Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Taufiq Nur, Peneliti di LM FEB UI

Taufiq Nur, Peneliti di LM FEB UI

Momentum Pemulihan Sektor Ritel

Jumat, 15 Januari 2021 | 20:57 WIB
Taufiq Nur *)

Sektor ritel mengalami kontraksi cukup dalam selama tahun 2020. Hal ini diperparah dengan terjadinya pandemi Covid-19 sejak kuartal II-2020.

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) memaksa masyarakat untuk membatasi mobilitasnya, termasuk mobilitas untuk berbelanja ke toko-toko ritel. Berdasarkan observasi lapangan, dari berbagai jenis usaha ritel yang ada, hanya toko-toko ba han pokok (groceries) yang masih ramai didatangi oleh konsumen, utamanya untuk menyimpan barang-barang untuk jangka waktu yang lama (stockpiling) agar sebisa mungkin konsumen tidak terlalu sering pergi ke luar untuk keperluan membeli groceries.

Tahun 2020 memang tahun yang menantang bagi beberapa bis nis, tidak terkecuali sektor ritel. Kondisi yang dihadapi belum pernah terjadi semenjak industri berkembang lebih advanced, setidaknya pasca-Perang Dunia kedua. Beberapa perusahaan besar harus dengan berat hati menutup bisnisnya karena pandemi Covid. Hal yang membuat pandemi ini berdampak cukup drastis terhadap bisnis karena ada beberapa perubahan fundamental yang dilakukan konsumen.

Pertama, konsumen lebih mementingkan pembelian yang sifatnya esensial. Pembelian yang sifatnya discretionary, proporsinya relatif lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kedua, yang juga sangat berkaitan dengan bisnis ritel adalah konsumen mulai memfokuskan perilaku berbelanjanya ke arah digital dan omnichannel. Konsekuensinya, kedatangan ke toko fisik tidak lagi sepenting dahulu.

Ketiga, adanya kegamangan konsumen untuk loyal pada suatu produk. Sehingga, konsep brand loyalty ini menjadi konsep yang perlu ditinjau ulang selama pandemi ini.

Keempat, ekonomi dari rumah. Artinya, hampir seluruh aktivitas ekonomi harus bisa dijalankan dari rumah. Dengan bantuan teknologi informasi, hal ini menjadi mudah. Terakhir, mulai meningkat nya kepedulian masyarakat akan ‘health and caring economy’.

Konsumen mulai fokus pada isuisu keberlanjutan. Khususnya di Asia, konsumen mulai peduli akan aspek kesehatan dari produk-produk yang dibeli. Isu sustainable product, seperti sustainable fashion mungkin menjadi tren yang akan digandrungi masyarakat ke depan karena kepedulian akan planet juga meningkat.

Sebenarnya, turunnya tren penjualan sektor ritel sudah terjadi beberapa tahun terakhir, bahkan sebelum pandemi terjadi. Adanya penetrasi marketplace digital membuat sektor ritel harus berjuang le bih gigih untuk bisa bertahan di pasar.

Berdasarkan data dari Bank Indonesia, sejak tahun 2017 sektor ritel sudah mengalami penu runan yang cukup dalam (yoy) yang direpresentasikan oleh pertumbuhan real sales index sebesar 0,70%. Meskipun tahun 2018 ada perbaikan kinerja yang cukup menjanjikan, yang mana pertumbuhan real sales index berada di angka 7,70%. Namun demikian, tahun 2019 pertumbuhannya terkoreksi negatif di angka -0,50%.

Pada 2020, dengan adanya pandemi, pertumbuhan sektor ritel semakin negatif. Data sampai ku artal III-2020, pertumbuhan sektor ritel berada di angka -9,57%. Estimasi LM FEB UI, sektor ritel akan mengalami rebound yang relatif lebih lama dibandingkan sektor-sektor lain.

Oleh karena itu, diperlukan strategi khusus agar proses recovery sektor ritel bisa lebih agresif dari perkiraan sebelumnya.

Pertama, dalam suatu penelitian Dekimpe & Deleersnyder (2018) menemukan bahwa dalam kondisi resesi, konsumen lebih berfokus pada pembelian kategori produk yang sifatnya tahan lama (durable) serta lebih berfokus pada pembelian produk yang sifatnya private label brands. Hal ini karena selama pandemi ini masyarakat mengencangkan ikat pinggangnya sehingga barang-barang yang lebih murah, tetapi tetap bernilai (value for money) akan menjadi prioritas utama.

Di sinilah peran private label brands untuk hadir menangkap peluang.

Dalam penelitian Dekimpe & Deleersnyder (2018) juga disampaikan bahwa pembelian private label brands tetap stabil ketika ekonomi tumbuh. Ini artinya private label brands punya ketahanan (resiliency) yang baik di setiap siklus ekonomi.

Oleh karena itu, investasi perusahaan-perusahaan ritel untuk mulai memperkenalkan private label brand-nya dan bahkan menjadikan private label brand sebagai ikon perusahaan merupakan strategi yang perlu dipertimbangkan.

Kedua, perusahaan-perusahaan ritel perlu memformulasikan ulang model bisnisnya. Salah satu kunci sukses bagaimana bisnis ritel di berbagai negara di dunia bisa sukses bahkan melebihi perusahaan manufaktur adalah terus dibangunnya proses pengalaman belanja yang lebih canggih. Berbelanja di toko ritel tidak hanya ter fokus pada datang ke toko yang kita inginkan lalu membeli produk dan membayarnya di kasir.

Tapi, lebih jauh dari itu, konsumen bisa merasakan pengalaman self-service ketika berbelanja, ataupun layanan pick up yang memungkinkan kon sumen hanya datang ke toko untuk mengambil barang yang dibeli karena pembelian sudah dilakukan secara online. Customer experience menjadi kunci untuk menghadirkan sensasi berbelanja yang berbeda.

Secara garis besar, ketika konsumen melakukan pembelian ke toko ritel, setidaknya mereka melalui dua proses, yaitu information delivery dan product delivery. Information delivery lebih berfokus pada product searching, di mana konsumen mulai mengumpulkan informasi produk apa yang dibeli.

Sedangkan product delivery adalah  proses bagaimana produk yang ingin dibeli sampai di tangan konsumen dan siap dikonsumsi. Di dalam dua proses itu, perusahaan ritel bisa mengombinasikan jaringan online dan of fline pada dua proses ini. Pendekatan ini yang lebih dikenal dengan sebutan omnichannel. Berbeda dengan pendekatan multichannel yang mana perusahaan bisa memiliki revenue stream dari jaringan offline (toko fisik) dan jaringan online (toko digital) secara terpisah.

Dalam pendekatan omnichannel, diperlukan adanya kolaborasi antara jaringan offline dan offline dalam proses pembelian. Artinya tidak ada segregasi peran antara offline dan online, tapi lebih pada integrasi proses mulai dari information delivery sampai product delivery.

Terakhir, bisnis ritel memang mengalami tantangan, khususnya bagaimana agar bisa mengalami fast recovery. Oleh karena itu, diperlukan inovasi atas model bisnis saat ini dengan menangkap tren yang terjadi di pasar. Sehingga, bisnis ritel dapat tumbuh lebih adaptif dan fleksibel ke depan.

*) Peneliti di LM FEB UI (www.lmfebui.com)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN