Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah

Menjaga Kepercayaan kepada Bank

Jumat, 30 Oktober 2020 | 08:04 WIB
Piter Abdullah Redjalam *)

Bank adalah bisnis kepercayaan. Ketika kepercayaan itu hilang, bank akan kolaps dan mati. Hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap sebuah bank tidak hanya akan mematikan bisnis bank tersebut, tetapi juga bisa menggulung seluruh industri perbankan.

Demikian sebaliknya, ketika kepercayaan masyarakat masih dimiliki oleh sebuah bank, maka bank tersebut punya peluang untuk tumbuh. Betapapun sulitnya permasalahan yang dihadapi oleh sebuah bank, apa bila masih mendapatkan kepercayaan masyarakat, ia akan bisa menyelesaikan masalahnya.

Industri perbankan nasional kita pernah mengalami krisis kepercayaan pada tahun 1998/1999 yang dipicu oleh banyak faktor. Mu lai dari penutupan 16 bank umum, melonjaknya kredit macet yang menggerus likuiditas dan per modalan bank, hingga munculnya berbagai isu yang menimbulkankekhawatiran masyarakat akan keamanan dana mereka di perbankan.

Isu kalah kliring yang di alami sebuah bank bisa memicu rush atau penarikan dana oleh masyarakat secara bersamaan.

Menurunnya kepercayaan masyarakat ketika itu ditunjukkan oleh penurunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan secara drastis. Berbeda dengan situasi tahun 1998/1999, industri perbankan nasional kita di tengah pandemic Covid-19 tahun ini masih stabil dan sehat. Indikator utama sistem perbankan terkait permodalan, kualitas aset, likuiditas dan profi tabilitas semuanya masih dalam batas aman.

Memang ada kenaikan non performing loans (NPL) tetapi kenaikannya relatif kecil. NPL gross masih di bawah 5% atau dapat dikatakan aman.

Sementara itu, pertumbuhan DPK di tengah pandemi justru meng alami kenaikan. Pada Agustus 2020 pertumbuhan DPK mencapai 11,6% yoy, meningkat significant dibandingkan tahun lalu yang hanya di kisaran 6,5%.

Kenaikan pertumbuhan DPK utamanya terjadi di bank-bank besar atau bank BUKU IV. Bank-bank menengah yang termasuk dalam BUKU III sempat mengalami perlambatan pertumbuhan DPK di periode  awal pandemi dan baru mengalami lonjakan pada bulan Agustus.

Sementara bank-bank kecil, BUKU I dan II, harus susah payah mempertahankan pertumbuhan DPK. Bank BUKU I bahkan terus mengalami pertumbuhan DPK yang negative selama pandemi.

Meskipun penurunan DPK yang terjadi di bank-bank kecil belum mengindikasikan terjadinya penurunan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan tetapi OJK hendaknya menjadikan ini sebagai sebuah peringatan dini. Kepercayaan masyarakat sangat rapuh.

OJK harus berupaya lebih keras di tengah pandemi untuk menjaga jangan sampai kepercayaan itu terganggu oleh isu apapun. Termasuk menjaga agar tidak ada bank bermasalah yang kondisinya memburuk dan tidak mampu memenuhi kewajibannya.

Penyelesaian Bank Bermasalah

Di awal pandemi masyarakat sempat dihebohkan oleh berita adanya bank bermasalah. Salah satu bank yang ikut dituding bermasalah adalah Bank Bukopin. Bahkan ada video berisikan keluhan nasabah yang kesulitan me narik dananya di Bank Bukopin. Meskipun sempat viral, video tersebut ternyata tidak memicu rush di Bank Bukopin dan bank-bank lainnya yang disebut bermasalah. Kepercayaan masyarakat kepada bank masih terjaga.

Bayangkan bila hal ini terjadi pada tahun 1998/1999, ceritanya pasti akan jauh berbeda. Penyelesaian permasalahan di Bank Bukopin (dan juga di bankbank lainnya) tentu menjadi prioritas bagi OJK. Kesungguhan OJK menyelesaikan permasalahan di Bank Bukopin terlihat pada upaya OJK memaksa para pemilik untuk menambah likuiditas bank dalam bentuk tambahan modal.

OJK memberikan kesempatan yang sama kepada semua pemegang saham Bank Bukopin untuk melakukan penambahan modal. Upaya OJK ternyata disambut baik oleh Bank Kookmin dari Korea Selatan yang menyetorkan dana segar sebesar Rp 3,8 triliunsebagai tambahan modal ke dalam Bank Bukopin, sekaligus menjadikannya sebagai pemegang saham pengendali yang baru menggantikan Bosowa Group.

Kehadiran Bank Kookmin dengan dana segarnya memang tidak serta merta menyelesaikan semua per masalahan di Bank Bukopin. Namun demikian, hadirnya Bank Kookmin diyakini mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap Bank Bukopin.

Sementara itu,ke tersediaan dana segar akan sa ngat membantu Bank Bukopin menyelesaikan secara bertahap seluruh masalah, sekaligus juga men jadi pembuka jalan untuk bangkit kembali menjadi salah satu bank terkemuka di Indonesia.

Sampai dengan Agustus 2020, kondisi Bank Bukopin masih cukup stabil dengan posisi CASA di kisaran 47,19%. Angka ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap Bank Bukopin masih ter jaga. Saya meyakini kehadiran Bank Kookmin ikut menenangkan nasabah Bank Bukopin sehingga tidak terjadi penurunan CASA yang dalam.

Bermodalkan kepercayaan masyarakat yang masih tersisa, PR be sar manajemen bank selanjut nya adalah mengembalikan tingkat keuntungan bank yang saat ini masih negatif, dengan NIM yang sangat tipis.

Untuk itu, Bank Bukopin ha rus memperbaiki efisiensi bank dengan mengurangi BOPO yang saat ini sangat tinggi, di atas 100%. Kehadiran Bank Kookmin hendaknya bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh Bank Bukopin.

Sebaliknya Bank Kookmin juga harus mampu mengoptimalkan se mua potensi yang dimiliki oleh Bank Bukopin. Sebagai penutup, penulis hendak menekankan, permasalahan di setiap bank pasti berbeda. OJK hendaknya mencari solusi yang paling tepat untuk masing-masing bank. Penyelesaian permasalahan di Bank Bukopin bisa menjadi rujukan.

Ketegasan OJK menghadapi para pemilik akan sangat menentukan. Tidak boleh lagi ada toleransi yang terlalu besar kepada pemilik bank yang bermasalah, yang bisa membahayakan bank dan pada gilirannya menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan.

*) Direktur Riset CORE Indonesia, Dosen Perbanas Institute

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN