Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, pengamat Tata Kota. Sumber: BSTV

Nirwono Joga, pengamat Tata Kota. Sumber: BSTV

Menghijaukan Bumi, Membumikan Penghijauan

Kamis, 22 April 2021 | 23:49 WIB
Nirwono Joga *)

Setiap 22 April, masyarakat memperingati Hari Bumi, dengan tema Restore Our Earth. Tujuannya, mengingatkan kembali akan penting nya menata ulang kehidupan bumi, di tengah dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Semua pihak harus bekerja sama melakukan aksi penyelamatan bumi. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Pertama, gerakan menanam dan memelihara pohon seba nyakbanyak untuk menghijaukan kembali bumi kita. Pohon telah lama memberikan jasa lingkungan bagikeberlanjutan kehidupan kita dan kota. Berbagai puncak kegiatan peringatan, perayaan, hingga pe resmian sesuatu seringkali ditandai dengan menanam pohon.

Pohon telah menjadi ikon penyelamat bumi terhadap perubahan iklim. Pohon terbukti berperan penting mengurangi polusi udara, menyerap karbondioksida dan gas polutan, memproduksi oksigen, menahan radiasi sinar matahari, mengendalikan iklim mikro, serta menyimpan air tanah.

Pohon dapat ditanam menyebar di taman kota, hutan kota, kebun raya, taman pemakaman, lapangan olahraga, tepian situ/danau/ em bung waduk, hutan pantai/ mangrove, hingga jalur hijau bantaran sungai/median jalan/bantaran rel kereta api/bawah saluran tegangan tinggi.

Kedua, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, baku mutu udara ambien nasional meliputi parameter, baku mutu, dan waktu pengukuran (jam) sebagai berikut: SO2 (365 _g/Nm3, 24 jam), CO (10.000 _g/Nm3, 24), NO2 (150 _g/Nm3, 24), Oksidan (235 _g/Nm3, 1), Hidrokarbon (160 _g/Nm3, 3), PM10 (150 _g/ Nm3, 24) dan PM22 (65 _g/Nm3, 24), Pb (2 _g/Nm3, 24), debu jatuh (10 ton/km2/bulan, 30 hari).

Ada empat strategi yang bisa diterapkan untuk mengurangi polusi udara. Yakni, pendekatan tek nologis, dengan mengura ngi sumber polutan dari mesin (ken daraan emisi rendah), bahan ba kar emisi rendah, serta mengen dalikan difusi polutan. Lalu, pen dekatan kelembagaan dan hukum/regulasi yang mengatur tentang pengendalian polutan; tata ruang; hingga lembaga yang mengatur, mengawasi, dan mengendalikan masalah lingkungan.

Pendekatan ekonomi memberikan insentif dan penalti; pajak input, output proses produksi; ong kos emisi; izin perdagangan. Kemudian, pendekatan ekologi de ngan memaksimalkan peran pohon dalam mengurangi polutan. Berdasarkan ciri-ciri fisik, pohon secara individu atau berkelompok dalam ruang terbuka hijau dipilih untuk fungsi/penggunaan tertentu, seperti ameliorasi iklim untuk menciptakan kenyamanan, merekayasa lingkungan, arsitektural, dan keindahan.

Ketiga, jenis bahan pencemar udara ada dua, yakni polutan pri mer (NO, NO2, NOx; SO2, SO3, SOx; CO, CO2; hidrokarbon; partikel, logam berat; panas, bising), polutan sekunder (Ozon/O3), PAN (peroxyacetic nitrat), hu jan asam). Mekanisme pohon mereduksi polutan ada empat.

Penyerapan (adsorbsi) polutan partikel oleh permukaan daun, batang, ranting yang menyerap partikel debu dan logam yang terkandung di dalamnya. Deposisi partikel besar oleh daun dan bagian tanaman lain. Penyerapan (absorbsi) polutan gas melalui stomata masuk ke dalam jaringan daun.

Pemencaran (difusi) polutan ke atmosfir yang lebih luas. Tajuk pohon yang tinggi membelokkan hembusan angin ke atmosfir yang lebih luas sehingga konsentrasi menurun.

Keempat, metode pengukuran jumlah polutan yang direduksi pohon ada dua. Pemaparan pohon de ngan polutan partikel dalam te rowongan angin, kemudian dilakukan ekstraksi partikel dari permukaan tanaman. Contoh daun di sekitar sumber polutan kemudian ekstraksi debu/logam dari permukaan tanaman.

Metode kedua, pemaparan pohon dengan gas polutan dalam bilik gas yang kemudian dianalisis jumlah unsur polutan yang terdapat dalam jaringan. Contoh pohon pada suatu blok vegetasi di sekitar sumber polutan kemudian dianalisis jumlah unsur polutan yang terdapat dalam jaringan.

Kelima, kriteria pohon yang efektif menyerap partikel adalah permukaan daun kasar berbulu halus (memiliki trikoma), tulang daun timbul, bersisik, berdaun jarum, dan bergetah. Faktor lingkungan yang berpengaruh meningkatkan penyerapan polutan gas NO2 yakni konsentrasi polutan, suhu, cahaya (gelap, terang).

Faktor morfologi/fisiologi daun yang berpengaruh meningkatkan penyerapan polutan yaitu ketebalan daun (makin tipis, serapan meningkat); berat jenis daun (makin tinggi, serapan menurun); klorofil tidak berpengaruh; laju fotosintesa, laju transpirasi, konduktas stomata (makin tinggi, serapan meningkat); kerapatan stomata (ti dak nyata meningkatkan serapan); potensial air daun (tidak nyata mempengaruhi serapan).

Keenam, pemindahan dan penggantian pohon harus setara dan memiliki kapasitas yang lebih baik, serta dapat mengembalikan dan memperbaiki fungsi ekologis, kualitas fisik dan visual lingkungan.

Pohon berkapasitas tinggi menyerap polutan gas NO2 (> 30 ug/gram) antara lain trembesi (Samanea saman), dadap kuning (Ertytrina variegata), kenanga (Ca nangium odoratum), melinjo (Gnetum gnemon), kaliandra (Calliandra surinamensis), flamboyant (Delonix regia), kembang merak (Caesalpinia pulcerhima), asam jawa (Tamarindus indica), asam kranji (Diallium indum), galinggem (Bixa orellana), bunga lampion (Brownea capitella), cempaka (Michelia campaka).

*) Kepala Pusat StudiPerkotaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN