Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bahlil Lahadalia. Foto: IST

Bahlil Lahadalia. Foto: IST

Mungkinkah Apple ‘Termutilasi’ Barengan Sawit Kita?

Bahlil Lahadalia, Selasa, 11 Juni 2019 | 21:50 WIB

Entah kenapa, logo Huawei persis seperti situasi Apple saat ini. Guyonan di medsos ada-ada saja. Logo Huawei mirip seperti buah Apel yang dimutilasi. Dipotong-potong. Ada benarnya. Betapa tidak, rivalitas keduanya sudah kian memanas.

Pemicunya, gegara Donald Trump mem-blacklist Huawei Technologies. Seperti disiram bensin. Amarah publik China membuncah. Publik China, termasuk kelompok garis keras pengguna iPhone sekalipun, sepakat untuk memboikot iPhone. Para diehard ini malah mengancam segera hijrah ke Huawei. Punya sendiri.

Tentu, ancaman ini tak main-main bagi Apple. Maklum, China merupakan pasar terbesar ketiga penjualan iPhone. Penghasilan Apple bisa anjlok 26% di tahun fiskal 2020. Bila aksi boikot betul-betul terjadi. Melihat potensi rugi di pihak AS bakal besar, otak dagang Trump keluar. Trump malah meminta perusahaan telekomunikasi Amerika untuk mempercepat pembangunan jaringan komunikasi 5G. Trump melunak. Kita tidak tahu ini jurus apanya Trump.

Dia setuju infrastruktur telekomunikasi punya Huawei yang jelas lebih maju, murah dan canggih ini terbenam di bumi Paman Sam.  Bukan kenapa-kenapa. Trump sudah melihat sendiri. Eropa sedang berada di jurang kerugian besar. Akibat menolak Huawei. Eropa harus mengeluarkan biaya ekstra senilai US$62 miliar (sekitar Rp 930 triliun). Ada banyak memang keunggulan teknologi 5G punya Huawei ini. Namun inilah yang bakal bikin Huawei akan leluasa menggasak pasar AS dan kawan-kawan. Trump seperti memakan buah simalakama.

Apple termutilasi. Foto ilustrasi: IST
Apple termutilasi. Foto ilustrasi: IST

 

Sawit Kita

Mutilasi Apple ala Huawei hanya merupakan puncak gunung es dari perang dagang yang kian sengit antara China vs AS. Begitu sengitnya, perang dagang ini ditaksir akan memangkas produk domestik bruto (PDB) global hingga 0,5% di 2020.  IMF menghitung dunia berpotensi kehilangan PDB senilai US$ 455 miliar (Rp 6.500 triliun). Akibat, dua raksasa ekonomi itu ‘berperang.’

Sayangnya, sengitnya perang dagang AS vs China membuat perang dagang di halaman rumah sendiri Indonesia vs Uni Eropa soal sawit, tertutupi. Padahal, perang dagang soal sawit ini tak kalah hebatnya. Pasca, keemasan migas dan tambang, nyaris kita tak punya andalan lain selain sawit. Kelapa sawit merupakan komoditas nomor satu kita. Tahun lalu, ekspor kelapa sawit mencapai US$17,89 miliar. Dia berkontribusi sekitar 3,5 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Selain itu, industri kelapa sawit juga menyerap 19,5 juta tenaga kerja. Baik langsung maupun tidak langsung. Termasuk di dalamnya sebanyak 4 juta petani kecil. 

Memang isu yang diangkat soal sawit adalah soal lingkungan, buruh anak, dan kesehatan. Itu bungkusannya saja. Faktanya, di dalamnya tersembunyi perang dagang yang berat. Atau ekstrimnya perang dagang antara produk sejenis (alike products). Yaitu minyak nabati rapeseed dan bunga matahari. Komoditas ini banyak dihasilkan di negara kawasan Uni Eropa (UE). Sedangkan sawit, umumnya dihasilkan di Indonesia dan Malaysia.

Keunggulan sawit kita memang sudah mendunia. Produktivitas kelapa sawit menghasilkan minyak nabati per hektar sedikitnya 7 kali lebih banyak dari rapeseed dan bunga matahari. Akibatnya, harga minyak sawit jauh lebih murah dari minyak rapeseed dan bunga matahari.

Sama dengan Huawei, unggul di sana sini, membuat minyak sawit diserang di sana-sini. Bahkan, selain telah tiba pada level olahan politik global dan kawasan, serangan itu telah tiba pula pada level konsumen akhir. Pemasangan label "senza Olio di Palma" atau bebas minyak sawit di beberapa produk makanan dan kosmetik yang dipasarkan di beberapa negara di UE sangat mengkhawatirkan kita. Di samping itu, ada juga restoran yang memasang tulisan bebas minyak sawit di pintu masuk restorannya.

Petani sawit. Foto ilustras: IST
Petani sawit. Foto ilustras: IST

 

Selain perlu langkah bijak dan taktis, kita perlu juga mengingatkan bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan aturan perdagangan internasional, WTO. Aturan, yang juga dibuat sendiri oleh negara-negara itu sendiri. Kita perlu meningkatkan pemahaman masyarakat Eropa melalui jalur pendidikan soal kelapa sawit.

Kita perlu mengajak stakeholder sawit terkait di Uni Eropa seperti politikus, pemerintah, Kadin Eropa, Asosiasi, importir, broker, user dan masyarakat yang memiliki pengaruh untuk berkunjung ke sini. Mereka perlu melihat langsung perkebunan sawit kita tidak seburuk apa yang dicitrakan. Sehingga mereka-mereka ini dapat menjadi humas yang baik untuk sawit kita.

Data netral soal sawit kita hadirkan. Sehingga, dengan data netral ini, tak terbantahkan pihak mitra-mitra kita dari Uni Eropa. Libatkan lembaga dan para ahli dari negara netral. Bila perlu, negara netral dari negara di kawasan UE itu sendiri. Anggaran kegiatan promosi dipekuat. Promosi langsung ke titik-titik strategis yang kurang memahami soal sawit atau spot-spot korban kampanye hitam sawit kita. Pada prinsipnya, walau perang dagang terasa berat, kita perlu mengedepankan dialog dan lobi-lobi bersahabat. Aksi balas-membalas ala Donal Trump sejauh ini belum dibutuhkan. Tapi kita harus tetap waspada sambil benahi pasar domestik sawit kita. Mesin-mesin energi dan transportasi kita sudah saatnya meminum minyak-minyak sawit kita. Ada saatnya memang kita tegas. Jangan sampai sawit kita benar-benar termutilasi berbarengan dengan Apple.

Bahlil Lahadalia, Ketua Umum BPP Hipmi

Sumber : PR

BAGIKAN