Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pang Xue Kai

Pang Xue Kai

Mengenal DeFi, Alternatif Sistem Finansial Baru Berbasis Blockchain

Kamis, 3 September 2020 | 08:28 WIB
Pang Xue Kai *)

Dua tahun lalu (2018), IDC sudah memprediksi bahwa pada tahun 2021, rantai nilai (value chain) dari industri terkemuka yang didukung teknologi blockchain akan memperluas platform digitalnya ke seluruh ekosistem omni-experience mereka agar biaya transaksi bisa dipangkas hingga 35%.

IDC juga memprediksi bahwa 30% produsen dan retail (pengecer) secara global akan membangun kepercayaan digital (digital trust) melalui layanan blockchain yang memungkinkan konsumen bisa mengakses riwayat produk. Hal ini menjadi solusi bagi perusahaan- perusahaan untuk melakukan validasi klaim produk mereka di mata konsumen.

Kedua prediksi itu menunjukkan dua manfaat besar dari teknologi blockchain, yakni efisiensi dan digital trust (consumer experience) bagi berbagai perusahaan dalam perjalanannya melakukan transformasi digital.

Perusahaan-perusahaan di berbagai sektor, mulai dari ritel, transportasi, periklanan, realestat, medis, legal, crypto asset exchange, politik, hingga perbankan dan finansial juga sudah mulai ‘bereksperimen’ dengan teknologi blockchain untuk diaplikasikan pada proses bisnisnya.

Lalu, apa kaitan blockchain dengan topik Decentralized Fi nan ce (DeFi) di dunia finansial? Bagi Anda yang mengikuti dunia crypto asset, seperti fenomena Bitcoin sejak dirilis lebih dari satu decade lalu oleh Satoshi Nakamoto, mungkin bisa lebih memahami bagaimana Bitcoin, perintis crypto asset, yang didukung teknologi blockchain dan kriptografi memberikan efek disrupsi pada sistem transaksi finansial tradisional yang selama ini menggunakan mata uang konvensional (fiat money).

Sejak tahun lalu, istilah “DeFi” sudah menjadi pembicaraan hangat bukan hanya di antara parapelaku industri blockchain tapi juga pelaku industri keuangan pada umumnya. DeFi juga punya beberapa istilah lainnya, di an taranya ‘Finance 3.0’, ‘open finance’, atau ‘affordable finance’. DeFi bisa dimaknai sebagai sistem finansial yang dikembangkan atau berjalan di atas sistem jaringan blockchain yang terdesentraliasi.

Di sini, DeFi mencoba ‘memindahkan’ berbagai layanan finansial tradisional (CeFi), seperti peminjaman (lend, borrow, loan), trade, saving, transfer, asuransi, remitansi, dan sebagainya untuk dijalankan di atas sistem jaringan blockchain yang terdesentralisasi sebagai salah satu solusi DLT (Distributed Ledger Technology).

Sederhananya, DeFi adalah sistem finansial terbuka tanpa perantara, yang selama ini sukses digunakan dalam transaksi crypto asset. Dengan DeFi, crypto asset dapat ditransaksikan, dipindah-tangankan, diperdagangkan, atau dipakai untuk aktivitas finansial lainnya dengan efisien, aman, dan ringkas.

Masih ada penjelasan simple lainnya dari DeFi yang mungkin lebih dipahami oleh Anda. Di sini DeFi memindahkan komponen CeFi (lend, borrow, dll) dan mendesentralisasikan komponen tersebut dengan menghilangkan perantara (middlemen, pihak ketiga) dan menggantikannya dengan dua komponen utama DeFi, yakni smart contract dan token.

Di dunia crypto asset, smart contract adalah aplikasi atau program yang berjalan di jaringan blockchain (distributed computing system), sedangkan token crypto adalah jenis crypto asset yang mewakili aset atau penggunaan tertentu yang ada di blockchain.

DeFi juga perlu dibedakan dengan istilah Fintech (Financial Technology) yang cukup popular di Tanah Air karena pesatnya per tumbuhan star tup Fintech be berapa tahun ini. DeFi bisa di sebut sebagai salah satu bentuk teknologi di bidang finansial karena menggunakan teknologi untuk inovasi peningkatkan layanan finansial. Namun sebagian besar Fintech yang kita kenal tidak berbasis DeFi.

Solusi Fintech yang ada umumnya menggunakan infrastruktur finansial tradisional, sementara DeFi dibangun dengan dasar DLT (Distributed Ledger Technology). Mungkin muncul pertanyaan, apa gunanya membuat suatu sistem finansial baru yang berbeda jika sistem yang lama, dalam hal ini sistem finansial tradisional (CeFi), misalnya bank sentral, bank komersial, dan financial asset exchange sudah diterima dan digunakan semua pihak di seluruh dunia?

Untuk menjawabnya, kita perlu mundur sejenak ke masa lalu untuk melihat bagaimana tatanan ekonomi global dengan sistem finansial tradisional selama ini.

Sepanjang sejarahnya, sistem finansial tradisional dengan konsep sentralisasi (CeFi) cukup ba nyak mengalami pasang surut karena beberapa ‘kelemahan’ klasik yang selalu menyertainya. Biaya tambahan (fee) transaksi keuangan bagi perantara (middlemen) yang menambah biaya operasional (kurang efisien), kompleksnya proses, regulasi dan aspek lain ke layanan finansial berdampak pada rendahnya inklusi keuangan bagi masyarakat.

Selain itu, kerentanan keamanan yang berujung modus penipuan, pencurian data, dan krisis keuang an merupakan salah satu dari serangkaian sisi negative dari sistem finansial tradisional (CeFi). Analis PWC mencatat, ada sekitar 45% proses perantara keuangan, seperti transfer uang dan bursa saham menjadi target kejahatan siber setiap tahunnya.

DeFi yang menawarkan konsep finansial yang berkebalikan dengan CeFi (decentralized vs centralized) mencoba menawarkan solusi atas berbagai kelemahan tersebut dengan sejumlah karakteristik yang ‘diwariskan’ dari teknologi blockchain.

Misalnya terdesentralisasi (decentralized), tidak perlu izin (permissionless), dan transparan (open source). Karakter utama decentralized di sini menunjukkan penyimpanan catatan transaksi terdistribusi di ribuan perangkat (smar tphone, PC, server, dll). Jadi, tidak ada ser ver sentral (terpusat) atau kontrol otoritas. Permissionless ar tinya setiap orang di dunia, tanpa ‘syarat’ dapat mengakses layanan dan saling terhubung.

Aksesibilitas yang tinggi ini diharapkan bisa mengatasi masalah rendahnya inklusi keuangan yang ditimbulkan oleh sistem keuangan CeFi saat ini. Disebut transparan dimaknai sebagai aktivitas keuangan DeFi yang direkam akan bersifat terbuka (open source) karena dapat diaudit oleh siapa saja. Masih banyak karakteristik untuk menunjukkan aktivitas finansial tersebut digolongkan sebagai DeFi.

Bagaimana perkembangan DeFi di Indonesia sejauh ini? Penerapan teknologi blockchain masih baru tahap pengenalan atau eksperimen di beberapa sektor industri.

Penerapan DeFi di sektor keuangan pun masih seumur jagung. Saat ini, penerapan DeFi difokuskan pada tiga sektor finansial. Antara lain, membuat layanan perbankan moneter (penerbitan stablecoin), menyediakan platform lending dan borrowing peer-to-peer atau gabungan, dan menghadirkan instrument keuangan lanjutan, se perti DEX (Decentralized Exchange), platform tokenisasi, derivatif, dan lain-lain.

Belum lama ini digelar Indonesia Blockchain Week (IBW) yang antara lain membahas perkembangan dan lanskap DeFi di industri finansial atau teknologi blockchain pada umumnya di Indonesia. Acara tersebut juga menjadi ajang berbagi pengalaman dan wawasan seputar penerapan DeFi di berbagai negara sehingga diharapkan akan tercipta banyak kolaborasi antarberbagai pihak untuk mendorong adopsi DeFi secara luas di Indonesia.

Satu pencapaian penting dalam ajang IBW adalah lahirnya asosiasi sebuah baru di Indonesia, yakni Asosiasi Perdagangan Aset Kripto Indonesia (APAKI) yang beranggotakan Tokocrypto, ICDX (The Indonesia Commodities and Derivatives Exchange), ICH (Indonesia Clearing House), Rekeningku.com, Digital Exchange Indonesia (Digitalexchange. id), Triv, dan Bitocto.

Hadirnya APAKI diharapkan dapat memfasilitasi semua inovasi di industri aset kripto dan mendorong agar aktivitas perdagangan aset kripto di Indonesia yang menjadi jauh lebih baik di masa yang akan datang.

Yang terpenting, APAKI diharapkan dapat mendorong berbagai lembaga keuangan di Indonesia bisa bahu-membahu untuk be narbenar mewujudkan visi inklusi finansial berbiaya rendah bagi seluruh masyarakat Indonesia.

DeFi adalah jalur bebas hambatan bagi lembaga keuangan untuk inklusi finansial yang paling luas.

*) Chief Executive Officer Tokocrypto

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN