Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Peneliti Indef

Peneliti Indef

Momentum Kuat Integrasikan Pelindo

Rabu, 5 Mei 2021 | 11:03 WIB
Bhima Yudhistira

Tahun ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan merger Pelindo I, II, III dan IV karena momentum perbaikan pelayanan pelabuhan akan sejalan dengan tren kenaikan ekspor, di tengah pemulihan ekonomi nasional dan global dari dampak pandemi Covid-19.

Integrasi Pelindo I hingga Pelindo IV dapat menjadi sebuah gebrakan besar untuk meningkatkan efisiensi di internal BUMN jasa logistik, sekaligus bagi industri logistik Tanah Air yang saat ini masih mendapatkan predikat termahal di dunia.

Sudah bertahun-tahun lamanya, Indonesia sulit bersaing dengan negara lain untuk biaya logistik. Betapa tidak, biaya pergudangan, pendistribusian barang dan jasa logistik lainnya mencapai 23,5% dari produk domestik bruto. Angka ini lebih besar dua kali lipat dari biaya logistik rata-rata negara-negara di dunia yang hanya sebesar 12% dari PDB.

Negara tetangga Indonesia, yaitu Malaysia dan Singapura, bahkan sudah bisa menekan biaya logistik masing-masing menjadi sebesar 13% dan 8% dari PDB. Kondisi ini menjadi tantangan bagi subsektor logistik Indonesia dan perlu segera diatasi.

Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menanganinya. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Urusan logistik sangat luas dan banyak melibatkan “aktor” dari hulu hingga ke hilir. Masing-masing pelaku memang perlu bersinergi dengan perannya masing-masing.

Salah satu hambatan logistik di Indonesia adalah dari subsektor angkutan laut, khususnya di pelabuhan. Mulai dari tingginya beban logistik dari biaya THC yang terdiri atas handling charge dan biaya tambahan atau surcharge hingga biaya sewa gudang dan freight.

Perlu dicatat juga bahwa selain pada saat barang berada di pelabuhan, faktor lain, seperti trucking cost ikut menambah beban logistik. Dengan kata lain, masalah logistik di Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun lalu sangatlah kompleks.

Semua persoalan ini menunjukkan kerja efisiensi biaya logistik bukan hanya berada di bawah kendali Pelindo, tetapi perlu kerja sama dari berbagai pemangku kepentingan. Meski tentu tidak bisa serta merta menyelesaikan semua masalah logistik nasional, penanganan jasa logistik di pelabuhan jelas bisa menjadi titik penentunya.

Saat ini, jasa angkutan laut di Indonesia dikelola oleh 4 BUMN, yaitu Pelindo I, II, III dan IV yang dibedakan berdasarkan wilayah kerjanya. Pemisahan ini menimbulkan sejumlah masalah, antara dari sisi standardisasi, koordinasi, inefisiensi penggunaan modal dan terbatasnya kapasitas bisnis.

Ada beberapa perbaikan yang diharapkan dapat dilakukan dengan integrasi Pelindo, yaitu kemampuan operasional meningkat, sehingga perusahaan lebih efisien dan kualitas jasa yang diberikan lebih baik.

Dengan adanya penyatuan manajemen, maka akan terjadi integrasi sistem, sehingga menjadikan pemindahan barang dari satu tempat, dari satu pelabuhan ke wilayah Pelindo atau pelabuhan lain, lebih lancar dan tepat waktu.

Merger Pelindo juga akan memudahkan dibentuknya standardisasi, sehingga standar pelayanan bisa seragam di semua pelabuhan. Kondisi ini akan memberikan kepastian bagi pengguna jasa logistik di Indonesia karena pengendalian strategis terfokus dan terpusat.

Kemudian, pengambilan keputusan di internal perusahaan juga akan lebih cepat. Misalnya, ketika ada pelabuhan yang perlu di-upgrade pelayanan dan kapasitasnya, dapat diputuskan dengan cepat dan tidak terkendala birokrasi.

Inilah yang menjadi catatan untuk merger Pelindo dilihat dari gambaran umum konteks pemulihan ekonomi makro. Dari sisi permodalan, penggunaan dana perusahaan juga akan lebih efisien, sehingga kemampuan perusahaan mengalokasikan pembangunan pelabuhan baru atau peningkatan pelayanan lebih besar pula.

 

Momentum dari Pandemi

Pandemi Covid-19 masih berlangsung, tetapi perbaikan sejumlah indikator ekonomi sudah terlihat, bahkan ada sinyal kuat akan terjadi booming ekonomi pascakrisis. Perbaikan data ekspor terjadi, menyusul pemulihan ekonomi global, terutama negara-negara tujuan ekspor Indonesia.

Berdasarkan data BPS per Januari-Maret 2021, ekspor nonmigas tercatat naik 17,14%. Harga komoditas mengalami supersiklus, seperti harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) naik 45,3%, disusul oleh kenaikan harga batu bara sebesar 8,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penjualan komoditas ke Tiongkok sebagai tujuan ekspor utama Indonesia meningkat fantastis sebesar 62,9% selama kuartal I-2021. Tidak ketinggalan Amerika Serikat sebagai menjadi pasar komoditas asal Indonesia dengan kenaikan ekspor 15,9% selama periode yang sama.

Ini bukan sekadar data yang patut disyukuri, tetapi Indonesia harus merespons dengan cepat. Sehingga momentum geliat pertumbuhan bisa berlanjut, mempercepat pemulihan ekonomi nasional dan selanjutnya berdampak positif bagi perekonomian jangka panjang.

Merger Pelindo diharapkan dapat membantu memperlancar kinerja pengirimam barang, khususnya ekspor, dari momentum kenaikan permintaan global ini. Jadi sudah sangat tepat jika tahun 2021 menjadi momentum untuk memperkuat manajemen dan kapasitas bisnis BUMN jasa logistik Indonesia.

Sehingga bisa inline dengan pemulihan ekonomi secara gambaran makro. Jika pelayanan jasa pelabuhan lebih baik, maka pemulihan ekonomi juga akan lebih cepat terjadi, membuka lapangan kerja baru dan subsektor logistik akan berkontribusi secara lebih nyata terhadap pertumbuhan ekonomi tahun 2021 dan ke depan.

Nah, pada akhirnya yang menjadi harapan utama, yaitu biaya logistik di Indonesia turun dari angka 23,5% terhadap PDB. Penurunan angka ini tidak hanya mengurangi beban usaha dari sisi pergudangan dan pendistribusian barang di Indonesia, tetapi juga mendorong kenaikan transaksi perdagangan untuk jangka panjang.

 

*) Peneliti Indef

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN