Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ahmad Mikail Zaini, Ekonom Samuel Sekuritas.

Ahmad Mikail Zaini, Ekonom Samuel Sekuritas.

Mengukur Dampak Pemilu AS terhadap Ekonomi Indonesia

Jumat, 16 Oktober 2020 | 13:39 WIB
Ahmad Mikail Zaini *)

Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia tentu setiap kebijakan atau langkah politik apapun yang akan diambil AS akan sangat berpengaruh bagi ekonomi negara berkembang, khususnya Indonesia.

Selama empat tahun terakhir era kepemimpinan Donald Trump sebagai Presiden AS, perang dagang antara AS-Tiongkok merupakan tema yang mungkin hampir setiap hari menghiasi kolom ekonomi di berbagai surat kabar. Kebijak an luar negeri AS sepertinya selama empat tahun terakhir lebih fokus pada bagaimana menekan Tiongkok secara ekonomi dan politik untuk tunduk terhadap arahan Washington.

Dari dalam negeri, ekonomi AS sejatinya tidak terlalu buruk di era Trump, jika mengeluarkan faktor Covid-19. Sejak menjabat secara resmi sebagai Presiden AS, ekonomi Paman Sam tumbuh rata-rat 2,5% di rentang tahun 2017- 2019. Pemotongan pajak korporasi serta dere gulasi di berbagai sektor ekonomi, khususnya migas, sangat signfikan mendorong pertumbuhan ekonomi di tiga tahun pemerintahan Trump.

Bahkan hasil kajian salah satu lembaga peringkat surat utang terbesar di dunia Moody’s Analytic di tahun 2019 menunjukkan bahwa Trump akan cukup mudah kembali memenangi pemilu di tahun 2020 melawan kandidat Partai Demokrat Bernie Sanders atau Joe Biden. Namun, keburuntungan sepertinya tidak berpihak pada Trump. Pandemi Covid-19 pada tahun 2020 sepertinya begitu mempersulit langkah Trump untuk kembali terpilih sebagai Presiden AS.

Jika melihat hasil jakak pendapat pemilu di AS yang dihimpun Financial Times, terlihat Trump tertinggal dari Biden sebagai saingannya. Apalagi ditambah Trump yang sempat positif terinveksi Covid-19 membuat kemungkinan dirinya untuk terpilih lagi cukup sulit, mengingat selama kampanye Trump dianggap gagal dalam menanggulangi Covid-19 di AS.

Posisi Biden kini kemungkinan ada di atas angin untuk memenangi pemilu di AS. Berbeda 180 derajat dengan Trump, Biden di dalam kampanyenya cukup berseberangan dengan Trump dalam hal kebijakan ekonomi, perdagangan internasional, politik luar negeri, serta kebijakan di pasar tenaga kerja.

Di dalam hal ekonomi, Biden akan cenderung menaikkan berbagai macam pajak, seperti pajak korporasi, pajak pendapatan, serta pajak capital gain di saat Trump berjanji akan kembali memangkas pajak pendapatan di AS setelah pemotongan pajak korporasi di periode pertamanya.  

Dari sisi belanja negara, sebagai konsekuensi dari dinaikkannya rate pajak oleh Biden, dia berjanji untuk memberikan stimulus fiskal yang lebih besar, yakni sekitar US$ 2,5 triliun akumulatif 2021- 2024 untuk membantu kembali memulihkan ekonomi AS.

Di saat yang sama stimulus fiskal Trump hanya akan terbatas sekitar US$ 334 miliar akumulatif 2021-2024 sebagai konsekuensi berlanjutnya pemotongan pajak.

Dari sisi kebijakan perdagangan internasional Biden akan menyelesaikan permasalahan perdagang an dengan Tiongkok me lalui lobi di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), tidak seperti Trump yang memilih jalur diplomasi bilateral dengan Tiongkok.

Kemudian, di sisi pasar tenaga kerja, Biden cenderung lebih pro terhadap tenaga kerja migran, de ngan menyederhanakan syarat masuk ke AS, dibandingkan Trump yang kemungkinan akan mempersulit masuknya tenaga kerja migran.

Dari berbagai faktor tersebut, Moody’s Analytic di tahun 2020 mem proyeksikan bahwa ekonomi AS akan tumbuh lebih tinggi jika Biden terpilih sebagai Presiden AS sebesar 4,2% di periode 2020-2024 dibandingkan Trump sebesar 3%. Hal itu karena stimulus fiskal yang lebih besar, perang dagang yang kemungkinan melemah, serta pasar tenaga kerja di AS yang akan jauh lebih dinamis.

Dengan melihat kemungkinan terpilihnya Biden sebagai Presiden AS tahun 2020, ekonomi AS diperkirakan akan cepat pulih dari resesi akibat Covid-19, se iring kebijakan Biden yang akan lebih tepat dalam menanggulangi Covid-19.

Dengan ekonomi AS yang setara hampir 30% dari produk domestic bruto (PDB) dunia, perbaikan ekonomi negara tersebut kemungkinan juga akan membantu perbaikan negara maju lainya, seperti negara-negara Eropa dan Tiongkok.Perbaikan ekonomi AS dan dunia pada tahun 2021 kemungkinan akan berdampak terhadap ekonomi Indonesia dari sisi ekspor dan investasi.

Membaiknya ekonomi AS kemungkinan akan mendorong kenaikan harga komoditas ekspor Indonesia, seperti batu bara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) serta menaikkan volume ekspor Indonesia ke AS. Selain itu, stimulus fiskal yang lebih besar dari Biden kemungkinan dapat mendorong arus modal masuk ke Indonesia, baik ke pasar saham maupun obligasi serta investasi asing langsung.

Jika ekonomi AS dapat tumbuh sekitar 4% pada tahun 2021, ekonomi Indonesia kemungkinan dapat tumbuh 3-4% tahun depan dengan syarat kasus harian Covid-19 sudah turun dengan atau tanpa ketersediaan vaksin.

Namun, ada satu faktor yang harus diwaspadai Indonesia ketika Biden terpilih, yaitu kebijakan politik internasional AS. Selama empat tahun masa kepemimpinan Trump AS cenderung menyudutkan Tiongkok, baik dari sisi ekonomi dan politik, maka tekanan AS kali ini di bawah Biden kemungkinan akan bergeser ke Eropa Timur, yaitu Rusia.

Sejak masa kampanye, ketidaksukaan Biden terhadap Rusia sudah terlihat. Bahkan hingga debat pertama presiden, Biden menyudutkan Trump sebagai antek Vladimir Putin, pemimpin Rusia.

Memang, sejak 2014 hubungan Rusia-AS jatuh ke titik terendah setelah pecahnya perang Ukraina yang berakhir dengan referendum Crimea yang kembali sebagai wilayah Rusia. Sejak saat itu Rusia dan AS berseberangan di banyak front, baik itu di Syria, Libya, Belarusia, dan yang terakhir pada konflik Azerbaijan dan Armenia.

Biden melihat Rusia sebagai an caman sesungguhnya bagi ke pentingan AS dibandingkan Tiongkok, dengan menyebutnya sebagai ancaman bagi tatanan dunia, terutama demokrasi liberal karena ikut campur dalam pemilu AS tahun 2016. Hal tersebut gamblang dia ungkapkan pada acara World Economic Forum di Davos tahun 2017.

Jika Biden terpilih, negara-negara di dunia harus bersiap dengan kemungkinan terburuk pecahnya perang proxy antara AS-Rusia di banyak front tadi. Kemungkinan besar harga minyak dapat naik dan mendorong kenaikan komoditas lain, seperti pangan.

Kenaikan harga minyak dan komoditas pangan jika terjadi pecah perang proxy antara AS-Rusia, akan berdampak pada ekonomi Indonesia yang selama ini menjadi net importir minyak dan pangan, yang ke mungkinan akan mendorong pelemahan rupiah dan naiknya ting kat suku bunga domestik.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk tersebut, mulai dari sekarang pemerintah harus menjaga pasokan pangan dan migas yang cukup paling tidak hingga dua tahun dari sekarang.

Kebijakan impor beras dapat dipikirkan pada tahun 2020 ini sebesar 3-4 juta ton untuk menjaga ketersediaan stok beras di dalam negeri, sambil menambah luas la han pertanian dan mempercepat akselerasi pembangunan infrastruktur Food Estate yang sudah direncanakan pemerintah agar siap berproduksi di tahun 2021.

Untuk energi, meningkatkan kapasitas produksi B100 harus terus didorong sambil menjaga ketersedian stok migas di dalam negeri dengan meningkatkan realisasi lifting migas paling tidak sebesar 1,9 hingga 2 juta barel per hari dan mempercepat proses impor minyak mentah yang sedang rendah harganya.

Henry Kissinger mungkin kali ini lagi-lagi benar bahwa tidak ada musuh yang abadi bagi AS karena kepentingan Presiden AS yang baru mungkin berbeda dari sebelumnya.

Tinggal kita yang ha rus pandai membaca ke mana arah kepentingan tersebut bergerak. Kita berdoa mudah-mudahan kemungkinan terburuk tidak terjadi.

*) Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia (Tulisan ini murni pendapat pribadi dan tidak merepresentasikan pandangan tempat penulis bekerja)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN