Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Paulus Mujiran. Foto: youtube

Paulus Mujiran. Foto: youtube

Meneruskan Cita-cita Kartini

Rabu, 21 April 2021 | 22:18 WIB
Paulus Mujiran *)

Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Di kalangan Dharma Wanita dan sekolah-sekolah, hari ini diisi dengan aneka lomba seperti lomba memasak, berpakaian tradisional, cerdas cermat mengenai emansipasi perempuan, dan kegiatan lain sejenis.

Banyak cara mengenang jasa-jasa Raden Ajeng Kartini. Meski su dah lebih dari satu setengah abad kenangan akan Kartini tetap melekat. Perjuangan Kartini terus menggema sampai sekarang. Nama Kartini begitu membekas dalam emansipasi perempuan di Tanah Air.

RA Kartini adalah sosok yang melegenda bagi perjuangan pergerakan perempuan di Tanah Air. Meski banyak perempuan yang barangkali lebih hero, kehadiran Kartini sebagai pelopor, perintis dan pembuka jalan sangat dihargai.

RA Kartini adalah puteri dari seorang Bupati Jepara, beliau dilahirkan di Mayong, Jepara pada tanggal 21 April 1879. Kartini tidak hanya menulis tetapi diwujudkan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang. Meski usia Kartini terbilang pendek, gerakan membangkitkan perempuan menjadi ketokohan yang pantas dikenang. Upaya ini telah membuka penglihatan kaumnya di berbagai pelosok negeri.

Tidak semua perempuan pada masanya memiliki akses terhadap informasi, baik itu buku maupun bertemu tokoh-tokoh besar yang membuka cakrawala pemikiran. Ketika Kartini bertemu dengan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa.

Dia merasakan sendiri bagaimana hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar, padahal dirinya adalah putri Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan sama sekali.

Sejak saat itu, dia berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Kartini kecil sadar hanya dengan pendidikan, kemajuan perempuan bangsanya akan terangkat. Langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan.

Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Demi cita-cita mulianya itu, dia berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda agar bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda berhasil diperolehnya. Namun sayang, keinginannya kem bali tidak tercapai karena larang an orang tua.

Tradisilah yang membelenggunya sehingga Kartini muda tidak dapat merealisasikan citacita nya. Orang tuanya justru memaksanya menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang. Kartini harus rela dipoligami karena menjadi istri keempat dari Bupati Rembang.

Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. RA Kartini adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disa dari pada masa lalu.

Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Dengan begitu Kartini bukan pe rempuan biasa. Ia adalah perempuan pejuang. Seorang pejuang mengambil jalan senyap menuju cita-citanya.

Ia tidak hanya berlawanan dengan arus kebanyakan yang menyukai kema panan. Ia juga mendobrak tra disi dan belenggu adat yang kadangkala terpaksa kalah atau kandas karenanya. Namun Kartini berbuat, memelopori dan bertindak pada saat yang tepat.

Pertama, menemukan saripati kejuangan Kartini yang relevan pada masa kini. Pandangan terhadap agama, perkawinan, pendidikan, kesehatan kiranya menjadi nilai-nilai yang pantas dihidupi masa masa sekarang. Perempuan pada masa kini sudah lolos dari semua jebakan belenggu itu. Bahkan semua akses terhadap perempuan kini terbuka sangat lebar.

Kedua, permasalahan yang dihadapi era Kartini dengan sekarang mengalami perkembangan yang berarti. Kini perempuan leluasa menduduki jabatan-jabatan public tanpa kecuali.

Capaian perempuan masa kini jauh melampaui cita-cita Kartini. Namun keteladanan Kartini tetap relevan dan layak diperingati. Kartini memang telah menjadi pahlawan perempuan yang menginspirasi banyak orang. Ketokohan dan keteladanannya dikenang banyak orang sepanjang masa.

Bagi perempuan, perjuangan RA Kartini sudah berbuah banyak. Perjuangan memang belum berakhir, persoalan yang dihadapi perempuan kian kompleks di era sekarang ini. Juga masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan. J

uga di tengah pandemi Covid-19, di samping perempuan berada di garda terdepan melawan pandemic dengan menjadi dokter, apoteker dan perawat, banyak perempuan menyelamatkan ekonomi rumah tangga yang porak poranda karena pandemi. Mengingat kembali jasa Kartini adalah bagian dari mengenang masa lalu dan menginisiasi masa depan.

Untuk mengenang jasa-jasa Kartini, maka perlu ada upaya meneruskan keteladanan Kartini utamanya bagi kaum muda melalui gerakan yang kian memberi ruang bagi kaum perempuan untuk lebih berperan dalam pembuatan keputusan.

Berkorban bagi bangsa dan negara adalah keharusan. Pendidikan bagi perempuan menjadi keharusan. Utamanya juga mengedepankan segi kesehatan bagi perempuan. Emansipasi adalah keterlibatan dan pengakuan yang setara.

Kini, diperlukan refleksi yang lebih mengena untuk menempatkan sosok Kartini dalam evolusi digital di abad ini secara lebih bertanggung jawab.

*) Pengamat sosial, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN