Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, Koordinator Kemitraan Kota Hijau

Nirwono Joga, Koordinator Kemitraan Kota Hijau

Menggaungkan Kota Berkelanjutan

Nirwono Joga, Rabu, 6 November 2019 | 11:09 WIB

Usia Bumi telah mencapai sekitar 4 miliar tahun. Bumi telah mengalami berbagai proses bencana alam dan proses pemulihan kembali alam. Kehidupan itu sendirilah yang mengendalikan alam.

Untuk itu saat merancang kota, kita harus melihat kota sebagai ekosistem di mana semua bagian saling berkaitan dan saling memengaruhi. Sumber daya adalah manusia, alam, dan ekonomi. Estetikanya merujuk pada relasi baru antara perancang dan alam, di mana yang pertama adalah soal meniru proses alam dan bukan alam itu sendiri.

Manusia harus belajar dari alam dan fenomena alam. Merancang kota tidak boleh mengganggu ekosistem, tidak merusak alam, dan tidak membahayakan Bumi. Inspirasi dan inovasi dalam membangun kota adalah meniru, meniru kerja alam, karena satu hal yang pasti adalah alam pada dirinya bersifat berkelanjutan.

Perancang harus mempelajari model-model alam, kemudian meniru atau terinspirasi dari bentuk rancang bangun model alam serta memprosesnya untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan kota dan kita.

Mulai dari bagaimana alam menyediakan air alami secara lestari, tidak pernah kekeringan di musim kemarau, namun tidak sampai banjir di puncak musim hujan. Sumber-sumber mata air di pegunungan mengalir mengairi sungai bercabang meliak-liuk mengisi situ/danau/embung/waduk atau meresap ke dalam tanah melalui ruang terbuka hijau, sebelum berakhir di muara laut. Itu semua karena air adalah sumber kehidupan kota dan kita.

Fenomena pemanasan bumi, degradasi kualitas lingkungan, dan bencana lingkungan seharusnya mampu menyadarkan semua pihak dan bertindak bersama untuk melakukan aksi nyata menjaga keberlanjutan kota. Kota harus menjamin kelangsungan dan menyelamatkan kehidupan kita umat manusia dan makhluk hidup lainnya.
Keberhasilan mewujudkan kota berkelanjutan sangat bergantung pada keberhasilan penataan ruang, perencanaan kota, dan tata pemerintahan yang baik. Hal ini selaras dengan amanat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Tujuan 11 yakni mewujudkan kota yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.

Peraturan pendukungnya adalah antara lain UU No 28/2002 tentang Bangunan Gedung, UU No 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana, UU No 26/2007 tentang Penataan Ruang, UU No 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, dan UU No 32/ 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Kota berkelanjutan mencakup kuantitas, kualitas, kontinuitas penyediaan air bersih, pengolahan air limbah dan pengelolaan sampah ramah lingkungan, aksesibilitas dan mobilitas yang didukung transportasi berkelanjutan, pemanfaatan energi baru terbarukan, persyaratan bangunan gedung hijau, dan ruang terbuka hijau yang memadai.

Pengelolaan kota fokus pada bagaimana pemerintah daerah dan masyarakat mengubah proses bisnis, tata cara pemerintah daerah melayani masyarakat, mengatasi persoalan kota dengan ramah lingkungan, serta mengoptimalkan partisipasi masyarakat.

Konsep kota berkelanjutan harus masuk dalam rencana tata ruang wilayah, rencana detail tata ruang, rencana tata bangunan dan lingkungan, serta panduan rancang kota. Dokumen ini harus jadi prasyarat utama dan alat pengendalian pembangunan perkotaan, serta acuan penyusunan rencana investasi kota.

Konsep ini juga harus masuk dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah, rencana kerja perangkat daerah, serta rencana anggaran pembangunan dan pendapatan daerah dan skema pembiayaan potensial dan rencana investasi.

Pembangunan perkotaan harus mengarah kepada peremajaan/regenerasi kawasan pusat-pusat kota berbasis pergerakan manusia (transit oriented communities/TOC) dan terintegrasi dengan transportasi massal.

Pengembangan TOC berdasarkan tujuan, jarak, rancangan, kepadatan, keberagaman, serta mengelola kebutuhan. Kawasan TOC dilengkapi hunian vertikal (apar temen, flat, rumah susun), sekolah (dan pelatihan keterampilan), pasar rakyat/daring/pusat perbelanjaan, perkantoran (kantor virtual, ruang kerja bersama, ekonomi kreatif), dan RTH (taman, kebun pangan, lapangan olah raga, hutan kota, taman pemakaman). Kawasan didukung jaringan pipa air bersih, instalasi pengolahan air limbah komunal, pemanfaatan energi terbarukan, dan tempat pengolahan sampah ramah lingkungan.

Warga berjalan kaki di trotoar lebar (bebas PKL) atau bersepeda (infrastruktur sepeda: rambu, marka, jalur, parkir, bengkel, ruang ganti, sepeda sewa) ke sekolah, pasar, kantor, tempat ibadah, taman, halte bus, atau stasiun kereta terdekat.

Tersedia angkutan internal ramah lingkungan, gedung parkir komunal untuk warga penghuni/tamu/penumpang transportasi massal. Penerapan pembatasan kendaraan bermotor dalam kawasan untuk menekan emisi karbon, polusi udara, serta kecelakaan lalu-lintas.

Kota berkelanjutan adalah asa kota di masa depan di mana anak-anak, orang tua dan disabilitas dapat berjalan dengan aman dan nyaman. Kota yang masyarakatnya memiliki kebersamaan di ruang-ruang publik, saling bercanda menghabiskan waktu untuk keluarga, dan berdiskusi dalam memecahkan masalah di lingkungan. Taman-taman kota memberikan nilai tambah untuk kenyamanan kota sekaligus menyeimbangkan kehidupan.

Membangun kota berkelanjutan merupakan keharusan bukan pilihan.

Nirwono Joga, Koordinator Pusat Studi Perkotaan

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA