Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Mismatch Valuasi Kinerja Ekonomi dan Indeks

Oleh Ricky Karunia Lubis, Jumat, 4 Januari 2019 | 09:03 WIB

Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) suatu negara, selain persepsi risiko investasi (credit default swap), menjadi indikator utama dalam berinvestasi, terutama bagi investor asing. Ekonomi Negara-negara maju seperti Jepang, Inggris, dan Jerman hanya mampu tumbuh 1-2% per tahun sehingga investasi, baik langsung maupun portofolio, di negara tersebut tidak semenarik dibanding di negara berkembang (emerging markets) yang mampu tumbuh di atas 5%.

Hal itu salah satunya dapat dilihat dari kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 37,85% dan saham sebesar 58% (data Bursa Efek Indonesia, November 2018). Lalu apa kaitannya dengan kapitalisasi pasar dan kinerja indeks?

Ekonomi Indonesia yang besar dan bertumbuh menjadi lahan bagi investor asing untuk memperoleh keuntungan, khususnya melalui pasar modal. Ekonomi negara mana pun merupakan cerminan dari kinerja swasta (perusahaan dan individu) di negara tersebut.

Namun, jika melihat indeks sebagai gambaran perekonomian, ada semacam mismatch valuasi antara kapitalisasi pasar terhadap kue ekonomi dan kinerja indeks. Idealnya, kinerja perusahaan sebagai faktor produksi terbesar menggambarkan kinerja perekonomian, tetapi persepsi ini sepertinya tidak berlaku di Indonesia saat ini.

Valuasi Berbeda

Kinerja suatu perusahaan diukur dari kemampuannya menghasilkan laba. Model valuasi sederhana yang digunakan adalah harga per laba (P/E). Namun, berbeda dengan ukuran valuasi bagi kinerja perusahaan, kinerja perekonomian dapat diukur dengan Kapitalisasi Pasar per PDB. Statistik menunjukkan, kapitalisasi pasar per PDB pada tahun 2017 Indonesia relatif rendah, yaitu sekitar 52% (data www. knoemaa.com).

Angka ini jauh di bawah Negara lain seperti SHComp Tiongkok (73%), BSE Sensex India (89%), PCOMP Filipina (93%), SET Thailand (121%), KLCI Malaysia (145%), DJIA Amerika Serikat (166%), SGX Singapura (243%), dan Hang Seng Hong Kong (1.272%), tetapi masih di atas VNINDEX Vietnam (51%), MOEX Rusia (41%), dan XU100 Turki (27%).

Melihat statistik ini, nilai pasar untuk ekonomi Indonesia sebenarnya sangat undervalued sehingga menarik untuk menanamkan modal portofolio. Valuasi kapitalisasi pasar terhadap PDB yang rendah bertolak belakang dengan valuasi kinerja indeks yang tergolong tinggi, yaitu 19,72 kali (data Bloomberg).

Sementara itu, negara dengan kapitalisasi pasar indeks terhadap PDB yang tinggi justru memiliki P/E yang lebih rendah dibanding indeks kita (IHSG), seperti Tiongkok (12,16 kali), Filipina (19,09 kali), Thailand (14,76 kali), Malaysia (18,99), Amerika Serikat (16,08 kali), dan Hong Kong (9,91 kali). Valuasi P/E IHSG hanya lebih rendah dibanding India (22,17 kali) dan Singapura (21,12 kali).

Sementara itu, kapitalisasi pasar terhadap PDB dan rasio P/E indeks di Rusia (5,48 kali), Vietnam (16,68 kali), dan Turki (6,59) sama-sama relative undervalued.

Mengapa Mismatched?

Kapitalisasi pasar IHSG adalah sebesar Rp 7.052 triliun atau 52% dari total PDB yang bernilai Rp 13.588 triliun pada akhir Desember 2017. Kapitalisasi pasar top 10 perusahaan terbuka di Indonesia adalah sebesar Rp 3.585 triliun (51% dari total kapitalisasi pasar) sehingga cukup merepresentasi kinerja indeks secara keseluruhan.

Ke-10 perusahaan ini bergerak di berbagai sektor, mulai dari pengolahan tembakau, industri makanan dan minuman, perbankan, perdagangan besar, hingga komunikasi dan informasi dan menghasilkan pendapatan sebesar Rp 906,82 triliun (7% dari PDB).

Dengan membandingkan kinerja indeks dengan kinerja perekonomian, tentu alasan ketidaksesuaian harga pasar terhadap kinerja keduanya dapat dilihat dari dua sudut pandang. Valuasi indeks pasar (rasio P/E) seharusnya mencerminkan valuasi kinerja perekonomian (kapitalisasi pasar per PDB).

Pertama, dari sisi kinerja indeks, valuasi P/E yang tinggi dapat merefleksikan dua kemungkinan, yaitu inefisiensi pada kuantitas dan kualitas kinerja perusahaan di dalamnya. Mismatch semacam ini dimungkinkan jika perusahaan yang listing di bursa efek bukanlah faktor produksi yang berkontribusi besar terhadap perekonomian.

Dari laporan statistik BEI kuartal IV-2017, ada 566 perusahaan publik yang listing di BEI. Jika 10 perusahaan menguasai 51% kapitalisasi pasar di indeks, maka 49% kapitalisasi pasar adalah milik 556 perusahaan lainnya.

Inilah yang saya maksud inefisensi kuantitas peserta bursa terhadap bobotnya pada indeks. Kapitalisasi pasar 556 perusahaan adalah sebesar Rp 3.468 triliun dengan rata-rata Rp 12,68 miliar per perusahaan. Rata-rata ini berdisparitas sangat lebar terhadap rata-rata kapitalisasi pasar 10 perusahaan yang bernilai Rp 705,36 triliun (1:56).

Masifnya geliat perusahaan melakukan initial public offering (IPO) di bursa tidak serta-merta dapat dianggap sebagai sebuah prestasi. Otoritas bursa seharusnya lebih berfokus pada kualitas perusahaan yang listing karena akan sangat berdampak pada kinerja indeks secara keseluruhan.

Gencarnya IPO perusahaan “lapis luar” yang belum tentu mampu menghasilkan laba justru mendilusi nilai laba per saham pada indeks. Masih banyak perusahaan besar yang belum listing di bursa efek, seperti Djarum, Sinar Sosro, Danone, Nestle, dan Kapal Api. Ini menjadi tantangan bagi otoritas bursa agar indeks kita tidak hanya gemuk, tetapi juga berkualitas.

Kedua, inefisiensi perekonomian secara makro dapat menghambat faktor produksi dalam menghasilkan bottom line yang optimal. Dari data yang saya himpun, ada tiga besar faktor yang menghambat daya saing ekonomi: (1) biaya tenaga kerja, (2) biaya logistik, dan (3) biaya meminjam uang. Insight Report yang dirilis World Economic Forum berjudul “The Global Competitiveness Report 2017-2018” menunjukkan dari 137 negara, Indonesia menempati posisi 36, masih di bawah Singapura (3), Malaysia (23), dan Thailand (32). Ada 12 pilar yang dijadikan komponen mengukur indeks daya saing ini, salah satunya biaya tenaga kerja (labor cost).

Indonesia menempati posisi 96 dari 137 negara berdasarkan labor cost ef ficiency dengan redundancy cost di posisi 133. Statistik ini menunjukkan bahwa biaya tenaga kerja Indonesia belumlah efisien. Dari sisi logistik, berdasarkan laporan World Bank berjudul “Logistics Performance Index”, di tahun 2018 Indonesia mengalami kenaikan peringkat, dari posisi 63 menjadi 46. Namun, biaya logistik, menurut catatan yang ada, masih sangat tinggi, yaitu 23,5% dari PDB, jauh di atas negara tetangga Malaysia (13%), Singapura (8%), Vietnam (15%), dan Thailand (13%).

Selain itu, tingkat suku bunga kredit Indonesia relatif tinggi, yaitu di atas 11%. Suku bunga kredit yang tinggi tentu berpengaruh terhadap bottom line perusahaan (i.e. laba bersih). Fakta menarik lainnya, dalam Statistik Perbankan Indonesia (SPI) Desember 2017, rasio rata-rata net interest margin (NIM) perbankan di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan negara lain, yaitu dengan rata-rata 5,33% pada 2017.

Tak ayal, dengan NIM yang besar, empat perbankan Tanah Air mampu menguasai kapitalisasi terbesar di Indonesia. Namun, ekses ini kurang baik bagi perekonomian secara keseluruhan karena biaya meminjam uang yang tinggi. Kita berharap permasalahan struktural yang menjadi hambatan primer pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat berangsur membaik.

Dari kedua sudut pandang ini, baik kinerja indeks maupun kinerja perekonomian, kita tentu berharap kinerja indeks Indonesia mampu merepresentasi kinerja perekonomian secara keseluruhan. Sehingga investor tidak hanya tertarik pada pertumbuhan ekonominya, tetapi juga pada valuasinya. Otoritas bursa sebaiknya fokus membidik perusahaan- perusahaan besar untuk listing di pasar modal agar kinerja indeks menjadi lebih baik dan mampu mencerminkan kinerja perekonomian Indonesia.

Ricky Karunia Lubis, Fiskus dan Pelaku Pasar Modal

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA