Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Meneropong Migrasi Konsumen BBM

Jumat, 4 November 2016 | 08:06 WIB

Setelah beras, bahan bakar minyak (BBM) menjadi komoditas yang paling strategis, sekaligus sensitif, bagi masyarakat Indonesia. Strategis, sebab tanpa bahan bakar minyak sebagian besar masyarakat Indonesia tak akan mampu bermobilitas dengan sempurna. Bahkan bisa melumpuhkan ekonomi. Tidak heran jika gonjang-ganjing harga dan ketiadaan bahan bakar minyak bisa menimbulkan distabilitas ekonomi dan bahkan politik nasional.

 

Tetapi tampaknya semenjak pemerintahan Presiden Joko Widodo, perilaku masyarakat tampaknya mulai welcome dengan perubahan harga bahan bakar minyak, yakni menetapkan harga yang berbasis market mechanism. Sekalipun ada pertentangan di level elite, bahkan oleh ormas Islam ternama (Muhammadiyah) bahwa pricing policy dalam hal harga bahan bakar minyak dianggap inkonstitusional.

 

Tetapi masyarakat tampaknya tak terpancing dengan aksi jihad konstitusi ala Muhammadiyah itu. Lebih hebat lagi manakala PT Pertamina melakukan aksi korporasi dengan menelorkan produk bahan bakar minyak nonsubsidi (per talite), masyarakat tampak menyambut antusias dengan produk tersebut.

 

Terbukti permintaan terhadap pertalite terus meningkat. Bahkan masyarakat pun tampak asyik dengan produk bahan bakar minyak nonsubsidi: pertamax. Nah, pertanyaannya bagaimana kita memaknai fenomena positif tersebut? Pertama, persoalan disparitas harga. Kini selisih harga antara premium dengan pertamax semakin tipis.

 

Sedangkan kualitas antara premium dengan pertamax berbeda signifikan. Premium dengan RON 88, sedangkan pertamax dengan RON 92. Harga beda-beda tipis tapi kualitasnya berbeda signifikan, membuat konsumen lebih berpihak pada kualitas yang lebih baik. Kedua, afordabilitas, keterjangkauan. Seiring dengan harga minyak mentah dunia yang masih mati suri, mengakibatkan harga bahan bakar minyak pun menjadi berangsur turun.

 

Dan sampai detik ini belum mengalami reborn. Sampai bulan Desember 2016, harga bahan bakar minyak tak ada perubahan (tetap). Kondisi ini menyebabkan harga bahan bakar minyak makin terjangkau, sekalipun untuk pertamax.

 

Ketiga, aksesibilitas. PT Pertamina makin menambah pasokan bahan bakar minyak non subsidi, sekalipun di perkampungan. Saat mudik Lebaran kemarin, saya melewati perkampungan di daerah Kebumen. Di sepanjang jalan penjaja bahan bakar minyak eceran justru lebih banyak menjajakan pertamax daripada premium. Saya pun sempat membeli pertamax botolan untuk mengantisipasi kemacetan panjang di sepanjang jalur selatan Jawa.

 

Keempat, kesadaran. Dalam hal ini terdapat tiga aspek kesadaran yakni kesadaran terhadap kualitas, kesadaran terhadap kesehatan mesin kendaraan dan kesadaran terhadap lingkungan hidup yang bersih. Banyak pengguna yang kian mengerti bahwa bahan bakar non subsidi kualitasnya lebih baik, lebih berenergi dan tarikan mesin menjadi lebih tokcer! Konsumen juga kian paham, dengan kualitas bahan bakar yang baik akan menyehatkan mesin kendaraannya, dan yang pasti tidak terlalu mencemari lingkungan.

 

Makin tinggi RON yang ada bahan bakar makin rendah emisi gas buangnya. Dan sebaliknya, makin rendah RON-nya makin tinggi emisi gas buangnya.

 

Simpulan dan Saran

Fenomena yang sangat baik ini seharusnya dijaga dan bahkan harus dipelihara. PT Pertamina dan juga pemerintah harus menjadikan masih murahnya harga minyak mentah dunia, untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas bahan bakar minyak. Upaya untuk mengurangi pasokan premium di kotakota (besar) sebagai langkah yang tepat. Mengingat daya beli pemilik kendaraan bermotor masyarakat perkotaan lebih kuat.

 

Selain itu, guna mengurangi polusi di perkotaan, adalah hal yang urgen untuk mengurangi polusi dengan cara menekan konsumsi bahan bakar minyak dengan RON rendah. Sebagai operator, PT Pertamina mesti mempunyai roadmap yang jelas untuk mengurangi distribusi dan penjualan premium dan kemudian menambah pasokan bahan bakar non subsidi tersebut.

 

Pada konteks sosiologis, PT Pertamina untuk secara proaktif melakukan rekayasa sosial pada penggunanya dengan memberikan edukasi dan pemberdayaan kepada konsumen perihal urgensinya menyelamatkan bumi dan lingkungan akibat dominannya penggunaan energi fosil, baik di sektor industry dan atau transportasi. Pada konteks implementasi CSR yang hakiki, Pertamina punya tanggung jawab social untuk mengendalikan dampak dari produknya baik dari sisi hulu dan atau hilir.

 

Jadi, jangan kehilangan momen untuk meningkatkan kualitas produk bahan bakar minyak. Dan jangan kehilangan momen untuk menjaga bumi agar tetap lestari.

 

Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN