Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Meithiana Indrasari, Wakil Rektor Universitas Dr.
Soetomo (Unitomo) Surabaya, President of International Council for Small Business (ICSB) Surabaya

Meithiana Indrasari, Wakil Rektor Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, President of International Council for Small Business (ICSB) Surabaya

Mewujudkan Co-Creation Warung Kopi Milenial

Meithiana Indrasari *), Minggu, 23 Februari 2020 | 08:14 WIB

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop) tengah berusaha membangunkan soko guru ekonomi yang selama ini masih tertidur. Adalah sebuah keniscayaan bahwa Kemenkop perlu kerja cerdas yang didukung oleh teknologi dan daya inovasi untuk bisa melancarkan proses kreatif para pelaku UMKM di negeri ini.

Penyusunan RUU Omnibus Law klaster perlindungan dan pengembangan UMKM perlu mengadopsi terbentuknya keuletan dan daya inovasi UMKM di Jerman.

Pengembangan UMKM di Jerman pada awalnya terfokus pada pelatihan usaha bagi pemuda disertai skema pembiayaan yang dilakukan oleh Bank Pembangunan Jerman (KfW). Bank pemerintah itu memiliki divisi yang memfokuskan diri sepenuhnya pada pendanaan UMKM.

Ditinjau dari aspek ketenagakerjaan UMKM di Jerman kini menyerap sekitar 79% dari total angkatan kerja di sana. UMKM menjadi salah satu sektor usaha yang juga diunggulkan oleh Bank Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor jasa karena memiliki kontribusi yang meningkat terhadap perekonomian serta perdagangan Indonesia.

Salah satu jenis UMKM yang berkembang pesat dalam lima tahun terakhir adalah kafe dan warung kopi (warkop). Namun kedua jenis UMKM ini relatif nyaris belum terjamah oleh binaan dan suntikan dana bank.

Usaha mikro level kecil, yang dikenal sebagai warkop merupakan bentuk bisnis jasa resto yang tergolong masih dikelola secara tradisional, yang keberadaannya sejak zaman pertengahan hingga sekarang terus ada.

Pola penyajian menu-menu makanan pendamping selain kopi seduhan cukup khas, dan terkesan seadanya, yang keberadaan warkop atau kedai-kedai kopi tersebut memberikan gambaran perilaku kolektif yang menjadi kebiasaan masyarakat.

Dari segi harga juga relatif stabil meskipun dolar AS mengalami fluktuasi, keberadaan usaha warung kopi ini tidak terpengaruh sama sekali terhadap omzet penjualan. Artinya bisnis di sektor ini tidak tersentuh oleh hiruk pikuk kondisi perekonomian dan naiknya dolar, maupun krisis moneter.

Sebagian besar pemilik warkop mengambil keputusan berdasarkan intuisi atau persepsi terhadap lingkungan bisnis. Demikian pula dalam proses pengambilan keputusan strategis, pengelola warkop seringkali tanpa melalui perencanaan yang terstruktur, tidak mengembangkan sebuah perencanaan formal dan terhanyut dalam situasi yang ada dan relatif mengikuti mode serta pemenuhan kebutuhan pasarnya.

Warkop biasa dipakai tempat berkumpulnya remaja, hingga bapak-bapak yang ada hampir di setiap gang-gang atau kampung. Sebagai contoh di Jawa Timur, setiap tahun jumlahnya bertambah. Namun belum mendapatkan perhatian dari perbankan atau organisasi yang membina kewirausahaan pada masyarakat.

Warkop dan kafe di Surabaya sebagai gambaran, menurut data dari Satpol PP, setiap tahun tumbuh hingga 10%. Hampir di setiap jalan ada, dengan karakteristik pengunjung yang bervariatif. Namun hampir seluruhnya tidak pernah kelihatan sepi.

Model pengelolaan usaha warkop baik yang tradisional maupun yang disebut sebagai warkop milenial atau kekinian memiliki keunikan yang karakteristiknya hampir sama. Antara lain memberikan fasilitas internet free WiFi sebagai salah satu strategi menarik pengunjung, serta musik yang digemari sebagian besar pengunjung, atau tambahan sarana untuk karaoke.

Dari segi penataan ruang antara warkop tradisional dengan warkop milenial tentu jauh berbeda, bila warkop tradisional hanya mengandalkan seduhan kopi, dengan pendamping makanan tradisional, serta mie instan dengan ruang yang mampu menampung 5-10 pengunjung.

Sedangkan warkop milenial memiliki ruang cukup luas dengan bangku yang ditata selonggar mungkin, didesain dengan hiasan yang artistik, dan memiliki variasi menu makanan pendamping yang sudah dikembangkan, bahkan menu-menu yang diadaptasi dari beberapa masakan luar negeri.

Warkop milenial juga memiliki fungsi bukan sekadar tempat mampir minum kopi dan nongkrong, tetapi juga digunakan sebagai tempat pertemuan, rapat, dan ulang tahun. Tren konsumsi kopi di kalangan kaum milenial berpotensi besar meningkatkan jumlah konsumsi kopi di Indonesia. Pernyataan tersebut didukung oleh data yang bersumber dari International Coffee Organization

(ICO) yang menunjukkan adanya tren kenaikan konsumsi kopi di Indonesia Sejak 2015 ICO merilis data pertumbuhan jumlah peminum kopi di Indonesia, yaitu sebesar 8% atau lebih besar daripada pertumbuhan dunia yang hanya mencapai 6%.

Selaras dengan ICO, data Hasil Proyeksi Konsumsi Kopi di Indonesia yang dirilis oleh Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian yang dirilis pada tahun 2018 pun menunjukkan terjadinya peningkatan konsumsi kopi nasional selama empat tahun terakhir. Rata-rata pertumbuhan konsumsi kopi nasional mencapai angka 2,49%.

Apabila melihat data peningkatan konsumsi kopi tersebut, tak dapat dimungkiri bahwa bisnis kedai kopi merupakan bisnis yang memiliki prospek yang baik ke depannya. Sehingga perlu menginovasikan model bisnisnya agar dapat menarik para konsumen.

Inovasi pada warkop milenial sebaiknya disertai dengan melakukan strategi co-creation. Karena portofolio usaha warkop milenial di masa mendatang semakin mengalami intersection atau irisan dengan industri kreatif, travel dan media baru untuk penetrasi pasar.

Warkop milenial mesti meneladani para marketers kelas dunia yang berhasil menerapkan emotional marketing. Contoh emotional marketing yang berhasil diterapkan secara gemilang dilakukan Howard Schultz dari Starbucks.

Konsep third place for drinking coffee Starbucks penuh konstrain emotional marketing. Kini industri pariwisata dan kreatif sedang bertransformasi menjadi multikorporasi. Yaitu transformasi korporasi dari service company menjadi network company. Sebagai per usahaan jaringan, implikasinya akan memperluas portofolio bisnis dan juga tingkat utilitas aset perusahaan akan menjadi lebih efektif.

Tranformasi di atas mesti ditiru oleh warkop milenial. Di mana portofolio usahanya memerlukan transformasi ke arah co-creation (colaboration creation). Perlu dicatat co-creation merupakan definisi yang dirumuskan oleh CK Prahalad untuk menjelaskan pendekatan baru dalam inovasi model bisnis.

Dalam karyanya yang bertajuk The New Age of Innovation, ditekankan tentang inisiatif dan metode baru dalam menciptakan produk serta pengalaman melalui kolaborasi perusahaan, konsumen, pemasok, dan mitra distribusi yang semuanya saling terhubung dalam sebuah jaringan inovasi. Prahalad menekankan kunci dalam co-creation yakni pentingnya menciptakan sebuah platform, semacam produk generik yang bisa disesuaikan lebih lanjut.

Keniscayaan, media sosial telah membuat ekoistem co-creation lebih mudah terwujud. Patut mengambil pelajaran dari langkah Mystarbucksidea sebagai contoh langkah co-creation yang sukses.

Melalui media baru yang telah dibangun oleh Starbucks itu, publik diundang oleh Starbucks untuk aktif memberikan ide atau gagasannya.

Selain mendapatkan komunitas atau klub yang bakal menjadi konsumen loyal Starbucks juga berfungsi dalam proses inovasi. Melalui proses co-creation inilah akhirnya Starbucks berhasil membuat aneka produk yang lebih sehat dan sesuai dengan hasrat sebagian besar konsumennya.

*) Wakil Rektor Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, President of International Council for Small Business (ICSB) Surabaya

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN