Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ahmad Mikail Zaini, Ekonom Samuel Sekuritas.

Ahmad Mikail Zaini, Ekonom Samuel Sekuritas.

Menyelamatkan Indonesia dari Resesi dan Secular Stagnation

Rabu, 9 September 2020 | 10:00 WIB
Ahmad Mikail *)

Depresi ekonomi pada 1930’a yang membuat tingkat pengangguran di Amerika Serikat (AS) mencapai 25% membuat Hansen berpendapat bahwa ekonomi AS akan sulit bangkit atau jika bangkit dari depresi pun ekonomi AS dan dunia akan terjebak pada pertumbuhan ekonomi yang rendah.

Ide tentang secular stagnation sepertinya terlupakan setelah perang dunia kedua usai, dan proyeksi Hansen tidak terbukti terjadi sampai gelembung sektor properti di AS pecah di tahun 2008.

Kondisi ekonomi dunia tidak pernah benar-benar pulih pascakrisis keuangan tahun 2008. Pertumbuhan ekonomi jangka panjang AS dan dunia selama satu dekade terakhir tidak pernah tumbuh setinggi seperti sebelum krisis 2008.

Adalah Larry Summers, mantan Menteri Keuangan AS era Presiden Bill Clinton, yang mulai kembali memopulerkan ide tentang secular stagnation di dalam makalah akademisnya di tahun 2016. Summers memperkirakan ekonomi AS akan selalu tumbuh di bawah pertumbuhan ekonomi naturalnya, yang membuat inflasi AS dan dunia terus mengalami penurunan yang menyebabkan imbal hasil obligasi di rata-rata negara maju mengalami penurunan.

Ekonom The Fed, Eggertsson memperdalam isu ini di tahun 2019 dengan mencoba mengkuantifikasi ide tentang secular stagnation. Eggertsson dalam makalahnya menjadikan imbal hasil obligasi neutral atau neutral interest rate sebagai indikator apakah suatu Negara mengalami secular stagnation.

Suatu negara dikatakan terjebak dengan secular stagnation jika tingkat suku bunga riil (suku bunga dikurangi inflasi) negara tersebut cenderung turun ketika tingkat penganguran terbukanya sudah sangat rendah. Negara-negara maju seperti AS, Jepang, Jerman, Italia dan Kanada secara empiris telah menderita secular stagnation bahkan sebelum krisis akibat pandemic Covid-19 terjadi.

Resesi akibat Covid-19 kemungkinan memperparah kondisi secular stagnation di negara-negara maju tersebut. Resesi kemungkinan juga mempercepat gejala secular stagnation di Tiongkok dan negara Asia Timur lain, seperti Korea Selatan, Singapura dan Taiwan.

Hal ini dikhawatirkan akan membuat ekonomi dunia membutuhkan waktu yang lebih lama dari perkiraan sebelumnya untuk pulih pascapandemi Covid-19 dapat dikendalikan.

Dengan indikator dari Eggertsson dan Krugman, Indonesia sendiri diperkirakan masih belum masuk perangkap secular stagnation seiring neutral interest rate Indonesia masih cukup tinggi.

Namun jebakan pertumbuhan ekonomi rendah kemungkinan akan dialami Indonesia, mengingat negara-negara mitra dagang utama Indonesia seperti Tiongkok, Jepang, AS dan Uni Eropa terjebak di dalam secular stagnation. Indonesia yang ekonominya cukup terbuka tentu akan kesulitan tumbuh kembali ke level 5% sampai 6% ketika negara mitra utamanya mengalami perlambatan pertumbuhan jangka menengah dan panjang.

Untuk keluar dari jebakan pertumbuhan ekonomi rendah dalam jangka menengah dan panjang, syarat mutlak bagi Indonesia adalah harus bisa mengendalikan pandemi Covid-19. Yang sangat dikhawatirkan adalah ketika negara- negara lain mulai bisa mengendalikan pertambahan kasus baru Covid-19, sebaliknya kasus baru penularan Covid-19 di Indonesia malah cenderung terus naik dan belum ada tanda-tanda penurunan.

Akibatnya, Indonesia bisa dipandang cukup berisiko dari sisi kesehatan dan keselamatan kerja bagi tujuan investasi asing jika kasus baru terus melonjak. Dampaknya, nilai tukar rupiah bisa melemah, tingkat suku bunga bisa naik, dan ekonomi tertekan.

Cukup sulit sepertinya bagi Indonesia untuk kembali ke masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mengingat ongkos politik dan sosialnya yang cukup besar.

Untuk itu pengembangan obat Covid-19 dan vaksin mutlak harus dilakukan untuk menurunkan jumlah kasus baru. Setelah Covid-19 dapat diselesaikan, barulah big push strategy wajib dilakukan Indonesia untuk keluar dari resesi yang hampir pasti terjadi tahun ini serta jebakan ekonomi rendah dalam jangka panjang seiring fenomena secular stagnation pada ekonomi dunia.

Larry Summers memperkirakaan setidaknya ada empat faktor yang menyebabkan terjadinya secular stagnation: tingkat pertumbuhan populasi yang rendah, produktivitas ekonomi yang rendah, ketimpangan pendapatan, serta tingkat utang terhadap produk domestic bruto (PDB) yang tinggi. Indonesia diperkirakan mengalami dua dari empat faktor, yaitu produktivitas ekonomi yang rendah dan ketimpangan pendapatan yang tinggi.

Dengan populasi yang masih didominasi penduduk muda, Indonesia sejatinya bisa keluar dari jebakan ekonomi rendah seiring masih tumbuhnya populasi Indonesia. Namun masalah terbesar dari penduduk yang muda tersebut adalah ketersediaan lapangan kerja yang cukup dengan produktivitas yang tinggi.

Kedua faktor ini yang mau tidak mau harus disediakan pemerintah dengan berbagai kebijakan. Mendorong pertumbuhan sektor tradable yang padat karya penghasil barang lebih tinggi dari pertumbuhan natural Indonesia sebesar 5% akan menyelesaikan masalah produktivitas Indonesia yang rendah serta ketimpangan pendapatan yang tinggi.

Selama sepuluh tahun terkahir sektor jasa cender ung lebih tinggi dibandingkan sektor tradable penghasil barang. Wajar jika ketimpangan pendapatan naik di Indonesia. Sektor jasa padat modal seperti keuangan, konstruksi dan properti, penyediaan listrik, dan telekomunikasi, cenderung tumbuh lebih tinggi dibandingkan sektor padat karya, akibat mendapatkan akses keuangan yang lebih banyak dari industri keuangan serta investasi yang besar dari asing.

Sedangkan investasi dan kredit untuk sektor penghasil barang seperti pertanian, pertambangan, perkebunan, dan industri olahan semakin tahun semakin turun pertumbuhannya.

Dengan dibolehkannya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lebih besar 3% dari PDB, ini saat yang tepat bagi pemerintah mengarahkan investasi dan tabungan masyarakat untuk reindustrialisasi. Dengan utang per PDB yang masih lebih rendah dari rata-rata negara maju, Indonesia masih punya ruang fiskal yang cukup besar untuk mendorong besar-besaran pertumbuhan sektor tradable.

Dimulai dengan mendorong produktivitas sektor pangan dan perkebunan serta perikanan. Mustahil memiliki upah buruh yang kompetitif untuk memacu industri olahan jika inflasi bahan makanan di Indonesia lebih tinggi dari Thailand dan Vietnam. Inflasi bahan makanan kedua Negara tersebut bisa lebih rendah dari Indonesia karena kedua Negara tersebut surplus beras.

Sedangkan Indonesia masih membutuhkan impor beras untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Karena bahan makanan yang masih impor, mustahil kenaikan upah buruh bisa bersaing dengan negara tetangga yang surplus bahan pangannya. Thailand dan Vietnam bisa lebih unggul karena rata-rata kepemilikan lahan pertanian di Indonesia sangat rendah yakni hanya 458 meter persegi/kapita, sedangkan Thailand 5.000 meter persegi/ kapita dan Vietnam 1.200 meter persegi/kapita.

Jadi mustahil bisa memacu industri jika kebutuhan dasar seperti pangan belum bisa surplus. Untuk itu sangat perlu mempercepat penambahan lahan pertanian baru dan infrastruktur pertanian di Indonesia untuk bisa mendorong surplus pangan agar inflasi bahan makanan bisa terus ditekan rendah.

Kesempatan masih cukup terbuka lebar bagi Indonesia keluar dari resesi dan secular stagnation. Masalahnya sekarang adalah apakah ada political will dari pemerintah untuk fokus menyelesaikan masalah tersebut dengan dana dari defisit APBN yang sekarang lebih tinggi? Kita berdoa jangan sampai prediksi Alvin Hansen di tahun 1930 terjadi di Indonesia.

*) Ekonom Samuel Sekuritas

(Tulisan ini murni pendapat pribadi dan tidak merepresentasikan pandangan tempat penulis bekerja)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN