Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salomo R. Damanik, Kandidat Doktor Program Studi Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan Universitas Gadjah Mada

Salomo R. Damanik, Kandidat Doktor Program Studi Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan Universitas Gadjah Mada

Mengeja Perang Dagang, Membaca Peluang Investasi

Salomo R. Damanik, Rabu, 30 Oktober 2019 | 15:26 WIB

Perang dagang dua kekuatan ekonomi dunia, Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok, belum juga menunjukkan tanda-tanda mereda. Babak terakhir pembicaraan perdagangan di Washington pada akhir Agustus lalu gagal menyelesaikan ketegangan ekonomi antara kedua negara itu. Sekalipun sejumlah analis ekonomi meyakini bahwa tidak ada negara yang diuntungkan dari perang dagang – termasuk bangsa yang memulai perselisihan–, AS dan Tiongkok tetap melanjutkan perseteruan mereka.

Sejumlah negara mengeja perang dagang ini dalam beberapa skenario. Pertama, bila terjadi eskalasi terbatas yang diwujudkan dengan pengumuman kenaikan tarif, maka perang dagang dapat mengakibatkan kerugian produk domestik bruto (PDB) untuk kedua negara hingga 0,6% dalam waktu dekat dan 0,2% bila terjadi lebih lama.

Kedua, bila terjadi eskalasi penuh tanpa menyebar ke negara lain, maka hal itu dapat berujung pada kenaikan tarif sebesar 25% dan menimbulkan kerugian PDB sekitar 1% dalam waktu dekat dan 0,3% dalam jangka panjang.

Ketiga, bila terjadi eskalasi penuh dan melibatkan negara-negara lain, maka akan terjadi kenaikan tarif sebesar 15% dan PDB dunia cenderung berkontraksi lebih dari 3%. Dengan kata lain, jika perang dagang terbatas pada AS dan Tiongkok, hal ini tidak akan berdampak serius pada ekonomi global atau pada negara ketiga. Namun, sebaliknya, jika negara lain kemudian bergabung ke dalam perang dagang, hal yang lebih buruk dapat terjadi dan mewujud dalam penurunan besar ekonomi global. Berkaca pada tiga skenario ini, beberapa negara kemudian mengambil sikap untuk mengantisipasi dampak dari perang dagang AS dan Tiongkok.

Pilihan strategis terbaik cenderung diambil sejumlah negara dengan menolak tekanan politik untuk terlibat ke dalam perang dagang. Sikap ini tentu sangat rasional bila melihat dampak terburuk perang dagang yang diakibatkan. Namun, sikap ini juga cenderung akan mendapat tantangan dari dalam negeri, bila industri lokal kemudian terancam oleh respons AS atau Tiongkok yang memindahkan usaha mereka dalam mencari pasar baru.

Peluang Indonesia

Meskipun perang dagang AS dan Tiongkok pada dasarnya tidak mengganggu Indonesia karena forwarding cage Indonesia dengan AS dan Tiongkok berindeks kecil, dampak perang dagang akan berimbas pula ke Indonesia. Eskalasi lanjutan perang dagang dapat berdampak negatif ke Indonesia karena, harus diakui, beberapa produk Indonesia terkait dengan AS dan Tiongkok.

Terlepas dari banyak atau sedikitnya produk terkait, daya beli masyarakat Indonesia dapat menurun akibat tarif tinggi yang dilakukan AS atau Tiongkok.

Selain itu, karena akhir perang dagang pada dasarnya belum dapat diprediksi, Indonesia perlu mengambil langkah strategis agar tidak mudah terseret ke dalam jebakan perang dagang. Perlu diingat, dampak ketidakpastian akhir perang dagang tidaklah hanya berupa gangguan perdagangan, tetapi yang lebih berat lagi adalah munculnya erosi kepercayaan di dalam dunia bisnis, yang pada gilirannya dapat berujung pada jatuhnya investasi global, rendahnya minat berinvestasi, serta perlambatan ekonomi riil.

Dalam hal ini, langkah strategis yang diambil Indonesia haruslah dengan tetap berusaha mempertahankan kepercayaan bisnis. Pilihan paling rasional dalam mempertahankan kepercayaan bisnis ini tentunya melalui peningkatan iklim investasi yang dilakukan dengan mencari atau memperbanyak mitra perdagangan dengan negara lain.

Di tengah perlambatan ekonomi Indonesia yang, antara lain, diakibatkan oleh perang dagang, Indonesia perlu lebih banyak lagi mendatangkan investor asing dari banyak negara. Peluang Indonesia dalam menarik minat investor asing untuk menanamkan modal diyakini dapat diperbesar dengan mengingat beberapa hal berikut ini. Pertama, perang dagang yang berlangsung akan memaksa AS atau Tiongkok untuk menata ulang rantai pasokan mereka dengan mencari produksi berbiaya rendah ke negara-negara “aman” seperti Indonesia yang tidak masuk ke dalam global chain AS atau Tiongkok.

Dalam hal ini, relokasi usaha sangat mungkin terjadi untuk dibawa masuk ke Indonesia sebagai dampak dari perang dagang. Artinya, Indonesia harus bisa menangkap semua peluang relokasi industri agar perusahaanperusahaan multinasional membangun pabrik di Indonesia dengan ditunjang oleh berbagai insentif dan kemudahan perizinan.

Kedua, potensi bisnis Indonesia dalam perang dagang AS dan Tiongkok akan meningkat karena produk ekspor Indonesia menjadi lebih bersaing. Kenaikan tarif yang dikenakan AS terhadap produk-produk Tiongkok dalam kenyataannya mampu meningkatkan ekspor produk tekstil Indonesia sebesar 20-30%. Selain itu, peningkatan ekspor produk juga terjadi pada industri ban Indonesia yang cenderung mulai kompetitif.

Ketiga, kekuatan ekonomi Indonesia pada dasarnya cukup tangguh meskipun dihantam berbagai tekanan global, seperti perang dagang AS dan Tiongkok, Jepang dan Korea, serta keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Performa ekonomi ini tentu menjadi daya tarik investasi tersendiri, apalagi ditunjang dengan capaian tentang stabilitas politik, pembangunan infrastruktur, serta pengelolaan untuk meningkatkan sumberdaya yang dilakukan Indonesia.

Dapat ditegaskan, kondisi ekonomi dan sosial-politik yang ada di Indonesia pada dasarnya mampu menepis kekhawatiran investor untuk menanamkan modal dan menambah jaminan keamanan berusaha di Indonesia.

Keempat, Indonesia telah membuat sejumlah perjanjian perdagangan dengan berbagai negara. Berbagai perjanjian kerja sama perdagangan ini, baik melalui free trade agreement, comprehensive economic partnership agreement, ataupun regional comprehensive economic partnership, bahkan diyakini lebih dapat meningkatkan minat investor asing untuk menanamkan modal mereka ke Indonesia.

Relokasi Usaha

Dalam pengertian ini, perang dagang yang terjadi memiliki kemungkinan sangat kecil untuk dapat “mengganggu” perjanjian kerja sama perdagangan yang telah dilakukan Indonesia dengan negara-negara mitranya.

Dua hal yang kemudian dapat dipahami dari uraian di atas, yakni, pertama, Indonesia perlu mengantisipasi secara cermat eskalasi dan dampak perang dagang yang terjadi, baik antara AS dan Tiongkok, Jepang dan Korea, atau antarnegara lain yang kemungkinan terjadi.

Kedua, Indonesia harus mengoptimalkan peluang relokasi usaha, masuknya investasi asing, serta keunggulan potensi bisnis. Kedua hal ini akan sangat bermanfaat bagi Indonesia, tidak hanya dalam kaitannya dengan perang dagang tetapi juga dalam mengatasi ketertatihan agresivitas Indonesia dalam menarik investasi asing.

Salomo R. Damanik, Kandidat Doktor Program Studi Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan Universitas Gadjah Mada

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA