Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Akbar Suwardi dan Ahmad Mikail Zaini

Akbar Suwardi dan Ahmad Mikail Zaini

Optimisme di Tengah Pandemi Covid-19

Selasa, 4 Agustus 2020 | 08:24 WIB
Akbar Suwardi *) dan Ahmad Mikail Zaini **)

Belum genap lima bulan sejak WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemi, dampak negatif yang ditimbulkan bagi kondisi sosial dan ekonomi sudah sangat terasa. Pandemi Covid-19 membuat kondisi perekonomian dunia memasuki krisis yang sangat berbeda dari sumber krisisnya, yaitu krisis kesehatan.

Akibat belum ditemukannya vaksin, saat ini yang bisa dilakukan adalah mencegah atau membatasi perkembangan atas virus tersebut, yaitu dengan cara lockdown atau social distancing, karantina, isolasi, dan protokol kesehatan lainnya.   

Saat krisis keuangan global tahun 2008, penurunan atas harga properti di Amerika Serikat (AS) dan dunia hanya memukul sisi permintaan. Namun, pada krisis kali ini tidak hanya permintaan yang anjlok tetapi juga supply yang turun akibat penghentian sementara waktu aktivitas produksi.

Akibatnya a kivitas supply chain dan daya beli masyarakat terganggu secara bersamaan sehingga magnitude dari krisis kali ini kemungkinan lebih besar dibandingkan tahun 2008.

Di beberapa negara yang perekonomiannya didominasi oleh sektor jasa atau trade (perdagangan) diproyeksikan akan terdampak paling besar oleh pandemi Covid-19. Sampai saat ini, negara tetangga di kawasan Asean kondisi perekomiannya sudah mengalami pertumbuhan ekonomi minus, seperti Singapura -3,3% (year on year/yoy), Thailand -1,8% (yoy), dan Filipina -0,2% (yoy) pada kuartal I-2020.

Bahkan, Singapura sudah resmi memasuki resesi, pertumbuhan ekonomi minus dalam dua kuartal berturut-turut, dengan tercatatnya pertumbuhan di kuartal II-2020 sebesar -12,6% (yoy) dan dapatmenjadi resesi terburuk sejak 1965. Untuk Thailand dan Filipina diproyeksikan akan menyusul status resesi saat pengumumaan kondisi ekonomi kuartal II-2020.

Bagimana dengan Indonesia?

Meskipun belum di-release oleh Badan Pusat Statistik, tingkat pertumbuhan Indonesia kuartal II-2020 nasibnya diproyeksikan akan sama, yaitu tumbuh negatif. Namun, tingkat penurunannya tidak sedalam Singapura. Kondisi tersebut sudah dapat terlihat dari beberapa indikator sektor riil yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) dan lembaga lainnya.

Pertama, Survei Penjualan Eceran (SPE) dari BI menunjukkan pen jualan ritel pada bulan Mei 2020 kembali merosot yang tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) pada bulan tersebut tercatat hanya sebesar 198,3 atau terkontraksi 20,6% (yoy), lebih dalam dari kontraksi April 2020 yang sebesar 16,9% (yoy).

Lebih detail lagi, survey juga menunjukkan penurunan penjualan pada sebagian besar kota disebabkan masih diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah, se hingga penjualan cenderung me nurun. Bank Indonesia pun mem perkirakan survei penjualan ritel bulan Juni 2020 masih akan terkontraksi sebesar 14,0% (yoy).

Kedua, Survei Perbankan Bank Indonesia mengindikasikan pertumbuhan kredit baru pada kuartal II-2020 menurun dari periode sebelumnya.

Tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) permintaan kredit baru pada kuartal II- 2020 sebesar -33,9%, lebih rendah dibandingkan dengan 23,7% pada kuartal sebelumnya dan 78,3% pada kuartal II-2019. Penurunan pertumbuhan kredit baru terjadi pada seluruh jenis kredit, di mana penurunan terbesar pada jenis kredit investasi.

Untuk keseluruhan 2020, survei BI mengindikasikan penyaluran kredit perbankan hanya akan tumbuh 2,5% (yoy) atau jauh lebih rendah dibandingkan dengan realisasi 2019 yaitu 6,1%.

Ketiga, meningkatnya tingkat pengangguran. Sejalan dengan da ta survei BI, Bappenas memperkirakan tingkat pengangguran ter buka (TPT) menyentuh 8,1-9,2% pada 2020 atau naik signifikan dari posisi 2019 yang sekitar 5,28%.

Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) mencatatkan hingga Mei 2020 sudah ada sekitar 6,4 juta pekerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan yang dirumahkan akibat Covid-19.

Keempat, melambatnya pertumbuhan uang kartal. Mei 2020 pertumbuhan uang kartal hanya sebesar 1,4% (yoy), jauh di bawah tahun 2018 dan 2019 yang ma sing-masing tumbuh 19,7% (yoy) dan 16,4% (yoy).

Optimistis

Dampak negatif akibat pandemic Covid-19 ini diperkirakan akan berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, banyak faktor yang perlu dipersiapkan oleh semua elemen ekonomi dari pemerintah, pelaku industri dan masyarakat.

Selain itu, dengan melihat beberapa indikator yang menekan kondisi ekonomi Indonesia saat ini, tentunya sangat perlu membangun optimisme untuk melewati masa-masa pandemi.

Hal tersebut setidaknya dapat kita lihat bersama, di antaranya: Pemerintah cepat merespons kondisi pandemi. Kebijakan aturan atau stimulus untuk menjaga kesehatan, insentif industri, dan menjaga daya beli masyarakat dengan cepat dikeluarkan oleh pemerintah.

Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga bergerak cepat dengan merelaksasi kredit dengan mengeluarkan ketentuan restrukturisasi bagi terdampak Covid-19 dan Bank Indonesia melakukan quantitative easing dengan membeli Obligasi Peme rintah (SUN), Repo SUN bagi bank yang membutuhkan likuiditas, serta menurunkan sukubunga acuan atau BI-7 day Reverse Repo Rate (BI-7DRRR).

Di sisi lain, Indonesia juga diuntung kan dengan kesiapan infra struktur Internet. Meskipun masih banyak kekurangan karena di tahun 2018 kecepatan internet 4G Indonesia menempati peringkat ke-74 dari 77 ne gara di seluruh dunia.

Pandemi yang mendorong pemberlakuan social distancing sangat terbantu dengan kehadiran Internet sehingga sebagian masyarakat masih dapat melakukan pekerjaan atau aktivitas ekonominya dari rumah (working from home), beraktivitas dari rumah (stay at home), rapat virtual, dan lainnya.

Di samping itu, potensi internet di Indonesia ini masih sangat besar. Sesuai dengan Laporan e-Conomya SEA tahun 2019 yang disusun oleh Google dan Temasek disebutkan bahwa ekonomi Internet Indonesia tumbuh lebih dari lima kali lipatdari US$ 8 miliar pada 2015 menjadi US$ 40 miliar pada 2019, dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 49%.

Di tahun 2025, nilai tersebut berpotensi mencapai US$ 30 miliar. Selain itu, pemberlakuan lockdown di berbagai negara yang membuat gangguan supply chain produk barang-barang ekspor dan impor dapat menjadi momentum penggunaan produk lokal.

Bila sebelumnya masyarakat terbiasa menggunakan produk (kebutuhan sehari-hari, makanan, dan lainnya) impor, saat ini seyogianya dapat dipenuhi oleh produk lokal. Kebijakan substitusi impor bisa menjadi pilihan pemerintah di tengah situasi pandemi Covid-19 untuk mempercepat proses industrialisasi yang selama ini terhambat gempuran produk luar negeri.

Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dapat lebih tinggi dari 3% dari produk do mestik bruto (PDB) selama tiga tahun ke depan dapat menjadi momentum pemerintah untuk mempercepat proses tersebut.

Defisit yang besar dalam tiga tahun ke depan harus dimanfaatkan untuk mendorong produktivitas sektor tradable seperti pertanian, tanaman pangan, peternakan serta sektor industri olahan. Pemerintah dalam tiga tahun ke depan bisa fokus untuk menambah subsidi pertanian dan menambah luas lahan pertanian.

Selain itu, pemerintah harus fokus untuk menambah nilai guna hasil produksi pertanian, perikan an, dan pertambangan dengan bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders), seperti perbankan, universitas dan juga ke menterian terkait untuk memberikan akses sebesar-besarnya untuk penelitian dan pengembangan (R&D), modal serta kemudahan regulasi.

Dengan nilai tambah yang tinggi maka industri olahan dapat meningkat produktivitasnya. Suksesnya Pertamina memproduksi green diesel (D100), di mana 100% bensin dapat diciptakan dari produk turunan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), dapat ditiru produkproduk turunan pertanian maupun perikanan lainnya.

Kebijakan-kebijakan serupa D100 harus diperluas sehingga ekonomi Indonesia dapat berubah, from zero to hero dalam mengatasi krisis kali ini. Karena satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan, begitulah salah satu Hadist Rasulullah Muhammad SAW yang terkenal. Banyak sekali peluang kesempatan dalam menghadapi krisis kali ini.

Dampak dari pandemi Covid-19 sudah sangat terasa, solusi atau strategi untuk menghadapi sudah dicoba diterapkan. Seperti yang disampaikan sebelumnnya, kondisi ini diperkirakan berlangsung cukup lama sehingga perlu stamina, yaitu dengan cara menjaga optimisme!

*) Praktisi Perbankan

**) Ekonom Samuel Sekuritas.

(Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak mewakili tempat penulis bekerja)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN