Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Said Kelana Asnawi, Pengajar pada Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie Jakarta

Said Kelana Asnawi, Pengajar pada Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie Jakarta

Milenial dan Investasi Saham

Rabu, 24 Februari 2021 | 23:50 WIB
Said Kelana Asnawi *)

Seorang milenial ngobrol tentang investasi. Walau newbi, dia antusias membicarakan saham fenomenal belakang ini. Dia merasa bingung, mengapa tetiba harga saham turun (tajam)? Saya menyampaikan padanya pandangan teoritis dan praktis.

Secara teoritis ada istilah disposition ef fect (DE), kecenderungan dari investor untuk menjual portofolio yang untung (realized gain) dan menahan yang rugi. Secara praktis, supaya ada gerakan (harga), maka ada hembusan (informasi). Prinsipnya, begitu ada informasi maka ada potensi harga bergeser.

Informasi ini bisa true juga false. Jika orang mengetahui secara akurat/pasti, maka sudah pasti bisa ‘beat the market’. Newbi ini langsung dengan antusias menyatakan, saat ini tampaknya momen bagus untuk ‘memborong’. Lalu dia bertanya, apakah informasi itu dari berita? Dari pernyataannya ini saya menduga: inilah tipe investor uninformed, tergesa melompat ke laut, walau sebenarnya baru saja belajar renang.

Fenomena Milenial

Besaran transaksi saham harian bulan Januari 2020 berkisar Rp 8 triliun, November 2020 sempat mencapai Rp 32 triliun, dan di Desember 2020 ditutup pada kisaran Rp 14,5 triliun.

Kenaikan tersebut diduga efek pandemi (online) dan hadirnya milenial. Di beberapa grup saham yang saya ikuti, topik perbincangan biasanya; (i) gosip-rumor tentang sebuah saham untuk hari esok/ ke depan, baik rumor harga naik/turun.

Saya menekankan kata rumor, bukan informasi, karena sebatas ‘keinginan’ dari si pembuat status/komentar; (ii) hampir keseluruhannya berkonotasi analisis teknikal; (iii) bertambah tawaran ‘training’ dengan adanya ‘join’ grup, memakai jargon me narik: konsisten cuan, rahasia para bandar, dan lain-lain. Konon belakangan ‘join group’ ini dijadikan ‘tumbal’ untuk membeli/menjual saham tertentu, di mana saham tersebut telah dikuasai oleh sekelompok orang.

Akhir-akhir ini (iv) hadirnya sang milenial, dengan status ‘ratapan kumenangis’. Bahkan beberapa status, saya menduga depresi, karena ketidakberaturan apa yang disampaikannya. Ini harus menjadi kewaspadaan bersama, karena dapat merugikan bangsa secara keseluruhan.

Milenial harus tahu bahwa sa ham adalah investasi jangka panjang, berupa konsep kepemilikan perusahaan. Perusahaan, sebagai entitas bisnis, harus melakukan operasi secara terstruktur, memerlukan waktu, manajemen risiko, upaya pro duksi dan penjualan, dan dalam periode tertentu barulah diketahui perusahaan tersebut untung/rugi.

Untung dan rugi inilah yang menjadi milik investor, dan dapat diwujudkan dengan salah satunya kenaikan harga saham (yang lain berupa pembagian laba, atau dividen).

Dalam praktiknya, sisi positif saham adalah barang likuid yang dapat diperjualbelikan dengan mudah. Milennial melihatnya dari sisi ‘akhir’ ini saja. Mungkin sisi akhir ini yang di’gosip’kan, di mana sebenarnya ‘berdosa’ yang mengajarkannya, karena sengaja melupakan esensi!

Konsep ini tidak teruji menunjukkan milenial mampu menjadi pengusaha andal kelak. Sebaliknya kerugian dari transaksi ini, dapat menye babkan luka finansial yang dalam, trauma investasi, dan mengurangi sumber potensi wirausaha.

Berinvestasi dari muda apakah baik? Tentu, harus dianjurkan, namun bertanggung jawab. Pertama, milenial harus memulai secara fundamental, bukan mengikuti rumor lalu membeli saham dengan dasar seperti itu. Lihat produknya di pasar riil, coba rasakan apakah itu nyata? Tanyakanlah ke depan, apakah produk ini masih dipakai dan tambah maju?

Dengan dasar itu, barulah mencari saham di pasar modal. Tanyakanlah harganya, apakah realistis? Lihatlah instrument sederhana seperti PER, PBV. Bayangkanlah jika sebuah saham PER-nya 500? Tentunya sangat mahal. Sekalipun ramai transaksinya, percayalah itu sangat berpotensi ‘monkey business’.

Kedua, berprinsip investasi, di mana hal ini dilakukan pelanpelan saja dengan prinsip sedikit saja dulu, tidak terburu-buru dan diversifikasi. Jadi belilah 10-20 jenis saham, dari berbagai industri (perbankan, komunikasi, properti, tambang, pertanian, makanan, kimia); belilah 1-2 lot saja terlebih dahulu; atau berimbang, dan atau jika dirasa kurang bisa dinaikkan 10-100 lot. Amati perubahannya.

Ketiga, tambahlah investasi secara rutin (bulanan), yang dapat bersumber dari penghematan uang saku dan atau diberi modal oleh orang tua. Jika bersumber dari penghematan uang saku, milenial telah sekaligus memindahkan jiwa konsumtif menjadi investasi. hal ini dapat menjadi modal bangsa. Tambahan ini tidak perlu banyak (boleh banyak) tetapi yang penting konsisten.

Keempat, belajarlah mencari informasi berkenaan kondisi ekonomi/bisnis/teknologi; utama nya: (i) bisnis apa yang akan berkembang ke depan; (ii) faktor

 apa yang memengaruhi; dan lain nya. Sebagai ilustrasi, wabah Covid termasuk hal yang tidak terduga, menye bab kan ke butuhan berkenaan kesehatan meningkat; sehingga wajar terjadi kenaikan harga pada sek tor farmasi. Namun sekali lagi, apakah perusahaan farmasi tersebut cukup bagus? Bagaimana dengan PER-nya? Jika berinvesti saham dengan me tode ini, milenial berinvestasi dengan

 bertanggung jawab, pe nuh pertimbangan, sehingga tidak menimbulkan kepanikan. Adapun potensi kerugian dari turunnya harga saham, dapat dianggap sebagai konsekuensi risiko bisnis.

Kelima, tidak terlalu perlu untuk memamerkan jati diri, dengan menunjukkan portofolio (untungnya). Kalau ikut slogan gunung es, yang diam-diam, boleh jadi mendapatkan portofolio yang lebih baik. Keenam, dikelola sendiri, sebagai bagian pembelajaran.

Milenial dan Situasi Pasar

Milenial dengan energi besar, belajar langsung dari situasi pasar, di mana proses ke jadiannya kira-kira sebagai berikut. Pertama, harga harus berubah, agar ada aktivitasnya, dan menimbulkan potensi keuntungan bagi berbagai stakeholder yakni: bursa, sekuritas, dan juga spekulan atau investor atau scalper atau bandar.

Perubahan harga juga diperlukan untuk kepentingan ‘uang tunai’ investor, sehingga saham dapat menjadi alternatif menabung yang juga likuid, dengan ‘risk-return’ yang berbeda. Setiap detik harga saham dapat berubah, padahal secara fundamental aktivitas bisnis tidak bisa berubah dalam hitungan detik.

Karena itu perlu atau dapat dihembuskan info-info; sehingga perubahannya drastis, melonjak (naik/turun) secara gila. Jadi banyak saham yang sebelumnya berharga 400- an sekarang 2.000-an; harga 100 menjadi 1.000-an, begitu sebaliknya. Hal ini bukanlah hanya fenomena di Indonesia. Tentu saja ini tidak sehat bagi semua pihak, dan berbahaya buat pemula dan juga tidak cocok untuk perspektif investasi.

Kedua, banyaknya tawaran grup (rahasia bandar, taking profit, konsisten cuan, dll) secara sederhana mesti diartikan itu ‘tipuan’. Mengapa? Karena jika dia tahu pasti, tentu sudah dimanfaatkan sejak awal, dan tidak mungkin potensi keuntungan itu dibagikan. Mengapa dibagikan info potensi keuntungan? Jawablah sendiri.

Ketiga, milenial harus tahu, ada saham yang illiquid, dan jika sudah terkubur, dapat mati selamanya, setidaknya jika bangun, perlu waktu lama. Juga harus tahu istilah ‘bubble’, karena cobalah jawab apakah sama 100 dan 1.000? Jika tidak, lalu mengapa harga saham bisa bergerak liar seperti itu?

Kita bergembira masuknya milenial pada pasar modal, jika diikuti dengan pemahaman untuk investasi. Kehadiran banyak investor, diharapkan menjadi sarana pendanaan yang murah, transparan, dan mendorong banyak start-up. Dengan demikian, mungkin dapat terjadi fenomena terbalik di mana biasanya, sektor riil yang menawarkan sektor keuangan, dan saat ini, dengan kehadiran milenial: sektor keuangan menawarkan pada sektor riil. Ingat, investasi saham, memiliki ‘risk-return’ yang tinggi.

*) Pengajar pada Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN