Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tri Winarno

Tri Winarno

Menepis Bayang-bayang Resesi

Tri Winarno, Kamis, 21 November 2019 | 10:52 WIB

Apa pemicu resesi di Amerika Serikat? Di masa lampau, pasar tenaga kerja yang mengetat setelah periode ekspansi dapat dijadikan sebagai sinyal awal akan terjadinya resesi. Pekerja sulit dicari, upah mulai merangkak naik, margin keuntungan perusahaan mulai menyusut, dan pengusaha mulai menaikkan harga. Takut akan inflasi, kemudian bank sentral menaikkan bunga, yang pada akhirnya akan menekan investasi korporasi dan berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK).

Pada titik tersebut permintaan agregat akan menurun karena konsumen takut dengan PHK, maka mereka mengurangi belanjanya. Inventori perusahaan kemudian meningkat sehingga produksinya dipangkas, kemudian berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang segera melambat secara signifikan, yang memberi sinyal awal terjadinya resesi.

Siklus selanjutnya adalah pemulihan ekonomi. Setelah inventori korporasi mulai menyusut, maka mereka mulai meningkatkan produksinya lagi, dan ketika inflasi mulai mereda, maka bank sentral akan memangkas tingkat bunga kebijakannya untuk memacu permintaan agregat. Namun gambaran tersebut adalah fenomena siklus bisnis ekonomi masa lalu. Sebab inflasi saat ini tidak menjadi isu yang seksi, alias tidak usah khawatir lagi dengan inflasi. Karena itu, ke depan inflasi tidak akan menjadi pemicu penting untuk peningkatan tingkat bunga. Resesi terkini yang pernah dialami ekonomi global adalah karena adanya akumulasi ekses finansial selama masa ekspansi.

Pada tahun 2001, resesi terjadi karena ekses finansial yang terjadi di pasar saham selama dot-com boom.

Pada 2007- 2008, resesi terjadi karena financial-sector leverage setelah terjadinya subprime mortgage boom. Dan resesi benar-benar terjadi tatkala the Fed menaikkan tingkat bunga dalam rangka merespons ekses likuiditas, bukan karena target inflasi yang terlampaui.

Inflasi saat ini masih di bawah target the Fed, jadi tidak ada lagi pengetatan moneter sebagai kebijakan pilihan. Ketika the Fed pada tahun lalu meningkatkan tingkat bunga, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melipatgandakan perang dagangnya. Setelah pasar mulai terhuyung pada akhir 2018, the Fed mulai mengendorkan moneternya.

Dengan belum adanya penyelesaian perang dagang secara komprehensif dan secara formal sedang berlangsung penyidikan pemakzulan Trump oleh Kongres AS yang didominasi oleh Demokrat, maka dapat dipastikan the Fed masih jauh melakukan pengetatan moneter, alias masih lama akan ada kebijakan peningkatan bunga the Fed.

Di samping itu, Trump dipastikan akan menyalahkan the Fed jika resesi terjadi. Menimbang risiko reputasi serta proyeksi inflasi yang melambat, maka tak ada niatan the fed melakukan peningkatan bunga dalam waktu dekat ini. Bahkan the Fed telah memangkas tingkat bunga tiga kali pada tahun 2019 ini dengan tujuan utama mencegah perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, the Fed telah menggarisbawahi bahwa target inflasinya adalah symmetric, yang berarti bahwa the Fed akan mentoleransi suatu periode di mana target inflasinya terlampaui sebelum melakukan intervensi moneter. Kalau kenaikan tingkat bunga tidak lagi menjadi faktor pemantik terjadinya resesi di masa mendatang, bagaimana dengan faktor ekses finansial?

Mencermati perkembangan pasar finansial baru-baru ini, dapat dipastikan terdapat sektor yang harga asetnya ketinggian dan tingkat leverage-nya juga mengkhawatirkan, seperti yang terjadi pada skema private-equity deals. International Monetary Fund (IMF) telah mengingatkan bahwa akan terjadi tekanan keuangan yang substantif pada korporasi kalau pertumbuhan ekonomi melambat secara signifikan. Namun masalahnya tidak akan serius kalau tingkat bunga tetap rendah dan likuiditas masih melimpah.

Tentu saja, pada titik ter tentu, pertumbuhan akan melambat atau tingkat bunga mengalami kenaikan dan likuiditas semakin mengetat. Tatkala itu terjadi, maka aset finansial akan mendertita kerugian akibat penurunan harga sehingga korporasi akan mengalami kesulitan melakukan roll over utangnya.

Di samping itu, semakin lama kondisi pelonggaran moneter, maka semakin banyak sektor yang kelebihan likuiditas, sehingga semakin tinggi risiko ekses likuiditas menjadi pemantik resesi yang akan datang. Tetapi mengingat kondisi moneter yang tetap akomodatif, maka kemungkinan ekses likuiditas menjadi sumber pemantik resesi mendatang semakin kecil.

Lantas, pertanyaannya adalah faktor apa yang dapat mengganggu konsumsi yang saat ini menjadi penahan dan daya dorong pertumbuhan ekonomi? Jawabnya adalah PHK. Dan apa yang memantik PHK? Yaitu eskalasi perang dagang. Kalau, misalnya AS bersikukuh menaikkan tarif impor mobil dari Eropa dan Jepang, maka akan terjadi PHK di Eropa dan Jepang yang menjalar ke tempat lain.

Di samping itu, dalam jangka pendek sulit dipastikan akan terjadi kesepakatan komprehensif antara Tiongkok dan AS. Karena hanya sedikit ruang yang dimiliki pemerintah Tiongkok dan AS untuk saling percaya, dan sulit diyakini bahwa Tiongkok akan setuju dengan klausul intrusive monitoring yang dilakukan AS untuk memastikan bahwa Tiongkok telah mematuhi kesepakatan. Karena itu, ketidakpastian akibat dari perang dagang dapat dipastikan akan tetap menekan investasi dan pertumbuhan ekonomi mendatang.

Faktor lain yang akan menjadi pemantik resesi adalah risiko geopolitik. Hal ini terjadi di bulan September, ketika fasilitas kilang minyak Saudi Arabia dihantam oleh serangan drone Iran. Kerentanan produksi minyak Saudi Arabia terhadap serangan tersebut menggambarkan ketidakpastian proyeksi ekonomi global mendatang. Tatkala Iran tampak semakin terdesak dengan sanksi AS, maka dia telah memperingatkan bahwa kalau Iran bangkrut, Saudi Arabia dan United Arab Emirates harus menanggung konsekuensinya.

Sehingga garis keras Iran semakin mendapat dukungan yang luas tatkala Trump keluar dari kesepatkan nuklir dengan Iran yang ditandatangani AS pada tahun 2015. Walaupun Arab Saudi mengindikasikan akan melakukan negosiasi dengan Iran, namun risiko konflik regional di Timur Tengah masih tetap tinggi.

Karena itu, melonjaknya harga minyak akibat konflik tersebut dapat dipastikan akan memicu resesi ekonomi global. Sehingga akan menekan pendapatan konsumen serta memperlemah sentimen bisnis, yang berujung pada pelemahan investasi. Kalau itu terjadi akan berdampak pada inflasi sehingga bank sentral hanya punya ruang tipis untuk mengakomodasinya.

Dengan demikian, mencermati perkembangan tersebut dapat dipastikan bahwa pemicu resesi mendatang bukan berasal dari peningkatan tingkat bunga atau adanya ekses finansial, tetapi bersumber dari kelanjutan perang dagang atau karena faktor geopolitik.

Tri Winarno, Pengamat Kebijakan Ekonomi

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA