Menu
Sign in
@ Contact
Search
Tri Winarno.

Tri Winarno.

Meredam Inersia Inflasi

Sabtu, 3 Agustus 2019 | 22:48 WIB
Tri Winarno (redaksi@investor.id)

Jangan sepelekan inflasi. Ah, hanya inflasi. Masa iya kerja bank sentral hanya mengendalikan inflasi yang dikenal dengan istilah inflation targetting policy. Ingat, inflasi adalah biang kerok kondisi perekonomian, baik bagi negara maju maupun negara yang tidak maju. Inflasi, seumpama penyakit adalah gejala demam. Demam bisa berarti karena flu, karena TBC bahkan karena HIV. Karena itu, memahami inflasi berarti seperti dokter memahami penyakit yang menyerang pasiennya. Dengan demikian dituntut kompetensi unggul untuk dapat memahami dan mengatasi inflasi dengan tepat yang terjadi di suatu negara.

Inflasi akan tetap menjadi tantangan utama bagi pemangku kebijakan bank sentral di seluruh dunia, baik terkait dengan menekan inflasi supaya menurun ataupun mendorong deflasi supaya tingkat harga meningkat. Kedua-duanya bukan hal yang mudah untuk ditangani. Perhatikan kedua kasus di bawah ini, yaitu deflasi di Jepang dan inflasi di Argentina.

Jepang telah mengalami deflasi (penurunan tingkat harga yang diukur dari indeks harga konsumen) akut, yaitu sebanyak sebelas tahun sejak 20 tahun yang lampau. Sejak tahun 2016, tekanan deflasi di Jepang telah mulai mereda sejak digebrak oleh Abenomic. Meski demikian, gebrakan itu untuk memacu inflasi Jepang menyentuh level 2%, sesuai dengan target Bank of Japan (BOJ), sulit tercapai, walaupun telah digelontorkan kebijakan moneter yang super akomodatif oleh Perdana Menteri Abe.

Bank sentral Jepang telah mempertahankan kebijakan tingkat bunga di bawah nol sejak 2016, dan membatasi tingkat bunga jangka panjang pada kisaran nol%, serta melakukan ekspansi monetary base sebesar 250% sejak 2013 melalui pembelian obligasi pemerintah Jepang.   BOJ sekarang memegang sekitar 50% dari stock obligasi pemerintah Jepang. Ini merupakan prestasi luar biasa mengingat rasio utang pemerintah Jepang telah mencapai 238% dari produk domestik bruto (PDB), tertinggi di dunia. Namun demikian, dengan kebijakan moneter yang super ekspansif tersebut, ekspektasi inflasi di Jepang 5 tahun ke depan hanya berada pada kisaran 1%; suatu angka yang masih jauh dari target 2%.

Sebaliknya di spektrum lain, terdapat Argentina yang kesulitan mengendalikan inflasi. Central Bank of Argentina (BCRA), bersama dengan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) meluncurkan  program pengendalian inflasi pada Juni 2018, dengan menjajikan mempertahankan monetary base. Kebijakan ini mendorong tingkat bunga kebijakan meroket mencapai hampir 74%. Namun demikian, inflasi masih tak terkendali, bahkan membubung dari 26% pada 2017 menjadi  55% pada tahun 2018.

Kenaikan inflasi tersebut terutama terkait dengan tingginya harga impor, tatkala peso limbung mengalami depresiasi sekitar 115% terhadap dolar AS selama 12 bulan yang berakhir pada Maret 2019. Tetapi efek telusuran  (pass-through) nilai tukar terhadap inflasi hanya sebagian dari faktor pemicu. Dan juga bukan karena kondisi ekonomi Argentina mengalami overheated. Bahkan sebaliknya, Argentina berjibaku dengan resesi yang amat dalam dan membandel. IMF memperkirakan PDB Argentina akan susut sebesar 1,2% tahun ini, setelah tahun 2018 mengalami kontraksi yang sangat dalam.

Walaupun Argentina mengalami ‘penyumbatan’ kredit (a credit crunch) dan pengetatan kondisi moneter serta berbagai langkah pengendalian harga, tetapi inflasi tetap membandel menuju angka 40%. Di bawah Presiden Mauricio Macri, sebenarnya Argentina telah menetapkan target inflasi yang moderat dalam rentang 2016-2018, serta dilakukan upaya yang sungguh-sungguh. Ketika inflation targetting jadi acuan kebijakannya, pada tahun 2019 Argentina menetapkan inflasi berada pada kisaran 5% dengan deviasi 1,5%. Masalahnya, kenapa inflasi tahun ini masih jauh dari target hingga menyentuh di atas 40%? Kuncinya adalah masalah kredibilitas.

Di samping itu, mengapa ekspektasi inflasi gagal merespons perubahan kebijakan moneter yang sangat ketat di Argentina? Perhatikan gambar di bawah untuk memperoleh jawabannya. Kuncinya terletak pada nilai tukar. Pada tahun 2001, satu dolar AS diperdagangkan hanya sama dengan satu peso Argentina. Bandingkan dengan saat ini, di mana satu dolar AS dihargai dengan 44 peso (terjadi akumulasi depresiasi peso Argentina sebesar 4.000%). Sebaliknya, sejak tahun 2001 yen Jepang mengalami apresiasi terhadap dolar AS sebesar 12% (dan hampir 70% sejak sistem nilai tukar floating diperlakukan pada tahun 1971).

Karena itu, pasar sangat percaya pada yen, dan sebaliknya tidak percaya pada peso. Selama pasar mengalami tekanan, seperti global financial crisis tahun 2008, terjadi pelarian modal tidak hanya ke dolar AS (sebagai cadangan devisa global) tetapi juga ke yen (dan swiss franc) tatkala hampir mata uang lain mengalami crashed.

Kasus inflasi di Argentina
Kasus inflasi di Argentina

Tren pergerkan mata uang yen yang cenderung menguat tersebut memperkuat preferensi pola konsumsi dan alokasi aset yang sudah terjadi sejak tahun 1980. Yaitu, dengan terjaganya daya beli tabungan masyarakat Jepang, maka masyarakat Jepang lebih tertarik menanamkan dananya pada aset yang denominasinya dalam yen. Karena itu, tidak heran kalau obligasi pemerintah Jepang masih sangat dipercaya oleh masyarakat Jepang, walaupun vulnarabelitasnya  sudah mendekati lampu merah.

Adapun bagi Argentina, karena mengalami inflasi yang kronis dan kecenderungan depresiasi, maka masyarakatnya lebih tertarik menempatkan asetnya dalam dolar AS. Ketika terjadi kebijakan berupa pesoization in January 2002, dengan cara memaksa deposito dan pinjaman dalam dolar di bank domestik diharuskan dikonversikan dalam peso, maka itu hanya berakibat pengurangan pemakaian dolar yang sangat artifisial dan sementara. Sehingga banyak warga Argentina yang kaya lantas menempatkan tabungan dolarnya di luar negeri, yang berakibat rendahnya tingkat tabungannya. Menurut Christoph Trebesch, ekspektasi inflasi akan tetap tinggi jika suatu perekonomian sangat bergantung pada aliran modal panas yang ditandai dengan ketidakstabilan mata uangnya , seperti kasus Argentina.

Pertanyaan berikutnya adalah apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk membalikkan ekspektasi inflasi yang membandel ketika kebijakan bank sentral tidak mencukupinya?

Dalam kasus Jepang, untuk meyakinkan sektor swasta bahwa inflasi yang lebih tinggi merupakan kecenderungan masa depan, maka dibutuhkan kebijakan untuk memutus mata rantai penetapan upah sektor publik yang dikaitkan dengan inflasi sebelumnya. Dengan demikian, dengan adanya kenaikan upah sektor publik, akan diikuti oleh peningkatan upah sektor swasta dan peningkatan penentuan harga produknya. Sehingga kebijakan yang mengendorkan kehati-hatian fiskal di suatu negara yang utang publiknya menumpuk akan mendorong depresiasi yen. Akhirnya, peningkatan inflasi akan menjadi bagian solusi dari akumulasi utang publik maupun swasta di Jepang yang selama ini membandel.

Adapun bagi Argentina, agar dapat menghindari kausalitas antara harga dan upah, perlu dilakukan kebijakan yang mereduksi upah riil yang dimulai dengan sektor publiknya, dengan cara melakukan deindeksasi upah terhadap inflasi. Secara politis langkah itu sulit diimplementasikan, tetapi dibutuhkan waktu dan keberanian untuk merealisasikan. Di samping dapat meredam ekspektasi inflasi, pemangkasan upah riil dapat memitigasi apresiasi peso yang menyebabkan defisit neraca transaksi berjalan selama ini di Argentina. Bagi negara seperti Argentina, yang sedang menghadapi kesulitan di pasar modal internasional, maka defisit transaksi berjalan adalah suatu kemewahan yang luar biasa.

Karena itu, tatkala ekspektasi inflasi sangat membandel, di mana kebijakan bank sentral saja tidak cukup mengatasinya, perlu dilakukan kebijakan lain yang dilakukan oleh pemerintah, yang dalam hal ini misalnya kebijakan upah. Hal itu berarti harus ada kebijakan bauran antara kebijakan moneter dan kebijakan pemerintah lainnya. Kalau strategi tersebut dapat diimplementasikan, maka dapat dipastikan ekspektasi inflasi arahnya bisa dibalikkan, sehingga inersia inflasi yang selama ini membandel dapat teratasi.

Tri Winarno, Penulis Buku: Indonesia Menyikapi Dinamika Ekonomi Global

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com