Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Khudori, Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), anggota Kelompok Kerja Dewan Ketahanan Pangan (2010-sekarang), penulis buku Ironi Negeri Beras (Yogyakarta:
Insist Press, 2008)

Khudori, Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), anggota Kelompok Kerja Dewan Ketahanan Pangan (2010-sekarang), penulis buku Ironi Negeri Beras (Yogyakarta: Insist Press, 2008)

Pandemi dan Akselerasi Diversifikasi Pangan

Jumat, 23 Oktober 2020 | 08:44 WIB
Khudori *)

Bagi sektor pangan, pandemi Covid-19 terbukti mengganggu tatanan yang dinilai mapan selama bertahun-tahun. Implikasi serius pandemi tidak hanya mengancam produksi di hulu sebagai konsekuensi kebijakan karantina, tapi juga mengganggu pengolahan pangan yang padat karya di tengah, dan memutus (membatasi) lalulintas perhubungan dan perdagangan antarbangsa di tingkat hilir.

Bagi negara-negara importer pangan, coro na vi rus disease 2019 (Covid-19) bagai malapetaka. Tapi pandemi tidak melulu ihwal ma lapetaka, bisa juga menjadi berkah.

Salah satu berkah yang tidak ditemukan tatkala kondisi normal adalah peluang mempercepat diversifikasi pangan di kala pandemi. Mengacu pada piramida Abraham Maslow, konsumen kini menggeser kebutuhan dari puncak piramida, yakni aktualisasi diri dan esteem, ke dasar piramida: makan, kesehatan, dan keamanan jiwa-raga.

Dihadapkan pada ancaman eksistensi hidup dan mati, manusia kini berpikir realistis. Salah satunya realistis dalam pemenuhan makan agar jiwa-raga sehat. Ini diwujudkan dalam bentuk perubahan pola belanja dan pola konsumsi, yang berbeda dari era normal.

Sejumlah survei, antara lain oleh Nielsen dan McKinsey (2020), menemukan perubahan menarik. Tatkala pendapatan menurun dan akses makin terbatas, konsumen mengalihkan kebiasaan makan di luar menjadi memasak di rumah. Sebanyak 49% konsumen kini lebih sering memasak di rumah. Pengeluaran makan di luar rumah kini beralih untuk berbelanja bahan makanan untuk dimasak sendiri. Pilihan belanja beragam: pesan lewat online atau ke supermarket.

Pola belanja pangan kian selektif. Mereka berbelanja bukan lagi ka rena dorongan keinginan atau berat tubuh ideal, tapi lantaran kebutuhan kesehatan.

Belanja pangan sumber protein, lemak, buah, sayuran dan produkproduk segar naik drastis. Belanja telur naik 26%, daging 19%, daging unggas 25%, serta buah dan sayur 8%. Belanja rempah-rempah atau empon-empon seper ti jahe, kunyit, kapulaga, dan lainnya serta minuman herbal yang diyakini menaikkan imunitas tubuh juga naik drastis.

Yang menarik, dalam membeli aneka kebutuhan pangan, konsumen menimbang aspek higienitas, kesegaran bahan, keamanan, dan lokalitas (bukan impor). Dibandingkan negara lain, konsumen Indonesia termasuk amat memperhatikan keempat aspek tersebut. Belum diketahui pasti apakah perubahan pola belanja dan pola konsumsi ini hanya bentuk strategi bertahan sementara (coping strategies) masyarakat dan akan sirna setelah pandemi Covid-19 ber akhir.

Menimbang kemungkinan Covid-19 akan selalu bersama umat manusia, ada peluang perubahan pola belanja dan pola konsumsi ini bakal menjadi praktik berkelanjut an di masa depan (future practice). Jika hal yang terakhir ini yang ter jadi, perubahan itu membuka peluang besar bagi aneka produk pangan domestik.

Selama ini kita tak pernah bertanya berapa ratus, bahkan ribu kilometer, makanan pengisi perut di meja makan menempuh perjalanan dari daerah asal. Ada istilah food miles: jejak karbon yang timbul akibat perjalanan makanan dari tempat ia tumbuh hingga disantap. Kian jauh makanan “jalan-jalan” kian tak berkelanjutan dan tak ramah ling kungan makanan yang kita santap. Pola produksi, distribusi, dan konsumsi makanan telah ber transformasi luar biasa. Tapi ja rak tempuh yang jauh membuat makanan tak efisien dari sisi kalori, dan tidak berkelanjutan.

Lokalitas menjadi salah satu solusi. Lokalitas membuat rantai pasok lebih pendek. Perjalanan pangan dari produsen ke konsumen, lebih cepat sampai. Aspek kesegaran dan higienitas terjawab sekaligus. Rantai pasok yang lebih pendek juga akan menekan biaya transaksi dan membuat pasar kian efisien.

Ujung-ujungnya, balas jasa kepada pihak-pihak yang terlibat dalam rantai pasok, termasuk petani, kian baik. Lokalitas juga identik dengan sumber daya lokal. Ketika impor terputus, konsumen kini bertumpu pada pangan produksi lokal, yang berbeda-beda antara daerah satu dengan daerah lainnya. Ini berkah bagi gerakan diversifikasi pangan.

Semua paham, mengalihkan sesuatu yang sudah jadi kebiasaan (habit) bertahun-tahun, termasuk dalam pola makan, bukanlah hal mudah. Kebiasaan itu tercipta me lalui proses adaptasi panjang, melibatkan segenap indera (terutama perasa dan penglihatan), dan pertimbangan ekonomi (akses dan efisiensi), politik (kebijakan), dan kebudayaan (akulturasi dan adaptasi).

Kini, dipaksa oleh pandemi Covid-19, ada peluang perubahan pola makan berlangsung lebih cepat. Momentum ini mesti dimanfaatkan agar tak hilang.

Perlu langkah simultan agar diversifikasi tak mandeg. Dimulai dari penetapan peta jalan diversifikasi pangan yang jadi panduan semua kementerian/lembaga. Peta jalan ini yang menuntun rencana kerja, cara mencapai hingga outcome. Termasuk mengikat siapa melakukan apa. Lalu, mengintegrasikan program pengentasan kemiskinan dengan pemberdayaan agar tak saling menegasikan.

Politik pangan dan kebijakan ekonomi makro harus memperkuat keterkaitan hulu-hilir pangan lokal. Perlu dukungan riset terarah untuk merespons perilaku konsumen, pengembangan pangan substitusi impor, dan komunikasi perubahan perilaku.

Terakhir, membangun kon struksi sosial lewat kampanye dan edukasi. Lewat gerakan ini, diversifikasi pangan bisa dipercepat.

*) Pegiat Komite Pendayagunaan Petani (KPP), pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), dan anggota Kelompok Kerja Dewan Ketahanan Pangan (2010-sekarang).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN