Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Leslie Choo, Managing Director- Asia & Japan/Korea, ACI Worldwide

Leslie Choo, Managing Director- Asia & Japan/Korea, ACI Worldwide

Menghidupkan Kembali Ekonomi Pembayaran di Asia Tenggara

Sabtu, 26 September 2020 | 16:07 WIB
Leslie Choo *)

Dalam industri keuangan dan perbankan dunia, Asia Tenggara telah menempatkan diri sebagai wilayah utama dalam hal inovasi dan peluang pertumbuhan untuk pembayaran secara real-time. Hal itu didasarkan fakta bahwa ekonomi internet Asia Tenggara akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2025, mencapai US$ 300 miliar, sehingga menjadikannya salah satu perekonomian digital dengan pertumbuhan tercepat di dunia

Sebagai entitas tunggal, Asia Tenggara juga merepresentasikan salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia. Namun tentu saja pertumbuhan ini tidak memiliki integrasi signifikan terhadap negara-negara dalam blok ekonomi yang bisa memberi keuntungan lebih besar, seperti India atau Tiongkok.

Sama halnya dengan wilayah Asia Tenggara yang tidak mendapatkan keuntungan dari mata uang tunggal seperti Eurozone yang dilindungi badan pembuat undang-undang.

Situasi demikian dapat diartikan bahwa integrasi layanan keuangan yang lebih mendalam, yang dilihat sebagai katalis penting untuk pertumbuhan dan perdagangan di wilayah tersebut, cenderung didorong oleh kekuatan pasar.

Penelitian terbaru ACI Worldwide serta firma riset pasar dan konsultasi Kapronasia, berjudul Envisioning a pan-regional, real-time payments ecosystem in Southeast Asia menunjukkan bahwa fondasi untuk jaringan pembayaran real-time lintas batas yang efektif sudah dibangun melalui upaya setiap negara untuk memodernisasi pembayaran dan jaringan real-time domestik yang kuat.

Saat kelak Asia Tenggara pulih dari efek yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19, riset tersebut mengungkap bahwa pembayaran real-time merupakan key enabler dengan ISO 20022 dan QR Code sebagai komponen penting.

Gambaran Pembayaran Pascapandemi

Di tengah peraturan yang tidak seragam serta prioritas ekonomi yang berbeda di setiap wilayah, jelas terlihat perusahaan dan konsumen perlu mendorong Asia Tenggara untuk merealisasikan jaringan antarnegara secara real-time.

Pembayaran yang terstandardisasi, instan dan lancar akan membantu aktivitas ekonomi antarwilayah dengan biaya lebih rendah, serta mendorong pertumbuhan di masa depan. Pandemi Covid-19 menempatkan pembayaran sebagai fokus yang lebih tajam; kita sudah melihat perubahan perilaku yang dramatis terhadap pembayaran digital, terutama dengan berkembangnya antusiasme untuk pembayaran tanpa sentuhan (touchless) yang mendukung upaya pembatasan sosial.

Tren pembayaran digital juga didukung oleh kesadaran pembatasan sosial dan keharusan untuk bekerja dari rumah di seluruh wilayah. Pembayaran secara realtime berperan penting dalam ekosistem keuangan digital yang tengah berkembang, terutama saat kita melihat teknologi tanpa sentuhan seperti QR Code, dimanfaatkan infrastruktur pusat secara realtime.

Kemudahan dan aksesibilitas pembayaran dengan QR Code akan menjadi sangat penting bagi individual dan UKM di Asia Tenggara yang ingin mencari kelayakan ekonomi. QR Code akan menyediakan akses penting untuk mendorong penggunaan dan keikutser taan dalam skema real-time.

Ada hal menarik yang harus dipelajari dari Tiongkok, yakni saat pembukaan lockdown, mereka sangat tergantung pada produkproduk keuangan digital dan layanan yang bisa ‘dilapisi’ pembayaran real-time seperti penilaian kredit, peminjaman, dan pengelolaan kekayaan.

Pentingnya Layanan Overlay Digital

Saat ini, kita menyaksikan para pemain di industri pembayaran meningkatkan perhatian terhadap layanan overlay tambahan yang disematkan dalam aplikasi handphone, portal web, media sosial dan channel lainnya agar dapat memenuhi permintaan pelanggan serta mengikuti perubahan dalam kebutuhan mereka.

Layanan baru ini memungkinkan bank, perantara (intermediaries) dan pedagang menambah beberapa fungsi untuk mendukung ekosistem pembayaran digital yang memiliki volume besar dan banyak data. Beberapa penggunaan bisa dilakukan melalui layanan overlay digital.

Temasuk penyediaan solusi end-to-end tanpa hambatan untuk pembayaran dengan QR Code yang dilakukan tanpa sentuhan dan aman, meluas ke pembayaran yang diinisiasi pedagang menggunakan QR Code yang dinamis. Layanan pembayaran person-to-person yang fleksibel juga dimungkinkan dengan proxy/alias (seperti nomor telepon atau surel) untuk meningkatkan keamanan. Salah satu layanan overlay digital real-time yang sedang berkembang di dunia adalah fungsi Request to Pay.

Mencermati Perkembangan di Negara-Negara Utama

Asia Tenggara adalah wilayah yang sangat beragam dalam aspek budaya, ekonomi, politik dan bahasa. Namun di balik tantangan tersebut, kami melihat beberapa Negara mulai muncul sebagai ”perintis” dalam pemanfaatan layanan overlay digital.

PayNow di Singapura, PromptPay di Thailand, dan Duit- Now di Malaysia. Negara-negara tersebut mengambil langkah besar dalam modernisasi pembayaran. Peningkatan penggunaan standar ISO 20022 di Asia Tenggara juga memungkinkan komunikasi antarjaringan domestik tersebut. Jadi, ini akan menjadi potongan kunci dalam puzzle.

Real-time Retail Payment Platform (RPP) Malaysia adalah hasil upaya ber tahun-tahun untuk memodernisasi infrastruktur pembayaran negara tersebut, menciptakan ekosistem terintegrasi untuk mendorong penggunaan digital.

DuitNow, layanan transfer kredit instan yang memungkinkan pengguna mentransfer uang menggunakan nomer handphone atau identifikasi yang mudah diingat, adalah layanan pembayaran RPP pertama yang diluncurkan di platform tersebut pada tahun 2019.

Pengadopsian ISO 20022 dari awal sangat penting dalam mendorong inovasi dan volume transaksi di RPP, termasuk Credit Transfer, pembayaran kode QR DuitNow serta layanan overlay digital lainnya. RPP yang dioperasikan PayNet juga mendapatkan keuntungan dari konektivitas standar antara partisipan dan central hub, membantu integrasi dan orientasi yang mulus, serta kepatuhan berkelanjutan.

Menurut laporan lain dari ACI Worldwide, Prime Time for Real Time, Thailand juga mengalami pertumbuhan volume transaksi pembayaran real-time yang fenomenal, dengan perkiraan pertumbuhan dari 2,6 miliar tahun 2019 menjadi 12,5 miliar pada tahun 2024.

Pertumbuhan ini didukung inisiatif inklusif keuangan Bank of Thailand dengan diluncurkannya PromptPay tahun 2016 oleh National ITMX sebagai bagian dari inisiatif National e-Payment. Layanan ini bisa digunakan di berbagai channel termasuk ATM, konter bank, mobile banking, internet banking dan aplikasi pembayaran lainnya.

Beberapa MoU (memorandum of understanding) bilateral antara infrastruktur pusat domestik sudah ditandatangani di Asia Tenggara, turut mendorong kolaborasi yang lebih besar, dan sekarang kita mulai melihat langkah konkret menuju interoperabilitas. PayNet Malaysia dan NETS Singapura secara resmi meluncurkan pembayaran kartu debit real-time dan lintas perbatasan di akhir 2019.

Sekarang mereka tengah mengembangkan transfer kredit lintas perbatasan instan dan pembayaran dengan QR Code. PromptPay Thailand juga ingin mengembangkan pembayaran dengan QR Code interoperasional dengan Kamboja.

Pembayaran retail akan memimpin pembayaran komersil atau grosir. Namun saya menduga konsolidasi lebih lanjut akan menghasilkan pembayaran bernilai tinggi dan rendah, memanfaatkan penggunaan sistem real-time yang sama.

Bagaimana dengan Indonesia? Meski masih dalam tahap awal dibandingkan dengan industri keuangan di kawasan, Bank Indonesia pada tahun 2019 telah menginisiasi cetak biru Sistem Pembayaran Indonesia (SPI) yang mengusulkan platform pembayaran nasional real-time dan lancar serta berfungsi sebagai tulang punggung skema direct-to-account, yang memungkinkan kliring dan penyelesaian transaksi real-time nasional dengan keamanan dan efisiensi lebih tinggi.

Pengembangan sistem pembayaran real-time, optimalisasi Gerbang Pembayaran Nasional (GPN), dan pengembangan unified payment interface akan mendukung tercapainya tujuan ini.

Bank Indonesia melaksanakan cetak biru tersebut bekerja sama dengan kementerian, lembaga, dan pelaku industri terkait. Pada Mei 2019, Bank Indonesia meluncurkan QR-Code Indonesia Standard (QRIS) sebagai bagian dari inisiatif ini, di mana Gubernur BI Perry Warjiyo menyoroti peran QRIS dalam percepatan transformasi digital dan ekonomi negara.

Perjalanan transformasi digital Indonesia, terutama peluncuran skema pembayaran real-time domestic di BI-FAST, sangat terbantu oleh fakta bahwa switch pembayaran nasional (National Payment Switch) dan bank sudah terintegrasi dalam sub-ekosistem. Implementasi lokal IS0 20022 akan memanfaatkan sub-ekosistem di sekitar switch nasional untuk mempercepat pengembangan jaringan pembayaran real-time secara nasional.

Pengembangan Jaringan Pembayaran Pan-Regional

Konsumen di seluruh Asia dengan cepat mengadopsi pembayaran real-time karena kemudahan dan fungsi yang ditawarkan, serta disediakan melalui beberapa layanan overlay. Tanpa sistem pembayaran lawas yang bisa menghalangi inovasi di pasar yang sudah matang, negara-negara di Asia Tenggara berada dalam posisi ideal untuk memanfaatkan infrastruktur pembayaran pusat domestik yang kuat sebagai dasar untuk hubungan lintas perbatasan yang didorong kekuatan pasar yang ada.

Modernisasi sistem pembayaran yang sedang berlangsung, termasuk penerapan ISO 20022, akan mendorong hubungan lintas batas bilateral lebih lanjut –dan pada akhirnya akan menyatu menjadi jaringan pembayaran yang lebih besar.

Tentu saja pemain dalam industri pembayaran harus melihat perkembangan di luar Asia Tenggara untuk memprediksi peluang lintas perbatasan. Jepang, sebagai contoh, memiliki salah satu sistem pembayaran real-time yang sudah lama di dunia, yaitu sistem Zengin yang diluncurkan pada tahun 1973 untuk transfer antarbank domestik.

Walaupun sistem ini sudah di-upgrade berkali-kali selama ber tahun-tahun dan sekarang berada pada generasi ketujuh, para pedagang dan teknologi keuangan/ fintech tidak bisa terhubung langsung ke Zengin. Tentu akan sangat menarik melihat bagaimana Jepang memperbarui infrastruktur pusatnya menjadi lebih fleksibel, termasuk penggunaan identifikasi mobile dan kode QR serta pengimplementasian ISO 20022.

PayNet Malaysia, dengan dukungan untuk berinovasi serta apa yang sudah dicapai, juga memiliki posisi yang baik untuk memainkan peran penting dalam pengembangan jaringan regional. Jika ingin mengembangkan interoperabilitas yang sudah ada dengan Singapura dan menyertakan Thailand untuk menciptakan jaringan tripartit secara real-time, mereka bisa segera menjadi contoh bagi negara lain di wilayah ini, termasuk Indonesia yang memiliki perekonomian terbesar di Asia Tenggara.

Kendati negara-negara ini memiliki industri layanan keuangan paling berkembang, transformasi digital yang cepat dan inovasi pembayaran di negara dengan perekonomian lebih kecil seperti Vietnam dan Filipina bisa membayangkan ekosistem pan regional secara real-time.

*) Managing Director- Asia & Japan/Korea, ACI Worldwide

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN