Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kapler A Marpaung

Kapler A Marpaung

Menyoal Legalitas Saving Plan Jiwasraya

Kapler A Marpaung *), Kamis, 13 Februari 2020 | 11:42 WIB

Bapepam-LK tanggal 18 Desember 2012 memberikan izin kepada PT Asuransi Jiwasraya (Persero) untuk memasarkan produk baru dengan nama JS Protection Plan. Kerja sama pemasaran melalui saluran distribusi bancassurance dengan beberapa bank itu tentu telah mendapat persetujuan dari Bapepam-LK atau Otoritas Jasa Keuangan, mengingat setahun setelah izin produk JS Protection Plan diberikan berdirilah Otoritas Jasa Keuangan dan pengawasan serta pembinaan industry perasuransian beralih dari Bapepam-LK kepada Otoritas Jasa Keuangan.

Untuk memperoleh izin memasarkan produk , prosesnya tidak terbilang sederhana karena melalui beberapa tahapan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 422/KMK.06/2003 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi, mengatur bahwa setiap permohonan memasarkan produk asuransi yang baru sedikitnya harus melampirkan specimen polis asuransi, pernyataan aktuaris tentang tarif premi dan nilai tunai, profit testing atau asset share, dukungan reasuransi, serta uraian cara pemasaran dan contoh brosur.

Produk asuransi jiwa pada umumnya ada dua jenis, yaitu Asuransi Jiwa Tradisional dan Unit-Link. Asuransi Jiwa Tradisional terdiri atas Asuransi Jiwa Jangka Warsa (terms life), Asuransi Jiwa Dwiguna (endowment), Asuransi Jiwa Seumur Hidup (wholelife), dan Pembayaran Berkala (annuity). Unit-Link biasanya terdiri atas Unit-Link Single Premium dan Unit-Link Premi Berkala.

Unit-Link vs Saving Plan

Unit-Link adalah produk asuransi yang digabungkan dengan investasi, jadi ada unsure proteksi manfaat meninggal dunia dan sekaligus ada unsure investasi. Umumnya underlying asset dari dana investasi di Unit-Link adalah reksa dana (saham, campuran, pendapatan tetap, dan terproteksi). Karakteristik Unit-Link antara lain, pertama, tidak boleh memberikan janji imbal hasil pasti atas dana investasi, tetapi hanya proyeksi saja.

Kedua, tujuan investasi adalah jangka panjang dengan tenor minimal 5 (lima) tahun. JS Saving Plan yang menghebohkan pasar dijual dengan imbal hasil pasti dengan return 7% sampai dengan 13% untuk jangka waktu satu tahun. Berdasarkan kedua fitur JS Saving Plan, ini jelas bukan produk Unit-Link. Bahkan, seolah-olah ini sudah semacam investasi murni. Jadi sulit mengatakan jenis produk asuransi apa sebenarnya JS Saving Plan ini dan mengapa Bapepam-LK waktu itu memberikan izin atas produk ini, serta mengapa lolos dari pengawasan Otoritas Jasa Keuangan.

Masyarakat juga banyak bertanya, apakah bisa nama produk yang sudah mendapatkan izin dari regulator dapat diubah namanya sesuka perusahaan asuransi? Bukankah ini suatu kesengajaan penggiringan opini publik seolah-olah ini bukan produk asuransi tapi produk investasi murni sehingga kata “protection” diganti menjadi “saving”?

Mengapa ada pembiaran dari Otoritas Jasa Keuangan terhadap suatu perusahaan asuransi yang semaunya mengganti nama produk? Berdasarkan salinan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 32/ SEOJK.05/2016 tentang Saluran Pemasaran Produk Asuransi melalui Kerjasama dengan Bank (Bancassurance) butir II (7) dikatakan bahwa Produk Asuransi Yang Dikaitkan dengan Investasi (PAYDI) yang dipasarkan melalui bancassurance model bisnis kerja sama distribusi, adalah terbatas hanya PAYDI yang memiliki strategi investasi pada ruang dan/atau strategi pendapatan tetap. Karena JS Saving Plan ini bukan Asuransi Jiwa Tradisonal, bukan Unit-Link dan juga bukan Jenis Produk Endowmen, serta sudah menyimpang dari Surat Edaran OJK di atas, maka JS Saving Plan ini dapat dikatakan “Produk Asuransi Jiwa atau Unit-Link Ilegal”.

Hentikan Produk Saving

Berdasarkan pengamatan, yang menjual produk sejenis JS Saving Plan ini tidak hanya PT Asuransi Jiwasraya. Banyak perusahaan asuransi lainnya menjual produk sejenis dan membuat nama produknya dengan embel-embel “saving” dan juga memberikan janji akan imbal hasil pasti.

Branding produk asuransi jiwa unit link dengan kata “saving” sudah menjadi tren, seolah-olah tanpa kata saving maka produk akan sulit untuk dijual.

Otoritas Jasa Keuangan harus segera memerintahkan semua perusahaan asuransi jiwa yang menjual produk sejenis JS Saving Plan menghentikan penjualan, agar tidak semakin banyak masyarakat yang menjadi korban investasi melalui perasuransian.

OJK juga harus memastikan bahwa untuk sementara ini jangan ada lagi perusahaan asuransi yang menjual produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI), yang nama produknya memakai kata “saving” atau investasi”. Karena kedua kata itu menggiring opini public seolah-olah produk ini adalah sama dengan produk perbankan atau pasar modal.

Evaluasi Jenis Investasi Asuransi

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan nomor 71/POJK.05/2016 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi, pasal 5 (2) memperbolehkan perusahaan asuransi melakukan investasi kepada sedikitnya 19 (embilan belas) jenis instrument investasi.

Di antara instrumen investasi yang dinilai memiliki risiko cukup tinggi atau sangat tinggi adalah; Medium Term Note (MTN), Repurchase Agreement (REPO), dana investasi realestat berbentuk kontrak investasi kolektif, dan reksa dana saham.

Sementara itu, yang relatif aman antara lain adalah deposito, surat berharga yang diterbitkan oleh Negara Republik Indonesia, dan surat berharga yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. MTN yang karena mengandung risiko investasi sangat tinggi, apalagi transaksinya tidak melibatkan bursa efek, maka mulai sekarang OJK harus berani melarang perusahaan asuransi membeli MTN.

Investasi jenis MTN tidak usah lagi diizinkan untuk selamanya, mengingat instrument ini sangat mudah digunakan untuk kejahatan keuangan, yang pada akhirnya menimbulkan kerugian pada masyarakat atau nasabah.

Untuk investasi jenis REPO, saham dan reksa dana saham juga untuk sementara disarankan tidak dilakukan oleh perusahaan asuransi, sampai waktu yang tepat setelah Otoritas Jasa Keuangan melakukan evaluasi dan membuat kebijakan dan peraturan investasi yang lebih ketat.

Tingkatkan Kualitas Agen Penjual

Salah satu saluran distribusi yang efektif dalam menjual produk asuransi adalah bancassurance. Bancassurance adalah aktivitas kerja sama antara perusahaan asuransi dengan bank dalam rangka memasarkan produk asuransi melalui bank.

Berdasarkan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 32/SEOJK.05/2016 butir 2 (10) mengatakan bahwa pegawai bank yang memasarkan produk asuransi distribusi bancasssurance harus memiliki persyaratan.

Pertama, memiliki sertifikat keagenan yang dikeluarkan oleh Asosiasi terkait. Kedua, memperoleh pelatihan mengenai produk asuransi yang akan dipasarkan. Bank yang ikut memasarkan produk asuransi melalui jalur distribusi bancassurance ini juga memiliki risiko hukum dan risiko reputasi atas masalah yang timbul dalam transaksi bancassurance, sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum. Oleh karenanya, bank perlu hati-hati.

Melihat produk asuransi dan termasuk produk yang cukup kompleks, maka pegawai bank yang terlibat memasarkan produk asuransi PAYDI, dirasakan sudah tidak cukup hanya dengan ujian sertifikat keagenan dan pengenalan produk. Akan tetapi perlu dibekali pendidikan dan sertifikasi profesi tambahan, seperti Wealth Management.

Satu-satunya badan yang mengatur standarisasi profesi Wealth Manager di Indonesia saat ini adalah Wealth Management Standard Board Indonesia yang telah mendapatkan pengakuan dari Ikatan Bankir Indonesia.

*) Dosen Program MM Fakultas Ekonomika & Bisnis Universitas Gadjah Mada

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN