Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dwi Mukti Wibowo, Deputi Direktur Departemen Komunikasi, Bank Indonesia

Dwi Mukti Wibowo, Deputi Direktur Departemen Komunikasi, Bank Indonesia

Metamorfosis Dunia Bisnis, Habis Gelap Terbitlah Terang

Selasa, 28 April 2020 | 23:44 WIB
Dwi Mukti Wibowo *)

Corona virus disease 2019 (Covid-19) telah menghantam sendi-sendi ekonomi dan mengancam krisis. Lebih dari 200 negara di dunia kini menangis. Tak terkecuali Indonesia. Pandemi Covid-19 membawa dampak buruk terhadap aktivitas ekonomi dan bisnis. Menimbulkan penurunan tajam pada produksi, rantai pasokan, dan konsumsi yang makin menipis. Dunia bisnis pun harus mengalami nasib yang miris.

Pemilik usaha harus membuat pilihan kritis. Bila terus berbisnis, risiko modal makin menipis. Atau, bahkan gulung tikar dengan konsekuensi modal terkikis. Belum lagi untuk membayar pesangon karyawan yang masa kerjanya berakhir tragis. Apa yang harus dilakukan di tengah kondisi yang semakin kritis?

Hanya satu, yaitu banting setir dengan melakukan metamorfosis. Hal itu agar usahanya tetap eksis meskipun harus bertahan dengan cash flow kembang kempis. Apa yang dimaksud dengan metamorfosis? Metamorfosis berasal dari kata methamorphoo (artinya: “saya berubah”) adalah akar dari kata ‘change’ atau ‘perubahan’ atau ‘pembaruan’.

Dalam konteksnya dengan metamoprfosis dunia bisnis, telah terjadi perubahan pada struktur maupun fungsi dunia bisnis. Perubahan ini untuk menyesuaikan dan mempertahankan kesinambungan usaha bisnis, seiring dengan perubahan dan perkembangan ekosistem dunia yang telah berubah drastis. Kenapa dunia bisnis harus melakukan metamorfosis? Ada yang memprediksi pandemi Covid-19 akan mereda selama tiga bulan ke depan.

Yang pesimistis memperkirakan 1-2 tahun lagi ke depan. Karena jika hanya tiga bulan, dikhawatirkan wabah akan kembali terjadi, sejauh vaksin belum diketemukan. Ketakutan dan panic phobia dipastikan akan mewarnai di setiap aktivitas kehidupan. Bukan mustahil jika kapasitas duduk di pesawat, di bioskop serta di tempat seminar bakal disesuaikan.

Sebagian rute moda transportasi masih diblokir. Waktu kerja di perusahaan padat karya masih digilir. Pekerja berumur dan rentan penyakit kronis rela jika harus diparkir. Bahkan, social distancing masih ada di beberapa area, menandakan belum berakhir. Dunia usaha harus kembali berpikir.

Bagaimana metamorphosis yang dipilihnya mampu menangkap peluang dan mengakomodir aktivitas dan kebutuhan konsumen yang lebih mengedepankan barang terkait kebersihan, kesehatan, makanan maupun minuman. Karena konsumen akan spending of money untuk berjaga-jaga, tapi bukan berarti kikir.  Pemenuhan kebutuhan pasar dan daya beli konsumen telah mereka minimalisir. Kelangsungan hidup menjadi hal utama yang sekarang mereka pikir. Siapa yang harus melakukan metamorfosis?

Dalam konteks krisis, dunia bisnis yang bisa bertahan dan survive bukan mereka yang paling kuat dan menguasai, paling besar, atau paling berpengaruh. Tapi yang paling mampu beradaptasi di segala kondisi, bahkan dalam kondisi sesulit apapun. Termasuk kondisi krisis seperti ini.

Bagi pelaku bisnis yang tidak bisa bertahan, namun menginginkan bisnisnya tetap survive, maka ia harus berani mengambil sikap. Metamorfosis yang mereka lakukan dengan re-branding atau ganti usaha baru, penyesuaian usaha (business adjustment), strategi pengambilan keputusan yang tepat, strategi komunikasi bisnis, manajemen pemasaran, hingga efisiensi anggaran.

Ambil contoh, jika semula ia melakukan hard selling, maka ia harus berani melakukan soft selling. Metamorfosis seperti ini bisa dilakukan oleh beberapa pelaku bisnis yang terupuk saat ini seperti: hotel, travel, bioskop, mall, retail, elektronik, properti, persewaan kantor, restoran, dan lain-lain.

Apa yang harus dilakukan untuk mendukung metamorfosis? Dalam kondisi krisis seperti sekarang penggunaan teknologi sangat berperan besar dalam membantu kesinambungan operasional bisnis. Berarti hal yang harus dilakukan adalah mempergunakan teknologi secara maksimal.

Penggunaan e-commerce, remote working, logistic online, online schooling, webminar/ online training, Netflix, Indihome, Telco, telemedicine, cleaning services bukan hal mustahil lagi untuk berbisnis. Bahkan bisnis sekelas usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sekalipun. Misalkan saja dari bisnis travel bermetamor fosis ke bisnis online food delivery yang saat ini benar-benar booming.

Jika menampakkan hasil, dari bisnis ini bisa dikembangkan dengan bisnis food delivery melalui sosial media (sosmed) dan atau sharing session atau webminar tentang “Mencoba Bangkit dari Keterpurukan” lewat zoom. Sambil mendengarkan seminar yang berjam-jam, peserta pasti mau jika ditawari dengan layanan pemesanan makanan. Hitung saja untungnya, dalam kurun waktu dua jam, berapa ratus pesanan mengalir. Apa yang menjadi faktor pendukung dalam melakukan metamorfosis?

Pertama, penerapan work from home (WFH) menjadi pangsa pasar yang jelas dan luas. WFH juga akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya karena biaya operasional dapat ditekan.

Kedua, keberadaan website merupakan sarana yang efektif untuk membantu keluar dari krisis. Website harus bisa menjadi e-commerce agar mampu meningkatkan order dan omzet. Serta mampu menjadikan produk yang ditawarkan menjadi trending dan booming.

Ketiga, pelaku bisnis harus memasuki dunia digital. Harus menjual melalui sosmed (soft selling), memiliki channel sendiri dan mengembangkannya, memiliki market place sendiri. Kapan metamorfosis di dunia bisnis dikatakan berhasil?

Tentu saja harus bisa memberikan kesempatan pada pelaku bisnis melakukan hal yang belum pernah dipikirkan sebelumnya. Perubahan itu mungkin sudah ada sebelumnya, namun perubahan telah menjadikan lebih baik dari sebelumnya. Dan keinginan itu yang memunculkan bentuk perubahan. Manajemen Taman Safari memberikan contoh bagaimana ia mengalami metamorfosis. Ia harus mengubah dari bisnis in area, ke virtual area.

Sekarang mereka melakukan IG live untuk tour dan talkshow dengan pelatih satwa di sana. Perubahan strategi bisnis ini barangkali belum pernah terpikirkan jika tidak ada Covid-19. Dari sisi konten tontonan mungkin sama, namun jangkauan penonton lebih luas.

Dalam waktu yang sama, anak-anak di seluruh Indonesia akan menonton acara serupa. Apalagi jika mereka dapat menyuguhkan program yang sangat menarik bagi anak-anak maupun orang tuanya. Dari sisi income, mungkin jauh lebih baik dari sebelumnya.

Metamorfosis di dunia bisnis juga harus bisa menciptakan peluang baru bagi pelaku bisnis. Seperti pepatah yang mengatakan: jangan takut akan perubahan! Kita mungkin kehilangan sesuatu yang baik, namun akan memperoleh sesuatu yang lebih baik lagi. Contoh perubahan di Taman Safari sepertinya perlu menjadi referensi di dunia jasa hiburan, event organizer, wedding organizer.

Siapa yang enggak akan terpukul manakala konsumen harus menunda bahkan membatalkan kontraknya. Metamorfosis usaha menjadi penting. apalagi jika mereka tidak punya side business lainnya. Mereka harus bisa mengubah mindset- nya dan strategi bisnis agar mendapatkan peluang usaha baru.

Para artis papan atas kini telah melakukan metamorfosis. Ketika income-nya turun, atau bisnisnya berkurang drastis maka ia harus banting setir dengan berbagai pilihan. Membangun acara live di IG atau sebagai youtuber mungkin mengurangi pendapatan mereka, tetapi berbanding terbalik dengan jumlah pemasang iklan, atau para subscriber-nya.

Metamormofis di dunia bisnis juga harus mampu memberikan tiga hal yang dimiliki dalam hidup, yaitu perubahan, pilihan, dan prinsip. Dampak wabah Covid-19 tidak saja menebar gelombang kepanikan dan keputusasaan. Tetapi juga gelombang perubahan.

Pandemi ini telah mengecilkan dunia seseorang/ pebisnis. Ia harus mengurung diri dan melakukan segala aktivitas bisnis di rumahnya (WFH). Pelaku bisnis tak leluasa, karena virus ini membatasi ruang geraknya. Namun, Covid-19 juga memberikan pilihan lainnya. Mempersempit dunia, namun juga memperluas kesempatan.

Bagi pelaku bisnis yang mampu memanfaatkan peluang, menemukan prospek bukan hal yang sulit. Melalui dunia sosial media, ia mampu berelasi dengan siapapun tanpa mengenal ruang, waktu dan jarak. Ia bisa bertemu dengan berbagai pelaku bisnis dan usahanya di berbagai negara. Bahkan di benua yang berbeda.

Meskipun belum mengenal sebelumnya, tapi tujuan, kepentingan dan kesempatan mempersatukan dan mempertemukannya di dunia maya, tapi untuk berbisnis di dunia nyata. Setelah memberikan pilihan, dunia sosial media juga memberikan prinsip. Semua aktivitas bisnis harus dilakukan secara online.

Prinsipnya, online membuka kompetisi dan memudahkan berkolaborasi. Metamorfosis telah memberikan kesempatan baru untuk maju dan bersaing secara profesional. Keberhasilan dunia bisnis melakukan metamorfosis, menandakan jika ia mampu survive dari krisis.

Krisis Covid-19 telah mengajarkan bagaimana pelaku bisnis harus melakukan perubahan terhadap dirinya sendiri. Perubahan yang prosesnya terkadang harus diikuti dengan rasa sakit dan kegelapan jalan meniti.

Namun peluang dan kesempatan ke arah kesempurnaan telah membuat mereka menemukan asa dan lenteranya. Seperti apa yang telah ditulis Raden Adjeng Kartini (1879–1904), terkadang kesulitan harus kamu rasakan terlebih dahulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu. Jadi, habis gelap terbitlah terang.

 

*) Deputi Direktur Departemen Komunikasi, Bank Indonesia

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN