Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Guru Besar Universitas Indonesia Budi Frensidy.

Guru Besar Universitas Indonesia Budi Frensidy.

Menghindari Risiko Cryptocurrency bagi Ekonomi Indonesia

Selasa, 11 Mei 2021 | 15:39 WIB
Budi Frensidy *)

This is your money and your own risk as well. Mengingat Anda yang akan menerima dan menikmati keuntungan, Anda pun harus siap untuk menanggung risiko itu sendiri.

Tidak ada lembaga penjamin simpanan, seperti ketika Anda menempatkan dana dalam bentuk deposito atau tabungan di bank. Ini harus terus diingatkan kepada investor cryptocurrency.

Jika dilihat dari potensi return yang diberikan, investasi cryptocurrency memang menggiurkan. Tidak heran jumlah investor dan volume tran saksi aset kripto terus meningkat di dunia, termasuk di Indonesia. Data Indodax menunjukkan selama tiga bulan pertama tahun 2021, nilai bitcoin yang menjadi pionir cryptocurrency naik masing-masing 14,54%, 36,69%, dan 29,79%.

Jenis mata uang kripto dogecoin naik lebih ting gi lagi, yaitu 687,68%, 30,83%, dan 11,71%. Angka ini melebihi kenaikan harga saham yang cende rung terbatas dalam satu tahun terakhir. Namun, bagai dua sisi mata uang logam, masyarakat juga perlu tahu risikonya dan mengenal lebih dalam apa itu mata uang kripto.

Jangan sampai para investor kita, terutama yang awam dan bermodal cekak, menyesal di kemudian hari dan me rasa tertipu karena ketidaktahuan atau ambisi untuk mendapatkan untung besar.

Seperti diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satgas Waspada Investasi (SWI) terlihat sangat aktif melakukan edukasi dan merespons pertanyaan masyarakat tentang cryptocurrency.

Wajar saja, karena ini tergolong investasi paling spekulatif di dunia, bahkan jika dibandingkan dengan bermain judi di kasino. Di kasino uang dan kemenangan yang diimpikan itu ada di depan para penjudi, sementara di cryptocurrency, semuanya dilakukan di dunia maya.

Ada dua sisi risiko yang perlu diingatkan. Pertama, dari apakah transaksi dilakukan di lembaga resmi dan terdaftar?

Kedua, apakah sudah siap menghadapi kerugian akibat tingginya volatilitas harga dan tidak adanya jaminan aset? Dari sisi legalitas lembaganya, hingga April 2021, OJK telah menemukan 86 platform fintech peer to peer lending ilegal dan 26 kegiatan usaha tanpa izin yang berpotensi merugikan masyarakat.

Dari jumlah itu, sebanyak tiga perusahaan berkegiatan di bidang investasi cryptocurrency tanpa izin.

Selain menertibkan lembaga yang diketahui beroperasi ilegal, OJK dengan tegas juga melarang lembaga jasa keuangan menggunakan dan memasarkan produk yang tidak memiliki legalitas izin dari otoritas terkait, termasuk produk berupa cryptocurrency.

Langkah cepat regulator memang sangat dibutuhkan, sehingga ma syarakat yang belum paham terhadap risiko investasi dapat lebih waspada dalam menempatkan dananya. Apalagi, bagi investor pemula yang literasi investasi masih relatif rendah dan jumlah dananya terbatas.

Saat ini, di dalam negeri, transaksi cryptocurrency sudah dapat dilakukan di Bursa Berjangka Jakarta, di bawah Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), tetapi sebagai komoditas perdagangan, bukan alat pembayaran. Dasar hukumnya, Permendag Nomor99/2018 tentang Kebijakan Umum Pe nyelenggaraan Perdagangan Berjangka Aset Kripto.

Transaksi juga diatur dalam Per aturan Bappebti Nomor 3/2021 tentang Ketentuan Teknis Pe nyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Jadi, silakan saja ber transaksi mata uang kripto di BBJ melalui 13 lembaga resmi yang sudah mengantongi izin Bappebti.

Nah, itu dari legalitas lemba ganya. Kemudian, yang tidak kalah pen tingnya adalah risiko dari investasi itu sendiri. Saat ini, mata uang kripto belum diakui oleh lem baga resmi dunia, seperti bank sen tral di semua negara, karena dinilai tidak memiliki fundamental. Nilainya bisa naik tanpa batas, tetapi di satu sisi bisa turun tajam.

Semua nilai investasi Anda bahkan bisa saja lenyap. Ini terjadi karena harga sepenuhnya diserahkan kepada supply dan demand antara penjual dan pembeli. Tidak ada underlying asset yang dapat menjadi jaminan. Beppebti, BBJ, dan OJK bukan tempat untuk meminta penggantian kerugian. Masyarakat perlu paham bahwa setiap kerugian menjadi sepenuhnya risiko investor.

Klasifikasi Investor

Secara umum, masyarakat yang memiliki literasi keuangan rendah belum siap dengan investasi cryptocurrency. Investor institusi juga tidak bijak jika mengalokasikan dananya untuk berspekulasi dalam cryptocurrency. Namun, produk ini memang ada target pasarnya, yaitu investor ritel berpengalaman yang sudah terbiasa berspekulasi di perdagangan valuta asing (forex) dan kontrak derivatif.

Artinya memang ada sekelompok in vestor di Indonesia yang memiliki ba nyak dana dan menyukai transaksi spekulatif, sehingga Pemerintah merasa perlu menyediakan wadah berinvestasi bagi mereka. Kepada merekalah cryptocurrency disediakan sebagai mainan baru atau transaksi alternatif selain pasar komoditas dan forex. Kalau tidak diberikan tempat, dana mereka mungkin akan dibawa ke luar negeri melalui perdagangan cryptocurrency di pasar internasional, bahkan bisa dialihkan ke kasino di sejumlah negara yang risikonya juga tidak kalah besarnya.

Selain itu, Pemerintah juga perlu mencegah masyarakat melakukan transaksi di pasar kripto ilegal. Cara yang cukup efektif adalah langkah OJK yang rutin memperbarui daftar perusahaan investasi resmi, perusahaan yang ditutup hingga status perusahaan yang transaksinya bermasalah. Namun, edukasi kepada masya rakat perlu terus dilakukan agar tidak mudah terpengaruh propaganda dari keuntungan investasi cryptocurrency.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melindungi investor yang ikut-ikutan, misal nya menentukan minimum dana investor untuk dapat membuka re kening perdagangan, membatasi maksimal persentase dana investor yang bisa diinvestasikan dalam cryptocurrency, tingkat literasi investasi investor, hingga sumber dana investasi.

Perlu dipastikan dana yang diinvestasikan bukan dana pinjaman per bankan, dana perusahaan, dana lembaga pensiun atau sumber dana lain yang terkait dengan publik. Jika sumber dananya tidak dibatasi, maka jika gagal bisa memunculkan efek domino terhadap pihak lain, se perti meningkatkan rasio kredit ma cet bank atau terpaksa mem-PHK karyawan. Jika terjadi, kondisi ini bisa berisiko terhadap perekonomian, sehingga pada akhirnya Pemerintah dituntut untuk turun tangan karena ada kepentingan orang banyak yang ikut terseret.

Jadi harus ada klasifikasi investor, seperti halnya di pasar saham. Di pasar modal, jika ingin meningkatkan potensi return saham sekaligus menaikkan risikonya, investor dapat melakukannya dengan menggunakan fasilitas margin. Margin itu diberikan oleh perusahaan sekuritas untuk investor yang memenuhi kriteria tertentu, biasanya jika porto folio sudah mencapai ratusan juta atau miliaran rupiah.

Jadi, cara menghindari risiko investasi di cryptocurrency, antara lain berinvestasilah di lembaga resmi, jangan gunakan sumber dana pinjaman, dan jangan tempatkan semua dana yang dimiliki di satu keranjang investasi.

*) Guru Besar Universitas Indonesia

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN