Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Khudori, Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), anggota Kelompok Kerja Dewan Ketahanan Pangan (2010-sekarang), penulis buku Ironi Negeri Beras (Yogyakarta:
Insist Press, 2008)

Khudori, Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), anggota Kelompok Kerja Dewan Ketahanan Pangan (2010-sekarang), penulis buku Ironi Negeri Beras (Yogyakarta: Insist Press, 2008)

Menolong Petani Kala Pendemi

Rabu, 6 Januari 2021 | 08:34 WIB
Khudori *)

Krisis coronavirus telah menguji ketangguhan aspek kesehatan dan ekonomi. Jika korban virus terbesar adalah orang-orang yang rentan, seperti manula dan individu yang memiliki riwayat sakit, krisis ekonomi terberat menyasar kelompok rentan, yakni petani, nelayan, pekerja informal, pelaku UKM, dan warga miskin (di kota dan desa).

Kebijakan kerja-sekolah ibadah di rumah diikuti pembatasan sosial berskala besar membuat ba nyak aktivitas berhenti (dihentikan). Interaksi sosial dan aktivitas fisik secara normal dibatasi. Apa yang terjadi kemudian?

Investasi merosot tajam, toko/ warung/kafe/restoran tutup, acara-acara kolosal menjadi terlarang, mesin-mesin pabrik berhenti menderu, transportasi lunglai, logistik tersendat, dan perdagangan sempoyongan. Hampir semua sektor lintang pukang tidak kuasa menghadapi pandemi Covid-19.

Dalam kondisi demikian, hanya sektor yang benar-benar melayani kebutuhan dasar dan primer yang masih bertahan. Selain kesehatan dan farmasi, sudah tentu sektor pertanian dan pangan. Saat pertumbuhan ekonomi nega tif 3,49% pada triwulan III-2020, sektor pertanian tumbuh 2,15%.

Sektor pertanian menjadi satu-satunya sektor yang tumbuh tatkala sektor lain terpuruk. Perdagangan dan reparasi, konstruksi, industri pengolahan, pertambangan dan penggalian semua tumbuh minus.

Prestasi ini mengulang rekor di triwulan II-2020: saat ekonomi -5,03%, pertanian tumbuh 2,19%. Sektor pertanian jadi satu-satunya sektor yang tumbuh.

Untuk kesekian kalinya, tatkala krisis atau resesi, pertanian menjadi penyelamat. Mengapa? Pangan adalah kebutuhan primer dan esensial. Ke butuhan ini tidak bisa ditunda, saat pandemi atau normal. Bahkan, saat pandemi dianjurkan untuk menyantap makanan bergizi yang bisa mendongkrak imunitas tubuh. Ini sebagai benteng melawan Covid-19.

Selain itu, mengacu pada piramida Abraham Maslow, konsumen kini bahkan telah menggeser kebutuhan mereka dari mengejar puncak piramida, yakni aktualisasi diri dan esteem, ke dasar piramida, yakni makan, kesehatan, dan keamanan jiwa-raga.

Berbeda dengan sektor pariwisata, misalnya, karakteristik sektor pertanian lebih mudah beradaptasi untuk melawan pandemi dengan menerapkan jaga jarak, cuci tangan, dan pakai masker. Karena itu, sampai saat ini belum ada kejadian sektor pertanian jadi klaster penularan Covid-19.

Dengan itu semua, produksi pangan di sentra-sentra wilayah produsen pa ngan di Tanah Air tetap berlangsung tanpa gangguan berarti. Sejauh ini juga belum ada laporan kegagalan panen masif, baik karena pandemi atau hama/ penyakit.

Pertanian juga diuntungkan kemarau basah tahun ini. Menurut BMKG, meskipun kemarau berlangsung sejak Juni 2020, di sejumlah wilayah sentra pro duk si pertanian masih turun hu jan. Walaupun musim gadu (Ju ni-September), di sejumlah sentra produksi pertanian masih memungkinkan berusahatani. Ini salah satu penjelas me ngapa produksi padi tahun ini tetap bagus.

Tak lagi menurun drastis seperti perkiraan awal tahun. Bah kan produksi padi tahun ini diperkirakan mencapai 55,16 juta ton GKG (gabah kering giling) atau setara 31,63 juta ton beras, lebih tinggi 1,02% dari produksi 2019 (BPS, 2020).

Masalahnya, karena daya beli masyarakat belum ada tanda-tanda membaik, hasil produksi pertanian yang dihasilkan petani tidak seluruhnya terserap pasar. Pembatasan sosial berskala besar juga membuat kapasitas operasi ane ka usaha hanya beroperasi secara minimal. Padahal, mereka inilah yang menyerap hasil produksi petani. Akhirnya terjadi diskoneksi antara pasokan dan permintaan.

Ini terutama menimpa produk aneka sayuran seperti bawang, cabai, dan tomat. Juga produk peternakan, baik telur maupun daging ayam. Harga produk peternakan konsisten menurun empat bulan berturut-turut, sedangkan produk hortikultura menurun lima bulan beruntun.

Anjloknya harga kedua produk subsektor pertanian itu memberi andil besar terjadinya deflasi tiga bulan beruntun: dari Juli-September. Juga memberi andil inflasi Oktober yang rendah: 0,07%.

Deflasi beruntun per tanda ter jadi depresi. Ini sinyal buruk ba gi sektor pertanian. Karena taruhannya adalah kontinuitas produksi pangan. Hasil pertanian yang tak terserap pasar membuat petani kehabisan modal untuk berproduksi pada musim berikutnya. Jika mereka berhenti berproduksi, dan itu terjadi dalam skala luas dan masif, tentu berujung pada ancaman ketersediaan pangan bagi 267 juta warga.

Jadi, dalam perang melawan penyebaran virus corona, bukan hanya dokter, perawat, dan tenaga medis yang berada di garis terdepan, petani juga jadi ujung tombak bangsa guna menjamin ketersediaan pangan. Lewat tangan petani dalam memproduksi pangan pokok dan penting, sayur, dan buah-buahan, kita semua mendapatkan asupan pangan beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Kualitas asupan pangan bakal menjaga imunitas tubuh, menentukan berhasil- tidaknya, dan daya tahan kita berperang melawan virus corona.

Sayangnya, dari Rp 695 triliun anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tidak sepeser pun dialokasikan khusus buat membantu petani. Seperti warga lain, petani membutuhkan perlindungan dan jaminan.

Karena itu, perlu segera dibuat aneka langkah nyata untuk melindungi petani. Ini menyangkut kepen tingan strategis melawan corona. Pertama, kala ekonomi lung lai dan daya beli masyarakat loyo, jump start mesti dilakukan dengan mendorong daya beli lewat konsumsi dengan memasifkan aneka bantuan sosial dan jaring pengaman.

Fokus fiskal menyasar kepada 30-40% penduduk paling rentan. Mereka harus menjadi sa saran utama program bantuan ke butuhan pokok dan transfer tunai, baik reguler maupun khusus Covid.

Kedua, mengoneksikan aneka program bantuan sosial dan jaring pengaman itu dengan penyerapan hasil produksi petani di hilir. Inisiatif sejumlah kementerian/lembaga (K/L), seperti Kementerian Pertanian (Kementan), menggandeng start-up dan aplikasi ride hailing guna mempertemukan petani dan pembeli tentu bagus. Termasuk inisiatif pemerintah daerah (pemda) mewajibkan aparatur sipil negara (ASN) beli produk petani. Tapi, itu semua aksi sporadis.

Alangkah baiknya bila ada dana PEN atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) khusus buat menyerap produksi hasil petani dengan harga layak, kemudian ini dijadikan bantuan sosial (bansos) atau dijual ke warga dengan harga terjangkau, seperti ditempuh Tiongok dan Amerika Serikat (AS). Ketiga, guna menjamin kontinuitas produksi, anggaran K/L dan APBD (provinsi/kabupaten/kota) harus difokuskan pada sektor pertanian (dalam arti luas) dan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Itu guna memastikan sektor dan pelaku diurus layak. Di sektor pertanian, misalnya, ha rus dipastikan ketersediaan dan akses petani terhadap input pro duksi (benih, pupuk, air) dan modal kerja. Ini penting untuk menjamin petani dan orang desa tetap berproduksi dan kita semua bisa makan.

Jika desa dan petani terancam corona, pangan kita pun menjadi terancam. Jika itu ter jadi, bencana/krisis pangan bisa meledak. Ketika bencana/krisis pangan terjadi, ini sama artinya ancaman serius terhadap kehidupan.

*) Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), anggota Pokja Dewan Ketahanan Pangan (2010-sekarang), penulis buku ”Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula” (LP3ES, 2005), dan peminat masalah sosial-ekonomi pertanian dan globalisasi

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN