Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tri Winarno

Tri Winarno

Menetapkan Nilai Tukar yang Tepat

Tri Winarno, Sabtu, 3 Agustus 2019 | 23:22 WIB

Bagi orang non ekonomi, real effective exchange rate (REER) adalah makhluk misterius, padahal pada hakikatnya REER adalah salah satu indikator ekonomi utama dan merupakan indeks keuangan internasional yang sangat penting. REER adalah indeks yang men-tracking perbedaan harga barang dan jasa yang diproduksi suatu negara terhadap negara-negara mitra dagangnya.

Dengan mengasumsikan variabel lainnya tetap (ceteris paribus), maka meningkatnya REER (apresiasi riil) suatu negara menunjukkan melemahnya daya saing perdagangan negara tersebut. Konsekuensinya: meningkatnya ketidak-seimbangan transaksi berjalan suatu negara sangat terkait dengan penyimpangan nilai REER aktual terhadap nilai REER ekuilibriumnya.

Mengingat REER sangat penting dalam kebijakan ekonomi, maka perumus kebijakan dari berbagai bank sentral dunia dan lembaga keuangan internasional telah mencurahkan berbagai upaya untuk menghitung dan menganalisis indikator nilai tukar ini. Namun kebanyakan metode mereka telah kedaluwarsa tatkala implementasi global value chains (GVCs), atau rantai produksi global semakin meluas. Karena itu, kami mencoba mengajukan alternatif perhitungan REER yang memasukkan fenomena global value chains sehingga analisisnya akan semakin tepat dalam penentuan nilai tukar yang tepat bagi suatu perekonomian. Sehingga kelemahan metode perhitungan REER yang konvensional dapat diatasi.

Selama ini penghitungan standar REER yang dilakukan berbagai bank sentral dan lembaga statistik mengasumsikan bahwa ekspor suatu negara adalah barang-barang akhir (final goods). Tetapi GVC telah mendeferensiasikan perbedaan tahapan produksi suatu barang di antara berbagai negara. GVC dapat melakukan tahapan–tahapan proses produksi tersebut dikarenakan perkembangan teknologi, hambatan perdagangan yang semakin rendah dan semakin dekatnya integrasi negara-negara emerging markets ke dalam ekonomi global. Karena itu, mengabaikan realitas tersebut dapat mengarah pada salah ukur REER yang mendasar, yang berakibat pada diragukannya efektivitas kebijakan ekonomi yang telah dibuat.

Untuk membuktikan bahwa pendekatan yang digunakan untuk penghitungan REER konvensional selama ini adalah kurang tepat adalah perhatikan contoh rantai produksi global pembuatan telepon genggam (handphone). Asumsikan Jepang memproduksi komponen dan mengapalkan ke Tiongkok, di mana telepon genggam tersebut dirakit dan diekspor ke pasar internasional sebagai produk akhir. Model REER tradisional akan mengasumsikan bahwa Jepang mengekspor produk akhir (final goods) ke Tiongkok, dan kedua negara dianggap saling berkompetisi. Karena itu, depresiasi yen akan dianggap meningkatkan daya saing Jepang dan merugikan Tiongkok.

Dalam kasus ini, akan tetapi, melemahnya yen akan membuat komponen handphone yang diimpor dari Jepang akan semakin murah. Sehingga harga telepon genggam yang dirakit di Tiongkok tersebut akan semakin murah, yang ujung-ujungnya akan meningkatkan permintaaan handphone Tiongkok tersebut, yang berarti meningkatkan daya saing produk-produk Tiongkok. Contoh ini menunjukkan bahwa perhitungan REER konvensional selama ini tidak hanya salah dalam menetukan besarannya, tetapi juga salah dalam penentuan arahnya. Dalam kasus ini, kalau Jepang menginginkan daya saingnya meningkat terhadap Tiongkok, maka Jepang seharusnya membiarkan yen menguat.

Karena itu, REER yang memasukkan faktor GVC, akan mengatasi masalah ini, sehingga mampu menjadi salah satu solusi ketimpangan dagang bilateral ataupun secara multilateral. Di samping itu, metode REER yang memasukkan variabel GVC dapat mengukur REER berdasarkan klasifikasi sektor dalam suatu proses produksi dalam suatu negara. Dengan demikian metode ini memungkinkan analisis daya saing dari berbagai sektor ekonomi suatu negara, dan dapat menentukan sektor-sektor mana yang menjadi penggerak utama keseluruhan REER suatu negara.

Dalam penjelasan ini saya akan mengambil kasus REER dan hubungan bilateral perdagangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). Dengan memasukkan variabel GVC dalam perhitungan REER, akan mengubah pengertian kita tentang bilateral REER antara renmimbi dan dolar AS. Seperti telah kita ketahui bersama bahwa Tiongkok telah meningkatkan perdagangan globalnya secara masif sejak diterima sebagai anggota WTO (World Trade Organization) pada tahun 2001. AS, terutama Presiden AS Donald Trump sudah sejak lama menyalahkan Tiongkok sebagai manipulator mata uang (currency manipulator) sehingga mengakibatkan defisit neraca transaksi berjalan AS semakin meningkat baik secara bilateral maupun secara multilateral. Tuduhannya adalah secara riil Tiongkok telah mendevaluasikan renmimbi terhadap dolar AS dalam waktu yang sangat lama.

Walaupun ekspor Tiongkok ke AS sangat spektakuler --berada pada kisaran US$ 600 miliar per tahun dan akan terus meningkat,-- sebagian besar produk-produk ekspor Tiongkok adalah merupakan produksi hilir dalam rantai produksi global atau “downstream global value chain”. Fakta ini, misalnya dapat dilihat pada produk-produk telepon genggam dan barang–barang elektronik. Sebagai akibatnya, sebagian besar produk-produk ekspor Tiongkok memakai bahan baku yang diimpor dari negara-negara lain, termasuk pangsa impornya dari AS, dalam memproduksi produk-produk tersebut sangat signifikan.

Di samping itu, daya saing ekonomi AS terhadap Tiongkok lebih banyak tergantung pada harga-harga sektor yang diperdagangkan (tradable sectors), seperti barang-barang elektronik daripada sektor yang tidak diperdagangkan atau non-tradable sectors seperti real estate. Tetapi standar perhitung agregat REER konvensional tidak memungkinkan untuk melakukan pembedaan antara sektor tradable dan non tradable.

Karena itu dengan menggunakan metode GVC, REER dengan memasukkan berbagai faktor di atas, analisis kita menunjukkan bahwa REER Tiongkok terhadap AS konsisten dan signifikan menunjukkan tren apresiasi (lihat grafik). Sebaliknya, dengan menggunakan REER konvensional (warna merah), secara riil renminbi mengalami depresiasi sampai dengan periode di mana Tiongkok meninggalkan kebijakan nilai tukarnya yang dijangkarkan dengan dolar (exchange-rate peg policies) pada tahun 2005. Kemudian renmimbi sedikit terapresiasi sejak itu, walaupun lebih kecil dari GVC REER.

AS-Tiongkok
AS-Tiongkok

Dari uraian di atas, baik secara teoritis maupun aplikatif, penentuan nilai REER yang tepat adalah sangat relevan dalam penentuan kompetitifnya suatu ekonomi suatu negara. Dengan demikian, menghitung REER dengan lebih akurat dapat mengurangi risiko salah memutuskan kebijakan ekonomi. Yang berarti mengurangi risiko perumus kebijakan salah dalam menyimpulkan kondisi ekonomi sehingga salah pula dalam mengambil kebijakan yang harus ditempuhnya.

Karena itu, sekali lagi penetapan nilai tukar, baik kebijakannya maupun cara mengukurnya, sangat menentukan daya saing perekonomian suatu negara. Di sini dituntut kehati-hatian dan keakuratan dalam mengukur dan menetapkan nilai tukar riilnya (REER).

Tri Winarno, Penulis buku: Indonesia Responding The Dynamic of Global Economy

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN