Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Prof Haryono Suyono, mantan Menko Kesra/Taskin

Prof Haryono Suyono, mantan Menko Kesra/Taskin

Menyongsong Era Baru dengan Budaya dan Norma Baru

Rabu, 22 Juli 2020 | 17:03 WIB
Prof Haryono Suyono *)

Prof Mudrajad Kuncoro PhD, rektor Universitas Trilogi di Jakarta dan Guru Besar Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, menulis pada Harian Investor Daily tentang betapa pusingnya menghadapi serangan virus corona dalam tiga bulan terakhir ini.

Sebagai seorang ekonom, ia dengan cerdas menggambarkan dampak ekonomi yang melanda bangsa ini secara cermat.  Analisis dan pemaparannya membuat kaum awam akan menjadi makin paham melihat permasalahan ekonomi yang melanda Tanah Air tercinta akhir-akhir ini dan bisa menaruh simpati.

Bukan terjebak dalam ketakutan dan tidak bergerak karena kehilangan akal, atau istilah Prof Mudrajad, banyak yang pusing tujuh keliling tidak tahu harus mulai memperbaiki keadaan dari sudut yang mana. Karena persoalannya demikian rumit dan kelihatan semuanya menurun tajam, seperti tidak ada solusi sehingga pejabat pun bisa stand still membiarkan “keadaan tanpa arahan solusi”.

Untung Guru Besar yang banyak menulis ini tidak saja membahas masalah dan menakut-nakuti rakyat dengan masalah yang hampir tidak bisa dipecahkan tetapi menawarkan lima rekomendasi untuk menyelesaikan masalah yang timbul di hampir seluruh demensi ekonomi nasional. Yang mudah-mudahan juga diajarkan pada mahasiswa yang menempuh studi ekonomi pembangunan di Universitas di mana beliau mengajar atau memimpinnya.

Kelima rekomendasi itu kalau dicermati bisa dilaksanakan dan bisa memiliki dampak positif yang mengangkat kembali dinamika ekonomi nasional. Tawaran yang dikembangkannya meliputi pertama, change. Bahwa rakyat, pemerintah dan pengusaha harus mengubah strategi berusaha.

Kedua, offer more, yaitu ikut membantu menjual “berbagai keperluan budaya baru” yang tidak ada sebelumnya, seperti produk-produk yang melengkapi kebutuhan norma baru. Contoh, masker, pembersih tangan dan segala keperluan norma baru yang sehat dan aman untuk menghindari menularnya virus corona.

Ketiga, vary, yaitu menawarkan produk-produk baru bervariasi untuk mereka yang belajar atau bekerja dari rumah.

Keempat, improve, yakni memperbaiki kinerja perusahaan sehingga tetap mampu bekerja berbeda dibanding cara kerjanya di masa lalu.

Dan kelima, do it now and fast. Jangan ditunda lagi karena harus berpacu dengan kebutuhan yang kecepatannya jauh lebih tinggi. Sebab, konsumen tidak sabar mengikuti perubahan yang sangat cepat dihela oleh kekuatan dan kecepatan sistem IT yang mengantar era industrialisasi, era super baru yang sangat dinamis dan tidak mengenal kompromi.

Oleh karena itu, sebagai seorang sosiolog, saya sangat setuju apabila tulisan Prof Mudrajad ini sekaligus diikuti kritik agar aparatur pemerintah tidak berlebih-lebihan “kampanye menakut-nakuti rakyat banyak” dengan memberi tempat kepada virus corona untuk menyebar luaskan “rasa takut” kepada rakyat dan keluarga Indonesia sehingga tidak segera bergerak dalam era yang dewasa ini dikuasai virus corona. Tetapi segera mengambil langkah positif dan tegas dengan menyongsong era baru yang menguntungkan biarpun ada virus yang masih menyebar di sekitar kita.

Anggaplah bahwa era baru ini memang penuh dengan virus, bukan saja yang bernama corona, tetapi juga HIV, dan lainnya. Tetapi kegiatan ekonomi dan bisnis mengambil kesempatan agar setiap keluarga dan perorangan memperkuat daya tahan dan penangkis atau bahkan hidup tenang di tengah adanya berbagai virus yang sudah dikenal atau yang segera akan datang di sekitar lingkungan kita.

Kita sudah biasa hidup di lingkungan yang ada copet, ada pencuri, ada rampok dan lainnya yang gentayangan di sekitar kita, tetapi kondisi ekonomi tetap tumbuh positif, tidak terpengaruh sama sekali.

Kita, utamanya media masa seperti Harian Investor Daily perlu memuat lebih banyak lagi tulisan kemajuan “penyesuaian” yang dilakukan oleh “dunia industri dan perdagangan” terhadap datangnya “budaya baru” dengan “norma baru” yang telah diambil oleh “early adaptor” perusahaan, toko atau pengusaha maju dalam bidang bisnis. Atau bahkan oleh “pejabat revolusioner” yang ikut aliran perubahan sosial dalam bidang perdagangan dan industri yang termuat dalam lima gagasan Prof Mudrajad tersebut.

Mungkin juga dengan gagasan lain yang mengangkat budaya industri dan perdagangan dalam era baru di Indonesia. Bukan new normal, tetapi “era baru, budaya industri dan dagang baru” dalam “suasana baru” yang tumbuh karena menyesuaikan dengan kondisi adanya “pendatang baru” yang harus ditanggapi sebagai peluang industri atau perdagangan yang baru, bukan sebagai penghambat kemajuan ekonomi.

Suatu toko yang memasang anjuran untuk memakai masker, tidak berdesakan dan memberi pelayanan yang nikmat kepada pembeli yang bisa bergerak longgar di tokonya karena pelanggan yang masuk dibatasi hanya mereka yang datang dan dicek suhu badannya serta masuk sesuai dengan kelonggaran tokonya, perlu diacungi jempol.

Mereka mengikuti “change” yang dianjurkan sehingga suasana dalam toko terasa makin nyaman dan tidak menakutkan karena kepadatannya tidak menyebabkan pelanggan harus berdesakan atau membahayakan kesehatannya. Apalagi sebelum masuk toko sudah dicek suhu badannya dan jika terindikasi bisa dilacak dengan jelas alamat rumahnya.

Apalagi kalau kebutuhan dalam era baru ini tersedia melimpah di toko itu sehingga sekali kita keluar rumah dan datang ke toko tidak harus mondar-mandir dari satu toko ke toko lainnya memenuhi kebutuhan yang baru muncul dalam era baru sekarang. Seakan offer more itu sesungguhnya menawarkan kebutuhan masa depan pada era baru yang sedang berkembang. Seakan toko itu adalah toko masa depan yang mengetahui “kebutuhan konsumen baru yang memasuki masa depan baru”.

Perdagangan atau industri itu sesungguhnya melayani konsumen yang “sedang melakukan adaptasi” pada era baru yang berbeda dengan era yang dijalaninya di masa lalu.

Ternyata toko yang melakukan adaptasi pada era baru itu antrean pengunjungnya panjang, mengikuti tes suhu badan dengan tertib dan tokonya “tidak terkesan sepi” karena adanya virus corona. Di dalam toko, para tamu tidak ketakutan karena di pintu tidak ada gambar virus yang menakutkan, kecuali anjuran untuk memakai masker dan sabar menunggu giliran masuk toko karena dijamin di dalam toko aman karena tidak berdesakan.

Hal serupa terjadi pada industri sarung tangan yang awalnya hanya mengandalkan enam mesin jahit otomatis dan dikelola penyandang cacat, Ibu Yuli. Karena mengikuti perubahan era masa depan, ia memproduksi masker sebagai keperluan masa depan, atau “tampil beda” memenuhi kebutuhan masa depan.

Dewasa ini industri itu berkembang cepat dan memiliki tidak kurang dari 75 mesin jahit otomatis, berkat mampu memproduksi kebutuhan masa depan, yaitu tidak kurang dari 100.000 masker, memenuhi kebutuhan masa depan yang terus berkembang.

Usaha ini bukan tutup karena tidak ada produksi atau produksinya tidak laku teejual. Industri ini memproduksi kebutuhan masa depan yang berkembang cepat “sesuai selera baru” atau “norma baru” masyarakat masa depan.

Seperti pengalaman ketika memimpin penerimaan “norma baru” “keluarga kecil yang bahagia dan sejahtrera” karena “keluarga besar” dianggap menimbulkan ledakan penduduk.

Maka kita tidak menjelaskan masalah keluarga besar terlalu detail karena akan menyinggung mereka yang memiliki keluarga besar. Tetapi lebih memihak menjelaskan apa syarat mengadopsi norma baru “norma keluarga kecil” yang bahagia dan sejahtera dengan sangat mendetail melalui strategi komunikasi perubahan sosial yang didukung komitmen yang luar biasa tingginya.

Strategi itu diser tai dengan dukungan untuk mewujudkan keluarga kecil yang berkualitas. Sehingga keluarga Indonesia kalau mau berubah mengikuti norma baru, dengan mudah mendapatkan cara yang paling cocok dengan keadaan mereka masing-masing serta kemudahan mendapatkan dukungan yang diperlukan guna mencapai kesempurnaan penerimaan norma baru itu.

Seperti halnya norma baru mencegah terkena virus corona dengan menggunakan masker, maka cara baru mencegah keluarga besar adalah memakai alat kontrasepsi.

Untuk itu setiap keluarga bebas memilih alat kontrasepsinya. Sehingga yang diukur bukan mereka yang memiliki keluarga besar tetapi perkembangan jumlah yang memakai pelindung kehamilan atau alat kontrasepsi. Yang diterangkan di televisi adalah “keluarga pemakai alat kontrasepsi”, bukan jumlah keluarga dengan anak banyak! Oleh karena itu, jumlah pemakai alat kontrasepsi menjadi bintang televisi, makin hari jumlahnya meningkat makin banyak muncul dalam media massa, bukan jumlah “keluarga besar” yang membengkak.

Pendekatan pemerintah dewasa ini yang diperkenalkan adalah “penyebaran vir us corona”. Sedangkan jumlah keluarga pemakai masker, atau keluarga yang membasuh tangan atau tidak bergerombol seakan “lepas dari perhatian” atau “kurang mendapat perhatian”. Padahal yang dituju adalah “budaya baru” dengan “norma baru” memakai masker, membasuh tangan lebih sering, tidak bergerombol atau keluar rumah dengan tidak memperhatikan syarat bebas dari virus corona.

Penduduk “ditakut-takuti” bahwa daerahnya termasuk “zona merah”, jangan bergerak, makan tidak makan tunggu belas kasihan pemerintah atau “keluarga baik hati” yang membagi sembako.

Sesuatu yang menakutkan penduduk untuk giat dalam pembangunan ekonomi keluarga dan bangsanya. Karena itu tulisan Prof Mudrajad perlu mendapat perhatian disertai dengan upaya menyongsong perubahan sosial menuju penerimaan Budaya Baru dengan Norma Baru.

Hal itu perlu didukung dengan komunikasi dan informasi yang memudahkan dunia usaha “menerima lima saran” yang ditulis Prof Mudrajad Kuncoro dengan diikuti penyediaan atau kemudahan bagi dunia usaha untuk menyongsong era budaya baru dengan partisipasi masyarakat yang tidak takut secara berlebihan kepada virus corona.

Sehingga masyarakat “disiapkan untuk waspada” dan “dilengkapi bantuan” untuk bisa menghindari serangan virus manakala pergi ke pasar, ke toko, ke tempat kerja atau ke sekolah. Masyarakat perlu mendapatkan “pengertian yang mendalam dan disiplin tinggi atas sikap dan tingkah laku baru” dalam hidup di alam yang masih ada dan akan selalu ada virus corona atau virus lain yang akan datang di kemudian hari.

Suatu tatanan masyarakat baru yang pasti akan diganggu dengan “cara hidup lain”, seperti daerah dengan pencopet yang ramai, dan tidak cocok dengan hidup nyaman yang dianggap normal.

*) Mantan Menko Kesra/Taskin

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN