Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Primus Dorimulu, Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holding

Primus Dorimulu, Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holding

Menggugat Tata Kelola Perusahaan Asuransi Jiwa

Senin, 19 Oktober 2020 | 15:46 WIB
Primus Dorimulu *)

Kesetiaan seorang sahabat diuji dalam situasi sulit. Saat senang, semua terasa biasa-biasa saja. Pandemi Covid-19 menguji kesetiaan perusahaan asuransi, khususnya asuransi jiwa, terhadap nasabahnya.

Saat pemegang polis asuransi terkapar karena corona, apakah perusahaan asuransi memberikan perlindungan? Meski tidak ada dalam perjanjian dalam polis, apakah perusahaan asuransi mau menambahkan coverage atau pertanggungan?

Minggu, 18 Oktober 2020, masyarakat asuransi Indonesia memperingati Insurance Day. Peringatan Hari Asuransi ke-15 ini membuka kembali ingatan dan kesadaran kita akan eksistensi asuransi, persepsi publik terhadap asuransi, dan respons perusahaan asuransi terhadap nasabahnya.

Penetrasi dan densitas asuransi jiwa di Indonesia masih sangat rendah.
Penetrasi adalah perbandingan nilai polis asuransi terhadap produk domestik bruto (PDB). Sedang densitas adalah pengeluaran per penduduk selama setahun untuk asuransi.

Hingga Juli 2020, penetrasi asuransi jiwa di Indonesia, demikian data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), baru 1,1%. Sedang densitas hanya sebesar Rp 554.970. Kita boleh berbangga sebagai anggota G-20, negara dengan PDB terbesar. Tapi, densitas Indonesia di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand yang tidak masuk G-20.

Jumlah penduduk Indonesia yang memiliki polis asuransi jiwa baru 17,4 juta orang atau 16 orang per satu polis. Jika ditambah asuransi kumpulan, jumlah pemegang polis 30,2 juta atau sembilan orang satu polis.

Dengan jumlah pemegang polis, penetrasi, dan densitas asuransi yang masih minim, apa yang salah dengan masyarakat Indonesia? Apakah benar, umumnya masyarakat Indonesia tidak memahami dan menyadari pentingnya asuransi? Apakah mereka cuek terhadap masa depan mereka?

Tingkat literasi keuangan di Indonesia masih rendah seperti ditunjukkan hasil Survei Nasional Literasi Keuangan yang dilakukan OJK tahun 2019. Indeks Literasi Asuransi 19,4%, lebih rendah dari Indeks Literasi Perbankan yang mencapai 36,12%. Lebih dari 80% penduduk Indonesia belum memahami pentingnya asuransi bagi kehidupan mereka.

Kesalahan tidak cukup hanya ditimpakan kepada masyarakat. Perusahaan asuransi, para agen asuransi, manajer investasi, dan regulator perlu mengintrospeksi diri. Sejumlah kasus korupsi dan salah kelola di perusahaan asuransi jiwa sangat memukul nasabah dan itu cukup menggerus kepercayaan masyarakat.

Nasib tiga juta nasabah AJ Bumiputera belum jelas hingga kini. Klaim yang sudah jatuh tempo beberapa tahun terakhir belum dibayar. Tunggakan klaim asuransi berbadan hukum usaha bersama ini mencapai Rp 5,3 triliun dan jumlahnya bakal membengkak hingga Rp 9,6 triliun hingga akhir 2020.

Di satu pihak, ada masalah literasi. Tapi, di pihak lain, ada sejumlah kasus yang menyisakan stigma. Stigma bahwa perusahaan asuransi ingkar janji.

Janji berperan besar dalam hidup manusia. Orang bisa panjang umur karena harapan yang dibentuk oleh janji. Janji membangkitkan harapan. Karena itu, kasus ingkar janji meninggalkan stigma yang dalam.

Kasus Jiwasraya
Setahun sebelum pandemi Covid-19, Indonesia digemparkan oleh megaskandal Asuransi Jiwasraya. Akibat korupsi dan salah kelola selama tahun 2008-2018, satu-satunya asuransi jiwa BUMN ini didera kerugian hingga Rp 16,8 triliun seperti diungkapkan dalam hasil audit BPK.

Menjadi pertanyaan, apakah asset recovery bisa mencapai 100% atau minimal 80%? Dalam audit, aset Jiwasraya pada akhir 2019 sebesar Rp 18,4 triliun. Aset itu kini dalam sitaan Kejaksaan Agung. Sebagian besar aset asuransi berupa saham dan reksa dana yang saat ini harganya sedang anjlok.

Jika dipaksa jual, kerugian akibat investasi di saham Rp 4,65 triliun dan kerugian akibat investasi di reksa dana mencapai Rp 12,16 triliun. Pengelolaan aset finansial ini sangat penting dan menentukan tingkat pengembalian aset mengingat kewajiban Jiwasraya mencapai Rp 37 triliun.

Kita mengapresiasi langkah pemerintah dalam menangani kasus Jiwasraya. Dana nasabah diselamatkan, sedang semua pihak yang terlibat dalam salah kelola diproses hukum untuk melihat unsur korupsi. Lima orang yang berperan besar dalam pembobolan dana nasabah sudah divonis hukuman seumur hidup oleh Pengadilan Tipikor.

Jiwasraya tidak lagi menjadi asuransi jiwa. Untuk menangani premi nasabah Jiwasraya, pemerintah membentuk asuransi jiwa baru bernama Indonesia Finansial Group (IFG) Life. Dengan suntikan dana segar Rp 22 triliun, IFG Life akan menjadi perusahaan asuransi jiwa milik negara yang akan mengambil alih semua portofolio Jiwasraya. Portofolio yang dialihkan ke IFG Life adalah protofolio bersih, portofoilio yang sudah direstrukturisasi.

Para nasabah diharapkan bertahan. Bagi yang masih memiliki likuiditas untuk berbagai kebutuhan, premi tak perlu ditarik. Karena seluruh portofolio Jiwasraya akan dialihkan ke IFG Life, perusahaan baru dengan manajemen baru dan mendapatkan komitmen suntikan dana segar. Ada janji baru kepada nasabah.

Tapi, untuk nasabah yang sudah patah arang, pemerintah meminta waktu dua tahun untuk mengembalikan hak mereka. Ini adalah periode krusial bagi pemerintah. Nasabah yang tidak menarik kembali dananya adalah nasabah yang percaya pada janji pemerintah.

Kejaksaan sudah melakukan pemeriksaan terhadap semua pihak yang terlihat pembobolan dana nasabah Jiwasraya dan
proses pengadilan Tipikor sudah berjalan. Lima orang yang terlibat sudah divonis penjara seumur hidup. Mereka adalah mantan Dirut Jiwasraya Hendrisman Rahim, mantan Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo, mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya Syahmirwan, Komut PT Trade Alam Minera Tbk Heru Hidayat, dan Dirut PT Hanson International Tbk Benny Tjokro.

Selain Bumiputera dan Jiwasraya kini ada kasus Asuransi Jiwa Wanaartha. Umumnya, asuransi jiwa bermasalah karena salah kelola, tidak mengindahkan regulasi di bidang asuransi dan pasar modal, serta abai dalam menerapkan governance atau tata kelola.

Saving Plan
Masalah asuransi jiwa kian meningkat saat perusahaan asuransi dibolehkan menjual unit link, yakni produk asuransi yang memberikan proteksi sekaligus menawarkan kenaikan nilai investasi. Produk unit link cukup merebut hati nasabah dan mendongkrak nilai premi.

Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menunjukkan, kontribusi unit link mencapai Rp 27,2 triliun atau 61,2% terhadap total premi asuransi jiwa pada semester pertama 2020. Produk tradisional --yang hanya mengandalkan penyimpanan dana premi di deposito-- kian menurun.

Setelah unit link gencar dipasarkan awal tahun 2000-an, pada awal dekade terakhir, lahir produk baru yang disebut saving plan. Asuransi Jiwasraya pada 8 Desember 2012 mendapatkan izin untuk memasarkan JS Protection Plan, sejenis saving plan.

Produk saving plan menyedot minat nasabah kakap. Tidak sedikit nasabah bank, deposan besar yang mengalihkan dananya dari bank ke saving plan. Karena saving plan memberikan janji return di atas bunga deposito, bahkan tingkat return itu pun dijanjikan "fixed" .

Ketika harga saham dan obligasi turun, nilai saving plan pun ikut turun. Jika sampai di sini saja, tak ada regulasi yang dilanggar. Yang menjadi masalah adalah rekayasa kenaikan harga saham. Inilah yang terbukti dilakukan manajer investasi Jiwasraya.

Ada kongkalikong direksi dan kepala bidang investasi Jiwasraya dengan manajer investasi dan emiten. Penempatan dana di instrumen investasi tidak sesuai regulasi. Pihak yang menempatkan dana mendapatkan imbalan sebagai kick back atas kebijakan yang diambil. Para pemimpin perusahaan asuransi dan pengelola dana tidak mengutamakan kepentingan nasabah, melainkan kepentingan pribadi.

Momentum
Pandemi Covid-19 perlu dijadikan momentum oleh perusahaan asuransi untuk melakukan sosialisasi dan edukasi. Semua janji perlu direalisasikan. Tidak boleh ada kesan asuransi hanya memberikan harapan semu.

Lebih dari itu, saat masyarakat kehilangan pekerjaan, pendapatan dan daya beli menurun, perusahaan asuransi perlu menunjukkan empati. Ketika pemegang polis positif Covid dan membutuhkan perawatan dan pengobatan, perusahaan asuransi perlu memberikan bantuan.

Bantuan yang diberikan perusahaan asuransi jiwa tidak terbatas pada perjanjian dalam polis. Di saat virus mematikan itu menular dengan cepat, perusahaan asuransi perlu ikut memberikan solusi bagi pemegang polis. Ada bantuan perawatan dan pengobatan yang diberikan.

Empati seperti ini merupakan bentuk promosi terbaik yang bisa merebut simpati publik. Bukan hanya pemegang polis, masyarakat pun akan menyadari pentingnya asuransi bagi masa depan mereka.

Masyarakat perlu diberikan informasi komprehensif. Kasus Jiwasraya dan sejumlah kasus asuransi jiwa tidak mencerminkan kondisi keseluruhan perusahaan asuransi di Indonesia. Umumnya, perusahaan asuransi menjalankan tata kelola dengan baik.

Sejumlah kasus korupsi dan lemahnya tata kelola di sejumlah perusahaan asuransi merupakan nila setitik yang bisa merusak citra industri asuransi. Stigma buruknya tata kelola perusahaan asuransi harus direspons dengan serius.

Data AAJI menunjukkan, hingga Agustus 2020, asuransi jiwa Indonesia telah membayar klaim Covid-19 sebesar Rp 216 miliar bagi 1.642 polis. Total klaim asuransi jiwa sebesar Rp 35,5 triliun tahun ini akan dibayar meski ada penundaan karena pandemi.

Pandemi mendorong perusahaan asuransi untuk lebih kreatif memanfaatkan kemajuan digital. Penjualan polis asuransi sudah bisa dilakukan secara online, bahkan tanda tangan nasabah pemegang polis pun sudah diperbolehkan otoritas untuk dilakukan secara elektronik.

Dengan kemajuan digital, penjualan produk asuransi akan lebih cepat dan masif. Namun, sukses penjualan produk asuransi ditentukan oleh penguatan ekosistem, yakni pemahaman dan kesadaran masyarakat akan manfaat asuransi.

Seperti payung yang dijadikan simbolnya, asuransi penting untuk memberikan perlindungan kepada nasabah dari risiko sakit,

celaka, kematian, dan risiko lainnya. Dalam asuransi, nasabah mengalihkan risikonya kepada perusahaan asuransi. Saat sakit, celaka, dan meninggal, perusahaan asuransi hadir memberikan pertanggungan atau membayar klaim seperti yang diperjanjikan.

Seperti payung, terlambat bila kita mencari payung saat hujan sudah dicurahkan dari langit. Kita sudah telanjur basah kuyup. Oleh karena itu, leluhur kita memberikan kata bijak, "Siapkan payung sebelum hujan."

Untuk memberikan pemahaman dan membangkitkan kesadaran, diperlukan literasi dan edukasi yang kontinu dan sistematis, penyelesaian semua kasus dengan baik, dan menunjukkan empati kepada para nasabah di saat pandemi. Dalam pada itu, pembenahan tata kelola harus dijadikan prioritas oleh perusahaan asuransi.

Selamat Hari Asuransi ke-15.

*) Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holding

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN