Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Rizal Calvary Marimbo.

Rizal Calvary Marimbo.

New Nearly Normal Tiongkok

Rizal Calvary Marimbo *), Rabu, 13 Mei 2020 | 13:12 WIB

2019, investasi Tiongkok di Indonesia menggeser Jepang. Negeri Panda ini menggandakan investasinya menjadi US$ 4,7 miliar dari sebelumnya US$ 2,4 miliar (yoy).

Investasi Tiongkok memang sedikit mengalami anomali. Khususnya untuk Indonesia dalam enam tahun terakhir. Di saat investasi Negeri Panda itu mengalami tren penurunan secara global, di Indonesia justru trennya meningkat. Bahkan kemudian menyodok Jepang, dedengkot Penanaman Modal Asing (PMA) Indonesia sejak tahun 1970-an itu.

Posisi kedua terbesar ini tetap dipertahankan Tiongkok pada Q1- 2020, setelah Singapura. Tiongkok memang banyak unggulnya. Pertama, negara ini punya duit. Mencari negara yang punya duit saat ini sangat susah. Apalagi investornya sangat cepat. Tidak kelamaan mikir-mikir-nya.

Kedua, rahasia sukses Tiongkok ini pada feasibility studies-nya yang tidak kelamaan. Di saat negara lain baru mau membuka kalkulator, Tiongkok sudah membangun pabrik dan pelabuhan di negara tujuan investasinya.

Ketiga, Tiongkok berani berinvestasi ke daerah yang sulit, minim infrastruktur. Ke luar Jawa, seperti Indonesia Timur. Namun, kini investasi Tiongkok mengalami ujian besar.

Tak hanya untuk Indonesia, juga ke seluruh dunia. Tiongkok menjadi episentrum dunia pandemi Covid-19. Tiongkok disibukkan dengan urusan dalam negerinya sendiri. PMA global Tiongkok mengalami demam berat. Tantangan berat turunan berikut adalah ekonominya tumbuh minus. Ekonomi Tiongkok terkontraksi sebesar 6,8% pada Q1-2020.

Kontraksi ini terbesar dialami Tiongkok sejak 1978. Covid-19 memaksa pabrik dan bisnis tutup di mana-mana.

Tentu Tiongkok Ef fect ini merupakan pukulan berat untuk capaian PMA Indonesia pada kuartalan berikut.

Dampaknya, sudah terasa. Realisasi PMA kita menurun pada Q1- 2019. BKPM memperkirakan, PMA di Tanah Air akan mencapai bottom line pada Q2-2020. Juga, ketegangan geopolitik yang tak berujung dengan Amerika Serikat.

Kedua adidaya itu, saat ini, seperti Tom and Jerry. Ketegangan ini bisa saja seusia Covid-19. Reli-reli panjang dan melelahkan ekonomi politik global ala Ardy B. Wiranata dan Liem Swie King kedua negara ini tentu akan menguras sumber daya banyak negara.

Sebab itu, tepat bila The Economist mengatakan, jangankan the new normal, the new ‘nearly’ normal saja saat ini masih jauh dari status quo. Termasuk PMA dari Tiongkok.

Melihat tantangan berat itu, tepatlah Kepala BKMP meminta jajarannya untuk jangan   menyerah. Covid-19 tak boleh mengganggu suasana kebatinan pegawai BKPM. Setiap peluang harus segera ditangkap. Strategi harus dinamis.

Tidak boleh kaku. Dia harus mengikuti perubahan yang sangat cepat. Pertama, PMA akan semakin merata. Home country (negara asal PMA) akan semakin inklusif (terbuka). Kepala BKPM mengatakan, investor dari langit pun, selagi dia datang membawa uang, memberi manfaat untuk negara serta sesuai aturan akan diterima oleh BKPM.

Setelah Covid-19, PMA tak bisa hanya mengandalkan dari keranjang suatu negara. Negara manapun dapat menjadi sumber PMA bagi Indonesia.

Kedua, BKPM akan mengoptimalkan PMA yang sudah pipelined namun mangkrak. Nilainya sebesar Rp 708 triliun. Sekitar 21 proyek.

Sebagian proyek-proyek ini— seperti Hyundai, Lotte, Tanjung Jati, Rosneft—sudah berjalan. Setelah Covid-19, penyisiran dan eksekusi investasi mangkrak akan dilanjutkan.

Ketiga, merevitalisasi investor-investor lama baik PMA maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Dalam beberapa bulan terakhir BKPM telah mulai menyelesaikan hambatan investasi yang dialami oleh investor lama. Khusus untuk PMDN terus mengalami peningkatan. PMA juga demikian, hanya saja kemudian dihadang Covid-19. Porsi PMDN terhadap total investasi terus meningkat.

Pada 2018 porsi PMDN kita sebesar 45,56%. Pada 2019, naik menjadi 47,7% dari total investasi. Ditekan Covid-19 di Q1-2020, PMA memang melemah. Porsinya menyusut menjadi 46,5%. Namun porsi PMDN justru menguat menjadi 53,5%. Modal domestik inilah yang menopang kenaikan investasi Q1-2019 sebesar 8,0%.

Keempat, melakukan refilling sektor-sektor unggulan investasi. Pasca Covid-19 tak hanya strategi meraih investasi yang berubah. Sektor-sektor unggulan investasi juga mengalami perubahan. Misalnya, dulu, sektor kesehatan belum masuk sektor yang seksi bagi investor.

Namun kini sektor kesehatan mengalami kenaikan signifikan. Yakni, dari sebelumnya berada di posisi kelima, kini melesat ke posisi kedua sektor unggulan. Posisi pertama masih diduduki sektor perdagangan.

Kelima, memperbaiki kemudahan berbisnis atau ease to doing business (EODB). Pemerintah, harus menjami tiga hal bagi investor, yakni kemudahan, kepastian, serta efisiensi. Misalnya, selama ini, setelah mendapat NIB (Nomor Induk Berusaha), pengurusan izin usaha masih harus melalui kementerian atau lembaga sektoral. Lama, sehingga tidak efisien.

Kini, dengan Inpres No 7/2019, sentralisasi perizinan terfokus di BKPM. Apakah jurus-jurus ini akan menjamin iklim investasi akan secepatnya berjumpa dengan the new normal, sama sebelum Covid-19 mewabah?

Tentu tidak menjamin. Meski demikian, setidaknya jurus dan strategi ini dapat mengerem penurunan yang lebih dalam. Sambil kita tetap berharap the new normal datang lebih cepat dengan datangnya vaksin Covid-19. Pasca relaksasi Wuhan, titik terang mulai terbuka di Tiongkok. Episentrum Covid-19 ini tengah memasuki tahap New ‘Nearly’ Normal. Pabrik-pabrik mulai menderu. Jalan-jalan mulai macet kembali.

Banyak pengamat di luar sana optimistis— dikutip dari The Economist— meski reli-reli panjang masih akan berlangsung lama, Tiongkok tak hanya akan menang melawan bencana Covid-19. Tetapi juga akan menjadi titik balik pergeseran dominasi geopolitik dunia, selain Amerika Serikat. Dunia menuju keseimbangan baru. Asal jangan sampai keduanya adu fisik. Repot kita semua.

*) Komite Investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal/BKPM)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN