimbang. Mengingat penurunan harga saham bisa saja terbentuk oleh sejumlah saham yang tidak terlalu besar, berkebalikan dengan perhitungan indeks yang menghitung market capitalization.

Kedua, pemikiran sederhana mekanisme perdagangan saham, di mana jika ada yang menjual pasti ada yang membeli. Ketiga, harga obligasi terjadi lebih rendah, pastinya karena terjadi mekanisme jual-beli (antara penjual dan pembeli). Jika tidak, harga tidak akan turun. Keempat, harga saham atau yield to maturity obligasi adalah tingkat kepuasan pembeli dan penjual, sehingga terkadang tidak dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi yang melekat pada hitungan estimasi forward rate nilai tukar. Misalnya, pada pertimbangan tersebut akan sangat rugi jika melakukan penjualan yang didasari dengan kepanikan.

Lantas pertanyaannya kemudian, strategi apa yang harus dilakukan oleh masyarakat investor, termasuk manajer investasi dan juga (mungkin) regulator?

Langkah taktis jangka pendek (sementara) perlu dilakukan dengan kerja sama semua pihak. Antara lain adalah pertama, semestinya reksa dana secara fleksibel menyesuaikan harganya dari marked to market menjadi fair value saham atau obligasi yang dianggap paling konservatif. Sehingga mengurangi besaran penurunan nilai aktiva bersih.

Kedua, sebaiknya investor reksa dana (institusi termasuk perbankan) tidak melakukan penjualan reksa dana secara besar-besaran untuk mengurangi pressure di pasar. Ketiga, sebaiknya investor obligasi khususnya perbankan, asuransi, dana pensiun dan manajer investasi tidak serta merta menjual obligasinya, mengingat penerbit obligasi masih membayar bunga obligasi khususnya. Keempat, jika dibutuhkan, manajer investasi dapat berinisiatif dan mengusulkan pembentukan dana yang bisa memayungi investasi pasar modal di perbankan sehingga mengurangi risiko penurunan aset. Kelima, jika bisa dibuatkanlah satu kebijakan akuntansi yang memungkinkan institusi tidak harus membukukan harga efek saham, efek obligasi dan reksa dana marked to market. Paling tidak untuk tahun 2020, untuk mengurangi pengakuan kerugian yang tidak disengaja (force majeur). Sehingga investor institusi yang memang dengan tidak sengaja menghadapi risiko penurunan nilai akan tertolong kestabilan nilai asetnya dalam rangka mempertahankan kepercayaan investor baik lokal maupun investor asing.

Perlu dipahami juga bahwa penurunan kinerja ekonomi ataupun industri di Indonesia mestinya tidak akan terlalu besar, katakanlah sekitar 3-6 bulan sejak Maret 2020. Artinya ada momen manfaat yang diterima oleh pemerintah maupun oleh industri pada kurun waktu Januari 2020 sampai dengan Maret 2020 dan pada kurun waktu September 2020 hingga Desember 2020. Hal ini dapat dilihat pada saham yang perusahaannya memiliki ReOI positif dengan atau tanpa growth RNOA.

Tentunya mempertahankan kestabilan perekonomian negara dan pertumbuhan industri agar tetap bagus adalah tanggung jawab bersama, tidak bisa dibebankan kepada pemerintah saja. Tetapi harus dibantu semua pihak, baik badan usaha milik pemerintah (negara dan daerah) maupun pihak swasta ataupun regulator terkait serta peneliti-peneliti di universitas (corporate, government dan university). Dengan demikian sambil menunggu meredanya Covid-19, iklim investasi di Indonesia akan membaik segera dan mendapat kepercayaan dari pihak lokal maupun asing. Tentunya sasarannya adalah rupiah akan menguat kembali sesegera mungkin, sebelum akhir September 2020.

 

*) Dosen President University

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN