Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

Bagian-2

Mengapa Perekonomian Amerika Serikat Tidak Dikategorikan Resesi?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 23:20 WIB
Ryan Kiryanto *) (redaksi@investor.id)

Dana Moneter Internasional (IMF) sudah memperingatkan perlunya mewaspadai peningkatan ketidakpastian kebijakan perdagangan dan memburuknya rantai pasokan. Hal mana berkontribusi pada tren fragmentasi geoekonomi, yang diperkirakan akan menunda pemulihan ekonomi global dan memperburuk konektivitas perdagangan, investasi dan keuangan di Asia—salah satu penerima manfaat terbesar selama beberapa dekade dalam perdagangan global dan integrasi keuangan.

Apalagi yang terjadi kemudian adalah melemahnya pertumbuhan ekonomi dibarengi dengan tekanan inflasi yang meningkat, didorong lonjakan biaya pangan dan bahan bakar atau energi akibat perang dan sanksi terkaitnya. Itu semua memukul kelompok orang miskin dan rentan yang paling keras, yang paling tidak mampu mengatasi, mencederai konsumsi dan meningkatkan kemungkinan kerusuhan sosial, seperti yang terlihat di Sri Lanka, dan di negara-negara lain.

Advertisement

Baca Tulisan Bagian 1: Mengapa Perekonomian Amerika Serikat Tidak Dikategorikan Resesi?

Solusi Segera

Tekanan inflasi Asia yang meningkat tetap lebih moderat dibandingkan dengan kawasan lain, tetapi kenaikan harga di banyak negara telah bergerak di atas target bank sentralnya. Untuk itu, kebijakan moneter yang countercyclical tetap diperlukan. Di samping itu, diperlukan dukungan fiskal yang memadai.

Kebijakan fiskal perlu diperketat di negara-negara yang menghadapi tingkat utang yang tinggi, memberikan pelengkap bagi upaya moneter untuk menjinakkan inflasi. Pada saat yang sama, diperlukan transfer fiskal sesuai target untuk mendukung kelompok rentan menghadapi guncangan baru, terutama dari lonjakan harga energi dan pangan.

Di luar ini, solusi kolaboratif global dan regional untuk mengurangi ketidakpastian kebijakan perdagangan, mengembalikan pembatasan perdagangan yang destruktif dan menghindari skenario fragmentasi yang paling parah, sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan standar hidup masyarakat.

Reformasi ekonomi selama 2-3 tahun ke depan harus bertujuan meningkatkan pasokan agregat untuk mengatasi kenaikan inflasi, mengatasi tantangan jangka panjang seperti adaptasi perubahan iklim, berinvestasi dalam modal manusia, meningkatkan transisi hijau, dan mempromosikan digitalisasi.

Ilustrasi
Ilustrasi

Catatan Penutup

Pada akhirnya beberapa negara memang perlu menaikkan suku bunga acuan dengan cepat atau agresif. Karena inflasi meluas ke harga inti, yang tidak termasuk kategori makanan dan energi yang lebih fluktuatif, untuk mencegah spiral kenaikan ekspektasi inflasi dan upah yang nantinya akan membutuhkan kenaikan yang lebih besar untuk diatasi jika dibiarkan.

Pada saat yang sama, kenaikan suku bunga lebih lanjut akan menekan alokasi anggaran untuk konsumen, perusahaan, dan pemerintah yang mengambil utang besar selama pandemi. Meskipun stance kebijakan yang tepat akan berbeda untuk setiap negara, bergantung kepada detail situasi dan kondisinya, namun arahnya untuk menciptakan stabilitas ekonomi dan keuangan di setiap negara.

Maka, menjadi masuk akal jika kontraksi dua kuartal berturut-turut di AS ditolak oleh Yellen sebagai sebuah resesi, meskipun secara teknis sudah resesi. Sebab, kemunduran ekonomi AS sampai minus dua kuartal berturut-turut itu “memang disengaja” melalui desain kebijakan ekonomi dan moneter yang bertujuan jelas, yakni secepat mungkin menurunkan inflasi ke level target 2%.

Bahwa kebijakan pengetatan ekonomi dan moneter berdampak pada perlambatan ekonomi, faktanya masih terdapat beberapa indikator makroekonomi utama yang kuat yang memberikan garansi bahwa kesehatan ekonomi AS sesungguhnya tetap terjaga baik. Kalau pun Fed fund rate (FFR) masih akan bergerak naik, semua kemungkinan dampaknya sudah diprediksi dan kebijakan responsifnya pun sudah tersedia.

Cepat atau lambat, perekonomian AS akan kembali back to normal setelah target inflasi 2% terwujud. Suku bunga acuan akan diturunkan lagi dan kegiatan ekonomi kembali bergerak lebih cepat. Syukur-syukur perang di Ukraina berakhir damai sehingga rantai pasokan global kembali normal. Inflasi global pun akan melandai dan bank-bank sentral akan menurunkan suku bunga acuannya. Saat itulah kegiatan ekonomi dalam arti luas secara global akan bergerak menuju kenormalan baru lagi. (Selesai)

*) Ekonom, Co-Founder dan Dewan Pakar Institute of Social, Economics and Digital/ISED.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN